
Retno berpikir apa yang harus dilakukannya, cara bersikap pada suaminya yang mulai setengah jam lalu begitu di bencinya. Juga telah merubah drastis cara pandang terhadap suaminya.
Apa semua ini karma dari kedua orangtuaku yang tak mengikuti
keinginannya? Maafkan aku Romo, Kangjeng Ibu, aku bukan anak yang baik, tapi untuk menjadi lebih baik apa aku harus melewati semua cobaan berat seperti ini?
Apa aku sanggup? persoalan yang aku hadapi sekarang ini begitu berat, lain dengan perpisahan selama 5 tahun lalu yang bisa aku lewati, lain juga dengan perlakuan Mas Prabu saat aku KKN membalaskan dendamnya semua itu bisa aku lewati dan kami selesaikan bersama dengan menghasilkan perubahan yang sangat berarti.
Kami mendapatkan hikmah dari pertemuan kami dan menemukan jati diri kami masing-masing, dengan pengakuan jujur aku dan Mas Prabu masih saling mencintai.
Tapi untuk kali ini aku belum mendapatkan penjelasan apa-apa dari Mas Prabu, tapi hatiku sudah terkoyak dan berdarah, aku sudah menjadi butiran debu yang terombang-ambing dibawa angin dan tak tahu akan dihempaskan di lembah mana.
Aku risau, aku gelisah, aku galau, aku marah, aku terluka, aku benci semuanya, apa yang harus aku lakukan untuk menutupi semua itu di hadapan Mas Prabu sampai selesai resepsi.
Dihadapan orang tuaku saudara-saudara dan kerabat ku, di hadapan mertuaku dan juga semua orang yang kenal baik dan dekat denganku, sedangkan aku sudah mengajukan pindah bekerja m ke sini, di rumah sakit yang Mas Prabu pimpin.
Bagaimana seandainya kedua orangtuaku tahu nasib aku seperti ini sekarang, akan seperti apa sikap orang tuaku apa menertawai ku atau tetap menyambut ku?
Keharmonisan dan ideal serasi dalam pandangan semua orang, itulah yang tampak dari luar hubunganku dengan Mas Prabu, ternyata semuanya busuk, penuh dengan kepalsuan dan manis di muka saja.
Pada kenyataannya Mas Prabu tak lebih sama brengseknya dengan si ulat bulu penyebar gatal Alya. Alya adalah lukisan ambisi yang tak tercapai, menghalalkan segala cara, dengan taktik busuknya menginginkan sesuatu yang mungkin menjadi mungkin dengan ambisi berlebihan.
Bagaimana juga sikap semua teman-temanku yang begitu memuji keserasian hubungan kami walaupun itu hanya penilaian mereka tetapi mereka anggap hubungan aku sama Mas Prabu adalah sesuatu yang ideal di mata mereka.
Mas Prabu bangun dengan mata merah setelah kurang-lebih tidur selama satu jam lebih dengan nikmatnya.
"Sayang kamu nggak tidur?"
"Aku belum ngantuk, sepertinya aku mulas dan sakit pinggang."
"Maaf ya aku tadi tidur."
"Nggak apa-apa, Mas."
Begitu ingin Retno keluarkan sejuta pertanyaan dan berjuta cacian terhadap laki-laki yang telah berstatus sebagai suaminya itu, dan menunjukkan di depan mukanya sebuah video asusila, dan foto-foto yang telah dirinya lakukan dengan seorang ulat gatal yang selalu menjadi parasit dalam hubungannya sejak lama.
"Sebentar lagi kita sampai, nggak istirahat dulu?"
"Nggak usah, aku mau istirahat sepertinya aku mau datang bulan Mas."
"Aku nggak ngerti soal itu sayang, apa biasa ada keluhan?"
"Seperti itulah, emosiku memuncak, selalu marah dan gampang tersinggung, seperti ingin makan orang aja rasanya."
"Kok aku baru dengar sayang, memang ada keluhan seperti itu?"
__ADS_1
"Semua wanita akan mengalaminya, tapi ada yang biasa saja juga ada yang akut, aku termasuk kategori yang akut."
"Oke kalau aku sudah tahu nggak akan kaget lagi jika kamu uring-uringan dan cepat tersinggung."
"Mas, sudah sampai di mana pengajuan kepindahan kerjaku?"
"Sudah deal, kamu sudah jadi karyawan di TMC Tasikmalaya sayang nggak usah mikir yang lain lagi."
"Tadinya aku pikir belum final, sepertinya aku berubah pikiran Mas."
"Maksudmu apa sayang? nggak mau pindah ke sini, lantas mau seperti apa?"
"Aku merasa belum siap dengan segala perubahan sekaligus Mas, Aku pindah kerja, pindah rumah meninggalkan kost di rumah Bu Harni, kuliah masih di Bandung baru mau mulai skripsi beres KKN."
"Itu hanya emosi labil dan pemikiran sepintas belum di jalani sayang, semua akan baik-baik saja."
"Hatiku mengatakan tidak baik-baik saja Mas, Aku manusia biasa aku perlu penyesuaian dengan statusku, dengan keadaanku, dengan kepindahan ku, dengan suasana baru di tempat kerja, penyesuaian ku sebagai menantu, dan penyesuaian ku sebagai istri Mas."
"Ya Ampun Ajeng, semua tinggal di jalani, ada aku di sampingmu kini."
"Iya, Mas Aku begitu takut dengan masa depanku."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku begitu mencintaimu, aku tak siap untuk kehilangan, aku begitu damai bersamamu jadi aku tak siap dengan keadaanku yang terusik oleh apapun."
"Ehemght...Mbak aku lupa lagi depan itu belok kiri apa kanan?" Dimas berdehem sambil bertanya mengagetkan Retno sama dr Prabu yang kelihatan dari spion dalam mobil kalau mereka lagi pelukan.
Entah di sengaja atau kebetulan saja, tetapi itu menguntungkan bagi Retno yang enggan dan malas untuk bermesraan, bahkan Retno akan membatasi setiap kebersamaan mereka, akan ada batas seperti enggan hatinya untuk berdekatan layaknya pasangan suami istri. Sampai Retno mendengar penjelasan semua dari suaminya.
Entah dosa atau apapun itu, Retno tak mau jadi seolah orang bodoh di kendalikan oleh perasaan cinta yang menggebu, bagi Retno aku adalah istri sah Mas Prabu, tapi aku akan berlaku bukan layaknya istri yang baik seperti curang nya Mas Prabu pada dirinya.
"Oh, kiri Dimas, masa lupa lagi." Retno menjawab.
"Heeee... lupa lupa ingat Mbak, takut bablas ke Bandung nanti."
"Kamu mikir apa sih hingga nggak fokus gitu?"
"Heeee..." nggak mikir apa-apa kok."
"Mas Dimas sudah ada calonnya apa belum?" Hadi bertanya pada adik iparnya sambil tersenyum.
"Ada sih Mas, tapi belum serius."
"Oh ya? orang mana nih?"
__ADS_1
"Kebalikan sama Mas Prabu pokoknya haaaa..."
"Maksud kamu dari suku Sunda? gimana dan dimana cinta lokasinya ini, kamu kan kuliah di Jawa?"
"Ada deeeh..." Dimas tertawa dan terkekeh sendiri.
"Kok sekarang nggak di ajak ceweknya heh? Retno agak antusias kepo ingin tahu saja urusan adiknya.
"Aku masih mikir dan belum di kenalin sama Romo juga Ibu, nanti-nanti saja lah."
"Jangan kebanyakan mikir tar ceweknya di ambil orang gimana, apa kamu akan sibuk dengan urusan kerjaan saja?" Retno sedikit memberi pencerahan.
"Nggak lah, kami sudah ada komitmen, aku lulus kuliah fokus dulu kerjaan baru serius memikirkan masa depan."
"Kuliahnya sekarang gimana?" dr Prabu menambahkan.
"Jadi bareng sama Mbak Retno, habis KKN dan baru mau skripsi. Habis sibuk tiap hari, mau cuti nggak bisa karena sudah akhir masa kuliah."
"Kamu kan pintar pasti bisa jalan tiga-tiga nya." Retno menghibur adiknya.
"Kok tiga sih Mbak?"
"Lha iya kan tiga, kerja, kuliah sama pacaran."
"Oh alah itu maksudnya...Mbak Retno sih jadi ke kesehatan, bukannya di ekonomi yang banyak tantangannya. Aku jadinya repot sendiri heee..."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
...MENITI PELANGI...
...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...
__ADS_1
...vote dan beri hadiah ya!...