Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kejujuran


__ADS_3

"Mengerti soal apa? sungguh aku tak mengerti sedikitpun."


"Ya ampun Retno, sudahlah ayo kita masuk, malu sama Pak Min juga Bi Iyah."


"Aku nggak malu! karena aku bukan pembohong."


"Siapa yang bohong? aku hanya mengatakan yang bicara denganku itu adalah temanku, memang benar kenyataannya itu temanku."


"Apa yang Mas bicarakan?"


"Mereka hanya menggoda ku dan mengolok-olok aku, dan ujungnya mendoakan pernikahan kita."


"Omong kosong!"


"Retno!"


"Kenapa? nggak suka aku merasa curiga dan mengatakan Mas pembohong?"


"Retno!"


"Kalau mas tidak suka, malam ini juga aku pindah ke mess, kita pisah ranjang, sampai kita merasa perlu meminta maaf atas kesalahan dan introspeksi diri kita masing-masing."


"Retno? apa-apaan kamu ini?"


"Aku tidak main-main dengan keputusanku!"


Dr Prabu menarik ponselnya dan membantingnya sekuat tenaga hingga ponsel itu berantakan, Retno memandang dengan perasaan kecewa, bergantian menatap muka suaminya dan juga melihat ponsel yang berantakan menjadi pecahan kecil.


Retno berjalan masuk rumah dan berlari naik tangga masuk ke kamarnya mengeluarkan semua pakaiannya di masukkan ke dalam tasnya.


Air matanya tak terbendung lagi hatinya teriris mendapati kenyataan hancurnya bangunan cinta mereka di awal pernikahannya.


"Retno! ada apa dengan kamu ini? mau ke mana?"


"Aku mau mencari dimana aku merasa di hargai bukan hanya di butuhkan!"


"Aku tak mengizinkanmu pergi!"


"Siapa yang meminta izin darimu? seperti kebohongan yang Mas lakukan apa ada izin dariku? dan semua perlakuan kasar Mas padaku membanting ponsel adalah perbuatan yang tidak menghargai aku sebagi istrimu. Apakah itu hal yang tidak wajar seorang Istri meminta penjelasan?"


"Mau kemana kamu?"


"Aku kemana, aku juga nggak tahu tapi satu yang membuat aku pergi kebohongan yang selama ini Mas lakukan padaku sungguh itu tak bisa ku terima dan aku maafkan."


"Retno, Retno! sekali lagi aku katakan itu hanya temanku."


"Baiklah Mas, mungkin saatnya semua harus terbuka dan terang benderang semua kebohongan mu itu."


"Apa maksudmu?"


"Ada apa dengan Walikota yang tadi menelephon? sudah berapa bulan si ulat bulu gatal Alya mengandung dan hamil anakmu? apa Mas kira aku tidak tahu semuanya? aku tahu semuanya Pak dokter Prabu Seto Wardhana yang terhormat! dan sekalian begitu bejat, bahkan aku tahu sejak kita selesai melaksanakan akad nikah."

__ADS_1


"Retno!"


"Silahkan berbohong lagi, aku tidak siap dengan semua yang akan kamu jadikan alasan. Hanya satu sesal ku kenapa semua ini tidak terbongkar saat kita belum melakukan akad nikah, semuanya takkan terjadi! aku menjadi orang yang paling bodoh."


Dr Prabu tertegun sejuta tanya memenuhi otaknya kenapa Retno tahu semuanya? darimana?


"Apa dengan membanting ponsel dan membuatnya remuk akan menghilangkan barang bukti?


salah dokter! aku sudah mengcopy nya semua pesan dan chat juga kiriman video mesra dan mesum kalian berdua! sudah aku simpan sebagai barang bukti."


"Retno!"


"Jangan menghardik istrimu dokter! Aku Raden Ajeng Retno Ayuningtyas Putri Raden Haryo Atmojo tak akan mengemis apapun darimu, aku telah salah langkah, aku telah mencintai orang yang tak menghargai ku!"


"Astagfirullah, Retno maafkan aku, sekarang aku akan berterus terang kepadamu aku mohon kamu jangan keluar rumah ini, aku akan melakukan pembelaan diri."


"Lakukan! tapi semua itu takkan membuat surut langkahku, apapun pembelaan mu di mataku tetap penghianatan dan kebohongan besar."


"Tapi setidaknya kamu bisa mendengarkan penjelaskan ku aku tak ingin kamu pergi apapun yang terjadi, aku janji akan berterus terang kepadamu kalau itu adalah bukan salah aku."


"Aku tak mau lagi mendengar penjelasan apapun! semua sudah jelas aku tak terima semua itu."


"Bagaimana kamu bisa mengerti jika kamu tidak bisa mendengarkan penjelasan ku heh?"


"Jangan membentak ku!"


"Retno menunjuk pada suaminya memberi jarak dan peringatan, Hatinya sudah berdarah perdebatan berujung pertengkaran telah berkobar sulit mencari jalan damai dan penyelesaian yang bijaksana dalam keadaan panas dua-duanya.


"Retno, maafkan aku, aku hanya ingin kamu dengar penjelasan ku."


"Retno, aku ini suamimu!"


"Suami macam apa? cukup semuanya jangan halangi aku pergi."


"Retno, tolong jangan pergi, oke kita lagi dalam masalah, rumahtangga kita dalam masalah, kita selesaikan di sini."


"Itu adalah masalah Mas sendiri bukan masalahku, Mas yang bikin masalah, Mas yang membuat dan membawa masalah ke dalam rumah ini, aku nggak mau ada di dalamnya, mulai sekarang aku akan tentukan jalan hidupku sendiri."


"Retno, kamu mau ke mana?"


"Apa masih perlu bertanya seperti itu?


"Setidaknya kamu adalah tanggung jawabku, kamu itu istriku apa nanti kata orang kamu keliaran di luar, keluar dari rumah?"


"Aku keluar dari rumah bukan aib, karena dengan alasan jelas tapi Mas menghamili anak orang itu musibah besar dan penghianatan yang tak bisa aku terima dan aku maafkan! mulai detik ini aku mengajukan pengunduran diri atau resign dari pekerjaanku."


"Haaaaaaaaaaaaaaah!!! aku tak mengijinkannya, aku tak terima pengajuan resign kamu!"


"Terserah!" Retno tak kalah sengitnya membalas suaminya seperti menantangnya sama dengan emosi yang meledak-ledak.


Dr Prabu kalap, berteriak sekencang kencangnya sambil membanting pintu kamar lalu menendang dan menguncinya.

__ADS_1


Retno kaget luar biasa, baru melihat kemarahan suaminya yang begitu emosi tingkat tinggi. Retno terpaku di pinggir tempat tidur dengan airmata yang menyesakkan, dr Prabu mondar mandir dengan gigi menyatu dan rahang mengatup, bibirnya bergetar dan mukanya nya berubah lebam.


"Retno! mau tidak mau kamu harus mendengar penjelasan ku."


"Aku tak mau!"


"Jujur aku katakan padamu itu anakku! anak yang bukan aku harapkan, aku melakukan pemaksaan pada Alya karena satu alasan aku membencinya! ingat karena aku membencinya! Aku dijebak dengan secangkir kopi twister yang dia berikan padaku, hingga aku tertidur dan Alya bebas melakukan segala yang diinginkannya. Dia juga memfotonya seperti yang kamu lihat di video dan foto yang dia kirimkan ke ponselku, aku tersadar saat posisiku satu selimut dalam keadaan telanjang dan aku emosi menyadari semuanya, aku memandang benci padanya dan timbul niat jahat ku seperti ingin membuatnya hancur dan terpuruk."


Dr Prabu mendekat dan ingin meraih tangan Retno tetapi karena menghindar merasa jijik mendengar kejujuran itu.


"Jangan sentuh aku, aku benci semuanya!"


"Apa yang kamu inginkan sekarang setelah mendengar kejujuranku yang mungkin kamu tidak akan suka! tetapi ketidakjujuran ku juga tetap membuat kamu membenciku. Jadi apa yang harus aku lakukan dalam dilema ini? jujur ataupun tidak dihadapanmu sama saja."


"Aku ingin kita berpisah!"


"Retno, kenapa kamu hukum aku begitu kejam tak ada sedikit maaf untukku atas pembelaan ku ketidaksalahan ku?"


"Seperti apa yang Mas inginkan rumahtangga kita? pergilah nikahi wanita jal**g itu biarkan rumahtangga kita karam dengan sendirinya."


"Retno, aku tak akan menikahi dia, aku tak mencintainya, tolong ampuni dan maafkan aku."


"Itu anakmu! walau bagaimanapun itu darah daging kamu, terlepas mencintai ataupun tidak dia pasti akan meminta tanggung jawab mu , aku jijik melihat kalian berdua, aku sakit, aku marah aku tak terima dan aku merasa terhina!"


"Retno mengertilah satu hal kenapa aku tidak jujur dari sebelum kita menikah karena aku takut kehilanganmu, juga aku menjaga harga diri kedua keluarga kita, seandainya kita sampai gagal menikah setelah undangan tersebar akan ditaruh di mana muka kita dan keluarga kita?"


"Apa mas pikir sekarang masalah semuanya selesai? aku tanya apa tanggung jawab Mas pada si jal**g itu? tak ada solusi lain selain Mas menikahinya selesai."


"Aku tak akan menikahinya Retno!"


"Tapi keadaan mengharuskan seperti itu! Aku benci berbagi, Aku benci dengan pernikahan kedua, aku begitu tak sudi di madu, ingat itu! BIARKAN AKU MEMILIH apa yang menurutku baik buat hidupku, jangan halangi aku, aku tak mau bersentuhan lagi dengan Mas!"


Dr Prabu melipatkan kakinya tersungkur di bawah kaki Retno duduk di lantai di hadapan kaki Retno dengan linangan air mata, luluh lantak dan begitu terkoyak hati Retno juga melihat suami yang di cintainya memohon maaf dan ampun dengan merendahkan dirinya seperti itu, Retno seakan tak kuat menerima semuanya.


Tapi Retno tak bergeming, tetap pada pendirian dan prinsipnya.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya πŸ€¦πŸ˜†πŸ’πŸ™


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, MENITI PELANGI


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!

__ADS_1


Slow ya, karena Author punya on going dua boleh baca dua-duanya di jamin melelehπŸ‘©β€β€οΈβ€πŸ’‹β€πŸ‘¨πŸ™



__ADS_2