
Kebahagiaan keluarga dr Prabu di Majalaya Bandung Jawa Barat begitu tak terhingga, penyambutan luar biasa terhadap keluarga Raden Haryo Atmojo dari Pekalongan membuat geger semua tetangga dan kerabat dekat.
Semua pada ingin tahu calonnya dr Prabu. Yang konon katanya anak seorang saudagar batik kaya raya dan cantik bak putri raja-raja.
Seperti layaknya perayaan hari raya, orang pada desak-desakan ingin sekedar melihat calon
menantu tetangga dan saudaranya.
Retno merasa malu, seperti di tengah arena saja di elu-elukan dan di sanjung. Saat dr Prabu menggandengnya turun dari mobil menuju rumah kediaman orangtuanya.
Dr Prabu menyapa para tetangga, saudaranya semua dengan senyuman dan lambaian tangan.
Dr Prabu yang merasa bangga dan kelihatan pamer di depan tetangga, saudara dan keluarganya, Tak henti menebar senyuman dan melirik seorang cantik Retno di sampingnya, seakan ingin membawanya kepada suatu kenyataan yang telah lama mereka impikan.
Kedua orangtuanya hanya mengikuti keinginan anaknya. Karena merasa anaknya telah dewasa dan punya pilihan. Dengan hasil pertimbangan yang pasti sudah dipertimbangkan dan di pikirkan baik-buruknya. Hingga pilihan jatuh pada cinta lamanya.
Walaupun pada awalnya kedua orang tuanya agak menentang hubungan mereka. Perbedaan status sosial yang membuat keluarga dr Prabu agak meragu, dan akhirnya terbukti pada lamaran 5 tahun lalu ditolak keluarga Retno.
Apalah daya orangtua selain merestui dan mengizinkan. Terbukti semua tidak menyurutkan langkah keduanya yaitu Retno dan dr Prabu untuk tetap pada pendiriannya yang akhirnya meluluhkan hati orang tuanya Retno.
Perkenalkan makanan khas daerah menambah akrab perbincangan dua keluarga itu. Selain diisi dengan santai tapi formal mereka begitu menikmati keakraban yang diciptakan sejak awal pertemuan kedua keluarga itu.
Setelah berbasa-basi, menyampaikan niat setelah acara dimulai terlebih dahulu kedua keluarga memperkenalkan diri dan memohon maaf atas penyambutan yang kurang berkenan.
Lanjut ke acara pokok yaitu pembicaraan kalau keluarga dari Pekalongan telah menerima lamaran dr Prabu, dan sekalian dari Pekalongan datang juga ke keluarga di Bandung untuk menyampaikan kabar berita lamaran yang telah diterima, dan sekarang minta untuk persetujuan menentukan tanggal pernikahan.
"Jangan lama-lama lah Bu, persiapan pernikahannya ya Romo? pokoknya biar kita semua merasa tenang melepas anak-anak kita melangkah dengan keinginannya." Ibu Raden Ayu Tri Hapsari yang duduk di samping calon besannya, tersenyum melihat putrinya yang kelihatan masih canggung di keluarga calon mertuanya.
"Iya, iya saya sebagai orangtua Nak Prabu begitu menghargai keinginan Romo sama Ibunya Nak Retno, tapi ya beri sedikit waktu masa iya mendadak begitu heee..."
"Seminggu, apa cukup waktu kita dari sekarang untuk mempersiapkan semuanya? gimana Bapak sama Ibu Nak Prabu di sini setuju tidak?" Romo nya Retno langsung pada keinginannya untuk tidak menunda lebih lama waktu pernikahan putrinya.
__ADS_1
"Oh, alah dua minggu lah Romo, seminggu terlalu cepat, cetak undangan dan membagikan buat saudara jauh, kalau seminggu nggak cukup ya Pak?" Ibunya dr Prabu menolak seandainya persiapan hanya seminggu.
"Iya, karena kita sama-sama sepakat ingin cepat ber-mantu jadi kita setujui dan ambil kata sepakat dua minggu lagi gimana?" Pakde nya Retno mengambil jalan tengah yang bijaksana.
"Setuju!"
"Insya Allah kami setuju!"
"Maaf, sebelumnya kita tak bertanya pada anak kita yaitu Ananda Retno sama Ananda Prabu, apa kalian setuju dengan kesepakatan yang kami ambil tadi? kalian berdua menyimaknya kan bagaimana pendapat kalian?"
"Saya sebagai calon pengantin laki-laki, juga mewakili calon istri saya sangat setuju atas keputusan yang telah disepakati kedua keluarga dari Bandung dan juga dari Pekalongan, malah mungkin saya akan lebih bahagia lagi jika keputusan itu menjadi lebih cepat lagi heee..."
"Haaaaaaaa..."
"Heeee..."
"Kita mengerti ketidak sabaran mu Nak Prabu, tapi dua minggu itu nggak lama kalau dijalani dengan kesibukan." Pakde nya Retno menjawab pernyataan dr Prabu sambil tersenyum.
Hari, tanggal dan waktu telah di sepakati, selanjutnya saling beramah tamah dan mengakrabkan diri.
Intan Juwita dan Rahma Paramitha, kedua adik dr Prabu yang super sibuk saat itu belum Retno sapa dan sampai acara selesai baru bisa Retno menghampiri Intan.
"Seneng juga bahagia deh melihat Kak Prabu juga Mbak Retno saat ini heee..." Intan duluan bicara di tujukan pada dr Prabu dan Retno.
"Seperti bahagianya hatimu Intan haaa..."
"Memang aku kelihatan bahagia gitu?" Intan memandang Kakaknya.
"Kelihatan lebih ceria gitu ya sayang? apalagi kalau ada dokter spesialis saat ini di sini." Dr Prabu menggoda Intan sambil melirik Retno di sampingnya.
Retno tertawa melihat Kakak beradik ini saat bercanda, Intan cemberut dan mengerlingkan mata pada Kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa nggak di ajak ke sini Tan?" Retno bertanya.
"Temennya kak Prabu tuh, masa sama teman nggak ingat, hari istimewa seperti sampai nggak diundang?"
"Nanti kalau nikahan ku kamu sama dr Imam aku jadiin panitia biar sibuk jadi nggak punya kesempatan pacaran."
"Iiiiiiiiiih... Kakak, kayak nggak ada lagi orang lain, kok aku sih?"
Retno sama dr Prabu tertawa.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah...
...juga ya🙏...
__ADS_1