Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Salam damai


__ADS_3

Dr Prabu menyambut baik keputusan yang di sampaikan utusan Walikota, Dr Prabu tahu Alya selalu memandang Dirinya juga. Retno di sampingnya merasa ingin membuktikan kalau cinta mereka tak bisa dipisahkan.


Alya kebanyakan menunduk entah rasa apa yang ada di hatinya berada di satu ruangan degan dr Prabu juga Retno.


Satu yang Retno merasa kagum pada penampilan Alya kali ini seperti telah hijrah terlihat dari penampilannya yang berubah total seperti Dirinya jadi tertutup semuanya terlihat anggun dengan busana muslim yang elegan.


Semoga saja hijrah bersama hatinya juga seiring batalnya kerja sama di Yayasan dengan pihak Rumah Sakit jelas mungkin ada hubungannya. Itu membuat lega hati Retno setidaknya Mas Prabu yang sangat berperan di Rumah Sakit ini tidak akan banyak berhubungan dengan orang-orang Yayasan yang didirikan Walikota itu, dan kini semuanya malah batal kerjasamanya di tarik lagi semua pengajuannya.


Selesai rapat semua ramah tamah sampai pada dr Prabu dan Rendra berhadapan juga bersalaman.


"Pak Prabu masih ingat Aku tidak?" ucap Rendra sambil menjabat tangan dr Prabu tersenyum memandang Retno bergantian.


"Jelas Aku ingat yang dulu latihan bulutangkis di kalahkan istriku bukan?" jawab dr Prabu sambil tersenyum.


"Betul, kantorku sebenarnya tidak jauh dari Rumah sakit ini tapi tinggal di rumah mertuaku, kenalkan kembali istriku Alya Wijaya!" ucap Rendra seperti bercanda mengenalkan kembali Alya yang sudah di kenal dr Prabu juga Retno.


"Oh, alah?" dr Prabu memberi salam di dadanya pada Alya tidak menjabat tangannya. Tapi Alya berusaha menjabat erat tangan Retno seperti menyiratkan kesadaran kalau semestinya seperti ini hubungan diantara mereka.


Retno tersenyum dan menyambut baik itikad baik Alya yang kelihatan tulus telah mengubah pandangan pada dirinya juga pada suaminya.


Mereka berjalan keluar aula. Dr Prabu ngobrol sama Rendra seputar batalnya Yayasan itu dan hal lainnya, Retno di belakangnya bisa mencairkan suasana kaku sama Alya.


"Mbak, maafkan Aku yang selama ini selalu saja menyakiti orang-orang baik seperti Mbak!" spontan Alya bicara pada Retno dengan kesadarannya.


Retno melirik Alya, mencari kesungguhan dari tiap kata yang diucapkan Alya, yang terlihat hanya wajah murung mungkin penuh penyesalan menunduk malu penuh pengakuan.


Retno memegang tangan Alya dan berhenti sejenak sebelum melanjutkan langkahnya.


"Tak ada hal yang membuat Kita tenang menjalani kehidupan ini setelah kita menyadari, menyesali, meminta maaf dan satu lagi dimaafkan Alya, Aku juga hanya manusia biasa tak kusangka jodohmu ternyata orang yang Aku kenal Mas Rendra ternyata. Semoga bahagia bersamanya dan cepat seperti begini!" ucap Retno sambil menunjuk perut buncitnya.


Alya tertawa, tawa yang begitu lepas membuat Rendra dan dr Prabu meliriknya dan tertegun melihat mereka begitu bisa akrab dalam hitungan menit.


Dr Prabu merengkuh pinggang Retno dengan sayang di depan Alya membuat Alya memerah pipinya.


"Eh, jangan lupa datang ke resepsi pernikahan dr Imam sama Adikku Intan lusa ya. Nanti akan ada undangannya."


"Oh ya? dr Imam menikah? semoga Kami bisa hadir," jawab Alya spontan dan antusias.


"Pak Rendra hadir ya sama Pak Walikota berserta Ibu, hitung-hitung kita bernostalgia lagi pada masa dulu saat Kita jadi pengantin baru."


"Semoga Pak Prabu, apalagi Alya istriku kenal banget sama dr Imam, kemungkinan lanjut program Anaknya nanti pengen banget cepet punya yang buncit seperti Pak Prabu!"

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka berpisah di depan aula, Alya dan Rendra langsung ke parkiran di mana mobil mereka berada dan dr Prabu juga Retno ke ruangan kantor dr Prabu.


"Ya Allah Mas bahagia banget hari ini, melihat orang dengki, iri, benci sama Kita meminta maaf dan dengan ikhlas Kita maafkan semoga jadi hikmah yang berarti bagi mereka juga bagi Kita."


"Retno sengaja Aku tinggalkan Kamu bersama Alya di belakang tadi biar ada kesempatan kalian ngobrol atau mengucapkan kata apapun itu."


"Alya ternyata orangnya baik telah di bukakan hatinya dan kelihatan sudah hijrah dan satu lagi ternyata Mas Rendra suaminya Mas?"


"Aku yang merasa tenang kini Sayang, Kamu bisa tenang juga kelihatan Alya telah menyadari kesalahannya. Sini Kita rayakan di balik pintu!"


"Ah, Mas!"


Satu ciuman mendarat di bibir Retno tanpa bisa di tolak dan mengelak lagi mereka menikmati hati yang begitu lapang hari itu.


****


"Rapat sudah, Aku masih cuti kita ke mana lagi Sayang?"


"Makan yuk Mas, Aku lapar banget tadi sarapan buru-buru banget jadi tidak bisa menikmatinya."


"Boleh, tapi makannya pesan saja ke rumah baru Kita, sekalian Kita coba alamatnya pesan makanan lama apa tidak mau nggak?"


"Iya Al, di sana Kita bebas mau ngapain juga, makanan diantar. Kalau di rumah tinggal di kamar melulu malu sama Ibumu juga Bapakmu sekarang banyak di rumah, Aku lagi cuti maunya di kamar terus."


"Eh Mas, cuti nggak cuti sama saja kita program anak siang malam tambah lagi sekarang di rumah baru!"


"Kan biar perut Kamu cepat seperti Bu Retno tadi!"


Alya cemberut Rendra mengusap pipinya dan membelokkan mobilnya ke arah rumah impian mereka.


Masih sepi karena belum di pindahan, tapi terlihat semua rapi dan bersih karena Rendra suka mengirim office boy dari kantornya ke sini tiap seminggu tiga kali.


Alya langsung pesan makanan kesukaannya sambil duduk di sofa ruang tengah. Rendra membuka kemejanya dan menyisakan kaos dalam menganti celana dengan celana rumahan turun dari atas yang sebagian pakaiannya sudah di pindahkan ke sini.


Alya tersenyum melihat suaminya sudah berganti pakaian.


"Ganti dulu bajumu Sayang, apa mau ganti di sini Aku ambilkan ya?"


"Nggak usah Mas nanti Aku yang naik."


Rendra mengambil ponsel dari tangan Alya dan menaruhnya di meja lalu membimbing tangan Alya naik tangga buat ganti pakaian.

__ADS_1


"Kita kayak bulan madu saja ya Mas? menikmati tengah hari bersama," ucap Alya sambil mengenakan pakaian terusan warna kesukaannya.


"Aku rasa lebih dari bulan madu Sayang karena memang Kita baru bisa bersama benar-benar berdua di rumah Kita baru kali ini."


"Mas jangan dulu, nanti ada yang kirim makanan ke sini kita asyik main!"


"Masih lama sayang minimal setengah jam sampai satu jam perjalanan, Aku bisa melakukan program Anak dulu dengan leluasa boleh kan?"


"Mas kok begitu semangat tiap malam, pagi, siang selalu menuntut?"


"Sejak Aku tahu Kamu membuka alat kontrasepsi itu Al, Aku berharap Kita bisa memenuhi keinginan Ibu Bapakmu juga Ibu Bapakku juga."


"Benar Mas menginginkan Anak dariku?"


"Ya iya lah, kenapa memang?"


"Nggak cemburu tadi Aku bertemu dr Prabu?"


"Buat apa cemburu? sekarang Kamu ada di hadapanku dan dr Prqbu sama Istrinya malah Aku semangat ingin berhasil seperti mereka makanya satu kali sekarang ya!"


Alya mengangguk dan Rendra melempar kembali pakaian yang baru di kenalkan Alya.


Semangat tinggi jiwa muda mereka yang sama-sama lagi hasrat tinggi membuat mereka hanyut dalam penyatuan dengan harapan.


Memacu kemampuan, menguji kegagahan yang berbatas pesta kemenangan suami istri yang di lepaskan tanpa beban membuat keduanya merasa puas.


"Aku tanam benih cinta di rahimmu sayang, istirahatlah biar Aku yang lihat apa makanannya sudah datang apa belum!" Rendra mengelap keringat di dahi Alya dengan telapak tangannya lalu mengecup bibirnya dan mengenakan celananya kembali lalu turun.


Alya memejamkan matanya, setitik airmata jatuh hangat tanpa di ketahui Rendra yang sudah turun, Kini Alya merasakan seutuhnya hubungan suami istri yang begitu lepas tanpa beban.


Ke depannya mungkin akan selalu menikmatinya bersama suaminya dan Alya begitu takut kehilangan Mas Rendra untuk selamanya.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2