
Ada apa denganku? kenapa aku begitu memikirkan wanita itu? Siapa dia aku tidak tahu, orang mana dia aku tidak tahu, dari keluarga seperti apa sungguh aku tidak tahu, tapi kenapa seakan aku begitu tersita seluruh waktu hanya untuk berpikir tentang seorang Alya?
Seperti apa pergaulan wanita itu? sehingga bisa hamil sebelum menikah? Astaghfirullahaladzim.
Rendra mengusap mukanya mengusir bayangan tentang Aliya dari otak dan pikirannya.
Keluarganya seperti apa pasti dari keluarga kacau, tanpa aturan dan disiplin, juga mungkin dari keluarga broken home atau korban kurang kasih sayang orangtua dan atau korban perceraian kedua orangtuanya, atau juga korban pergaulan bebas.
Pikiran Rendra begitu terbagi antara pekerjaan dan ke kampung halamannya juga pada Alya yang dua minggu terakhir di titipkan di rumah orangtuanya.
Terkadang Rendra menelephon keadaanya, Mereka bicara dan saling tanya khabar, Alya bicara pernah kuliah berarti bukan dari keluarga yang sangat terbelakang walau Rendra belum tahu pasti keluarganya seperti apa?
Masih ingat saat dirinya datang dengan Alya, Ibunya langsung memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan.
Rendra seperti biasa, bisa meyakinkan Ibu dan Bapaknya kalau Alya adalah temannya yang mau jadi relawan di tempat pengungsian.
Ibunya bisa mengerti bahkan saat di beritahu kalau Alya sedang hamil, walau awal-awal Ibunya kelihatan syok menerima seorang teman anaknya dan akan tinggal di rumahnya dalam keadaan hamil tanpa ikatan dan tanpa suami.
Dan Rendra meyakinkan kepada Ibunya kalau bukan dirinya yang menyebabkan kehamilan Alya. Juga Alya adalah gadis baik-baik, tapi kenapa sampai hamil di luar nikah dan minggat dari rumah?
Pelan-pelan Rendra menjelaskan semuanya pada Ibu Bapaknya hanya menurut perkiraannya saja kalau Alya belum bisa terbuka, karena dirinya juga syok, jadi untuk bisa menenangkan diri, bisa introspeksi diri, tafakur diri, ingin keluar dari masalahnya dengan pergi dari rumah menghindari konflik dengan orangtuanya juga menghindari Ibu Bapaknya yang tiap hari terus-terusan membahas masalah dirinya dan tak ada bahasan lain selain tentang kesalahannya.
Biarkan dia merasa, melihat, dan melayani orang, dan melayani diri sendiri, menjaga diri dan mengurus diri itu seperti apa? juga jaug dari orangtua itu bagaimana?
Akhirnya Ibu Bapaknya Rendra setuju, selain kasihan kelihatan anaknya baik, juga cantik, kelihatan mandiri, asal semua tak merepotkan nya dan bisa mengurus dirinya sendiri.
Satu yang membuat Rendra merasa tenang, saat mereka bicara di telephon Alya kedengaran mulai terbiasa dan roman bicaranya sudah nggak ketus lagi, juga bilang betah di sini Ibu Bapakmu baik banget dan satu lagi aku mendapat pelajaran dari semuanya di tempat pengungsian.
Satu kalimat terakhir yang membuat Rendra tertegun, 'Kapan Mas Rendra pulang?'
Ada rasa kangen selalu pada kampung halamannya, terlebih saat terkena bencana alam, sama kedua orangtuanya juga kangen melakukan misi seperti dulu-dulu sebelum dirinya punya karir dan pekerjaan.
Mungkinkah dirinya kangen sama Alya? ah...tak mungkin! Alya itu siapa? juga gadis seperti apa? hamil dan anak siapa itu?
Rendra membuang jauh-jauh sedikit rasa itu.
__ADS_1
Kedua orang tuanya pasti nggak bakal setuju, dan sejuta ceramah di jejalkan pastinya dan dirinya juga tak ada rasa dan dirinya harus mendapatkan orang baik-baik, yang hidupnya lempeng bukan gadis dalam masalah seperti Alya.
Rendra terus berpikir dalam bus perjalanan pulang kembali ke kampung halaman nya, dan hatinya tersenyum saat pulang bulan kemarin ada Alya di sebelahnya dan berkenalan sepanjang perjalanan mereka ngobrol sampai akhirnya Alya ikut ke kampungnya ingin menjadi relawan atas penawarannya.
Ini belum genap sebulan sudah pulang lagi ada apa? apa karena ada Alya? apa karena di kampungnya lagi kena bencana? entahlah yang pasti Rendra akhir minggu ini ingin pulang.
Ingin rasanya Rendra mengorek lebih jauh dan bisa tahu bagaimana keluarga Alya, sampai hamil, dan sampai memutuskan minggat dari rumah bukan meminta pertanggungjawaban dari Bapak biologis anak dalam kandungannya, malah mengasingkan diri dan berniat sampai melahirkan.
Ada yang harus di luruskan Rendra tentang Alya dan kedua orangtuanya, takut kedua orang tuanya tidak bisa menerima Alya lagi dan bersedia menampung saat kandungan Alya semakin membesar nanti.
Memang bisa dipahami akan seperti apa tanggapan orang lain terhadap keluarganya sedangkan keluarganya di kampung halamannya termasuk orang yang dipandang baik, apa yang seharusnya dilakukan Rendra seandainya Alya meminta bantuannya untuk tetap bisa tinggal di situ akankah dia pergi dari situ mencari tempat untuk berlindung betapa Rendra tak akan tega, seandainya Ibu Bapaknya tak mau menerima lagi.
Semua cara telah dipikirkan Rendra tapi belum ada yang pas dan Rendra juga harus mendengar pendapat Alya akan sampai kapan berada di situ? dan selanjutnya akan melangkah ke mana Rendra belum tahu.
Rendra tertidur di jok bus malam yang membawanya ke jurusan kampung halamannya, dan akhirnya sampai juga di depan rumahnya, rumah mas kecilnya dan keluarganya tinggal.
Ibunya menyambut anak kesayangannya dengan suka-cita dan keheranan tak biasanya pulang secepat ini, perasaan baru beberapa minggu lalu sekarang sudah balik lagi.
"Oh alah, kamu sudah pulang lagi Nak?"
Tak lama pintu kamar Alya terbuka, Alya keluar saat adzan subuh berkumandang dan antusias menyalami Rendra yang lagi duduk istirahat sambil minum teh hangat.
"Mas Rendra sudah pulang? kok nggak ngabarin dulu kalau mau pulang?"
"Nggak Al, aku nggak rencana tadinya. Tapi dipikir-pikir mau ngapain liburan di sana mending aku ke sini siapa tahu liburan ku bisa lebih bermanfaat."
"Ya sudah, maaf aku baru bangun, ke kamar mandi dulu."
"Oh, silahkan." Rendra memandang Alya dari belakang yang berpakaian seperti ibu-ibu ber-daster tangan pendek corak batik, dengan rambut diikat semua ke atas.
Alya bukan orang jelek, dia cantik dan terawat, tubuhnya yang tinggi kelihatan lehernya juga sebagian betisnya yang putih mulus, membuat Rendra memalingkan mukanya ke arah lain, tak membiarkan jiwanya berkelana.
Selesai menunaikan sholat subuh Alya membantu Ibunya Rendra di dapur, menyiapkan sarapan dan membuat makanan cemilan khas daerah, terkadang Alya juga mencoba kue yang mudah di buat membuat Ibunya Rendra senang.
Dan pagi itu Alya membuat kue yang baginya sangat sederhana dan mudah tapi bagi Ibunya Rendra sesuatu yang baru dan makanan kekinian, pisang goreng keju crispy yang bahannya melimpah, tinggal pelengkapnya seperti susu dan keju juga coklat tabur, juga coklat batangan yang Alya sengaja beli sepulang dari kegiatannya di pengungsian.
__ADS_1
Alya bangga saat Ibu Bapaknya Rendra juga sekarang Rendra mencicipinya dan semua memujinya.
Tak habis pikir buat Rendra, Alya gadis pintar, cantik, baik, pintar masak, kok hamil duluan?
"Al, nanti bareng aku ke pengungsian ya, aku ada titipan sumbangan dari kantorku, juga dari group alumni sekolahku nanti kita serahkan pada panitianya."
"Iya Mas."
"Kamu jangan terlalu capek, jaga kesehatan juga."
"Aku biasa aja, senang rasanya berada di tengah tengah mereka dan punya teman banyak heee..."
"Teman cewek apa cowok?"
"Ya teman cewek cowok, semua satu tujuan yaitu membantu meringankan beban mereka apa yang kita bisa."
Aku merasa iri padamu Al, kamu bisa total mengabdi sedang aku bertentangan dengan dunia kerja."
"Jangan begitu, sekarang juga Mas Rendra bisa meluangkan waktu, kerja juga kan kewajiban dan konsekuen pada pekerjaan adalah tanggungjawab kita."
Rendra memandang Alya dari atas sampai bawah tak ada kekurangan gadis ini hanya saja apa yang salah dengan dirinya?
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi By Enis Sudrajat juga, baca, like, vote dan beri hadiah ya!
__ADS_1