Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Mengawinkan piala


__ADS_3

Selesai sudah partai tunggal putri dan tunggal putra di turnamen ini


akan dilanjutkan dengan partai selanjutnya. Penonton akan di suguhkan dengan partai final ganda putra, ganda putri dan satu lagi ganda campuran.


Retno turun menyalami Mas Prabu dan memberikan perhatian khusus, tak lupa saat dr Prabu menyalami lawan mainnya Rendra yang kalah tiga set langsung Retno ikut juga menyalaminya sambil tersenyum.


Seakan hati Retno ingin meyakinkan di hadapan Rendra kalau dirinya adalah pacar terbaik untuk pasangannya Mas Prabu.


Sorak-sorai penonton masih saja bersuara, penampilan yang sangat dominan dari dr Prabu begitu memukau dan menarik menjadi tontonan yang sangat memanjakan penonton.


"Terimakasih, telah ikut serta meramaikan acara kami, pencapaian yang luar biasa dan tontonan yang sangat menarik."


dr Prabu menyalami Rendra dengan senyum bangga nya.


"Yang harusnya berterimakasih adalah aku, event ini telah memberikan pengalaman yang luar biasa padaku, dan sampai babak ini adalah pencapaian dan kesempatan paling berharga buatku."


"Makasih Mas Rendra, telah menjadi lawan yang tangguh buat Mas Prabu, permainan yang sangat menarik." Retno sekedar basa-basi dan perhatian sebagai sahabat baiknya ikut membesarkan hati Rendra walau kalah telak di babak final barusan.


Dr Prabu membungkuk sambil menggandeng tangan Retno setelah memberikan salam kehormatan kepada semua penonton. Dr Prabu menarik Retno untuk keluar dari keramaian dan tatapan orang-orang karena keberadaan dirinya di situ sangat mengundang perhatian dan tanda tanya yang melihatnya, karena semua sudah selesai menurut pikiran dr Prabu mending keluar saja.


"Mas, mau kemana?"


"Aku mau ganti pakaian."


"Masa aku yang temenin?"


"Aku mau gantinya di ruangan ku, kamu ikut aku." dr Prabu menyerahkan raket untuk dibawa sama Retno.


"Mas, aku masih mau nonton partai selanjutnya."


"Ada yang lebih penting dari semua ini, ayolah ikut aku."


"Mas!"


"Kali ini tolong jangan membantah."


"Tapi, nanti kita kesini lagi ya?"


"Iya, ayo."


Retno mengikuti langkah dr Prabu yang berjalan dengan langkah panjang-panjang keluar dari kebisingan GOR.

__ADS_1


Berjalan melewati samping rumahsakit dr Prabu melambatkan jalanya dan melirik Retno yang agak ketinggalan. Di rengkuh nya bahu Retno sepanjang lorong rumahsakit.


Mereka masuk dan dr Prabu langsung menguncinya, Retno merasa heran ada apa ini kok jadi begini? harusnya dirinya masih ada di dalam GOR untuk menyaksikan partai selanjutnya dan itu adalah tontonan yang sangat digemari nya.


Tapi kenapa Mas Prabu seakan tidak suka berlama-lama di dalam GOR padahal banyak tamu kehormatan yang hadir di situ apa karena ada Rendra di situ juga atau karena apa? sungguh Retno tidak tahu.


"Mas, ngapain di kunci segala?"


Retno menjadi tidak enak.


"Ssssst... duduk aja dulu sayang.


Aku ganti pakaian dulu lima menit!"


Retno hanya diam dan duduk menunggu dalam keheranan, tapi suka juga takut kehilangan membuat Retno berpikir apa yang di ucapkan temannya tadi.


"Pokoknya gue mau lo tempel tuh Pak Prabu jangan sampai lepas, ulat bulu kayak dia pasti selalu memanfaatkan sekecil apapun peluang untuk keinginannya."


Masih terngiang kata-kata Ella sahabatnya memang tidak berlebihan. Tapi bisa di fahami semua temannya tidak rela seandainya apa yang telah Retno raih menjadi incaran orang lain dengan cara memancing di air keruh.


Retno diam termenung di sofa saat menunggu Mas Prabu keluar dari kamar mandi, hatinya nggak tenang entah kenapa semua serba tak menentu. Seharusnya hari-hari belakangan ini menjadi hari tenangnya, KKN sudah hampir selesai tinggal fokus ke masa kuliah akhirnya.


"Kok melamun?" Dr Prabu keluar dengan pakaian santai lengkap dan sudah rapi.


"Haaa...boleh jingkrak-jingkrak juga kan habis menang." Dr Prabu masih mengelap rambut basahnya.


"Kok, jadi cemberut?"


"Aku heran deh, aku mau nonton kok malah nungguin orang ganti baju sih?"


"Retno, permainan masih banyak ke depan, bahkan kita yang jadi pemain juga bisa tapi aku ingin kebersamaan kita, dan aku nggak mau kamu jadi tontonan orang-orang."


"Maksud Mas Prabu apa?"


"Aku nggak mau kamu jadi tatapan orang-orang seperti si Rendra. Juga yang lain-lainnya kamu hanya milik aku."


"Mas! apa sih salahnya Mas Rendra?"


"Salahnya dia suka sama kamu. Aku nggak suka itu!"


"Pokoknya aku mau nonton."

__ADS_1


"Nggak usah Retno. Nggak berpengaruh lagi terhadap kita siapapun yang menang di kategori lain, aku hanya ingin bersamamu saat ini."


"Di GOR banyak tamu undangan. Apa Mas tidak ingin menemui mereka sekedar basa-basi?"


"Aku sudah basa-basi pada mereka tadi, dan itu Bukan undangan resmi tapi itu adalah bagian dari undangan seandainya ingin menyaksikan pertandingan bulutangkis di babak final. Undangan resminya besok saat penutupan dan saat puncak acara hari jadi rumah sakit ini."


"Apa karena ada si Alya ulat bulu itu di GOR?"


Deg! hati dr Prabu berdesir mukanya mendadak panas dan kebencian itu semakin kuat di hati dan perasaannya.


"Siapapun yang ada di GOR aku nggak perduli Retno. Aku hanya mencintai kamu dan kamu tahu itu."


"Siapa tahu dia lagi cari perhatian Mas, ulat bulu gatal memangnya suka begitu!"


"Retno!, Alya bukan siapa-siapaku. Aku tidak punya hubungan apapun dengan dia, aku tidak mencintainya jangan sekali-kali katakan dia didepan ku, aku tidak suka!"


"Serius tidak suka? lantas sukanya pada siapa?" Retno dengan mimik meledek dr Prabu.


Dr Prabu menangkap tangan Retno menarik rapat dengan tubuhnya, lalu mendekatkan mukanya dengan jarak beberapa inchi.


"Aku hanya mencintaimu, dan menginginkan kamu Retno. Ranyakanlah kemenangan kamu dan aku dengan perasaan hati kita."


Retno tak bisa menjawab satu katapun karena muka dr Prabu sudah terlalu dekat dan tidak ada jarak lagi, tanpa aba-aba dr Prabu mencium lembut bibir Retno yang terkatup. Kerinduan yang tak pernah terlampiaskan bergemuruh dalam dada mereka, tak ada ucap kata hanya ada perasaan hati mereka yang mereka rasakan.


"Izinkan aku melepas rindu ini, yang masih aku rasakan seperti lima tahun lalu. Aku tak sabar ingin memiliki kamu seutuhnya Retno." nafas panas terasa membakar muka Retno seperti ciuman lembut yang berubah menjadi sedikit kasar menyelasar setiap sudut bibir Retno. Tangan dr Prabu mendekap pinggang Retno dengan kedua tungkai


Retno terasa tak bertenaga.


"Kamu begitu mempesona aku, dan begitu mengundang spiritku Retno, aku tak tahan untuk tidak memeluk dan mencium kamu."


"Selamat atas kemenangan mu


Mas Prabu, aku begitu senang dan bangga melihatmu bisa mempertahankan pialamu." Retno mendorong tubuh dr Prabu yang tetap mengungkungnya.


"Lebih bangga aku sayang, ada generasi baru di rumah sakit ini nantinya." Sekali lagi dr Prabu menarik merangkul Retno ke dalam pelukannya.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "Meminang Tanpa Cinta" author Kirana Pramudya, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...

__ADS_1



__ADS_2