Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Intan sakit


__ADS_3

Intan sakit? Ya Allah kenapa sampai sakit?Aku yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Intan, mungkin Intan banyak berpikir dan sampai lupa makan hingga sakit.


Hati dr Imam juga merasa sakit, ikut merasakan apa yang di rasakan Intan saat ini, saat Intan tahu ini hari di mana dirinya di pertemuan dengan Vionna atas keinginan orangtuanya.


Saat dr Imam tahu dirinya akan berbohong pada Intan walau dengan alasan yang sangat masuk akal sekalipun, tapi Intan pasti tahu itu kebohongan. haruskah dr Imam jujur tapi malah menyakiti Intan? kalau Vionna akan tinggal selama seminggu di sini?


Ah, betapa tak sanggup dan tak mampu dr Imam menyampaikan kabar seperti itu apalagi Intan dalam keadaan sakit mungkin akan semakin menambah beban perasaannya.


Intan tak bisa berbuat banyak hanya pasrah pada keadaan walau harapan besar selalu diperlihatkan dr Imam, dengan segala cintanya. Tapi kini harapan itu semakin pupus saja seiring berjalannya waktu.


Semua menyisakan sesak dan sakit yang tak terlihat di hati Intan, cinta yang di persembahkan dengan sepenuh hati dan dipupuk di pelihara sampai keduanya merasa bertambah saling percaya dan rasa itu semakin subur di hati mereka kini perasaan itu harus kandas dengan datangnya benalu dalam hubungannya secara tiba-tiba.


Buat apa nungguin jodoh orang lain? pacaran sama kita tapi akhirnya berubah haluan menikah sama orang lain. Betapa semua tak terbayangkan sebelumnya cintanya harus terbentur batu sandungan yang begitu besar menghadang mereka.


Masa depan manis dan indah yang telah di cita-citakan dan di rajut sedemikian rupa, selesai kuliah yang hanya tinggal menunggu hitungan bulan saja kini menjadi semu entah akan berlanjut atau ambyar semuanya.


Rasanya tipis harapan dan pudar satu harapan indah di depan mata Intan, tak bisa lagi menatap dan berharap pada hubungannya kini.


Hanya satu yang membuat Intan masih ada sedikit harapan masih bisa ada kepercayaan kalau antara dirinya sama dr Imam memang saling cinta, tapi dalam hubungan cinta saja tidak cukup harus ada restu orangtua juga.


Sulit rasanya melewati hambatan yang satu ini kecuali dirinya sama dr Imam sama-sama nekat memperjuangkan cinta walaupun tanpa restu orang tua tetapi bukan itu yang diinginkan Intan dan mungkin juga keluarganya.


Hanya pasrah saja dan do'a, itu yang terbaik. Kalau memang jodoh tak akan kemana itulah mungkin yang menjadi harapan dan keyakinan Intan.


Intan, tak bisa menyembunyikan perasaannya, dalam kesibukan akhir masa kuliahnya yang mengharuskan punya stamina ekstra kini malah jatuh sakit. Hatinya merasa tak menentu menerima pukulan seperti itu mendapatkan kenyataan orang yang di cintainya di jodohkan orangtuanya.

__ADS_1


Seperti separuh hatinya hilang, membuat Intan tak enak makan dan juga tidur semenjak pulang dari Tasikmalaya, dan akhirnya jatuh sakit.


Menghadapi revisi dan sidang skripsinya memang begitu menyita waktu dan tenaganya. dihadapkan dengan kondisi tubuh yang kurang fit akhirnya Intan tumbang juga.


"Halo, Kak Prabu ini Intan," suara Intan di ujung telepon.


"Ya, Intan ada apa? suaramu kok hilang begitu, Kamu sakit?" jawab dr Prabu kelihatan begitu cemas.


"Iya, Kak mau minta tolong beliin intan Kuota karena Intan mau kerjakan tugas dari sini saja sementara waktu, Intan nggak enak badan nggak bisa keluar," ucap Intan sambil batuk dengan suara hampir hilang.


"Ya ampuuuuun Intan, sudah berobat belum? mending pulang saja istirahat di rumah jangan pikirkan soal skripsi, sidang dan lain-lain pokoknya sehatkan dulu badanmu!" ucap dr Prabu merasa begitu cemas.


"Sudah berobat tapi belum ada hasilnya baru minum obat beberapa kali," jawab Intan seperti nafasnya begitu capek.


"Pokoknya istirahat saja dulu, masalah kuota nanti Aku kirim kalau tidak minta jemput Rahma biar nemenin kamu pulang ke Majalaya!" titah dr Prabu pada Intan Adiknya.


"Sepertinya tidak tapi nggak tahu, emang kenapa?" cecar dr Prabu seperti heran saja baru kali ini Intan bertanya tentang urusan praktek dr Imam yang sebelumnya tidak pernah sedikitpun menyinggung apalagi urusan pekerjaan dan bertanya hal apapun tentang dr Imam walau dr Prabu tahu mereka sudah lama pacaran.


"Nggak apa-apa Kak, hanya tanya saja. Ya sudah Aku istirahat dulu."


Intan hanya ingin tahu dan memastikan saja, mungkin untuk menyempurnakan kesedihannya, Intan kenal baik dengan suster Erna yang biasa mendampingi dr Imam praktek mungkin akan mendapat jawaban pasti.


"Halo suster Erna, ini Intan apa kabar?"


"Oh, Intan? baik Intan ada apa ya?" suara suster Erna dengan tawa lembutnya menjadi ciri khasnya.

__ADS_1


"Sus apa Mas Imam hari ini ada praktek dadakan? katanya libur tapi harus masuk juga katanya, tapi ini hanya kita yang tahu ya Sus, hanya ingin tahu dan memastikan saja," ucap Intan penuh selidik.


"Sepertinya bagian SpOG di pegang dokter lain Intan, dr Imam tetap libur hari ini sampai besok, karena Aku yang mendampingi dokter di sini sampai malam, belum ada konfirmasi apapun kok, biasanya sudah dari tadi atau pagi kalau ada panggilan darurat sudah di ACC," jawab Suster Erna dengan yakinnya.


"Oh, ya sudah Sus. Terimakasih banyak ya infonya," ucap Intan menutup sambungan telepon.


Suster Erna hanya diam saat Intan menutup dan memutus telepon dengan buru-buru.


Ada setitik bola bening dari ujung mata Intan, hatinya sakit terkoyak dengan semuanya. Mas Imam berbohong mungkin untuk kebaikan tapi di rasa Intan begitu sakit saat ketidakjujuran di ucapkan diatas cinta sejatinya.


Intan menangis sendiri, hatinya begitu tak terima, dan di atas kepalanya yang terbayang Mas Imam sedang tertawa dan bahagia dengan seseorang yang dikenalkan orang tuanya, walaupun Intan tahu hati Mas Imam ada di sini tetapi rasa sakit membayangkan semuanya membuat Intan begitu lemah dan tak berdaya.


Cinta pada Mas Imam yang dengan bangga Intan perkenalkan pada keluarganya kini hanya tinggal samar saja tanpa kepastian dan haluan sebagai tujuan.


Janji Mas Imam akan selalu mengabarkan apapun yang terjadi diawali dengan kabar kebohongan yang di terima Intan, jelas itu membuat pukulan pada hati dan perasaannya.


Butuh waktu lama bagi Intan untuk bisa menerima semuanya.


Intan tertidur dalam pengaruh obat yang di minumnya, berharap bangun badan dan kepalanya bisa lebih enteng.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2