Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Aku harus menang


__ADS_3

"Aku tahu, kamu itu tahu segalanya Intan, permasalahan ku dan suamiku. Kekasihmu adalah dr Imam SpOG adalah teman dekat Kakakmu yang juga suamiku kini pasti tahu semuanya."


"Iya Mbak."


"Apa yang akan kamu lakukan seandainya ada di posisiku Intan?"


"Mungkin seperti yang Mbak Retno lakukan selama ini, cara pandang perempuan saya pikir tidak akan jauh berbeda. Kalaupun berbeda mungkin tidak akan jauh-jauh amat."


"Kenapa aku sekarang ada di sini, kenapa aku keluar rumah, kenapa aku meninggalkan suamiku, kenapa aku keluar kerja, kenapa aku memutuskan komunikasi, dan seribu kenapa dan mengapa ada pada diriku saat ini Intan."


Intan diam, hening...


"Aku ingin introspeksi diri, dan menenangkan diri tidak setiap saat berantem dan adu pendapat yang berakhir dengan emosi yang berlebihan, aku selalu bertanya apa salahku apa salah suamiku sehingga kami di beri cobaan yang begitu berat?"


"Aku mengerti Mbak."


"Intan, aku tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini keluargamu, dokter Imam, dan suamiku sendiri, mereka punya alasan yang bisa ku pahami kenapa semua ini tidak terbuka sebelum kami menikah."


Intan menatap wajah Retno yang bicara mulai berapi-api.


"Tapi keputusan itu membuat aku sakit hati walaupun kalian bukan menipuku, aku memang terlalu mencintai Kakakmu sehingga aku selalu memaafkan kan setiap kesalahannya. Tetapi untuk kesalahan kali ini begitu sulit aku untuk memaafkannya Intan."


Intan masih saja mendengarkan tiap ucapan yang keluar dari mulut kakak iparnya.


"Aku juga tidak tahu Intan, apakah benar jalan yang ku pilih ini, baik tidak jalan seperti ini? tetapi aku ada alasan yang begitu kuat untuk menyelesaikan tugas akhir ku, dan mengharuskan aku berada di sini."


Intan mengangguk tanda setuju dengan pilihan yang Retno katakan.


"Sekarang aku bertanya padamu, apa pendapatmu seandainya kamu ada di posisiku, pemikiran apa dan jalan apa yang sebaiknya kamu ambil? Tapi aku ingin yang terbaik untuk rumah tanggaku, untuk keluargamu, untuk keluargaku, dan juga untuk keluarga penyebab semua permasalahan ini yaitu keluarga walikota dan si ulat memuakkan Alya?"


"Mbak, Mbak Retno adalah istri sah dari Kak Prabu, Mbak Retno bisa mempertahankan rumahtangga Mbak itu kalau Mbak mau, ataupun melepasnya, seandainya tidak mau. Tetapi kalau Mbak Retno sama Kak Prabu masih begitu cinta, kenapa mesti di lepaskan?"


Giliran Retno yang diam merasa kena di hatinya, dan betapa benar ucapan Intan. Tapi mengingat semua cobaan yang mendera rumah tangganya saat ini merasa dirinyalah yang paling terpuruk ke dasar jurang yang paling dalam, padahal sebenarnya semua orang punya masalah ringan dan berat hanya saja permasalahannya lain-lain.

__ADS_1


"Itu adalah satu kemenangan menurut pendapatku, tetapi seandainya Mbak Retno dan Kak Prabu melepaskan rumah tangga ini, bubar dan hancur itu adalah satu kekalahan, dimana cinta sejati itu berada? kalau maaf sulit di dapatkan untuk kedamaian masa depan?"


Deg! Retno hatinya merasa terusik dengan pendapat adik iparnya Intan Juwita, ada benarnya juga pendapat Intan kenapa dirinya harus kalah? oleh seorang parasit ulat bulu gatal yang mengganggu dalam kehidupan rumah tangga dan kehidupannya?


"Setiap orang berhak sekuat tenaganya dan harus berusaha mempertahankan rumah tangganya, berhak mempertahankan milik dan kehidupannya tak ingin terganggu siapapun, setidaknya itu yang ada di dalam pikiranku Mbak."


Retno masih mencerna dengan baik tiap kalimat yang Intan ucapkan.


"Aku bukan orang yang gampang menerima kekalahan, aku akan perjuangkan semua yang menjadi milikku apapun itu termasuk juga rumah tangga ku suatu saat nanti"


"Intan, sepertinya kamu bukan adik ipar ku, tapi motivator ku! sepertinya aku ada amunisi baru yang membangkitkan semangatku."


"Heee...Bagiku orang seperti Alya tidak layak memenangkan sesuatu yang begitu berharga apalagi rumahtangga yang di bangun dengan dasar cinta Mbak, yang menjadi milik kita ayo kita pertahankan dan perjuangkan, dan aku berharap Mbak Retno dan Kak Prabu bisa menemukan hikmah dari semua kejadian di mana masing-masing menyadari arti sebuah kata cinta sejati takkan tergoyahkan oleh siapapun."


"Itu benar Intan, benar apa yang kamu katakan semuanya, aku nggak boleh kalah dengan parasit tak berguna yang menghancurkan segalanya, aku harus menang dan bangkit."


"Apa Mbak Retno tahu sekarang Kak Prabu berada di Jawa timur? Kak Prabu berada di daerah bencana alam erupsi letusan gunung menjadi relawan mengabdikan diri di tengah masyarakat pengungsian sebagai tenaga medis bersatu dengan semua orang dari berbagai daerah."


"Tapi Mbak baca?"


"Ya, aku baca Intan, mungkin mulai sekarang aku harus belajar bagaimana ikhlas itu sebenarnya?"


"Apa Mbak sudah punya gambarannya?"


"Mungkin aku akan merelakan Mas Prabu menikahi Alya, bagaimanapun itu adalah keharusan dan aku sebagai istri harus siap menjadi penutup aib suamiku."


"Mbak!"


"Aku mencintainya Intan, berarti aku harus merelakannya." Air mata Retno tak bisa di bendung lagi, hatinya merasa tergugah, kesedihannya kian bertambah bersatu dengan kerinduannya yang kian bertumpuk, akan seorang simpatik yang begitu sama mencintainya.


"Aku tahu, Mbak Retno punya hati seperti berlian." Intan juga sama menitikkan air mata mereka sama-sama menangis sambil berpegangan tangan dan saling memberi kekuatan.


"Aku akan berusaha jadi istri yang baik intan, aku hanya manusia biasa tak bisa melawan takdir yang sudah di gariskan untukku."

__ADS_1


"Aku berdo'a yang terbaik buat rumah tangga Mbak dan Kak Prabu, kami sekeluarga merasa khawatir saat kami tahu Kak Prabu berada di daerah bencana alam apalagi dalam permasalahan rumah tangga yang sedang membelitnya."


"Berapa lama Kakakmu akan berada di sana?"


"Memang nggak kasih khabar sama Mbak?"


"Kami putus komunikasi, ponsel Mas Prabu hancur di banting dan aku membuang nomor lama ku, jadi impas."


Intan tersenyum, begitulah cinta kadang ada marah di balik rindu dan ada benci di balik sayang.


"Intan, maaf aku janji sama Bu Harni mau menjemputnya sore ini, nggak terasa kita ngobrol tahu-tahu sore aja."


"Oke Mbak, kebetulan aku juga mau pulang karena takut kesorean jadi sekali lagi maafkan aku Mbak juga Mas Imam, dan selalu ada do'a terbaik buat Mbak Retno dan Kak Prabu."


"Sama-sama Intan Aku yang terima kasih atas kedatanganmu aku begitu senang bisa ngobrol dan bertukar pikiran dengan kamu, mungkin aku begitu cocok sama kamu karena kita sama-sama perempuan tanpa aku melihat kamu adalah adikniparku, akan beda rasanya kalau aku berbicara dengan suster Kepala Harni, pasti nggak sebebas curhat sama kamu."


"Jangan lupa makan tuh nasi sotonya sayang, sudah aku belikan masa makan siang cuman makan rujak doang."


*****


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Ini jari senin vote nya di pakai ya🤗🙈🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


__ADS_1


__ADS_2