Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Langsung mau minta izin


__ADS_3

"Mas Kita ini jadinya bagaimana?"


"Aku masih punya sahabat yang paling bijaksana Intan, dalam segala hal Dia sanggup memberi jalan keluar terbaik bagi siapapun."


"Apa itu Kakakku Mas?"


"Ya, Aku akan menumpang barang beberapa malam di rumahnya sebelum Aku mempersiapkan diri dan melengkapi rumahku di sana dangan perabotan yang penting-penting saja dulu."


"Terus jadi Kita ke Bandung ke rumah orangtuaku Mas?"


"Aku bicara dulu sama Kakakmu Intan, tegar lah di hadapan Kakakmu walau Aku tetap merasa bersalah yang sebenarnya bukan jalan seperti ini yang ingin Aku tempuh dan ingin Aku berikan kepadamu tetapi apalah daya kenyataannya seperti ini Intan."


"Aku sudah sejak awal dengan perasaan seperti ini sejak Mas memperkenalkan Aku pada orang tua Mas waktu itu, Aku berharap akan lebih baik dari hari ke hari tapi mereka sepertinya tetap dengan keinginannya."


"Aku juga sebagai Anak merasa tak berbakti tapi kalau semua tidak satu tujuan Aku juga ingin memperjuangkan tujuanku sendiri yang dianggap lebih baik. Aku bukan membangkang dalam hal yang kurang baik Aku ingin kalau masa depanku dan pendamping hidupku harus di dasari dengan cinta dan cocok dengan pilihanku sendiri." Dr Imam berusaha menguatkan Intan yang kelihatan sangat terguncang dengan kejadian barusan.


Intan Diam seperti cintanya yang juga sangat besar pada dr Imam, begitu juga sebaliknya.


Deru mobil di halaman sore itu membuat Retno keluar dengan senyuman melihat dr Imam turun diikuti Intan Adik iparnya.


"Kak Prabu sudah pulang Mbak?" tanya Intan sambil mencium tangan Retno.


"Sudah lagi mandi, Masuk dok biar Intan bikinkan minuman mau apa kopi, teh?" sambut Retno dengan keramahan yang khas.


"Kopi aja deh. Biar mata jadi melek rasanya capek banget hari ini," sahut dr Imam sambil duduk di teras rumah megah itu.


Retno masuk dan Intan ke dapur mau membuatkan kopi buat dr Imam. Tapi Bi Iyah melarangnya biar dirinya yang bikinkan.


"Neng Intan mandi saja sana Biar Bibi yang bikin kopi buat Pak dokter."

__ADS_1


"Oh, ya sudah makasih ya Bi."


"Iya Neng nggak apa-apa. Apa Neng intan juga minum apa biar Bibi sekalian bikinkan nanti?


"Aku teh hangat Bi gulanya sedikit saja."


"Baik Neng."


Intan masuk kamar dan langsung mandi secepatnya ingin segera mendengar jawaban dan pendapat Kakaknya melihat persoalan dirinya dan dr Imam.


Walau ada kekecewaan setelah dua kali bertemu kedua orangtuanya dr Imam masih saja dengan keinginannya menjodohkan Mas Imam tidak melihat dirinya sedikitpun dan hubungan mereka bertahun tahun tidak dianggapnya ada.


Selesai Intan keluar lagi menghampiri Retno yang lagi membawa makanan buat ke depan. Terlihat dr Prabu sedang ngobrol serius dengan dr Imam di ruang tamu.


Retno sama Intan duduk bersebelahan setelah menyimpan makanan di meja.


"Jadi dr Imam sama Intan mau maju terus? walau semua tidak seperti yang di harapkan?"


"Intan, dr Imam seperti ini keinginannya. Aku lihat Kamu juga sudah dewasa untuk mengambil keputusan ini jangan sampai keputusan di hari ini menjadi sesal di kemudian hari, makanya pertimbangkan baik-baik sebelum Kita menghadap orang tua dan meminta restunya karena pernikahan akan dijalani selama sisa usia Kita jangan sampai ada sesal. Harus sudah punya gambaran akan seperti apa nantinya walau pada dasarnya semua tujuan awal pernikahan tidak ada yang ingin berpisah ataupun gagal kecuali Kita punya satu tujuan antara suami istri yaitu tujuan baik untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia bagaimanapun rintangannya."


"Aku sudah ngobrol panjang lebar Kak dengan Mas Imam. Aku sebagai perempuan punya tujuan sama dengan Mas Imam, Aku merasa sudah siap mendampingi Mas Imam karena hari ini ataupun beberapa waktu lagi ke depan sama saja kalau tujuan akhir sebuah hubungan itu untuk berumah tangga."


"Baik Intan Aku sudah mendengar kesiapan Kamu. Ajeng Sayang barangkali ada masukan dan pendapat dengan permasalahan yang ada bagaimana menurutmu?" tanya dr Prabu pada istrinya Retno yang dari tadi menyimak obrolan mereka.


"Sependapat, dengan Intan intinya Aku mendukung buat apa di tunda kalau semua sudah siap? Aku jamin orang tua dr Imam akan mengalah kalau sudah melihat keseriusan antara dr Imam dan Intan."


"Betul itu! dr Imam apa yang di ucapkan Ajeng mungkin yang bisa di jadikan contoh adalah rumahtanggaku sendiri dengan permasalahan awal yang seperti itu, karena dasarnya orangtua itu tak ada yang tidak sayang sama Anaknya, berawal dari rasa takut Anaknya tidak bahagia gagal dan lain sebagainya dan timbulnya adalah sikap seperti itu. Kita berpikiran baik saja dan berharap setelah kita bicara sama orang tuaku nanti dan mendapatkan izin menikahlah karena dengan menikah itu adalah ibadah sebagai penenang jiwa dan juga untuk ketentraman hidup kalian."


Dr Imam dan Intan mengangguk Retno merasa senang mengusap punggung Intan yang duduk di sebelahnya sebagai dukungan dan support semangat.

__ADS_1


"Jadi kapan Kita ke bandung Mas?" tanya Retno dr Prabu suaminya.


"Malam ini juga gimana dr Imam? siap tidak mengingat besok hari kerja masih banyak waktu kalau siap hanya meminta izin kan, paginya kita pulang lagi untuk persiapan lainnya gimana? rasanya Aku kangen nginep di rumah orangtuaku kalau nanti sudah punya Baby kemungkinan akan susah, Apalagi Ajeng mau pulang juga ke Pekalongan kalau sudah lahiran kangen juga sama Ibu Bapaknya."


"Baik Bos Aku siap saja kapanpun, memang seperti itu baiknya."


"Intan tolong telepon dulu bapak sama Ibu biar nanti pas kita datang ke sono mereka tidak terlalu kaget, takutnya dikira ada apa-apa Kita datang rombongan kayak begini!"


"Baik Kak."


"Dr Imam, Kita satu mobil saja pakai punyaku!" Dr Prabu memberi perintah di sambut anggukan dr Imam.


Retno sama Intan langsung saja berdandan, setelah mengabarkan dulu pada keluarganya kalau dirinya dan Kakaknya, Kakak iparnya Retno dan juga dr Imam mau datang ke Bandung.


Setelah berpesan sama Bi Iyah dan Pak Min akhirnya mobil keluar halaman menuju jalan raya.


Dr Imam yang memegang setir dan Intan duduk di sebelahnya. Berdua kebanyakan diam mungkin sibuk dengan pikirannya masing-masing atau malah lagi membayangkan hal aneh setelah mereka menikah.


Retno yang menyandarkan kepalanya di bahu suaminya begitu nyaman dalam usapan lembut dr Prabu dan genggaman hangat di jemarinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan kosong menuju satu harapan dr Imam dan Intan untuk menyongsong hari bahagianya.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2