
Sehabis melepaskan tembakan dasyat tadi, Kruel segera memerintahkan Arya dan Callista pergi berlindung di sekitar kastil. Awalnya Callista menentang ide tersebut, namun Arya sebagi Servant langsung menariknya menjauh setelah mendapat tatapan penuh arti Kruel.
“Arya!? Berhenti! Kita tidak bisa meninggalkan Kruel begitu saja!”
“Tenanglah MiLady, bukan hanya kita berdua yang berpikiran seperti itu”
Ketika dalam perjalanan kembali, mereka berpapasan dengan tiga pelayan terkuat Kruel. Ketiganya melesat cepat menyusul sang Nyonya, masing – masing mengomando lima puluh orang berkekuatan setara Rare-Tier.
“Kami akan menjauhkan musuh agar tidak mengganggu pertarungan Nyonya. Tolong lindungi kastil dan jangan sampai tertangkap” pesan salah satu dari mereka.
“Dimengerti” Arya menyahut enteng.
“Bagaimana akhir dari semua ini Arya?” tanya Callista menatap mata laki – laki yang menggendongnya dalam – dalam.
“Entahlah, aku pun tak tau. Kita hanya bisa percaya pada mereka”
------><------
Sihir Kruel mengacaukan formasi musuh, menyadari ada sesuatu tidak beres. Moona, Greenhook, dan Avarum memerintahkan penyerangan dimulai. Ombak pasukan gabungan menyerbu dari berbagai arah.
Tapi ternyata tidak semudah yang mereka kira, banyak anggota – anggota pimpinan milik ketiganya tewas begitu saja ketika melewati perbatasan pekarangan kastil Kruel. Terlebih lagi ada sekitar seratus lima puluh bawahan elit Dracula Queen berkeliaran menghantui medan perang.
Namun tak butuh lama perbedaan jumlah mulai terasa, perlahan tapi pasti beberapa orang mulai berhasil memasuki teritorial Kruel. Kris tiba – tiba muncul dengan raut wajah buruk, ketiga rekannya menatap penasaran.
“Ada apa?” Avarum melirik malas.
“Ck! Terjadi hal diluar perkiraanku” desis Kris.
“Sudah cukup, silahkan selesaikan urusanmu sementara aku mencabik pembunuh dan penipu sialan di sana” Moona bersiap meluncur.
“Tidak secepat itu”
Sebuah penghalang merah menghalangi Moona, gadis tersebut terpental mundur beberapa meter begitu menabraknya. Sosok Kruel mulai nampak di hadapan mereka berempat, dia memegang payungya menggunakan kedua tangan sambil menempelkan ujungnya pada tanah.
“JANGAN MENGHALANGI JALANKU WANITA TUA!—“
BUAKH!
Serangan tak terlihat menghantam keras Moona saat Kruel mengayunkan santai tangan kanannya, ia tersenyum mengejek seolah menantang keempat anggota Tujuh Dosa Besar.
“Jaga mulutmu serigala kecil, atau biar kujahitkan saja untukmu hihihi”
“Kruel? Kau sungguh – sungguh yakin bisa menghadapi kami berempat?” Kris mendelik ke arah perempuan itu.
“Memangnya kenapa? Apa kau mulai merasa khawatir kepada sepupumu ini hah?”
Tanpa berbasa – basi lagi Kris menyerang menggunakan pedang berbilah merah darah miliknya, Kruel menyambut setiap tebasan dengan santai, petir – petir hitam sekilas menampakan diri saat Fragaria beradu di udara.
Greenhook tidak diam saja, tubuh ringkihnya entah bagaimana berubah kekar bak pegulat profesional. Gada sepanjang lima meter diayunkan ke arah kepala Kruel, gerakannya berhenti mendadak sebelum mengenai perempuan itu.
“Apa yang membuatmu ikut serta Goblin tua?”
__ADS_1
“Hehehe anak yang kau lindungi telah membunuh salah satu putra kesayanganku”
“Bukan hal penting bukan? Seingatku dirimu memiliki lebih dari seribu keturunan saat ini, kehilangan satu tidak akan berpengaruh apa- apa”
“Gyahaha! Aku suka wanita bermulut pedas sepertimu!”
“Maaf tapi kau bukan tipeku” ujar Kruel sebelum mengarahkan telapak tangan sudah terlapisi Agnet ke wajah si Goblin King.
Jurus tersebut cukup membuatnya terlempar jauh, ada lecutan cepat menyerang Kruel dari titik buta. Avarum berdiri di sana dikelilingi sesuatu seperti ekor yang muncul melalui punggungnya, benda itu mengikat Fragaria erat – erat.
“Sejujurnya aku tak punya keinginan sedikit pun ikut serta dalam perang ini, apa lagi melawanmu”
“Sungguh? Katakan sekali lagi setelah kau melepaskan Sekitsui milikmu dari Grimoireku”
Secara bersamaan Kris, Moona, dan Greenhook menyerang melalui tiga arah berbeda, mereka menunjukan senyum kemenangan mengetahui gerakan Kruel telah dibatasi. Namun sang Dracula Queen cuma berbisik pelan.
“Bloodfield; Aiónia Thlípsi”
------><------
BUMM!
“Suara apa itu!?” tanya Callista terkejut ketika angin kencang menerjang mereka.
“Jangan lengah” Arya memperingatkan sambil membunuh sepuluh Goblin yang berusaha menyerang Callista dengan sekali tusukan.
Untungnya pasukan Kruel tidak kalah garang, semuanya bertarung penuh semangat mempertahankan tempat tinggal mereka. Terlebih lagi orang – orang ini memiliki keuntungan lebih karena mengetahui tiap sudut lokasi tersebut dengan baik.
Arya sendiri kebanyakan bertarung melawan Goblin dan Werewolf, ia membunuh makhluk – makhluk hijau menjijikan itu penuh kepuasan. Sampai – sampai perlahan tapi pasti, para Goblin mulai menjauhi jangkuan Arya.
Sementara kawanan Werewolf nampaknya mendapat perintah langsung untuk membunuhnya, namun beberapa pentolan mereka tak bisa melepaskan diri ketika berhadapan melawan anak – anak buah kuat milik Kruel.
Arya tiba – tiba tersentak kaget kemudian segera menarik Callista ke dekatnya sebelum melepaskan tebasan cepat. Sebuah anak panah merah terbelah lalu menancap pada tanah di sekitar keduanya. Mata Arya menangkap sosok Vampir laki – laki berambut coklat di kejauhan.
“Kak Dexi?” bisik Callista pelan.
“Akan kubuat kalian membayar semuanya!!!” Aris muncul dari belakang sambil mengangkat palu darah berukuran tidak normal.
Arya mengumpat dalam hati karena telat menyadari serangan terselubung tersebut, pokoknya dia harus melindungi Callista bagaimana pun caranya. Tapi ternyata gadis itu malah mengambil posisi di hadapan Arya tanpa keraguan.
“STOMP!”
BRUAK!
Hantaman palu memberikan kerusakan hebat bagi sekitarnya, orang – orang yang bertempur segera menarik diri agar tidak terkena bagian – bagian tanah hancur yang berhamburan kemana – mana. Suara tawa puas Aris memenuhi udara namun tidak lama.
Sebuah kubah darah beku terlihat berdiri kokoh di tengah – tengah kerusakan akibat serangan tadi, Callista berhasil menahan kakak perempuannya menggunakan teknik manipulasi darah miliknya sendiri. Aris berteriak murka kemudian merusaha merobek lapisan merah tersebut.
Seketika pelindung darah itu berubah menjadi tajam seperti kumpulan jarum dan berhasil memberikan beberapa luka di tubuh Aris.
__ADS_1
“CALLISTA....!!!”
“Mari kita bermain sedikit kak” gumam Callista keluar dari jurusnya.
“Tunggu du—“
“Arya? Tolong biarkan aku juga ikut bertarung mulai sekarang”
“Tapi ini berbaha—“
“Pecayalah padaku, kumohon”
“Hah....keinginanmu adalah perintah bagiku” akhirnya Arya berkata sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Terima kasih”
Selepas mengucapkan itu, Callista menerjang Aris sembari memunculkan dua buah pisau darah beku pada masing – masing tangannya. Pertarungan kakak beradik tersebut sudah tidak bisa dihindarkan, sementara Arya memperhatikan dari jauh, aura kuat menghampiri dirinya.
Sepasang Vampir berwajah tak asing berjalan mendekat, salah satunya adalah pria berambut putih berwajah pucat. Sedangkan di sebelahnya berdiri perempuan berambut hitam yang menjulurkan tangan pada Callista sebelumnya.
“Ketemu juga, sudah lama aku ingin berhadapan denganmu. Arya Frost”
“Halo, bagaimana aku harus memanggil kalian? Tuan? Nona?”
“Putri Sulung Keluarga Bangsawan Tepes, Ethel”
“Putra Sulung Keluarga Bangsawan Tepes, Galahad”
“Ohh...begitu rupanya, karena kalian berdua adalah kakak dari MiLady bolehkah aku meminta tolong?”
“Ohoho....memangnya apa permintaanmu?” Ethel menaikan sebelah alisnya.
“Enyahlah, dasar sampah” ucap Arya senang dihiasi senyuman.
“Berani sekali Servant rendahan sepertimu—“
“Mundur Kak Ethel, biar aku yang memberinya pelajaran” Galahad melangkah ke depan.
“Galahad? Tumben sekali dirimu—“
“Aku cuma penasaran, orang seperti apa yang berhasil bertahan hidup setelah berhadapan langsung dengan Ayah”
“Pfft!? Ini akan menarik” Arya tertawa tanpa beban.
Author Note :
Saya bermimpi bisa hidup hedon seperti ini, eh....pas bangun. Cuma ada air mineral cuy di sampingku yg selalu menemani -_-"
- Next Chapter Will be The Last One -
__ADS_1