
"Sayang, kamu kan nggak main hari ini dan tinggal menunggu pemenang yang bertanding hari ini, jadi cheerleader ku dong biar aku semangat kalau ada kamu di dekatku." dr Prabu duduk di sofa dan menggenggam jari tangan Retno.
"Manja amat jadi pemain Mas, aku sudah kadaluarsa dan lewat masa kalau harus jadi cheerleader, nggak ingat umur apa?"
"Paling tidak kan kamu bisa masuk ke pinggir lapangan, anggap saja aku adalah anak didik kamu, jadi kamu seperti aku kemarin saat kamu bertanding temani aku ngobrol."
"Emang mau bertanding apa mau ngobrol? ngobrol ya di sini!"
"Kamu tambah cantik kalau lagi jutek gitu, bikin aku mau gigit."
Retno buang muka dan dr Prabu tertawa.
"Kelihatannya Mas seperti tidak percaya diri, aku sebagai pelatih? haaa... apa nggak terlalu imut untuk jadi pelatih mu? aku malu Mas dilihat banyak orang dilihat rekan-rekan anak buah Mas. Semua pasti nonton dan itu support yang sebenarnya dari mereka, apa Mas berpikir ke sana sedangkan aku di sini siapa?"
"Pacar aku dong, calon istri aku dan masa depan aku."
"Orang lain mana ngerti Mas, yang ada aku malah dikira anak KKN ke-centilan anak KKN yang kepedean anak KKN yang cari muka anak KKN yang tidak tahu malu."
"Siapa yang akan berpikiran begitu? kamu jangan terlalu jauh memprediksi hal-hal yang tidak semestinya, semua orang pasti senang melihat kamu di samping aku."
"Tapi tidak untuk saat bertanding di lapangan Mas, kalau mendampingi Mas saat kondangan mungkin mereka seneng."
"Saya akan bersemangat banget seandainya kamu ada di dekat
aku dan mungkin kita akan sama-sama mengenang masa lalu kita, saat kita sama-sama latihan saat kita sama-sama bertanding dan sama-sama kita memenangkan satu permainan, aku kangen saat saat itu Ajeng."
"Tapi aku enggak bisa janji Mas aku malu jujur aja, Intan aja jadikan teman ngobrol dan pelatih Mas."
"Haaa... tahu apa Intan dalam olahraga ayolah sayang Retno, kan Intan sudah ada yang punya dr Imam juga mau main, aku mau jadikan momen ini momen spesial kita."
"Mas, kenapa Mas memaksaku?"
"Aku tidak memaksa, cuman aku ingin kita menikmatinya aku tidak target juara dalam permainan ini, aku tidak ingin piala yang sudah sejak awal aku adakan menjadi milik aku kembali, pertandingan ini dan turnamen ini selalu aku yang memenangkan piala itu. Tapi saat ini aku hanya ingin kenangan itu dan momen kebersamaan kita."
"Baiklah tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya? harus pakai syarat segala."
"Mas jangan terlalu over acting, anggaplah aku biasa-biasa saja."
"Oke aku siap aku perlu support dan ngobrol sama kamu itu aja, aku akan perlihatkan permainan terbaikku di hadapan kamu sayang."
Retno menghela nafas dalam, kenapa aku harus jadi teman di lapangan juga? inginnya menonton dengan enak di kursi penonton, dan melihat permainan cantik di lapangan, tapi kemarin juga Mas Prabu juga mendampinginya, kenapa tidak untuk dirinya? aku juga jadi pendampingnya dan saling semangati.
"Retno, apa aku terlalu berlebihan jika aku berharap kamu bisa mendampingi aku di lapangan nanti?"
__ADS_1
Retno hanya diam memang permintaan Mas Prabu tidak terlalu berlebihan, dan dirinya pun diakui begitu kangen dengan suasana ini.
"Apa kamu ingin aku menang Retno?"
"Dalam setiap permainan siapa yang ingin kalah pasti semua orang juga mengharapkan menang, apalagi aura sudah dalam lapangan kepepet sama lawan menjadikan kita emosi dan ingin membalas dengan cara yang kita bisa."
"Hehehe... aku suka semangat kamu, dan suka segalanya yang ada di diri kamu."
"Gombal."
"Retno, aku begitu kangen saat kita di ruang ganti dulu, beri aku satu ciuman seperti dulu saat aku menang."
"Tapi kan Mas bermainnya juga belum? dan belum tentu menang permainan Mas kali ini."
"Hitung-hitung ciuman semangat dan nanti mungkin ciuman kemenangan heee..."
"Ngarep, nanti malah nggak fokus."
Dr Prabu menutup pintu dalam beberapa detik Retno sudah dalam pelukannya. Dengan terburu-buru mencari bibir ranum itu yang terkatup lalu di cium dari ujung ke ujung dalam tarikan nafas penuh perasaan, seakan ingin memasukkan ke dalam paru-parunya rasa dan aroma bibir itu, dan menjadikannya semangat dan obat untuk di bawanya ke tengah lapangan nanti.
Retno tak menolak saat bibir dr Prabu membuka katup bibirnya, dan merasakan hangat dari nafas mereka yang penuh getaran.
Sejenak berdua menikmati hangatnya gelora asmara mereka, yang masih membara di sulut kerinduan yang lama tak berpadu hilang semua rasa selain rasa ingin berdua dan merasakan kembali madu cinta yang dulu pernah ada, dan begitu subur mengisi dan memenuhi hati mereka kini.
Retno tak menampik kalau selama ini yang di nantinya adalah dr Prabu, yang mengisi hatinya dan tak mampu pindah ke lain hati adalah orang yang begitu dalam mengisi hati dan hari harinya, belaian dan usapan yang membuainya terasa melemahkan setiap persendiannya tak bisa menolaknya saat bibirnya dalam pagutan dan tubuhnya begitu rapat dalam rengkuhan kehangatan.
"Hemght."
"Udah ah."
"Sebentar lagi."
"Kita ke GOR."
"Tapi aku nggak mau kehilangan momen ini."
"Mas nggak jadi main?"
"Jadi lah, aku lagi semangat-semangatnya kalau di kasih doping kayak gini sama kamu heee..."
"Mas sudah-sudah! udah telat lho."
"Sekali lagi baru aku lepaskan, aku masih kangen sayang terasa dada ini mau meledak."
"Mesum."
__ADS_1
"Mesra."
Retno memeluk pinggang dr Prabu dan jinjit sedikit siap menerima pelukan, tapi dr Prabu malah mencium kembali bibir yang lagi tersenyum itu dan membungkamnya dengan mulutnya.
"Udah ah Mas nggak ada habisnya"
"Ya sudah."
Dr Prabu membelai bibir Retno yang basah dan kemerahan dengan jarinya, lalu mencium ujung kepalanya dengan penuh rasa cinta.
"Mas jangan melihat aku seperti itu ah, aku jadi malu." Retno menutup mukanya dengan ujung kerudungnya mukanya memerah.
"Aku hanya ingin memastikan kenapa kalau cewek habis di cium mukanya malu dan merah?"
"Mas mau tau nggak, berarti si cewek itu punya malu." Retno menggigit bibir bawahnya sendiri seperti ingin merasakan sesapan dan gigitan kecil tadi, entah rasa apa yang ada di dalam hatinya.
"Heeee...tapi kamu punya aku."
"Ayo ah cepat Mas."
"Iya, nggak sabaran amat."
Mereka berjalan berjejeran menuju GOR dan dr Prabu menggantungkan sarung raket dan ransel pakaian di pundaknya, dan Retno mengimbangi langkah- langkahnya, dengan kostum olahraga terlihat semakin tampan saja penampilan dr Prabu, tinggi tegap dan rupawan.
"Ikut aku ke kamar ganti ya."
"Idiiiih...malu Mas, risih aku mau ngapain? mesum?"
"Iiiiiiiiiih...kamu itu prasangka nya ya, kok jelek banget sih?"
"Hehehe...kan pengalaman."
"Dasar!"
"Hayo ngaku!"
"Maaf itu dulu kan dan akan selalu ku ingat kalau ciuman pertamaku di ruang ganti."
"Pengakuan yang kurang jujur."
"Kalau mau jujur harus di ulang."
.
.
__ADS_1
.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝