Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Semakin ngaco aja


__ADS_3

"Retno tolong maafkan, aku dalam posisi serba salah, kukira kamu akan lebih mengerti dan aku mohon kamu mengerti dan harus mengerti."


"Ngapain Mas ikutin aku? hanya mau minta pengertian? aku bukan pabrik produksi maaf yang setiap saat kesalahan tuntas dengan meminta maaf! tapi harus dengan janji perubahan bukan maaf saja sudah selesai. Bukan begitu Mas yang aku inginkan"


"Retno, aku pasrah dalam posisi salah, tapi percayalah itu untuk kebaikan, kan aku sudah katakan dari awal semuanya Alya bukan siapa-siapa di hatiku sudahlah, kamu jangan merajuk seperti ini, masalah perasaan dia padaku aku tak mau tahu yang ada di hatiku adalah kamu."


"Aku, malas berdebat."


"Ya syukur, aku hanya khawatir kamu pergi dalam keadaan marah, coba tadi minta antar aku akan selalu siap walau capek habis melawan orang di lapangan, hanya ingin memastikan kamu tak marah padaku."


"Nggak bisa Mas memberi penjelasan? semacam pengertian pada si ulat bulu itu? kenapa menjadi orang itu begitu lamban dan labil? tegas dong sedikit sama ulat itu, Mas juga sama gatal!"


"Ya ampuuuuun... Retno, aku sudah mengatakan pada Alya dan aku nggak tahu sikapnya biasa aja dia seolah nggak punya beban, coba kamu bayangkan kamu di posisiku aku seorang direktur pimpinan satu rumahsakit di sukai anak seorang pejabat di lingkungan kita, dan hati kita telah aku serahkan padamu apa kamu sudah nggak yakin sama ketulusan hatiku? apa aku harus galak dan pasang muka sadis?"


Retno hanya diam dan tafakur dirinya sendiri, terkadang hatinya juga berontak apa karena aku terlalu mencintai Mas Prabu dan membiarkan rasa cemburu berkeliaran dengan bebas meracuni hati dan pikirannya.


"Ayo kita jalan-jalan jangan di sini aja biar hati dan fikiran kita terbuka, kita nonton dan kita ke tempat-tempat yang dulu pernah kita singgahi."


"Aku capek, mau tidur."


"Ayo, kalau mau tidur aku temani, tidur berdua kan?"


"Mas!"


"Ssst... kamu jangan teriak-teriak takut sangkaan orang kamu di apa-apain sama aku."


"Balikin ponselku!"


"Nggak."


"Balikin!"


"Aku balikin, tapi kalau kamu mau keluar sama aku dan senyum manis juga nggak marah-marah lagi."


Retno menutup mukanya dengan ujung kerudungnya dalam hatinya merasa gondok mana ada orang lagi marah bisa senyum manis.


"Retno dengar aku, ayo kita keluar dan aku akan bicara sama kamu."


"Aku malas."


"Kamu jadi bandel amat sih sekarang?"

__ADS_1


"Kenapa nggak suka?"


"Aku malah suka heeeeee..."


"Aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan selepas KKN dan aku mau pulang kampung aku akan meneruskan usaha keluargaku, aku akan memulai hidup baru tanpa rasa sakit di hatiku, dan kenyataan cinta yang ku perjuangkan jauh dari ekspektasi angan-angan ku."


"Apa? Retno apa tidak kamu fikirkan perasaanku? apa itu jalan terbaikmu dengan mengabaikan rasa di hatimu?"


"Mas, masih berfikir perasaan Mas, sedangkan Mas sendiri pernahkah berpikir tentang perasaanku?"


"Makanya aku menyusul kamu ke sini karena aku memikirkan perasaanmu, dan ingin meminta maaf! kenapa kamu nggak mengerti aku? ayo lepas KKN aku antar pada keluarga kamu aku lamar kamu dan aku serius akan memperjuangkan perasaanku, aku juga lelah Retno kita hanya soal cemburu dan cemburu sama seperti rasa cemburuku padamu."


Retno tertegun, dan baru kali ini melihat muka marah Mas Prabu.


"Begitu sulit memahami hati seorang wanita, pikir dengan baik-baik memahami kamu saja yang sekian tahun kita kenal hanya berpisah lama aku tak bisa, apa aku gagal menyelami kamu Retno? bagaimana memahami seorang yang baru aku kenal seperti si Alya? masa bodoh dengan perasaan orang lain, kemana rasa yang dulu kita sama-sama punya begitu mudahnya hilang hanya karena cemburu yang tak masuk akal."


Retno masih diam, dr Prabu mengambil ponsel Retno dan membukanya tetapi pakai kunci password.


"Apa nama password nya?" Retno masih diam.


"Katakan!"


"Mas mau apa?"


"Tunggu! Mas juga cemburu sama aku kan?"


"Aku bukan cemburu, hanya aku tidak suka."


"Itu sama saja, apa bedanya?"


"Kamu pikir aku main-main sama kamu heh? Retno apa kita akan selalu bertengkar, salah faham dan marah-marah seperti ini terus?" dr Prabu setengah berbisik di telinga Retno.


Retno merasa merinding tak mau menatap wajah marah itu, dan berusaha memandang ke arah lain, "Aku nggak akan keluar dari sini sampai kamu mengatakan password ponsel ini dan berhentilah menekuk wajahmu."


Retno masih saja cemberut.


"Aku yakinkan lagi padamu Retno, kalau aku tak akan melepaskan kamu dan itu janjiku!"


Retno diam saja, tidak menyahut juga tidak memandang dr Prabu dan tiduran membelakangi dr prabu yang masih duduk di ujung tempat tidurnya, mukanya di tutup ujung kerudungnya menghadap tembok.


"Retno, makan dulu sini sama Pak Prabu Ibu udah sediain."

__ADS_1


"Ya Bu."


Retno dengan malas keluar, terdengar omongan suster Harni yang bicara sama Retno dari pintu rumahnya.


"Kalau tidur kamu di kamar depan sini saja dan Pak Prabu di kamarmu, jangan macam-macam ya kalian berdua nggak Ibu izinin tidur bareng, kalau berantemnya belum selesai di sambung saja besok,sekarang makan saja dulu sebelum terlalu malam."


Orang tua yang bijaksana dr Prabu tersenyum, dan tak lama Retno masuk lagi ke kamarnya dan hanya berdiri di pintu.


"Apa? ajak makan?"


"Mas, makannya mau di mana di ruang makan apa di sini aja?"


"Kalau nggak repot maunya sih di sini biar aku bisa makan sambil memandang kamu."


"Dasar!" Retno berjalan balik ke luar dan masuk ke dalam rumah dan kembali membawa makanan dan semua komplit dengan di bantu suster Harni.


"Makan Pak Prabu, seadanya."


"Luar biasa ini juga Bu Harni, bukan menunya yang penting kita makannya sama siapa dulu."


"Ya ya ya silahkan, Ibu tinggal dulu ya."


"Ibu bareng ayo sekalian kita makan di sini."


"Oh, saya sudah duluan sama Bapaknya tadi yang belum makan tinggal kalian di sini."


"Iya Bu terimakasih."


"Dimakan juga belum terimakasih duluan, ayo lanjutkan."


Retno mengambilkan nasinya dan lauknya biar dr Prabu pilih sendiri yang dia suka, Retno makan duluan dr Prabu belum memulai masih milih-milih dan memandangi tiap mangkuk kecil berisi macam-macam lauk dan sayur.


"Nggak ada yang suka?" Retno nyeletuk.


"Bukan sepertinya enak semua, apalagi makannya sama kamu."


"Makan dulu jangan gombal melulu,.sini aku ambilkan." Retno menyendok lauk dan sayur dan dr Prabu menyodorkan piringnya.


"Gitu dong sayang, baik-baik sama suami"


"Idiiiih jadi suami sejak kapan?"

__ADS_1


"Kan suatu saat pasti."


"Semakin ngaco aja."


__ADS_2