Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Keluar rumah


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikum salam...."


Ibunya dr Imam tertegun di tengah pintu saat membuka pintu dan menjawab salam di luar terlihat putranya dr Imam dan seorang gadis yang dulu pernah dibawanya ke sini.


Lalu Ibunya dr Imam ke samping memberikan jalan masuk pada yang baru datang.


Intan mengekor di belakang dr Imam dengan perasaan tak menentu.


"Bapak ada Bu?"


"Masih di kamar habis sholat Dzuhur kelihatan kurang enak badan," sahut Ibunya dr Imam sambil masuk ke dalam dan meninggalkan dr Imam juga Intan di ruang tamu.


"Tunggu di sini ya Aku lihat Bapakku dulu." Dr Imam mengusap pundak Intan yang sudah duduk di sofa ruang tamu dalam keadaan gelisah.


"Iya Mas." Intan mengangguk sambil berusaha duduk dengan nyaman.


Dr Iman ke dalam Intan merasa bersalah dan merasa serba salah karena melihat penerimaan sikap tuan rumah yang masih saja dingin membuat dirinya bingung apa yang harus dilakukannya.


"Pak?"


Tak ada jawaban. Dr Imam masuk kamar Bapaknya dengan mendorong pintu yang ditutup tidak rapat.


"Bapak tidur?"


"Oh Kamu Nak? bapak hanya istirahat saja habis sholat nggak apa-apa hanya habis memberi makan Ikan dan bersihkan tanggulnya sudah panas berhenti saja."


"Ayo keluar Pak kalau nggak tidur."


"Kamu kok pulang tengah hari biasanya sampai sore?" tanya Bapaknya dr Imam sambil bangkit dari tidurannya


"Ada perlu Pak, jadi setengah hari saja, di depan ada Intan Aku bawa Intan ke sini."


Masuk ruang tamu Bapak dr Imam di susul Ibunya juga. Intan langsung menyalami keduanya dan Si Bibi menyimpan minuman dua cangkir teh di meja ruang tamu.

__ADS_1


Setelah duduk Ibunya menatap putra kesayangannya yang duduk di samping Intan.


"Sudah mengantar Vionna sampai ke stasiun?"


"Sudah Bu."


"Bagus, tinggal kita berkunjung ke tempat nya Vionna nanti setelah ada informasi kesiapan keluarga di sana." ucap Ibunya dr Imam bicara tanpa melihat ke arah Intan yang hanya menunduk.


"Ibu, Aku tidak akan ikut Ibu sama Bapak ke sana nanti. Vionna sudah pulang bagiku semua selesai. Sekali lagi Aku tidak akan ada hubungan apapun dengan Vionna. Kali ini Aku perkenalkan Intan sebagi calon istriku di terima ataupun tidak itu tetap akan jadi pilihan dan keputusanku!"


Dr Imam bicara masih saja dengan lembut, hanya Bapaknya yang sedikit kaget dengan semua yang di utarakan putranya memang sudah di perkirakan sebelumnya sepertinya akan ada lagi penolakan saat putranya tadi mengatakan membawa Intan.


"Kamu ini bicara apa? apa Kamu mau bikin malu Ibu sama Bapak Nak?" sewot kelihatan Ibunya dr Imam mendengar penolakan putranya.


"Ibu! apa Ibu sadar di depan siapa Ibu bicara saat ini? kenapa tidak bertanya dulu kesiapan ku saat Ibu mau bikin kesepakatan dengan keluarga Vionna? Aku sudah memiliki janji dengan Intan Aku juga akan merasa malu sama keluarganya karena Aku sudah datang pada keluarganya, kenapa tak sedikitpun Ibu mengerti apa yang Aku inginkan?" ucap dr Imam dengan kelihatan sedikit emosi yang tetap di tahannya.


"Itu karena Ibu melihat Kamu mau menerima Vionna, ke sana ke mari bersamanya Ibu rasa tak perlu dengan kata iya tapi hanya dengan sikap dan perlakuan Ibu bisa melihat kalian saling cocok!"


"Ibu salah! Itu hanya ketaatanku sebagai Anak Bu, yang sebenarnya Aku tak sedikitpun mencintai Vionna, setelah bersama disini Kami berbeda dan bertolak belakang dalam hal apapun."


"Aku tidak pernah berkomitmen apapun dengan Vionna jadi merasa tak punya beban apapun ataupun janji yang harus di tepati Aku tetap akan menikahi Intan dalam waktu dekat!"


"Stop! selesaikan dulu masalah dengan keluarga Vionna!"


"Aku merasa tak punya masalah jadi Ibu saja sama Bapak silahkan selesaikan karena Ibu sama Bapak yang membuat masalahnya."


"Tidak bisa begitu Nak! memang semudah itu Kamu mendapat izin dan restu dari Ibu juga Bapak mau menikah?"


"Aku sudah menyampaikan dan bicara baik-baik sama Ibu juga Bapak tapi kalau Ibu tak mengizinkan Aku tetap pada keinginanku," jawab dr Imam bicara dengan tegas kini di hadapan Ibu Bapaknya.


"Coba pikirkan sekali lagi Nak apa pilihanmu itu yang terbaik buat masa depanmu? Ibu tidak menyodorkan sesuatu yang jelek juga semua yang terbaik buat Kamu tapi sudah pasti yang menurut Ibu begitu cocok buat mu.'


"Cocok bagi Ibu Bapak belum tentu cocok buatku Bu, bagaimana Aku bisa menjalin hubungan dengan Vionna Dia di sana dengan karirnya Aku di sini sedang salah satu diantara Kita tidak melepaskan satu sama lain karir masing-masing apa itu yang dianggap Ibu baik?"


"Nak, Vionna siap melepaskan karirnya bila itu yang Kamu inginkan!"

__ADS_1


"Apa bedanya Vionna dengan Intan pilihanku Bu?" ujar dr Imam dengan sorot muka putus asa menyampaikan alasan pada orangtuanya.


"Sudah sudah! sekarang Apa yang Kamu inginkan kalau memang menolak Nak Vionna?" sela Bapa dr Imam ambil alih pembicaraan panas mereka.


"Aku akan menikahi Intan dalam minggu-minggu ini!"


"Silahkan kalian keluar dan pergi dari hadapanku kalau Kamu sudah tak menganggap Kami orangtua lagi!"


"Baik, dengan tidak mengurangi rasa hormat Aku sudah meminta izin dan do'a restu karena Aku tetap menganggap dan hormat pada Ibu sama Bapak. Aku akan keluar dari rumah ini kecuali Ibu sama Bapak yang menginginkan Aku pulang ke sini! Mari Intan yang terpenting Kita sudah minta izin sama orangtuaku Kita berniat baik dan punya tujuan jelas."


Intan menangis saat tangannya di tarik dengan perlahan sama dr Imam tak sepatah katapun di tanya atau diberi kesempatan untuk bicara. Semua pembicaraan di dominasi dr Imam dan Ibunya yang saling mengemukakan argumen masing masing.


Di luar masih di teras rumah dr Imam memeluk Intan yang sedikit syok tak menyangka semua kejadian akan seperti ini, bukan restu yang di terimanya tapi malah percekcokan dr Imam dan orangtuanya yang berkeras dengan keinginannya.


"Aku akan keluar dari rumah ini Intan tanpa membawa apapun," ucap dr Imam sambil menekan rasa sesak di dadanya.


"Mas Maafkan Intan kok jadi seperti ini?" lirih suara intan merasa bersalah juga karena merasa dirinya jadi permasalahan dr Imam dengan keluarganya.


"Nggak apa Intan semua akan baik-baik saja Kita lihat saja nanti, tak mungkin orangtuaku tetap membiarkan Anaknya tidak bahagia jadi Kita perlihatkan pada mereka kalau Kita akan bahagia dengan pernikahan ini."


"Mas Aku jadi merasa tak tenang kalau seperti ini sanggupkah Aku menjalani kebersamaan dalam situasi keluarga Mas yang begini keadaannya?"


"Tetaplah tegar bersamaku Intan!"


Mereka menaiki mobil masih dengan isak tangis Intan di samping dr Imam. Tak ada orangtua dr Imam menyusul dan mengulang kata menyuruhnya kembali dan bicara baik-baik juga pada Intan walau berulangkali Intan melirik sedari di teras terus ke arah dimana mobil dr Imam diparkirkan.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2