Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Ya, Aku memang menang!


__ADS_3

"Oh, ini yang namanya Retno istrinya dr Prabu itu kan?" suara nyaring seseorang dengan nada meledek mengagetkan Retno dan menghalangi langkahnya, saat itu Retno sedang berbelanja dengan Bi Iyah di pasar semi modern, seorang perempuan dengan lancang memegang bahu Retno yang lagi berjalan perlahan bersisian dengan Bi Iyah sambil melihat-lihat segala bahan yang di pajang di tiap-tiap kios.


Seketika Retno memandang pada orang di hadapannya sambil menyingkirkan tangan di bahunya perlahan.


"Ya, kenapa? ada masalah?" sahut Retno sambil memandang tajam pada sosok Alya yang menjulang di hadapannya, sambil menepis tangan Alya yang kembali mau menyentuh bahunya.


"Oke, Aku baru melihat dari dekat ternyata biasa saja!" ucap Alya begitu sombong sambil memandang dan meneliti Retno dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Retno dalam keadaan hamil tentu tak terima di nilai sepihak dengan sedikit nada melecehkan, apalagi tahu siap orang di hadapannya.


"Maksud Kamu biasa itu apa? yang luar biasa menurut Kamu itu yang bisa dengan segala cara, segala daya melakukan keinginan dengan curang? itu yang luar biasa menurut Kamu? bagiku itu adalah sampah! dan harusnya ada di tempat sampah, tak layak di hargai hanya datang dengan kesombongan dan membawa penyakit juga jadi benalu yang akan kering dan musnah dengan sendirinya, Kamu itu layaknya ulat bulu yang membawa racun pada kehidupan!" ucap Retno dengan muka dingin, sedikit amarah yang terpancing, tapi cukup lantang bicara membalikkan segala yang diucapkan Alya.


"Sialan! seenaknya Kamu bicara! Kamu begitu sombong seorang perawat! apa karena merasa menang?" sungut Alya merasa ucapan Retno begitu pedas di telinganya.


"Ya, Aku memang menang! kenapa? masalah buat lo? Akulah yang menang hai putri walikota yang terhormat! itu adalah hak Aku untuk menikmatinya dan merasakan mencintai dan di cintai bukan atas memaksakan keinginan!" jawab Retno seperti tertantang untuk menjawab semua dan meladeni amarah Alya yang tiba-tiba saja datang di hadapannya.


"Lihat saja, Aku akan perjuangkan semuanya hai wanita sombong! Aku masih penasaran dengan semuanya, sayang Anakku meninggal kalau ada pasti ada momen kenangan itu!" sungut Alya tanpa kompromi bicara jauh tak terkontrol. Retno jadi terbawa arus kemarahan juga.


"Perjuangkan sampai hilang rasa malu Kamu! Aku juga akan memperjuangkan apa yang menjadi milikku! tapi ingat jadi benalu dan penyakit selamanya tak akan mendapat ketenangan! tetaplah jadi ulat bulu dengan racunmu!" ucap Retno sambil menunjuk wajah Alya yang sedikit mundur, Alya merasa mulai banyak orang yang melihatnya ada sedikit ketakutan saat orang mengenal dirinya.


"Brengsek! dasar wanita sombong!" ucap Alya sambil mundur.


"Bukankah Kamu yang begitu sombong? bisanya hanya meracuni saat keinginan tak terjangkau dengan kemampuanmu? Kamu itu hanya cacing yang melata tak ada harganya, apa yang Kamu perjuangkan hanya menabrak tebing cadas dan menepuk angin!" teriak Retno saat Alya sudah agak menjauh.


Alya balik badan dan balik menunjuk Retno, "Tunggu ya semua belum selesai!" Tapi Retno tak melihatnya lagi karena telah berbalik di tarik tangannya sama Bi Iyah.

__ADS_1


"Astagfirullah Bu dokter, sudah ayo kita pergi saja, Bibi sampai gemetaran begini, siapa itu Bu? banyak orang yang menonton kita Bu," ucap Bi Iyah kelihatan ketakutan


"Orang gila Bi, biarin orang menonton kita, ayo kita duduk dulu ambilkan air minum ku di keranjang belanjaan, Ya Allah ampunilah Aku yang meladeni orang gila tadi." Retno mengusap mukanya yang terasa panas.


Bi Iyah mengambilkan air minum Retno dan memberikannya dengan tangan gemetar.


Retno meminumnya dan menarik nafas panjang, mengusap perutnya yang besar sambil beristigfar.


"Kita pulang saja Bi, rasanya sudah tidak semangat lagi meneruskan belanja," ucap Retno sambil berdiri dari duduk di depan kios dagangan.


Tanpa menjawab Bi Iyah langsung berdiri juga, walau masih keheranan dan tak mengerti atas kejadian tadi, tak berani bertanya apa-apa, apalagi banyak tanya yang tidak mengenakkan majikannya.


Retno berubah jadi diam dan muram, sepanjang jalan pulang naik becak tak sedikitpun bicara membuat Bi Iyah juga jadi nggak enak.


Belanja baru sedikit hanya keringan saja seperti kerupuk, mie, bihun, kecap dan bumbu lainnya, biasanya kalau belanja sampai memenuhi keranjang bahkan ada di beberapa kantong plastik tambahan sayur dan buah untuk stok beberapa hari ke depan.


Melihat Bi Iyah dan Retno yang ngeloyor masuk dr Prabu merasa keheranan apalagi saat melihat keranjang yang di bawa Bi Iyah kelihatan masih kosong.


Dr Prabu berlari ke dalam takut Retno sakit atau ada yang di rasa sehingga membatalkan belanjanya.


Terlihat Retno lagi naik tangga menuju kamar atas, baru saja kejadian seminggu yang lalu dr Prabu bisa meyakinkan Retno istrinya saat Retno mendapatkan dirinya tengah bersama Alya di rumah makan sebrang rumahsakit itu hanya berawal dari kesalahan dr Imam yang meninggalkannya saat dirinya mau memberitahukan dr Imam kalau Intan menunggunya karena mau pulang.


"Sayang, nggak jadi belanjanya? kenapa sakit?" ucap dr Prabu sambil meraih pinggang Retno.


Retno diam saja hatinya masih panas dan belum bisa tenang, di serang dengan tiba-tiba dengan kata-kata yang menyakitkan, tapi merasa puas karena bisa membalikkan dengan enak banget bahkan di rasa Retno begitu menjatuhkan Alya dengan kata-katanya.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? jangan bikin Aku cemas!" dr Prabu berdiri di hadapan Retno saat sampai di lantai atas depan kamar mereka.


"Aku capek Mas, mau istirahat dulu," jawab Retno sambil mau berbalik.


Tapi dr Prabu menangkap kedua tangannya, ada isak dan air mata di wajah Retno.


"Sayang? kalau ada yang di rasa kita ke rumahsakit sekarang, jangan menunda lagi."


"Aku sakitnya tuh di sini Mas, sudahlah Aku belum siap cerita, biarkan Aku tenang dulu," ucap Retno menunjuk dadanya membuat dr Prabu semakin cemas dan keheranan.


"Oke, istirahat saja dulu jangan banyak yang di pikirkan, ayo Aku urut betisnya ya pasti Kamu pegal habis jalan tadi," ucap dr Prabu dengan lembut membimbing Retno ke kamarnya, mendudukan Retnoq di tempat tidur dan mengusap airmatanya.


Retno berbaring tanpa kata dan dr Prabu mengurut dengan perlahan lebih ke di usap usap saja, rasa heran melihat Retno istrinya jadi berubah diam dan tak sepatah katapun terucap lagi.


Hanya helaan nafas panjang yang terdengar dari Retno yang terlihat masih mengusap airmatanya.


"Sayang, jangan seperti itu, tolong bicaralah ada apa? Aku suamimu menjadi takut dan cemas kenapa nggak jadi belanjanya? ada apa yang membuat Kamu sakit hati?"


"Mas, tolong tanya sama Bi Iyah saja sana Aku tak mau cerita soal di pasar tadi," jawab Retno membalikkan badannya.


"Ya ampun Sayang, kenapa harus bertanya sama Bi Iyah? ada apa?" jawab dr Prabu sambil mengusap tangan Retno.


Retno hanya diam.


******

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2