
Retno membuka pintu kamarnya secara perlahan, melihat Mas Prabu masih tidur dengan memeluk guling nya, sekejap Retno hanya berdiri saja di balik pintu entah apa yang harus di lakukannya, seperti melihat orang asing yang tiba-tiba menghalangi segala kebiasaan dan aktivitasnya, dan dalam hatinya meyakinkan jangan terganggu dengan orang itu, ini tempatnya, ini huniannya dan ini adalah miliknya.
Retno masuk kamar mandi dan membersihkan diri mengguyur semua tubuhnya dengan air dingin terasa segar dan pulih tenaganya, begitu kangen suasana kerjanya setelah tiga hari dirinya tak masuk, teringat senyum manis teman dekatnya suster Aisyah juga atasannya langsung suster kepala Harni yang begitu menyayanginya, begitu semangatnya Retno hingga baru beduk subuh dan adzan berkumandang Retno sudah mandi, mungkin karena terbiasa terbawa suasana sebulan terakhir ini selalu bangun dini hari.
Menggelar sajadah sebelum beraktifitas atau saat rehat dari kegiatannya menjadi kebiasaannya sejak kecil, menjadi tempat ternyaman saat mengungkapkan dan mengadukan segala keluh kesahnya juga mengadukan segala harapan dan keinginannya, dan Retno mengakui Yang Maha Kuasa begitu murah pada dirinya itulah yang hakiki.
Selesai melakukan kewajibannya Retno masih melihat Mas Prabu lelap mungkin karena tidurnya malam atau malah mungkin baru tidur menjelang subuh, tapi wangi lembut harum sabun menusuk hidungnya membuat dr Prabu malas untuk bangun dan begitu menikmati kehangatan tempat tidur dengan selimut yang wangi pula.
Retno masih menggosok-gosok rambut di kepalanya dan lalu mengeringkannya, dan suara hairdryer cukup membuat dr Prabu menggeliat dan membuka matanya memandang Retno di meja belajar sedang berdandan.
Dr Prabu duduk di pinggir tempat tidur dan memandang Retno yang masih seperti kemarin kemarin diam, marah dan ketus.
"Kok nggak membangunkan aku sih? boleh nggak kamu berbagi kamar mandi dan handuk buatku?"
Retno hanya diam sibuk dengan dirinya sendiri, dr Prabu berdiri memeluk Retno dari belakang yang lagi duduk berdandan.
"Mas! apa-apaan sih...mandi sana."
"Kamu kalau di tanya benar-benar nggak mau jawab, tapi kalau di peluk baru jawab, berarti maunya di peluk."
Dr Prabu terkekeh sendiri dan masuk kamar mandi, terdengar suara gayung yang begitu kencang mengambil menyiuk air dan suara guyuran juga cipratan air begitu berisik, baru tahu Retno kalau mandi cowok itu begitu gaduh dan rusuh begitu.
Retno mengambil laptopnya dan men-cash nya di atas meja riasnya, dr Prabu keluar kamar mandi.
"Suruh jangan macam-macam di kamar orang malah buka-buka laptop segala."
"Aku hanya ingin memastikan 'badai itu telah berlalu' dan aku telah datang menemui mu" dr Prabu menggosok rambutnya dengan handuk.
"Siapa yang suruh buk-buka laptopku?"
"Nggak ada, aku sendiri yang mau."
"Nggak sopan, nggak izin, nggak ada etika dan tata krama, banget jadi orang."
"Mending nggak sopan nggak ada etika dan tata krama daripada nggak ngomong, kalau pun ngomong marah-marah melulu, aku kan baik-baik ngomong dan bertanya sama kamu, mau antar kamu pulang, mau temenin kamu, aku telah berbaik hati sama kamu."
"Siapa memang yang mau di antar? aku nggak meminta, aku bisa dan biasa melakukan apa apa sendiri."
"Aku memang tak di pinta tapi aku sadar diri karena aku sayang sama kamu. Aku mencintai kamu Retno sama seperti kamu mencintai aku, pagi-pagi kita sarapan debat enak banget."
"Retno... ini sarapan ada kue-kue buat Pak Prabu bikinkan minumnya, biasanya minum apa?"
__ADS_1
Retno hanya diam dan lalu beranjak mengambil dua piring kue-kue dari pintu depan dan Bu Harni menatap Retno dengan tersenyum.
"Pagi-pagi sudah pasang muka kecut, ada tamu juga suguhi senyum dong jangan merenggut begitu, bikin minum sana di dapur." suster Harni sedikit menggoda Retno.
Retno pergi ke dapur dan tak membantah, setelah mengantarkan piring kue tadi ke kamarnya dan membawa dua cangkir minuman ke kamarnya lagi, dan menaruhnya di hadapan dr Prabu lalu duduk agak jauh.
"Minum Mas."
"Terimakasih sayang...ikhlas nggak nih?"
"Nggak!"
"Ngapain di suguhkan kalau nggak ikhlas?" dr Prabu tertawa melihat wajah Retno yang lucu dan meremas tangannya.
"Aku tungguin kamu sampai pulang kerja kita ke Tasikmalaya lagi siang ini habis kamu kerja."
"Aku bisa sendiri, Mas pulang duluan saja nggak apa-apa."
"Retno kenapa sih coba nggak membantah satu kali saja, aku ingin memastikan kamu itu sudah sehat meyakinkan kalau kamu itu masih ikut program KKN."
"Iya, aku masih ingin meneruskan KKN ku.''
"Aku nggak tertarik lagi dengan keringanan kehadiran, setelah tahu Mas adalah pimpinannya di rumah sakit itu, lagian aku sudah terbiasa seperti ini biasa dengan sangsi, biasa dengan hukuman."
"Terserah kamu, yang pasti nanti siang aku tungguin."
"Aku bisa sendiri Mas!"
"Aku tahu Retno kamu itu bisa sendiri, bisa segalanya melakukan ini itu tapi sampai kapan kamu bisa hidup sendiri hemght? terus terang dan jujur aku tak sanggup dan aku yakin kamu juga tak akan sanggup, aku butuh kamu, ayolah lunak sedikit aku juga mau marah kalau tak berpikir jauh, aku hanya manusia biasa pandanglah aku sisi baiknya jangan melihat sisi buruknya saja biar hatimu lapang, ingat aku sayang kamu."
"Retno, itu ada Mas Arya di depan temui dulu..." suara suster Harni jelas terdengar seiring bunyi klakson mobil memanggil depan rumah, dan sekilat Retno berdiri tapi tangan dr Prabu menahannya.
"Siapa dia?"
"Temanku."
"Teman apa?"
"Teman ya teman, seperti teman-teman yang lainnya, dia teman juga sodaraku di kampung."
"Biar kamu temui dia sama aku."
__ADS_1
"Apaan sih Mas?"
"Teman sekampung apalagi sodara ya kenalkan ke aku dong."
"Nggak!"
"Mending nggak usah di temui!"
"Apaan sih Mas, aturan dari mana itu?"
"Itu aturan ku, mulai detik ini mulai berlaku."
"Ada-ada aja lepasin tanganku!"
"Nggak akan."
"Lepasin! bikin aturan sendiri tanpa persetujuan!"
"Katakan siapa itu?"
"Sudah aku katakan itu teman ku."
"Aku nggak percaya."
"Terserah! Itu Mas Arya masih orang sekampung ku, juga sodara aku dan mungkin suka sama aku tapi itu urusan dia, puas?"
"Sudah aku duga!"
"Maksud Mas apa?"
"Aku yang mesti tanya maksud dia apa? aku nggak suka dia pagi-pagi sudah menemui kamu."
"Apa aku pernah protes complain nggak suka dengan yang Mas lakukan padaku?"
"Retno bedakan apa yang aku lakukan padamu kemarin-kemarin dan yang aku lakukan sekarang, aku bermaksud baik padamu sungguh tak ada sedikitpun niat jelek di hatiku, apa yang aku lakukan padamu waktu itu hanya ingin memperlihatkan aku ini punya kuasa, punya rasa marah rasa tersakiti dan ingin semua terbalaskan agar kamu tahu itu."
"Silahkan temui orang itu tapi kamu ingat aku tak akan membiarkan kamu dekat dengan siapapun, tak akan dan lihatlah kedepannya anggap ini ancaman buatmu!"
Retno bangkit dalam pandangan mata tak rela dr Prabu, dan dalam hatinya Retno merasa telah membalikan keadaan Mas Arya telah membuat marah dan cemburu Mas Prabu, kali ini hatinya senang dan bisa membuat Mas Prabu nggak enak sarapan.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1