Elementalist

Elementalist
Chapter 158 - Ban


__ADS_3

Wajah semua orang seakan ditampar melihat fakta kalau ada sesosok Necromancer mampu melempar keluar Warlock bintang delapan dengan sangat mudah. Kenyataan pahit tersebut harus benar – benar ditelan oleh Rhilore.


Dia bergerak gesit ke dalam arena tanpa memperdulikan tatapan tanya empat Penyihir Agung lain, saat tiba dihadapan Arya dan Sierra untuk menundukan kepala. Muncul dua Undead berzirah hitam menghalangi niatnya.



“Aku memang bilang menunggu, tapi sebaiknya anda hentikan” saran Arya pelan.


“Bagaimanapun aku tetap kalah, jadi memang sepantasnya memenuhi janjiku”


“Wahhh....ternyata anda cukup tau diri, lupakan saja perjanjian kita. Mengingat posisimu tinggi di mata orang – orang. Lalu pada kesempatan berikutnya tolong bersikaplah layaknya tamu yang terhormat, tuan rumah juga memiliki batas kesabaran lho. Kalau begitu permisi, sampai jumpa”


Selesai mengatakan hal itu, Arya pergi meninggalkan sang Kepala Sekolah Holy Fist masih sambil menggandeng Sierra. Tak lupa ia memberikan kode menggunakan tangan demi meminta bantuan medis tuk lawannya barusan.


Walau secara kasat mata, Arya nampak memberi muka kepada Rhilore Lefay. Namun beberapa penonton sadar kalau perlakuan tersebut adalah sebaliknya, si bocah berambut putih seperti baru saja mengalahkan kemudian meludahi wajah Rhilore.


Karena dirinya menolak atas pertanggung jawaban sang Kepala Sekolah serta jelas – jelas menyindir tujuan Holy Fist menghancurkan mental siswa – siswi Divina Academy, berusaha sebaik mungkin menahan amarahnya. Rhilore kembali ke tempat duduk sembari menggeram.


“Siapa nama bocah itu?”


“Arya White, bagaimana menurut kalian tentang pendaftar terbaik di sekolah kami?” Professor Iruphior tersenyum tipis, sementara tiga pemimpin akademi lain masih mencerna kejadian tadi.


Deviar Udafarihm beserta Aluxium Ulzegrus punya banyak sekali pertanyaan memenuhi kepala mereka soal cara Iruphior mampu menciptakan Class Necromancer berkekuatan fisik setara Warlock. Dilain pihak, Vrivana Payn lebih tertarik membahas wujud Undead panggilan Arya yang terbilang tak biasa.


“White....” bisik Rhilore Lefay dengan perasaan dendam membara.


“Jangan harap bisa menyentuhnya selagi masih dibawah pengawasanku ya? Saudara Lefay” Iruphior mengingatkan.


------><------


“Eee....permisi, ngomong – ngomong kau mau membawaku ke mana?”


“Hah? Ahh....iya maaf”


Arya segera melepaskan Sierra setelah tiba pada anak tangga paling bawah podium penonton, dia mengutarakan penyesalannya sebab lupa tengah menggandeng dan menyeret gadis itu sampai sejauh ini.


“Huum, aku seharusnya berterima kasih atas bantuanmu”


“Tidak perlu sungkan, aku cuma melakukan sesuatu yang menurutku benar. Dadah senior.....”


“T..t...tunggu sebentar!” tahan Sierra.


“Iya? Ada perlu apa lagi?”


“Kenapa kamu menolongku?”

__ADS_1


Arya berpikir sambil mengelus dagu, terlihat berusaha mencari kata – kata tepat tuk mendeskripsikan alasannya. Selesai menimang – nimang beberapa hal iapun berkata.


“Mmm....bagaimana ya? Mungkin karena kau mengingatkanku pada temanku” tambahnya sembari tertawa canggung.


“Eh?”


“Dia adalah gadis pembuat masalah, selalu ceroboh dalam berbagai tindakan. Aku terpaksa selalu mengawasi juga menjagannya”


“Wah.....perempuan yang beruntung”


“Menurutmu begitu....?” Arya membayangkan senyum konyol Lexa kepadanya.


Perbincangan kedua remaja tersebut terpaksa berhenti akibat suara berisik dari para hadirin acara penyambutan, cepat – cepat Arya berpamitan lalu menyusul naik. Meninggalkan Sierra yang tidak mampu melepaskan pandangan ke arah punggungnya.


------><------


“WAHAHAHA....anak ini sungguh tau cara menghadapi si culun Rhilore, bukan bermaksud menjelekkan anggota keluargamu Morgiana tapi pfft!?” Friska tertawa terbahak – bahak hingga air matanya keluar.


Morgiana hanya diam tanpa berkomentar apapun, sedangkan Merlin nampak serius mengawasi murid Holy Fist yang dbuat babak belur oleh Arya. Rasa penasarannya makin memuncak ketika mendengar kabar kalau tulang lengan kanan sang pria bongsor remuk seutuhnya.


“Morgiana? Apa dia benar – benar Warlock bintang delapan?”


“Tidak diragukan lagi”


“Setingkat dengan ZapShoe milik Sierra Le Rogue” sahut Morgiana serius.


“Sial! Seharusnya aku menyaksikan ujian pengukuran sihir sampai selesai” Merlin menggerutu sembari cemberut.


“Kenapa? Kau mulai menyesali taruhan kalian?” komentar Friska dengan nada mengejek.


“Berisik”


“Hehehe....senang sekali melihatmu berawajah muram, ngomong – ngomong keberadaan Olivia dan gadis satunya lagi?”


“Ia pergi menyesuaikan kekuatan baru di Four Season Zone, sementara si bisu lebih memilih mengurung diri dari pada mengurusi keramaian begini”


“Akupun akan melakukan hal sama jika dipaksa kau tau”


Diskusi Orange Witch bersama Black Mara tertelan begitu saja oleh suara tepuk tangan penonton waktu Kepala Sekolah Divina Academy, Ilzaxar Iruphior bangkit berdiri. Sedikit berkomentar mengenai kejadian sebelumnya, pria tua tersebut menyarankan agar semuanya mencontoh sifat pantang menyerah Arya.


Yang tentu saja membuat tatapan juga hawa murid Holy Fist berubah, selain itu juga Iruphior mengingatkan pelaksanaan Five Heavenly Stars Tournament sudah semakin dekat. Jadi para peminat diharapkan memenuhi persyaratan jika ingin berpartisipasi.


Dengan syarat minimal pendaftar merupakan Witch bintang lima, lalu gambaran tahap awal mulai dijelaskan. Akan ada empat tim perwakilan masing – masing akademi. Mereka nanti bersaing hingga tersisa setengahnya saja.


Namun sebelum sampai di sana, berarti tiap sekolah. Yaitu Divina Academy, Evil Destroyer, Wonder Invocation, Holy Fist, maupun Death Gates harus terlebih dahulu melaksanakan seleksi tersendiri untuk memilih empat wakilnya.

__ADS_1


Masalah tersebut diserahkan secara bebas kepada mereka, terserah ingin melakukan cara apa memilih para utusan yang menjadi pembawa panji akademi.


“Ahh...iya, ada sebuah keputusan penting dari Penyihir Agung” Iruphior mengisyaratkan kawan – kawannya bangun.


“Hmm? Kenapa aku punya firasata buruk ya?” gumam Merlin mengangkat sebelah alis.


“Karena dapat dianggap kurang adil serta berat sebelah, kami setuju kalau Orange Witch. Marylin Merlin dilarang mengikuti turnamen”


“APA!?” suara menggelegar gadis mengguncang seluruh lokasi.


------\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass ><------


“Berani – beraninya para tua bangka itu! Argh....Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!!!” Merlin mengacak – ngacak rambut gusar.


Dia baru saja selesai menghadap untuk melayangkan protes keras kepada lima Penyihir Agung, tetapi ditolak mentah – mentah. Walau terlihat membela, Merlin menyadari kalau Iruphior sebenarnya tidak memberi usaha lebih agar dirinya bisa ikut turnamen.


Karena sebenarnya kalau sampai pak tua tersebut bersungguh – sungguh menginginkan Merlin berpartisipasi. Empat Kepala Sekolah lainnya pasti berpikir dua kali menolaknya, melihat ada kesempatan menang. Tentu mereka mendukung absenya Orange Witch dalam lomba.


Masih asyik berpikir, sang gadis berpakaian jingga mendapati sesosok anak laki – laki dari ujung mata tajamnya.


“Yo? Gagal ya?”


“Kau....?”


Arya sudah menunggu kedatangan wanita itu sambil bersandar pada dinding, meski jarak kemampuan berdasarkan bintang cukup jauh. Merlin sekarang agak berhati – hati akibat menonton pertarungan tangan kosong Arya sebelumnya.


“Jadi bagaimana kalau kita—“


“Jika kau mau aku memenuhi janjiku, baik akan kulakukan” potong Merlin.


“Sebentar – sebentar, sabar. Tunggu aku selesai bicara, begini....”


Si anak berambut putih misterius bilang ke Merlin kalau ia tidak senang menang dengan cara seperti itu. Karena menurutnya sama saja dengan tidak melakukan apa – apa, kemudian terbersit sebuah ide untuk melanjutkan taruhan mereka.


“Berhenti bicara bertele – tele, langsung ke intinya saja”


“Kau memang tidak bisa ikut, tapi dirimu masih bisa membentuk tim bukan?”


“Hmm? Lalu?”


“Aku juga akan mengumpulkan anggota berjumlah sepuluh orang, siapa yang jadi juara turnamen. Dia menang, setuju?” Arya menjulurkan tangan percaya diri.



“Hehehe....menarik, kau menolak cara mudah dan menggali kuburan sendiri. Baiklah, mari kita lihat” balas Merlin meladeni sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2