
"Retno Aku yakin Kamu bisa mengerti, tolong memahami posisiku yang serba salah ini," ucap dr Prabu menghalangi jalan Retno.
"Mas tahu apa yang Aku inginkan, hanya itu saja yang mungkin bisa Mas jalani kita memang harus saling memahami, Aku juga sama ingin di mengerti," jawab Retno sambil tetap dingin.
"Iya Sayang, kamu boleh menuntut apapun dan menjatuhkan hukuman seandainya Aku keluar dari janji hati kita, Tak ada niat apapun hanya kebetulan seperti orang lain pada umumnya itu saja!" ucap dr Prabu berusaha meyakinkan Retno dengan segala pembelaannya.
"Mau minum?" Dr Prabu menawarkan minum pada Retno yang berkeringat walau di ruangan ber-AC.
Retno menggeleng dan malah bangkit meraih tas nya, dr Prabu meraih tangannya sambil sedikit menariknya duduk kembali.
"Retno, tolong jangan marah nanti kamu bisa meminta keterangan dari dr Imam biar dr Imam yang bertanggung jawab," ucap dr Prabu tak bisa melihat istrinya dalam kemarahan.
"Kenapa Mas melimpahkan kesalahan dan tanggungjawab pada orang lain? itu kesalahan Mas sendiri mutlak, kenapa Mas tak pamit juga kalau tidak ada keperluan apa-apa, Mas sendiri yang membuka peluang dan bisa enak ngobrol apapun berlama-lama berduaan, ulat bulu itu sengaja menggiring dan mengulur waktu biar bisa berlama-lama bersama," ucap Retno seakan mementahkan alasan suaminya.
Retno tak terima. Bukan masalah ngobrol atau bersamanya tapi orang seperti Alya sulit diprediksi seperti apa maunya, Selama ini Retno berpikir menelaah semua tindakan Alya selama ini terhadap suaminya begitu nekat mempertahankan keinginan sendiri dengan memperjuangkannya tanpa melihat situasi dan kondisi tanpa kompromi sampai melupakan tata krama jauh dari kata sopan santun dan etika menghalalkan segala cara demi cita-cita dan keinginan walaupun semua itu tidak terbalas.
"Ya ampuuuuun Retno, di situ banyak orang, kami sadar diri kalau kami sudah pada punya keluarga masing asing," ucap dr Prabu sambil memeluk Retno dan mengusap punggungnya, memenangkan dan meminta Retno tenang semua tak akan terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Kalau Mas sadar diri kenapa masih saja bisa berduaan ngobrol akrab begitu? apa itu hal yang pantas?" jawab Retno masih dengan nada kesalnya.
"Retno harus bilang apa Aku tidak tahu lagi, yakinlah semua hanya kebetulan, sudahlah jangan di besar-besarkan, Aku tidak mau bertengkar di depan anak kita hal yang Aku tidak merasa melakukan kesalahan," ucap dr Prabu ingin meredam amarah dan mungkin rasa cemburu istrinya.
"Tapi niat dia siapa yang tahu? Mas jangan mengabaikan hal kecil, Aku sekali tidak tidak suka Mas jangan menganggap sepele awal semuanya, semua yang terjadi pada Mas adalah malapetaka besar, semua itu berawal dari hal sepele Mas mengantar dan mau menerima ajakan ulat bulu itu mengambil kamera, apa Mas memperkirakan hal itu akan terjadi dulu? tidak bukan? tapi semua menjadi musibah besar. dan ujung ujungnya enyakiti banyak hati akibatnya." Retno mengatakan itu sambil berlinang air mata.
Membayangkan perjuangan memaafkan suaminya, yang awalnya Retno sudah mengikhlaskan, merelakan cintanyA hilang di bawa terbang kemunafikan ambisi dan hasrat yang di paksakan.
Dr Prabu diam, meyakini kalau kata-kata istrinya benar, intinya jangan membuka peluang sekecil apapun, apalagi Alya tadi sudah bilang kalau rumah tangganya tidak bahagia merasa gagal membina rumah tangga dan mempertahankannya bahkan Alya ingin mengajak kembali bersahabat seperti dulu selalu bersahabat awalnya yang dikatakannya. De Prabu harus lebih hati-hati walaupun sudah banyak pelajaran dari semua kejadian yang telah dialaminya.
Tak bisa di pungkiri kejadian barusan membuat de Prabu merasa takut, apalagi Retno istrinya sedang hamil besar, makanya tak banyak yang di ucapkannya hanya sebatas ingin meyakinkan dan menenangkan ritno saja keluar daripada itu tidak berani berdebat jauh demi menjaga hati dan perasaan Retno sendiri.
Retno bangkit dan berjalan ke pintu tapi dr Prabu mengulanginya kembali.
"Mau pulang?"
Retno mengangguk sekali anggukan.
__ADS_1
"Duduk dan tunggu dulu biar Aku bereskan pekerjaanku dulu dan membereskan berkas ini yang ada di mejaku saja sebelum kita pulang." ucap dr Prabu lunak dan pelan bicaranya.
"Kalau Mas Masih jam kerja biar Aku pulang sendiri saja," ucap Retno sambil berdiri lagi.
"Aku bisa pulang kapan saja, pekerjaan tidak selalu padat, semua bisa diatur." Andhini diam memandang suaminya yang membereskan berkas dan mematikan laptop AC dan stop kontak lampu.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1