Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Tetap mesra


__ADS_3

Mas, kasihan Intan ya. sepertinya mereka baru dapat masalah dalam hubungannya dengan dr Imam," ucap Retno sambil membereskan tempat tidur dengan sapu lidi padahal kelihatan sudah begitu licin dan wangi.


Retno sangat rapi orangnya semua tak bisa kalau tidak rapi, termasuk kamar dan tempat tidurnya, serasi dengan orangnya yang selalu bersih dan tampak selalu cantik di tiap penampilannya, dr Prabu baru tahu kalau Retno istrinya tak bisa melihat sesuatu yang kotor dan tidak rapi apapun itu, awalnya terasa semua salah tapi kalau semua di biasakan disiplin akhirnya jadi biasa juga, apapun harus sesuai keinginannya termasuk cara berpakaian suaminya.


"Biarin saja mereka belajar dewasa menghadapi permasalahan dan itulah yang akan membuat mereka lebih saling mencintai seandainya mereka bisa melewatinya," dr Prabu mencium pipi Retno yang duduk di sisi tempat tidur. Lalu mengelus perut buncitnya sambil bicara pada calon buah hati mereka.


Retno membiarkan suaminya menciumi perutnya sedang tangannya mengelus rambut suaminya yang tiduran di pangkuannya.


"Mas, mungkinkah dr Imam bisa menentang kedua orangtuanya?" tanya Retno lagi. Sambil mengelus wajah suaminya yang menikmati setiap sentuhannya.


"Yang tahu itu adalah dr Imam sendiri, tapi sepertinya dengan Intan mereka serius banget kelihatannya." dr Imam memeluk perut Retno, saat seperti inilah kebahagiaannya, rasanya hilang semua capek penat saat berdua sama Istri tercintanya.


"Iya, tapi dasarnya aja yang playboy jadi hilang kepercayaan orangtuanya saat akan serius," ucap Retno sambil mencubit leher suaminya.


"Cowok wajar, cewek juga lagi penjajakan sama saja tujuannya mencari yang cocok dan pasti kuat, gagah, cakep kayak Aku kan?" dr Prabu menunjuk dadanya bermaksud memuji dirinya, tapi Retno menutup mulutnya membuat dr Prabu terkekeh sendiri.


"Mas kepedean amat sih? ih sok banget merasa gagah juga cakep!" Retno meledek suaminya sambil cemberut. Retno mengelus perutnya sendiri.


"Emang tak merasakan kalau Aku itu gagah? ini hasilnya mau coba lagi sekarang membuktikan? ayo dengan senang hati Papa tengok Dedek kesayangan sekarang ya?" dr Prabu semakin mencium perut Retno yang menahan muka dan mulut suaminya dengan tangannya karena merasa geli.


"Mas! ih masih sore mending kita cari lagi nama buat Dedek kita ini," jawab Retno seperti menolak keinginan suaminya, walau semua tak mungkin bisa menahannya kalau suaminya punya keinginan pasti harus di tuntaskan dulu.


"Masih banyak waktu Sayang, kan kita sudah menyimpan nama beberapa yang sudah di sepakati." dr Prabu tangannya mulai piknik pada tempat dan sudut kesukaannya.

__ADS_1


"Mas, apa tidak meminta rekomendasi pada Romo ku? mungkin Romo akan senang dan selalu punya nama yang bagus," ucap Retno sambil melihat tangan suaminya sudah di titik yang sensitif.


"Sayang, Anak kita ini bukan Anak Romo, hanya cucu! kita yang capeknya ya kita lah yang kasih nama kesayangan dan do'a buat buah cinta kita, Aku rasa seperti itu Sayang, bukan Aku tak menghargai Romo atau siapa saja tapi itu hak kita sebagai orangtuanya," ucap dr Prabu sambil bangun duduk di samping Retno.


"Mas!"


"Hemght, apa lagi....?"


"Pijitin dulu Kakiku, baru boleh!"


"Nanti kalau sudah prakteknya ya?" dr Prabu sok konsisten, padahal Retno tahu, semua kalau sudah terlewat ada aja alasannya, besok pagi lah, besok di pijitnya yang lama lah dan banyak lagi alasan lainnya.


"Ih, kalau selesai pasti ngorok biasanya juga! pegel banget Dedek semakin berat saja," ucap Retno pengen mengerjai suaminya.


"Yang bikin Aku pegel dan kembung begini perutnya siapa?"


"Aku! tapi Dedek mau ketemu Pap dulu. nanti di pijitnya, Papa mau bikin Mamamu mendesah menikmati tengokan Papa!" Retno mencubit pinggang suaminya, Prabu meringis tapi malah menjadi seakan terbangun gairahnya.


"Mas, masa tiap malam sih?"


"Emang kenapa?"


"Aku kan lagi hamil?"

__ADS_1


"Kalau lagi hamil kenapa, ada keluhan? sakit? Aku lagi membayangkan kalau kamu habis melahirkan Aku libur panjang siapa yang akan bertanggung jawab nanti?" dr Prabu memeluk leher Retno.


"Maksud Mas tanggung jawab apa?" tanya Retno pura-pura heran.


"Katanya liburnya panjang."


"Semua juga mengalami fase itu Mas, kenapa harus jadi pikiran, memang waktu stop berhenti saat istri melahirkan?" sahut Retno sambil gantian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Mas!"


"Hemght...."


Suasana berubah hening.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2