Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kenyamanan


__ADS_3

"Sabar Al, sudah dulu ceritanya, biar makannya nggak terganggu. Kamu harus makan banyak biar anak yang kamu kandung sehat dan bisa tumbuh dengan semestinya."


"Anak yang hadir tanpa di inginkan."


"Jangan bicara begitu, semua anak adalah suci tanpa dosa, orangtuanya yang berdosa, makanya perlu taubat dan keikhlasan menjalaninya. Oke kamu sudah merasa bukan menjadi anak yang baik tetapi setidaknya jadilah ibu yang baik bagi anakmu yang nanti akan kamu lahirkan."


"Iya Mas Rendra, Aku akan berusaha menjadi lebih baik."


"Kalau sudah makannya kita pulang aja, apa kamu masih ada kegiatan?"


"Biasanya kalau aku tidak capek aku nggak pulang dulu, aku ngebantu ibu-ibu membikin makanan, dan aku juga mengajarkan sedikit ilmu memasak kue-kue kecil siapa tahu bermanfaat."


"Oh ya? kamu pintar masak rupanya, pantesan pagi tadi sarapan seperti pisang goreng dimodif ala cafe-cafe gitu."


"Usahaku memang di bidang itu Mas." Rendra memandang Alya, dalam hatinya berkata seandainya Alya tidak sedang ada masalah dan tidak dalam keadaan hamil mungkin dirinya akan jatuh hati dan lama-lama akan menjadi jatuh cinta, akan tetapi dalam masa sekarang ini perasaan bukan cinta yang harus di berikan, tetapi perasaan simpatik seorang sahabat.


"Jadi sekarang gimana, pulang apa ke barak lagi?"


"Aku agak pusing, kita pulang saja."


"Baiklah, ayo hati-hati turunnya."


Rendra menolong mengambilkan sepatu Alya yang tercecer jauh, mereka turun dari warung makan lesehan dan pergi meninggalkan tempat makan itu.


"Apa sering pusing tiap harinya?"


"Enggak juga."


"Apa kamu pernah periksa kehamilan mu itu?"


"Belum."


"Mau seandainya aku antar periksa sekarang?"


"Mas nggak keberatan?"


"Ayo, walaupun Puskesmas dalam keadaan darurat bencana alam kita periksa ke saja ke sana."


Alya tak menjawab hanya naik motor pelan-pelan dan Rendra pun membawa motor nya dengan hati-hati.


Puskesmas agak longgar, mungkin karena waktu sudah siang, Alya merasa seperti apa perasaannya. Pertama kali dirinya memeriksakan kehamilan dan saat ini dirinya hanya ditemani seorang sahabat yang beberapa minggu lalu baru dikenalnya bisa dibayangkan seperti apa perasaannya, tak ada Ibunya ataupun orang yang seharusnya mendampingi dalam keadaan apapun.


Rendra mengerti perasaan Alya, seperti apa, dirinya sebagai sahabat mengambil peranan yang seharusnya bukan dirinya yang berada di sisi Alya saat ini.

__ADS_1


Rendra menemani dari mulai daftar, ngantri dan saat diperiksa lanjut konsultasi, satu yang membuat Alya tertegun Rendra menjadi penanggung jawab atas dirinya dan dia berusaha menyembunyikan semuanya sampai dia menyebutkan kalau dirinya adalah suami dari Alya.


Rendra meminta maaf atas semuanya setelah semuanya selesai, karena untuk tidak bertele-tele dan memudahkan konsultasi juga data dan Alya menanggapinya dengan bermacam perasaan, ada sakit, malu, merasa telah banyak merepotkan dan meminjam identitas sahabatnya itu.


Mereka pulang dengan membawa hasil pemeriksaan, dan PR. Alya kurang vitamin, tensi rendah, usia kandungan telah mencapai delapan minggu atau kurang lebih dua bulan menginjak bulan ke tiga, janin aktif dan tumbuh sesuai usia kandungan, satu yang jadi catatan asupan makanan dari Ibu yang harus di cukupi, jangan banyak pikiran dan lebih banyak istirahat.


Alya mengaku, dirinya kurang istirahat memang benar, terlalu menghindari kesendirian untuk tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal apapun. Kurang tidur ya jelas akhir-akhir ini dirinya tidur hampir diatas pukul 24 malam, apalagi awal-awal tahu dirinya hamil.


Rendra menjalankan kembali motor tua Bapaknya dan berhenti di halaman depan rumahnya.


Alya kelihatan capek dan duduk di kursi teras sebelum masuk ke dalam rumah dan diikuti Rendra di sebrang meja sebagai pembatasnya.


"Al, Aku sarankan kalau memang kondisinya tidak memungkinkan tidak tiap hari juga nggak apa-apa datang ke barak pengungsian."


"Aku merasa kuat kok Mas, kan tujuanku ke sini untuk itu."


"Kebanyakan orang merasa seperti Itu, merasa kuat, sehat, tapi kenyataannya dirinya lemah bahkan sakit tetapi kalau menurut diagnosa bidan tadi kamu banyak kekurangannya, berat badan kamu yang seharusnya mulai naik kata bidan tadi belum beranjak masih seperti awal-awal kamu belum hamil."


Alya diam.


"Kamu jangan banyak pikiran terima semuanya dengan ikhlas, jalani semuanya biarkan yang telah terjadi dan satu yang perlu kamu selalu ingat, kehidupan di dalam tubuh kamu itu harus kamu jaga karena itu adalah titipan buat kamu, anugrah walau bagaimanapun kisahnya tak semua perempuan bisa menjalani masa-masa itu, banyak banget di luar sana dengan berbagai cara mendamba kehamilan."


Alya masih diam, apa yang seharusnya dirinya katakan pada Rendra? sungguh tak bisa dirinya ungkapkan semuanya.


"Aku tinggalkan sedikit uang buat keperluan kamu, maaf waktu awal kamu menolak tapi sekarang tolong jangan menolak, belilah apa yang kamu mau, makanan, pakaian atau apapun itu."


"Aku percaya, tapi pegang juga uang dariku simpan saja sebagai cadangan hal yang tak terduga."


Alya kembali terpekur. Haruskah dirinya menolak kembali pemberian Rendra? kebaikannya juga kebaikan kedua orangtuanya mau menampung dirinya walau mereka tahu dirinya sedang hamil tanpa status.


"Apa Ibu sama Bapakku baik padamu selama ini?"


"Baik banget Mas, mereka perhatian luar biasa dalam hal apapun, bahkan karena terlalu baik justru aku merasa canggung dan malu sendiri."


"Itulah kelebihan orangtua, kita mesti bersyukur masih memiliki mereka. Apa kedua orangtuamu masih komplit?"


"Masih Mas, Aku jadi teringat pada kedua orangtuaku, aku telah banyak salah, aku telah mempemalukan mereka, aku telah mencoreng dan melukai mereka merusak harga dirinya. Terlalu banyak kesalahanku, dan aku memutuskan komunikasi entah seperti apa Ibu Bapakku sekarang."


"Kamu berapa bersaudara Al?"


"Aku anak tunggal Mas."


"Kamu asli daerah mana?"

__ADS_1


"Tasikmalaya."


"Aku juga kan kerja di sana."


"Aku sudah menduganya."


"Ya Allah Al, setidaknya kabarin mereka, jangan biarkan mereka dalam kecemasan."


"Sudah Mas, tapi sudah lama ada kali dua minggu yang lalu, tapi aku nggak membuka komunikasi dengan mereka, hanya aku baik-baik saja dan ada di satu daerah yang begitu jauh dari rumah."


"Alya, bagaimanapun mereka adalah orang terdekatmu, dan pasti mereka mencemaskanmu"


"Apa kamu punya teman? coba kabari lewat dia biar si sampaikan pada kedua orangtuamu."


"Aku ingin menjalani hidup di sini dulu Mas, jauh dari semua orang."


"Aku mengerti Al, tapi gimana orangtuamu, apa mereka mengerti? kalau sakit gimana? kalau terjadi apa-apa kamu nggak akan menyesal? pikirkan itu."


"Tapi aku mulai betah di sini, mulai terbiasa menjalani semuanya, apalagi ada Mas Rendra ada teman buat diskusi dan ngobrol."


"Al, aku tidak bisa selamanya di sini, ada tanggung jawabku yang menunggu dan tidak bisa aku tinggalkan, cobalah bangun komunikasi dengan sahabatmu siapapun itu, coba untuk menyampaikan kepada kedua orang tuamu kalau keberadaanmu baik-baik saja kirimkan juga foto kamu agar kamu bisa meyakinkan kedua orang tuamu kalau kamu itu baik-baik saja, katakan sejujurnya kalau kamu ingin jauh dulu."


"Iya Mas Rendra, akan aku coba."


"Begitu dong jangan membebanidiri sendiri dengan permasalahan juga jangan membebani orang tua kita berusahalah bangkit dan hidup mandiri juga bertanggungjawab pada diri sendiri."


Kenapa setiap aku berbicara dengan Mas Rendra selalu saja ada ketenangan dan berada di dekatnya adalah suatu kenyamanan.


Perhatian dan sikap melindungannya begitu terasa banget, tapi aku sadar siapa aku ini? dan siapa Mas Rendra Aku tidak tahu dan akupun tak berani untuk sedikitpun menyimpan rasa dan harapan.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi


By Enis Sudrajat juga, baca, like,

__ADS_1


vote dan beri hadiah ya!



__ADS_2