Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Support Intan


__ADS_3

"Mas mau tidur di mana? benar nggak mau pulang gimana keluarga Mas nanti mencari mereka pasti akan khawatir!" Bisik Intan sambil tangannya tetap di genggam dr Imam.


"Intan, kenyamanan ku ada di dekatmu, biar tidak tidur semalaman juga mungkin Kakakmu sudah pada mimpi indah dalam tidurnya, dan biarkan Aku merasakan memelukmu semalaman di sini!"


"Nggak enak Mas ini rumah Kak Prabu kita berlaku tidak sopan di sini masa begadang semalaman, tidurlah di sofa ini Aku juga mau tidur besok kan kita kerja."


"Sebentar lagi Intan, Aku janji setengah jam lagi Kamu boleh masuk kamar," bisik dr Imam di telinga Intan.


"Ya sudah, tapi jangan marah kalau besok aku kerja ngantuk!"


"Nggak lah, masa Aku marah sama orang yang Aku sayang?"


Intan tersenyum mengerti kegelisahan hati dr Imam juga dirinya.


"Intan, terimakasih ya telah mengerti segalanya yang Ku sampaikan padamu, cepatlah selesai kuliahmu berilah ketentraman bagiku dan Kita bisa berbagi semua rasa bersama, Aku ingin bahagia bersamamu bukan dengan yang lain."


"Aku juga sama Mas, kalau mengikuti ego sendiri rasanya gak ingin Aku masuk kamar tapi pengen di sini saja bersama tapi


gak mungkin kita melanggar norma dan tatakrama yang kita anut," sahut intan perlahan.


"Kalau nggak tidur sini di pangkuanku, Aku tak sanggup jauh lagi darimu."


"Mas, jangan memancing semuanya. Aku ini wanita dewasa jangan sekali kali menciptakan masalah diantara masalah, kalau kita kuat tapi kalau tidak kuat? gimana sudah Aku ingatkan berkali-kali sabar sampai nanti kita halal,"


"Iya Aku juga sabar Intan, Kita selesaikan dulu masalahnya satu-satu baru kita melangkah, Aku sudah bicara sama orangtuaku


walau tanggapannya belum begitu menggembirakan tetapi secara pelan-pelan kita tetap harus berusaha untuk meyakinkan mereka kalau Aku serius sama Kamu dan kita akan menjadi pasangan seperti harapan yang selalu Kita cita-citakan.


"Itu tugas Mas, karena masalah datangnya dari Mas sendiri dan orangtua Mas, bagaimana meyakinkan orangtua Mas Imam?"

__ADS_1


"Bantu Aku dengan cinta dan semangatmu juga Intan, sama Vionna sudah Aku tegaskan juga tapi Aku tidak mengerti kenapa Vionna begitu memaksakan diri menjatuhkan harga dirinya padahal masih banyak kesempatan bagi dia membuka diri jauh di sana di tempatnya bekerja."


"Aku sekarang kan ada di sini Mas."


"Iya Intan, itu Aku sangat senang karena tak perlu bolak-balik lagi ke Bandung dan pikiranku menjadi tidak terbagi juga menimbulkan pikiran jelek dan tak tenang di hatimu, tapi kan sekarang Kamu bisa melihat dan Kita bisa bersama-sama bahkan bisa kerja bersama-sama itu membuat Aku merasa tenang."


Kapan Vionna pulang?


"Harusnya besok, coba pikirkan akan seperti apa rumahtanggaku kalau Vionna di sana dan Aku di sini sama-sama mempertahankan karir walaupun Dia sudah berkata akan rela melepaskan semuanya seandainya Aku siap bersamanya,"


"Tapi pagi Mas pulang ya! kasihan orangtua Mas jadi cemas pastikan dulu pulang, kerja kan jam 08 banyak waktu. Hadapi dulu bagaimana orangtua Mas mengerti tidak setelah Kemarin Mas bicara?"


"Vionna mungkin saja mengerti tapi orangtua Mas juga harus mengerti Kalau tetap memaksakan kehendak bagaimana?"


"Aku tetap menolak Intan, jujur Aku tidak mencintai Vionna, tapi bagaimana supaya semua itu mereka mengerti orangtuaku sendiri juga Vionna nya karena mereka seperti sudah sepakat begitu."


"Aku sebenarnya sudah pasrah Mas, tapi mendengar ucapan Mbak Retno serasa semangatku kembali timbul, memang semua perlu perjuangan dan kesabaran, jadi Aku memutuskan tinggal sementara di sini biar Mas tidak merasa sendiri."


"Terimakasih Mas telah mencintaiku dan Aku pastikan cintaku juga tak bisa begitu saja Aku lepaskan, walau Vionna berkata apapun tentang Mas yang Aku percaya tetap Mas Imam bikan omongan orang lain."


Akhirnya mereka berpisah, karena waktu telah menunjukkan pukul 23:10 Intan Masuk kamarnya dan dr Imam tidur di sofa ruang keluarga di suruh tidur di kamar tamu tidak mau lebih memilih di sofa saja.


Dr Imam berencana mau pulang besok pagi ingin melihat bagaimana sikap orangtuanya setelah dirinya melakukan penolakan semalam, juga apa Vionna masih saja dengan keinginannya atau jadi pulang besok.


Dr Imam meyakini orangtuanya telah salah menilai dirinya dan Intan, sedang pandangan pada Vionna hanya karena dewasanya saja juga karena ada ikatan saudara. Padahal melihat seseorang dewasa ataupun tidak bukan dari usianya walaupun memang usia cerminan dari kedewasaan tetapi menurut pandangan dr Imam Vionna jauh dari kata dewasa kalau melihat caranya bersikap seperti itu.


Lamunan membawa dr Imam pada kantuk yang mulai datang tidur pulas tak hirau apapun samapi pagi menjelang Intan sudah berdiri di atas dr Imam tidur mau di bangunin kasihan masih terlihat pulas tapi pagi sudah menuju siang.


"Mas! bangun siang," suara Intan samar terdengar di telinga dr Imam.

__ADS_1


Perlahan membuka matanya dan mengusap mukanya baru sadar Intan sudah ada di hadapannya berasa baru tidur tapi sudah di bangunkan lagi.


"Pulanglah Mas nanti Aku tunggu di rumahsakit," ucap Intan sambil memegang lengan dr Imam.


Dr Imam mengangguk dan membereskan bajunya.


"Nggak ke kamar mandi dulu?"


"Nggak usah, pamitkan pada Kakakmu ya. Aku balik dulu mandi dandan dan langsung ke rumahsakit nanti kita sarapan bareng!" dr Imam tersenyum mengusap pundak Intan.


Intan mengantar dr Imam sampai mobilnya keluar dari pintu gerbang dan memandangnya dengan perasaan tak tega, terbayang beban perasaannya seperti apa.


Di satu sisi orangtua dengan keinginannya di sisi lain cinta mereka yang telah lama mereka untai tak bisa begitu saja mengalihkan perasaan seperti harapan orang tuanya.


Walau Intan juga sempat merasa down dengan perasaannya sendiri tidak yakin dengan harapannya yang bisa diraih tetapi melihat keseriusan dr Imam yang memperjuangkan perasaannya Intan merasa bersalah telah bersikap masa bodoh dengan hubungannya mau lanjut atau berakhir juga tak masalah baginya pada awalnya.


Kini Intan juga akan berusaha bisa meyakinkan orangtua dr Imam dengan caranya sendiri.


Minimal bisa bersama itu bentuk dukungan dan saling support. Apalagi Intan di tempatkan bersama dr Imam di ruangan prakteknya.


Intan tidak tahu akan bermuara di mana nanti hubungan mereka pada akhirnya akankah seperti harapannya atau terjadi hal-hal yang jauh di luar jangkauan pikirannya.


Semua di jalani saja apa adanya, hanya satu keyakinan kekuatan cinta yang membuatnya bisa dan masih bersama sampai saat ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2