
Pagi menjelang Retno kenyang tidur tanpa gangguan, saat adzan subuh berkumandang Retno telah bangun walaupun ia belum turun dari tempat tidur.
Menatap suaminya yang sedang tidur terlelap dengan memeluk guling, Retno mengamati wajah simpatik suaminya, memang ganteng dengan garis wajah tegas dan serius, sekaligus wajah yang mulai dibencinya.
Wajah yang telah bersentuhan dengan wanita lain, membuat Retno merasa muak, dan benci dengan semua kebohongannya
Retno turun perlahan tapi tangan suaminya cepat menariknya, hingga mereka berpelukan, walaupun matanya masih kelihatan merem.
"Mau kemana, masih terlalu pagi."
"Mas, aku mau ke kamar mandi, namanya perempuan nanti kan aku akan di dandani dan berhias disini, lain dengan laki-laki yang begitu simpel memakai pakaian dan tanpa riasan apa-apa."
"Masih banyak waktu sayang, tukang dandani dan rias nya juga belum datang."
Dr Prabu membelai wajah Retno dan mulai mencium lehernya, perasaan Retno merinding nggak karuan, semakin berontak semakin tenggelam wajah Retno di dada tak memakai pakaian itu.
Rasa dari efek sentuhan mulai menjalari nya, merasakan panas dan menunggu sentuhan selanjutnya.
Dr Prabu tak sampai di situ, terasa banget sama Retno begitu ingin menguasainya, pakaian Retno sudah tanggal, lupa kalau istrinya menyampaikan lagi sakit bulanan.
"Aku menginginkanmu saat ini sayang."
"Ish...ish...Mas! jangan, aku nggak mau! aku lagi sakit lagi kotor akan ada akibat seandainya kita melanggarnya."
"Aku nggak tahan sayang."
"Ya, terus gimana?"
"Sebenarnya secara kedokteran juga masih ada dua pendapat, boleh dan tidak, aku mau memilih boleh untuk kali ini saja sayang, boleh ya!"
"Mas, apa Mas menikah mau keturunan tidak? seorang istri atau perempuan menstruasi itu melepaskan darah kotor dari rahimnya, dalam ajaran agama yang kita anut juga jelas di larang, apa sih salahnya bersabar? sesuatu yang kotor tak boleh kita pilih, Aku berhubungan mau dalam keadaan suci agar anak keturunan kita nanti terpelihara.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini, pokoknya pagi ini harus tuntas."
"Ya sini aku peluk, jangan meminta pada saat yang tidak tepat, juga jangan memaksakan keinginan yang tak masuk akal."
Jangan sampai kali ini aku lolos dan tergoda, oh iya, aku kan lagi lampu merah bohongan, berbohong, dan membohonginya.
Seperti bohongnya suamiku pada ku, begitu di bohongi akan nggak enak rasanya, apalagi bohong dengan penghianatan, justru kamu Mas Prabu yang harus mempertanggungjawabkan semua kebohongan mu.
Retno agak meringis saat suaminya melampiaskan hasratnya pada daerah sensitif lainnya, dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Pelan dong Mas, kenapa marah? marah pada siapa? sebenarnya aku juga pengen marah, marah semarah marahnya pada kenyataan, tapi apa manfaatnya buat kita?"
Dr Prabu merenggangkan pelukannya, dan melembutkan kegiatannya dan sampai terasa lembut sama Retno, tapi Retno juga merasa nggak tahan takut terbongkar juga kebohongannya.
Dengan perlahan Retno mulai melunak begitu juga suaminya tak menyerangnya dengan bertubi-tubi dan membabi buta.
"Mas, udah ya, aku mandi dulu."
Dr Prabu hanya diam tak menjawab, menahan segala rasa dengan nafas senin kamis tak beraturan.
"Retno ini masih pagi, apa salahnya kita berduaan dulu di sini, aku sudah membiarkanmu istirahat semalaman, pagi ini aku ingin puas memeluk dan mencium kamu."
"Aku takut nggak tahan Mas."
"Enggak, aku mengerti aku janji nggak berlebihan."
"Mas suka merangsangnya berlebihan."
"Enggak, sini jangan dulu ke kamar mandi, beri aku pelukan pertama di kamar kita ini."
Nggak mau berdebat dengan bahasan yang panjang dan rumit, akhirnya Retno kembali ke tempat tidur setelah memakai kembali baju tidurnya.
"Mas mau ngobrol apa?"
"Retno, apa kamu pernah berpikir kalau suatu saat kita akan berdua berada di satu ruangan seperti ini?"
"Jujur aku mengkhayalkannya, tapi aku tak berani berharap. Jauh dalam hatiku menginginkan cinta yang jujur yang datang dari hati nurani bukan atas dasar dendam, atas dasar keterpaksaan atau atas dasar lain."
"Sayang apa kamu masih ragu padaku, kalau aku masih punya dendam masa lalu padamu?"
"Oh, bukan itu Mas, aku yakin kita menikah atas dasar saling cinta saling suka dan kita saling membutuhkan juga untuk bisa saling memberi, menutupi ketidak sempurnaan kita menjadi pribadi yang sempurna dalam satu wadah rumah tangga yaitu suami istri."
"Jadi kamu meyakini aku sayang?"
"Ya, aku yakin Mas Prabu mencintaiku, tapi aku ingin diantara kita tidak ada yang ditutupi untuk hal sekecil apapun. Jika diantara kita ada satu kebohongan suatu saat nanti dalam perjalanan rumah tangga kita, itu akan dianggap penghianatan, fatal tidak fatal kita selesaikan bersama dan kita cari solusinya."
Deg! dr Prabu merasa dirinya punya permasalahan yang lebih dari fatal lebih dari sekedar permasalahan biasa ini menyangkut penghianatan.
Jelas-jelas walaupun akan ada pembelaan dari dirinya, seperti apa kronologisnya, tetapi jauh di lubuk hati dr Prabu merasa tak ingin berterus-terang dalam waktu dekat ini. Dirinya merasa takut dan khawatir Retno tidak bisa menerima dan Retno tidak bisa mengerti itu yang sangat dikhawatirkan nya.
Retno melihat perubahan di wajah suaminya saat memeluk dan mengusap kepalanya, membelai rambutnya dengan perasaan. Seperti lagi berfikir dan jauh mengawang entah kemana.
__ADS_1
Satu perubahan telah terlihat, kita lihat saja seakan semua tak ada masalah padahal semua mulai tampak.
Retno mencium bibir suaminya sambil turun dari tempat tidur, hatinya merasa puas dengan permulaan yang berhasil membuat suaminya tertegun.
Penghianatan memang tak pantas di maafkan, sampai di mana dan seperti apa kamu akan memperbaiki dirimu Mas? merubah segala rasa benci di hatiku ini menjadi kembali ke rasa cinta yang sebenarnya.
Kebohongan tak mudah untuk di terima, sebelum ada janji perubahan dan maaf yang mungkin akan begitu sulit untuk aku berikan, sepertinya selesai resepsi nanti aku akan mulai beres-beres pakaianku memutuskan untuk pisah ranjang, di masa bulan madu pernikahanku! menyedihkan memang.
Sungguh menyakitkan memang, sungguh meremuk meredamkan seluruh rasa di hatiku, tetapi penghianatan dan kebohongan sesuatu yang fatal. Silahkan yakinkan hatiku sampai aku bisa menerima kembali dan apa yang akan kamu lakukan Mas Prabu Seto Wardhana sebagai pembelaan dirimu!
"Aku mandi duluan ya sayang, Mas tolong charger ponselnya sama punyaku, aku sudah lama nggak nengok ponsel, pasti banyak pesan masuk."
"Iya sayang, aku jadi ingat, pasti ponselku juga banyak banget notifikasi tak terjawab dan tak terbalas yang belum aku buka."
Dr Prabu meloncat bangun dan menyibak selimut yang menutupinya, selintas Retno memandang badan kekar menantang suaminya dengan dada telanjang dan hanya memakai underwear saja.
Retno masuk kamar mandi sambil tersenyum, merasakan kembali kegagahan suaminya saat di tempat tidur, dengan hasrat yang begitu bergejolak.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
...MENITI PELANGI...
...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...
...vote dan beri hadiah ya!...
__ADS_1