
"Kata siapa Pa?"
"Aku dengar langsung dari resepsionis rumahsakit itu."
"Bapak yakin?"
"Iya, Bapak telephon kantornya, karena ponselnya tidak aktif."
"Apa yang akan Bapak lakukan?"
"Tadinya Bapak mau bertemu langsung, setelah datang pada kedua orangtuanya tak ada respon Bapak mau langsung bertemu dr Prabu di kantornya."
"Masa iya orangtuanya tak menyampaikan pada anaknya atau kira-kira gimana ini Pak?"
"Mungkin orangtuanya juga lagi menjaga perasaan anaknya di saat ini, entahlah."
"Berarti kita telat menyampaikan semuanya Pak?"
"Tidak juga di bilang begitu, memang Bapak penuh pertimbangan untuk menyampaikan harapan kita terhadap dr Prabu."
"Jadi apa yang akan kita lakukan Pak? nggak mungkin kita menunggu dan tak menyampaikannya, setidaknya dia tahu perbuatan dia membuahkan hasil walau tak di harapkan."
"Ibu tenang dulu, Bapak juga berpikir keras bahkan meminta pendapat orang lain yang bisa Bapak percaya untuk menyelesaikan masalah ini, saran begitu banyak masuk tapi Bapak belum menemukan satupun yang cocok baiknya seperti apa."
"Pokoknya Ibu ingin segera penyelesaian semua ini."
"Iya Bu, Bapak apalagi. Tapi kita harus berpikir dengan akal sehat bukan main seruduk banteng penyelesaian secara emosi, ingat! pihak kita juga salah mungkin juga dr Prabu telah mempersiapkan segala jawaban dari semua pengaduan kita, Bapak yakin itu dia bukan orang bodoh."
"Jadi kita menunggu apa? menunggu kandungan Alya membesar? kita tak mencarikan jalan keluarnya? bila mungkin Ibu akan kasih tahu semua sekarang juga bongkar di depan keluarganya biar pernikahan dr Prabu tidak jadi sekalian."
"Bukan begitu cara menyelesaikan masalah Bu, setidaknya kita toleransi sedikit tenggang rasa terhadap mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan, kita cari jalan keluarnya Bapak pikir sekarang adalah bukan waktu yang tepat untuk berbicara seperti ini kepada dr Prabu, walaupun memang kita berharap ada tanggung jawab yang kita tuntut."
"Apa kita batalkan saja meminta pertanggungjawaban terhadap dr Prabu? kita carikan Alya calon suami lain itu alternatif terbaik buat Ibu, buat keluarga kita menyelamatkan harga diri kita dan keluarga."
"Ibu, siapa laki-laki yang mau menikahi Alya dalam keadaan hamil? hanya orang bodoh yang bisa menerima keadaan seperti itu."
__ADS_1
"Tapi Ibu sanggup mencarikan calon suami Alya kalau Bapak tidak sanggup! akan Ibu bayar berapapun Ibu mampu siapa laki-laki yang bersedia menjadi suami Alya walaupun itu dengan perjanjian atau apapun sampai anaknya lahir."
"Ibu, apa dengan cara begini kita bisa menyelesaikan dan mencari solusi dari permasalahan yang sedang kita hadapi ini? Bapak rasa tidak kita harus tenang duduk bersama dan bermusyawarah apa sebaiknya langkah yang akan kita ambil."
"Ibu nggak sabar Pak, hiks... hiks.. hiks... Ibu terlalu emosi malu, cemas, gelisah dan takut semua begitu menyiksa hati Ibu, setiap siang malam dari waktu ke waktu tak ada ketenangan dalam hati Ibu hanya memikirkan anak dengan nasibnya seperti apa."
Ibu Sofyan Wijaya, menangis di meja makan dengan sangat sedihnya, tak ada rasa sakit yang di alaminya sesakit saat ini, juga saat tahu kondisi anak satu-satunya dalam keadaan mengandung di luar pernikahan.
Hatinya hancur, jiwanya terkoyak luka begitu menganga di dalam jantung hatinya, anak yang begitu dibangga-banggakan suatu saat akan memperlihatkan kepada orang lain satu pernikahan impian anaknya dengan seseorang yang begitu mereka restui dan akan menjadi kebanggaan bagi keluarganya.
Alya adalah penerus cita-cita dan harapan orang tua, tetapi semua tak seindah yang dibayangkan tak semudah yang diharapkan. semua berakhir hancur dan berantakan, Alya begitu mengecewakan hati orang tuanya, Alya sudah begitu menusuk kan luka di kedua hati orang tua yang begitu menyayanginya, Ibu Sofyan Wijaya tak habis pikir apa yang diinginkan anaknya? padahal antara keduanya antara orang tua dan anak selalu ada komunikasi tapi kenapa Alya berbuat senekad itu?
Alya yang mendengarkan pertengkaran antara Bapak sama Ibunya selalu setiap pagi itu yang didapatinya. Alya tak berani keluar dari kamar hanya menguping mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Kesadaran datang menghampirinya, dirinya memang telah melakukan kesalahan yang begitu fatal akibatnya. Berawal dari kata iseng Alya memang tidak berpikir jauh akibat yang akan ditimbulkan dari satu kata iseng itu, mempermalukan dr Prabu hanya karena ambisi cinta yang tak terbalas membuahkan penyesalan di dalam hatinya kini.
Aku memang bodoh, terlalu mengikuti perasaan dan ambisi sedangkan aku tidak berpikir jauh melihat orang yang aku cintai tidak memberikan lampu hijau. Hatiku merasa perih dan sakit, aku melakukan apapun yang aku bisa walaupun dengan resiko dan konsekuensi yang harus aku terima.
Aku hamil, dan inilah kenyataannya, orangtuaku bertengkar tiap waktu, pekerjaan dan usahaku terbengkalai semuanya, satu lagi kenyataan dr Prabu yang begitu di harapkan beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahannya.
Sempurna sudah, ******* dari permasalahan yang Alya rasakan sekarang, haruskah aku gugurkan kandungan ini? usai sudah permasalahan ku, tapi apa tak beresiko? apa semua berakhir sampai di sini?
Bapaknya sudah berangkat ke kantor tinggal Ibunya saja yang masih duduk di meja makan menyeka air mata. Itulah setiap pagi yang ada, yang Alya lihat dan dapati di rumahnya. Tanpa mau sedikitpun dirinya berkomentar ataupun sekedar bertanya, sekarang Alya telah berubah menjadi seorang yang susah untuk diajak bicara.
Merasa dirinya biang dari permasalahan yang ada, pemicu keributan kedua orangtuanya. Alya sadar dirinya bukan yang mereka harapkan, dirinya telah mengecewakan kedua orang tuanya menghancurkan harapan mereka.
Alya keluar kamar dengan muka pucat, Ibunya memperhatikan dengan seksama perubahan demi perubahan di diri putri kesayangannya.
"Neng apa kamu baik-baik saja? kok tampak putih banget mukanya?"
"Nggak apa-apa Bu, aku biasa saja."
"Sini sarapan dulu, biar nanti sama Ibu ke tempat kerjanya, biar Ibu bantuin yang bisa Ibu bantu."
"Nggak usah Bu, kerjaan lagi longgar kalau pertengahan minggu gini, kalau akhir minggu baru agak sibuk."
__ADS_1
"Kamu yakin, nggak perlu bantuan Ibumu?"
"Enggak Bu, tapi kalau mau sekedar melihat, mengontrol ayo aja."
"Kamu tak ada yang di rasa kan? gimana mulanya masih? juga ngantuk nya masih mengganggu?"
"Mual terkadang, ngantuk masih tapi aku lawan, setelah mandi suka hilang."
"Baiklah, kapan kamu ikutin kemauan Ibu periksa kehamilan?"
"Nanti saja lah Bu, aku masih malas konsultasinya."
''Ibu sekarang masih sabar dan masih bisa ikuti keinginan kamu, tapi suatu saat kehamilan mu harus di periksa. Karena selain akan berakibat pada kamu sebagai Ibunya juga bayi dalam kandungan mu tak terkontrol."
Alya diam, entah apa perasaannya malu, marah atau bahkan takut, semua sulit untuk di tebak.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
__ADS_1
...vote dan beri hadiah ya!...