Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Mas, sudah pulang?


__ADS_3

"Nggak aktif Mam, mungkin lagi sibuk." dr Prabu memperlihatkan ponselnya 'panggilan tak terjawab' di layar ponsel


"Nanti Bos bisa coba lagi."


"Iya Mam, sudahlah kalau semua belum saatnya kita harus bilang apa? Aku beres-beres dulu tas dan koper ku biar nanti di bawa Pak Min ke rumah, yang perlu di cuci biar di cuci Bi Iyah, aku lihat dulu laporan kamu baru mau bawa mobil ke steam."


"Sekalian cukur tuh jambang dan kumis seperti Mbah dukun saja!"


"Aku malah senang begini, nanti kalau sudah bisa cium Retno baru aku cukur heee...."


Mereka berpisah. Dr Imam menuju ke ruangan prakteknya. Dr Prabu mencari Pak Min ke belakang melihatnya ke taman-taman yang biasanya Pak Min bekerja bersama team nya.


Dari kejauhan kelihatan dari seragamnya, Pak Min lagi menggunting tanaman hias yang menghijaukan taman, dr Prabu menghampirinya dengan maksud kalau nanti pulang biar bawa semua tas pakaian dan kopernya biar di cuci duluan.


"Pak Min, stirahat pulang kan?"


"Iya Pak dokter, saya pulang. Ada apa?"


"Tolong bawakan pakaian dan koper saya biar sedikit demi sedikit dicuci nyicil sama Bi Iyah, nggak usah sekaligus. Nggak semua kotor cuman dicucinya tidak maksimal di cuci aja lagi."


"Baik Pak dokter, Pak dokter nggak pulang?"


"Aku belum mau pulang! nanti saja kalau pakaian bersih ku sudah habis di sini."


"Maaf Pak dokter, tadi pagi Bu dokter bangun pagi muntah-muntah, badannya demam, saya sama istri saya panik dan berusaha menolongnya, tapi kata Bu dokter biasa setiap bangun tidur selalu begitu."


"Maksud Pak Min apa?"


"Maaf saya takut terjadi apa-apa sama Bu dokter, saya mohon tengok saja dulu kalau tugas dan kerjaan Pak dokter bisa di tunda."


"Memang istri saya ada di mana? ada di rumah?"


"Lho emang Pak dokter belum tahu kalau Bu dokter sudah di rumah dari kemarin kemarin?"


"Astagfirullah Pak Min? kenapa nggak dari pagi Pak Min ngomong ke saya? kan kita tadi pagi ketemu?"


Dokter Prabu berlari ke ruangannya mau mengambil kunci mobil, tak perduli apapun Pak Min yang bengong tak mengerti dan suster Miranti yang mau menemuinya tak menghiraukan siapapun.


Setengah berlari ke parkiran membuka mobil dan menghidupkan, lalu dengan tergesa keluar ke jalan raya membelah keramaian. Satu yang diinginkannya yaitu sampai di rumah dan bertemu dengan Retno istrinya.


Tin, tin, tin ... klakson di bunyikan begitu lama Bi Iyah datang dan membuka pintu pagar, karena nggak sabar dr Prabu baru mau turun mau membuka sendiri pintu pagar, keburu tergopoh-gopoh Bi Iyah datang membuka pintu.


Mobil langsung masuk halaman, Bi Iyah menutup pintu pagar kembali, dan dr Prabu sudah masuk ke dalam rumah.


Apa ini kenyataan? atau Pak Min bohong? dr Prabu menyapu seluruh ruangan yang sepi, terlihat di meja sofa keluarga ada minyak angin, teh di gelas gede dan remote kontrol televisi, juga ada buah di piring.

__ADS_1


Di mana Retno? dr Prabu berlari menaiki tangga melangkahi dua dua undakan sekaligus menuju ke kamar atas kamar pribadinya.


Membuka pintu dengan perlahan, terlihat Retno sedang tidur berselimut. Seketika dr Prabu tertegun, hatinya begitu sakit melihat istrinya sudah berada kembali di sini.


Retno pergi dengan keinginan sendiri, dan datang saat dirinya mungkin sudah saatnya pulang.


Dr Prabu mendekati tempat tidur, mengamati wajah yang begitu di rindukannya. Lalu duduk di samping Retno tidur.


"Sayang...."


Retno merasakan ada sentuhan dan kehadiran seseorang, lalu membuka matanya dan melihat suaminya ada di depan matanya.


"Kamu sakit sayang?" Dr Prabu mengusap kepala dan rambut Retno yang mulai menangis.


Mereka berpelukan dalam tangis kerinduan.


Begitu lama mereka berpelukan. Kalau hati bisa bicara kenapa kita harus berpisah? kenapa kita saling menyiksa diri, kenapa tak ada penyelesaian dan solusi saat emosi?


"Mas, sudah pulang?"


"Iya sayang, kenapa nggak minta aku jemput? aku akan pulang kapanpun kamu meminta." Dr Prabu mencium berkali-kali kepala Retno dan mengusap-usap punggungnya.


"Aku nggak sakit, hanya kalau pagi saja aku merasa pusing dan mual luar biasa, tapi setelah di istirahatkan biasanya mendingan."


"Ya ampuuuuun ... sayang, itu perasaan kangen dan perubahan hormon dalam tubuhmu di masa pertumbuhan awal buah hati kita, sekarang sudah mendingan?"


"Kamu akan tenang dan nyaman saat ada di dekat Papa sayang! kita akan bersama-sama sampai kapanpun" Dr Prabu bicara di depan perut Retno.


"Sayang, jangan dulu turun takut kamu masih pusing, mau apa biar aku ambilkan."


"Aku nggak turun kok, aku hanya mau memastikan apa ini benar Mas Prabu?" Retno memandang wajah suaminya yang agak hitam karena banyak kena sinar matahari dan brewok yang tumbuh di mukanya nggak terurus.


"Maksud kamu apa sayang? ini benar aku suamimu yang sangat merindukanmu."


"Aku masih seperti mimpi kita di kamar ini lagi Mas." Retno membelai wajah suaminya yang berbulu, geli rasanya tapi senang.


"Jangan bahas apapun, sekarang hanya ada aku kamu dan calon anak kita di sini."


Dr Prabu berusaha mencium bibir Retno tapi Retno selalu menghindar.


"Kenapa sayang? apa kamu nggak kangen sama aku?"


"Kenapa Mas nggak cukuran dulu?"


"Aku nggak sempat sayang, nggak apa-apa aku beri rasa dan sensasi beda karena aku punya nazar."

__ADS_1


"Nazar? maksud Mas nazar apa?"


"Aku nggak akan cukuran kalau belum mencium kamu!"


"Ya sudah, cium aku nih tapi terus cukuran!"


Dr Prabu tertawa melihat istrinya menyodorkan mukanya, tak di sia-siakan lagi inilah kesempatan mengurangi beban kerinduan yang selama ini hampir memecahkan dadanya.


Dengan dada berdebar mereka berciuman dengan sensasi yang berbeda, tak di sangka Retno ternyata lebih menggoda dan membuatnya merinding saat muka berbulu itu menyusuri wajahnya dengan hati-hati, mencium lehernya dan dengan sangat perlahan muka itu tenggelam di belahan dadanya.


"Mas, hati-hati aku lagi hamil muda."


"Iya sayang, aku sudah konsultasi dan mempelajarinya, nggak apa-apa asal pelan dan hati-hati."


Mereka berpelukan dalam keadaan tak berbusana hanya selimut yang menutupinya.


"Sayang ...?"


"Hemght ..."


"Aku kangen sama kamu."


"Aku juga Mas."


"Jadi, boleh?"


"Boleh Mas, kata orang obat mual."


"Haaaa ... kata siapa itu sayang?"


"Kata temanku. Mengurangi mual masa-masa hamil muda obatnya sama sesuatu yang bikin kita hamil katanya."


"Masuk akal juga, boleh kita coba!"


Nggak mimpi sebelumnya, nggak gugur nggak angin, pagi menjelang siang mereka menuntaskan membayar kerinduan mereka, dengan berpeluh keringat. Perasaan cinta yang menggelora mereka temukan kembali, rasa yang tertunda kini mereka telah nikmati kembali, dan bulan madu yang sebenarnya baru di mulai pagi menjelang siang hari ini.


Retno memeluk suaminya, berkali-kali dr prabu memejamkan matanya saat tangan Retno membelai jambang, jenggot dan kumisnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2