
Dr Prabu akhirnya tidur dalam lelahnya dalam kebahagiaan berkumpul dengan kedua orangtuanya dan kedua adik adiknya juga dalam dekapan kenangan pahit manisnya perjalanan hidupnya.
Dan orangtuanya terutama Ibunya selalu melihat dan mengontrol anak-anaknya dan memastikan anak-anaknya sudah tidur di kamarnya masing-masing dari masa anak-anak sampai dewasa semua tetap menjadi kekhawatirannya, dan kali ini saat anak-anaknya sudah masuk kamar masing-masing Ibunya menjadi yang terakhir masuk kamarnya dan membuka satu satu kamar anak-anaknya pertama kamar yang ada dr Prabu tidur yaitu kamar depan.
Ibunya membuka pintu terlihat anak laki-laki nya sudah pulas tanpa selimut dan hanya memakai celana kolor nya dan Ibunya menyelimutinya, dan memandang lama sosok anak pertama laki-lakinya dengan do'a do'a takut anaknya lupa berdo'a sebelum tidur.
Lanjut kamar kedua ada Intan Juwita yang belum tidur masih membersihkan mukanya dan mematut dirinya depan cermin Ibunya masuk Intan duduk di tempat tidurnya dan memandang Ibunya, sepertinya Ibunya lagi banyak fikiran.
"Mau apa ikut ke tempat Kakakmu Nak? nanti pulangnya berani sendiri ke sini?" Seperti biasa kekhawatiran seorang Ibu pada anaknya.
"Ibu, Intan sudah gede bukan anak kecil lagi, Intan mau tahu tempatnya Kakak kerja, ke rumahnya juga apa salahnya kapan lagi mumpung Intan libur, masa tak berani tinggal naik bus ke Bandung ganti mobil jurusan ke rumah sini sudah nyampai."
"Memang liburannya masih lama? jangan malah ngerecokin kerja kakakmu nanti."
"Ya enggak lah Bu, apa aku anak kecil aku sudah bisa urus diri sendiri, malah aku mau temani Kakak biar nggak terlalu sendiri."
"Liburan di kira mau bantuin Ibu sama Bapak di pasar."
Intan cemberut dan tetap pada keinginannya.
Ibunya menarik nafas panjang dan bangkit dari duduknya.
"Tidurlah, nanti kesiangan sholat subuh nya."
Intan tak menjawab hanya membaringkan tubuhnya dan Ibunya mematikan lampu dan Intan menyalakan lampu tidur di samping atas kepalanya dan menarik selimut.
Terakhir kamar si bungsu Rahma Paramitha, Mamanya mengetuk pintu dan masuk Rahma masih asyik main game dan Ibunya geleng-geleng kepala.
"Neng Masya Allah ini udah jam berapa? masih saja bermain dengan ponselnya, sudah-sudah nggak ada habisnya semua itu."
"Kan ini malam minggu Bu, masa belajar terus tiap malam heee..?
"Bukannya harus belajar setiap malam juga malam minggu, tapi bukan dengan cara yang tak bermanfaat seperti itu, ayo tidur sudah malam itu ponsel siapa?"
"Ponsel Kak Prabu heeeee... pinjem."
"Sudah nanti lupa nge-charge lagi, giliran Kakakmu mau pakai untuk keperluannya malah habis batere nya, sudah tidur biar Ibu yang nge-charge sini." mau tidak mau Rahma memberikan ponsel Kakaknya pada Ibunya dan Ibunya keluar lalu nge-charge ponsel di dekat tv.
Paginya dr Prabu bangun begitu kelihatan segar masih sempat ngobrol sama Bapaknya sambil memberi makan ikan di kolam samping rumahnya sebelum Bapaknya berangkat ke pasar membuka kiosnya dan nanti agak siangan di susul Ibunya, dr Prabu menengok Ibunya yang masih bikin sarapan di bantu Intan di dapur, dr Prabu baru kali ini setelah hadirnya kembali Retno di hadapannya merasakan tidur begitu nyenyak dan bangun begitu segar juga nikmatnya dan lanjut sarapan bareng keluarganya.
__ADS_1
"Bapak belum sarapan Bu?"
"Sudah ngopi saja cukup, Bapak suka nggak mau sarapan kalau masih pagi, jam berapa mau berangkat lagi Nak?" Ibunya menelisik muka anaknya.
"Sekarang saja Bu, habis sarapan."
"Rahma juga mau ikut Bu sama Kak Intan boleh?"
"Nggak! kamu nanti sendiri saja kalau libur, kalau kamu ikut Kak Intan nggak bebas nanti kamu kan sekolah harus sudah pulang Kakak mau nginep nya lama sampai selesai liburannya." Intan nggak mau dipusingkan dengan persoalan adiknya.
Intan yang habis mandi ikut duduk di meja makan dengan wangi yang begitu mencolok dan langsung menjawab keinginan adiknya.
"Kamu kan sekolah besok Nak gimana mau bolos apa?"
"Iya tuh denger kata Ibu." Intan main jawab saja.
"Kalau Kakak apa-apa boleh kalau aku semua nggak boleh paling ikutnya ke pasar."
"Rahma bukan Kak Prabu sama Kak Intan nggak boleh kamu ikut, boleh kok tapi kalau kamu libur, ini kan nggak sama liburnya Kak Intan sama kamu jadi kamu juga boleh nanti Kakak jemput deh kalau kamu libur boleh nginep dan liburan di tempat Kakak, Tasikmalaya itu jauh lho nggak bisa sekarang pergi sore pulang lagi pasti capek dan habis waktu kapan mainnya juga jalan jalannya?"
"Iya Kak Prabu? janji ya kalau Rahma libur di jemput ya."
Dr Prabu pamitan sama Ibunya dan minta di pamit kan sama Bapaknya yang sudah pergi dari pagi ke pasar, di pandangnya punggung kedua putra dan putrinya teriring do'a seorang Ibu dengan harapan terbaiknya.
Mobil menghilang dari pandangan Ibunya.
Intan yang duduk di samping dr Prabu tak banyak cakap hanya menikmati pemandangan yang indah dan hijau di sepanjang jalan terkadang senyum-senyum sendiri sambil membaca sesuatu di ponselnya, dan dr Prabu hanya memperhatikan adiknya yang sudah dewasa dan terlihat sangat pangling.
"Aku mau cerita sama kamu,dan sekaligus minta tolong." dr Prabu mulai bicara sambil tetap fokus ke arah jalan yang akan di lalui nya.
"Soal apa Kak, bikin laporan? ngetik makalah? atau apa?"
"Bukan, kamu pura-pura jadi pacar Kakak di depan seseorang!"
"Hah? maksud Kakak apa?"
"Dengerin dulu, suatu hari nanti kamu dandan secantik mungkin nanti Kakak modalin kamu, Kakak hanya ingin menguji seseorang dan melihat ekspresinya apa dia masih mencintai Kakak apa tidak, apa dia cemburu atau tidak."
"Siapa objeknya Kak pacar Kakak apa mantan heee...?"
__ADS_1
"Ada aja, di bilang mantan belum putus di bilang masih hubungan sudah lima tahun pisah, dan sekarang hadir lagi di hadapan Kakak, mungkin hati kami masih saling mencintai."
"Oh yang dulu orangtuanya menolak lamaran Kakak itu ya?"
"Kakak yakin dengan aku? maksudnya melakukan hal seperti itu?"
Dr Prabu hanya tersenyum.
"Ada uang acting nya nggak Kak? heeee..."
"Tinggal ngomong aja mau berapa?"
"Asyik dapat job menantang nih haaa..."
"Tapi ingat akting kamu harus meyakinkan jangan terlihat abal-abal nya dan harus kelihatan anggun dan cantik."
"Emang segini belum cantik Kak?"
"Ingat saingan kamu itu seorang suster yang lagi menyelesaikan S 1 nya dan sekarang lagi KKN di rumah sakit yang Kakak pimpin, namanya Raden Ajeng Retno Ayuningtyas darah biru ningrat Jawa, mungkin kamu pernah mendengar tapi belum pernah melihatnya dan bertemu."
"Wow saingan yang berat rupanya, bisa nggak ya aku? jadi ragu heee...kenapa sih Kak harus pake cara seperti ini apa nggak ada jalan yang lebih damai misal dengan cara baik-baik membuka hati Kakak juga menelisik isi hatinya?"
"Aku terlanjur telah melampiaskan dendam yang selama ini ada di hatiku pada Retno, terlepas bukan salahnya Retno semua kejadian waktu itu, Retno hanya korban keadaan dan ambisi orangtuanya."
"Apa Kakak tak akan menyesal melakukan semua itu?"
"Kamu adalah orang kesekian yang mempertanyakan itu Intan, apa yang harus Kakak lakukan diam dengan keadaan? hanya menyimpan rasa sakit hati?"
"Itu hak Kakak, aku hanya mengingatkan saja, seandainya Mbak Retno masih mencintai Kakak dan Kakak sendiri tak bisa memungkirinya juga dan sama sama saling mencintai, dan saat Mbak Retno tahu Kakak mengerjai dan mempermainkan perasaannya pasti Mbak Retno akan membenci Kakak aku yakin itu, jangan sakit hati di balas dengan menyakiti lagi coba lapangkanlah hati carilah kedamaian bukan malah memupuk rasa dendam yang tak ada habisnya, dendam hanya saling menyakiti masing-masing apa itu kepuasan?"
Dr Prabu hanya diam dalam hatinya membenarkan apa kata adiknya Intan.
"Aku jadi ragu, apa aku tega menyakiti hati seseorang yang Kakak masih mencintainya?"
"Kita lihat saja nanti."
Dr Prabu diam meresapi kata kata terakhir Intan yang jauh dari perkiraannya begitu dewasa pemikiran Intan juga jauh kedepan cara pandang pada masalahnya.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝
__ADS_1