Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Belum jadi Ibu dokter


__ADS_3

"Mas, besok acaranya apa sih?" Retno menatap wajah simpatik di hadapannya.


"Puncak acara dan penutupan rangkaian dari semua mata acara dari awal sampai akhir, seremoni biasa, penghargaan, penyerahan hadiah dan piala bagi pemenang juga pelepasan jalan santai dengan door prize nya." dr Prabu balas menatap wajah cantik di terang lampu Restourant itu.


"Aku besok ke Bandung akh Mas..." Retno merasa nggak enak di beri libur terlalu lama dari tempat kerjanya, karena Retno masuk ke babak semi final, lalu ke babak final di turnamen rumahsakit itu.


"Nggak usah, sudah aku mintakan izin pada suster kepala Harni aku sudah telephon. Juga sama kepala Rumah sakit Pak Burhan, Aku ingin kamu mendampingi aku besok, lagian kan sudah masa tunggu perpindahan kerja dan perpisahan KKN."


"Ta-tapi Mas, perpisahan KKN dua hari mendatang."


"Aku sudah mengatur semuanya. Perpisahan KKN sekalian besok walau bubarnya dua hari mendatang. Habis perpisahan KKN kita ke Pekalongan aku akan melamar kamu, sudah aku siapkan segalanya."


"Mas?" Retno menatap dr Prabu seperti tidak percaya.


"Nggak usah ragu, akan aku lakukan sendiri. Baru kalau sudah mendapat Restu dan lampu hijau dari kedua orang tuamu baru aku akan menghadap kedua orang tuaku meminta izin nya."


"Bukan aku ragu. Apa tidak lebih baik Mas bicara dulu sama orangtua Mas Prabu sendiri? kok nggak ada pembahasannya?"


"Retno, orangtuaku menyerahkan sepenuhnya padaku, tak akan ada keraguan dari mereka asal aku yakin dengan pilihanku."


Retno diam menatap makanan di piring makan malamnya.


"Kenapa, apa kamu meragu padaku?"


"Kalau aku meragu sudah dari awal tidak menunggu sekian lama Mas."


"Atau kamu masih ragu dengan orangtuamu? apa kejadian lima tahun lalu tak akan terulang lagi? Tolong beri aku gambaran yang sekiranya bisa menentramkan hatiku." dr Prabu merasa belum tenang hatinya dan ingin mendapat keyakinan dari keseriusan Retno.


"Aku punya keyakinan. Mereka Kangjeng Romo juga Kangjeng Ibu sepertinya tak berpikir lagi seperti dulu, aku merasakan sendiri kerinduan kedua orangtua dan keluargaku akan kedatangan, kepulangan ku, terbukti dari apa yang selalu di katakan adikku Dimas kalau kami bertelepon sekarang semua pilihan ada di tangan Mbak Ayu katanya." Retno memegang tangan dr Prabu dan mengusap-mengusapnya. Memberikan keyakinan akan keadaan keluarganya.


"Syukurlah, setidaknya aku merasa tenang kita persiapkan segalanya."


Retno tersenyum mengangguk perlahan. Dr Prabu kian erat menggenggam jemari Retno.


"Eh, aku tak bertanya langsung padamu, apa kamu sendiri siap aku lamar kembali?"


"Aku, harus jawab apa Mas?"


"Kesiapan kamu seperti apa?"


"Seperti siapnya Mas Prabu."


"Haaa... terimakasih sayang."


"Aku ingin bahagia di sampingmu Mas."


"Harapan kita bersama Retno. Tak ada kebahagiaan di hatiku, saat aku bisa memberikan kebahagiaan itu padamu. Hanya kamulah kebahagiaanku."

__ADS_1


"Terimakasih Mas, untuk berjuta cinta dan kebahagiaan rasa yang Mas berikan padaku. Semoga tak ada kata perpisahan lagi diantara kita, cukup kita menanti dalam lima tahun saja"


"Iya Retno. Aku ingin menebus waktu lima tahun penantian kita dengan sisa umurku bersamamu, Aku akan mengganti cincin di tanganmu itu dengan cincin yang lebih bernilai di hadapan orangtuamu, seperti berharganya dirimu di hidupku." dr Prabu mencium jemari tangan lembut Retno.


Hati Retno menghangat. Dirinya begitu tersanjung apalagi saat dr Prabu menggenggam jari jemarinya dan menciumnya lembut. Kalau bukan lagi berada di restourant tempat mereka makan malam ingin Retno menikmati kehangatan pelukan dr Prabu dan menenggelamkan kepala dalam rengkuhannya.


"Sudah makannya sayang?"


"Sudah Mas."


"Ayo, kita habiskan malam kemenangan kita kali ini, mau pergi kemana?"


"Sepertinya aku tak ingin pergi kemana-mana."


"Tapi aku ingin membawa kamu ke suatu tempat."


"Kemana itu?"


"Ayo kita ke tempat itu."


Retno di gandeng dr Prabu dengan hangat, sehangat hati mereka. Dr Prabu membukakan pintu mobil buat Retno, senyuman yang begitu tulus dari Retno melambungkan dr Prabu.


Begitu bangganya dr Prabu menjadikan seorang Retno teristimewa di sampingnya. Mengesampingkan akan hal apapun termasuk masalahnya sendiri dan juga pendapat orangtuanya, dengan satu keyakinan di hati kalau orangtuanya akan siap sedia dengan persetujuannya.


Begitu juga Retno mantap dengan hati dan perasaannya. Ingin segera mendatangi kedua orangtuanya meminta restu kembali masih dengan pilihannya yang dulu, apapun restu dari orang tuanya akan tetap berjalan sesuai pilihannya.


"Aku ingin membawamu ke masa depan kita, walau ini bukan untuk pertama kalinya."


"Maksud Mas Prabu kemana kita? seperti jalan ke rumahmu ini?"


"Iya, karena di sini ada masa depan kita."


"Mas, jangan manfaatin aku ya."


"Maksud kamu apa sayang?"


"Jangan anggap aku setengah sah lho, kita baru mau meminta restu dan persetujuan dari orangtua kita masing-masing. Mungkin setelah itu orangtua kita yang menentukan harinya dan kita hanya bisa menerima kapanpun waktunya mereka tentukan."


"Haaa...memang kamu anggap aku ini orang seperti apa heh? kamu sendiri tuh yang udah pakai istilah aneh-aneh, pakai kata setengah sah segala."


"Aku hanya takut saja Mas. kalau keseringan kita bersama-sama, aku hanya menjaga aja."


"Apa aku sudah sebegitu menakutkan buat kamu? aku nggak mau menjadi orang yang ditakuti tapi aku mau menjadi orang yang selalu dirindukan."


"Mas, aku yang akan selalu merindukanmu."


"Iya Retno, dulu awal-awal kita pacaran dengan bangga aku bisa membonceng kamu dengan motor Vespa butut ku waktu itu, sekarang suasana kita telah berubah. Aku ingin membawa kamu kemanapun kamu ingin pergi."

__ADS_1


Retno hanya melirik dan senyum pada dr Prabu.


"Iya Retno, aku masih ingat sampai sekarang. Aku yang selalu ditraktir sama kamu di traktir makan ataupun ditraktir saat nonton, sekarang aku sudah memiliki kemampuan untuk bisa menghidupi kamu, dan aku ingin melewati semua itu bersamamu."


"Aku, malah nggak ingat akan hal itu Mas."


"Nggak apa-apa kamu nggak ingat, tapi semua kebaikanmu waktu itu akan aku balas saat aku sudah mampu. Aku ingin menjadi suami yang bertanggung jawab dan yang terbaik buatmu Retno."


Terasa sedih dr Prabu saat mengatakan itu semua, jauh didasar hatinya yang paling dalam permintaan maaf sulit untuk terucap dikatakan sebagai kejujuran di hadapan Retno.


"Ayo kita turun, nggak apa ada Mang Min, ada Bi Iyah."


Dr Prabu membantu memegang tangan Retno saat turun dari mobil, terlihat rasa sayang yang berlebihan dirasa Retno.


"Ini Rumah masa depan kita Retno, aku ingin kita bahagia di sini dan menua bersama, masih dan akan tetap dengan perasaan cinta kita." Dr Prabu membuka kunci pintu, dan membukanya lebar-lebar, lalu mempersilahkan Retno untuk duduk.


Kedua kalinya Retno masuk rumah mewah itu. Walau masih merasa canggung tapi Retno berusaha biasa di depan Mas Prabu.


Waktu itu mungkin nggak merasa canggung karena ada Intan dan dr Imam. Tapi kali ini hanya mereka berdua.


Dr Prabu ke belakang minta di bikinkan minum buat mereka sama Bi Iyah sekalian memperkenalkan Retno pada Bi Iyah juga Pak Min.


Tak lama Bi Iyah datang dengan dua cangkir minuman dan meletakkan di depan Retno juga dr Prabu.


"Bi kenalkan ini calon istriku, katanya dari kemarin-kemarin nanyain melulu." dr Prabu memperkenalkan Retno.


"Oh alah Pak dokter, Bibi bersyukur banget bisa kenalan sama Bu dokter."


"Saya Retno Bi, bukan dokter tapi hanya suster." Retno menyambut salam dan menarik tangan Bi Iyah yang duduk bersimpuh di hadapannya dan di dudukkan di sampingnya.


"Iya Bu suster, nanti juga akan jadi Bu dokter."


"Iya Bi do'ain kita semoga segalanya lancar." Dr Prabu mengusap pundak Retno.


"Ya Allah. Bibi selalu berdo'a yang terbaik buat Pak dokter sama Ibu."


"Heeee... saya belum jadi Ibu Bi, belum menikah dan belum punya anak juga, tapi terimakasih atas do'anya." Retno tersenyum ramah pada Bi Iyah.


Dr Prabu tertawa begitu juga Bi Iyah.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "Aku Dan Masa Lalu" author ZAFA sahabat baikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...


__ADS_1


__ADS_2