
Dr Imam bangkit tanpa makan dulu, Ibu dan Bapaknya hanya memandang dan membiarkan putranya ngambek masuk ke dalam kamar.
Tak lama lagi keluar tanpa pamit tanpa basa-basi lalu menuju mobil yang terparkir di halaman depan.
Ibu Bapak dr Imam hanya menghela nafas panjang hampir bersamaan. Tak ada satu orang pun yang meneruskan makan, mereka malah ngobrol dan diskusi permasalahan barusan.
Ibunya sudah menduga akan ada penolakan, tapi semua merasa tak akan lama. Biarlah nanti juga pelan-pelan akan mengerti dengan sendirinya, dan mau menerima. Ibunya tahu watak putranya seperti apa, nggak terima marah dan ngambek itu biasa nanti juga baikan lagi.
"Apa kita tidak berlebihan memperlakukan anak kita Bu? rasanya Bapak nggak enak banget seperti mendikte saja padahal anak kita sudah dewasa, Bapak takut apa yang kita lakukan adalah salah besar mengambil langkah yang salah," ucap Bapak dr Imam merasa harus ditinjau ulang semua yang dirinya juga Istrinya sampaikan pada putra kesayangan mereka.
"Salahnya di mana Pak? sebagai orang tua sudah semestinya kita mengarahkan jalur yang baik dan berikan pandangan lain juga solusi dari permasalahan yang ada, karena Ibu yakin kalau dibiarkan terus-menerus dia akan begitu seterusnya, Ibu nggak mau Anakku terpuruk sendiri tanpa punya kemandirian dan berpikir dewasa untuk segera berumah tangga. Kalau tak di desak akan seperti yang sudah-sudah begitu saja nggak jelas ujung dan kelanjutannya," Ibunya merasa yakin kali ini semua akan berhasil.
"Maksud Bapak harusnya kita jangan buat janji dulu sama Vionna, tapi bicara terlebih dulu pelan-pelan sama anak kita baru kita mengambil langkah dan memasukkan keinginan kita, mungkin dengan cara itu dia akan mengerti." Lanjut Bapaknya masih ragu dengan semuanya.
"Alah, kalau tidak ada gertakan akan seperti itu terus Pak, pacaran kok gonta-ganti seperti itu, pokoknya kali ini kelihatan mereka sudah cocok kita langsung nikahkan saja." Optimis dengan cara yang di lakukannya, Ibunya berusaha memenangkan suaminya.
"Tapi sepertinya dengan gadis yang semalam mereka juga sudah cocok, katanya berhubungan sudah lama," kata Bapaknya masih berpikir baik buruknya.
__ADS_1
"Itu hanya alasan saja Pak, untuk membela diri bisa saja, nanti kalau kita terima akhirnya putus lagi, kita kecewa lagi mau sampai kapan?
Sudahlah Pak kita lihat saja perkembangannya, lagian Aku sudah nggak sabar pengen ketemu sama Vionna calon mantu kita pasti tambah dewasa tambah cantik pula." jawab Ibu dr Imam begitu memperlihatkan rasa bahagianya akan kedatangan tamu spesial yaitu keluarga Vionna.
Bapaknya masih begitu mempertimbangkan lebih banyak manfaat apa mudharatnya dari keputusan yang dirinya sama istrinya ambil terhadap putra mereka, melihat penerimaan putranya yang sama sekali tidak menerima membuat bapaknya merasa pesimis cara ini juga akan berhasil.
Diyakini Bapaknya kalau putranya mau memilih sendiri calonnya, hanya perlu masukkan saja dari orang tua semestinya. Tetapi keputusan sudah diambil dan Ibunya telah memberitahukan kepada keluarga Viona kalau lusa adalah hari pertemuan mereka.
Keluarga Vionna menyambut baik silaturahmi yang ditawarkan dari keluarga dr Imam, dengan senang hati mereka menyanggupi untuk datang berkunjung sekalian untuk memperkenalkan diri masing-masing anaknya.
"Kita hanya memperkenalkan dan memberi jalan menyodorkan calon sebagai pasangan hidup apa salahnya Pak? sebagai orang tua memang kita harus menjadi jembatan, yang menjalani anak tetapi orang tua juga harus meluruskan dan membimbing anak dan pilihannya seperti apa itu menjadi tolak ukur kita juga." Ibunya tetap pada pendiriannya.
"Iya, kalau nanti mereka bertemu kita jangan dulu menekankan ke arah situ biarlah mereka kenal dulu apa adanya menjalani semuanya seandainya kecocokan itu datang mereka ingin serius baru kita tindak lanjut, keinginan Bapak seperti itu Bu," Bapak dr Imam
"Awalnya semua orang juga nggak ada rasa cinta, semua akan berjalan dan datang dengan sendirinya saat kecocokan telah mereka rasa., semua perlu kebiasaan juga pendekatan"
"Namun seandainya kecocokan tidak ada di antara mereka setelah kita perkenalkan, kita suruh mereka untuk lebih inten lagi berkenalan bagaimana Bu?"
__ADS_1
"Sudah ah, Bapak jangan banyak berandai-andai, semoga semua berjalan seperti yang kita harapkan dan keluarga Vionna harapkan. Biarkan saja dia ngambek dan pergi asal pada saatnya lusa harus ada di rumah."
Vionna adalah saudara jauh keluarga dr Imam, tapi masih ada pertalian darah, dr Imam sama Vionna nenek kakeknya adalah kakak adik.
.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1