
Seperti yang sudah-sudah sebelumnya, Retno bangun duluan menyadari dirinya berada di mana. Retno begitu malas bangun perasaan badannya terasa capek. Perjalanan dari Tasikmalaya ke Pekalongan, Pekalongan langsung ke Bandung, Bandung Tasikmalaya lagi begitu menguras energinya.
Melihat di atas kepalanya Mas Prabu tidur sambil duduk. Kepalanya bersandar ke salah satu samping kursi Retno merasa kasihan melihatnya, lalu Retno bangun dan menyuruh Mas Prabu untuk tidur pindah ke kamarnya.
"Mas, pindah ke kamarmu aku sudah bangun." Retno melipat selimut.
"Tapi pindahnya sama kamu, aku juga takut sendirian."
"Alah, alasan mesum itu. Ayo pindah, Bi Iyah mau beres-beres tuh." Retno menggoyangkan badan dr Prabu.
"Dengan perasaan enggan dan malas dr Prabu bangun, menarik Retno naik tangga menuju ke kamarnya.
"Kita tiduran lagi di sini sebentar aja ya?"
"Iiiiiiiiiih Mas, apaan sih? malu sama Bi Iyah juga Pak Min."
"Nanti juga kita menempati ruangan ini, ssssssssst jangan berisik kalau malu."
"Aku teriak nih ya?"
"Teriak aja!"
"Daripada tidur, mending kita ngobrol aja gimana?"
"Ngobrol apa? aku masih ngantuk, nanti aja ngobrolnya."
"Iiiiiiiiiih... Mas dengerin aku. aku mau ngomong penting."
"Apa sih penting amat?"
"Nanti kita selesai akad nikah, langsung resepsi di sana. Kita nginep satu malam di rumahku di Pekalongan. Sebelum kita berangkat ke sini untuk resepsi selanjutnya kita jangan dulu ngapa-ngapain ya, heee... aku malu Mas ada Romo, Ibu, juga Adikku Dimas, juga kerabat ku yang lain, nanti saja di sini yang bebas kita melakukannya gimana Mas?"
"Maksudnya?"
"Jangan dulu buka-bukaan gitu."
"Oh, nggak bisa, aku nggak mau, dan aku nggak mau nego untuk hal itu, juga nggak mau menunda untuk hal satu itu. Bila perlu di jalan juga kita mampir dulu yang ada penginapannya untuk melakukan itu."
"Ah, masa aku nggak bisa nawar segitu juga?" Retno cemberut.
"Kok masih nawar sih? itu kewajiban aku sebagai suami, dan kewajiban kamu juga sebagai istri, kalau kita tak melakukan apa-apa aku malah takut dicurigai sama keluargamu. Malu itu adalah bagian Iman pengantin baru malu wajar, jadi biarlah kita malu saat itu, nanti juga lama-lama biasa."
"Iiiiiiiiiih... aku jadi risih deh Mas."
"Jangan-jangan di sini juga kamu nanti malu sama Bi Iyah juga Pak Min, jadi kapan dong kita mainnya? sekarang?"
__ADS_1
"Aaaaah... Mas jangan peluk, aku belum mandi."
"Aku tahu, kamu jarang mandi. Tapi wangi di hidungku."
"Itupun hidung yang salah, sudah tercekok mesum haaaa..." Retno melepaskan diri dari jangkauan tangan dr Prabu sambil terus menghindar.
"Apa? hidungku salah? enak aja coba sini biar aku coba. Apa hidungku masih normal."
"Mas, aku nggak mau."
"Tapi aku mau."
"Mandi dulu sana, jelek tahu!"
"Apalagi bilang jelek, semakin aku tak terima haaa..." Dr Prabu menangkap tubuh Retno yang mau keluar kamar dan berhasil di peluknya.
"Mas memang jelek!"
"Tapi kamu suka."
"Itu kesalahanku."
"Kesalahan yang di sengaja haaaa..."
"Eh Retno, coba lihat lemari ini. Sudah aku kosongkan biar nanti buat pakaianmu mulai kemas bawa ke sini ya."
"Masih lama Mas."
"Lama apaan? lama itu sebulan setahun ini dua minggu lagi, satu Minggu lebih kita di sini, pertengahan minggu besok kita sudah ada di Pekalongan."
"Kita pasti di pingit nggak boleh seperti ini Mas, ketemu pas kita hari di hari H nya, katanya biar kangen dan pangling satu sama lain."
"Bisa di tawar nggak? kalau malam-malam kita nyelonong masuk kamar bisa?"
"Ya nggak lah, namanya bukan pingitan itu."
"Yaaaaaah...jadi gimana?"
"Satu lagi Mbok Sum pasti sudah bikin ramuan khusus jamu pengantin, yang mau tidak mau kita harus meminumnya seperti saat dulu sepupuku pengantin."
"Demi kamu aku rela, asal jangan racun aja."
"Tapi aku suka jamu-jamuan."
"Aku sukanya kamu Retno."
__ADS_1
"Aku juga, Mas."
"Buat apa sih pake minum ramuan segala? mereka kira aku nggak strong gitu?"
"Inti tujuannya biar sehat lah."
"Aku pernah tanya sepupuku itu, gimana rasanya. Katanya ampun deh haaaa..."
"Orang tua pasti mengerti, anaknya habis mengikuti prosesi yang begitu panjang dan melelahkan. Mungkin takut tak punya tenaga untuk melewati malam yang sangat di nanti."
Retno diam, mereka berdua sudah tak sabar menantinya.Tapi keharusan juga bagi keduanya mentaati sampai pada waktunya tiba.
Dr Prabu memeluk Retno mengusap punggungnya, dan mencium ujung kepalanya.
"Terimakasih Mas, atas cinta yang begitu besar buatku."
"Sama-sama sayang, aku juga terimakasih atas penantian yang begitu panjang. Selangkah lagi kita sampai tujuan, aku ingin bahagia bersamamu."
"Sudah dulu ya, aku mandi duluan." Retno perlahan melepaskan pelukan dr Prabu.
Dr prabu mengangguk sambil tersenyum.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah ya....
__ADS_1