
Arya sedang duduk bermeditasi di Ruang Latihan, napasnya yang teratur sontak terdengar menghiasi tempat tersebut. Ada lima orang bersandar pada dinding sambil menatapnya lekat – lekat.
“Menarik bukan? Apa kalian terpukau dengan tampang Half-Elf Arya?”
“Ekh!?—”
Tidak ada satupun dari kelima Elementalist menyadari kedatangan Alalea, sang Putri Elf telah berdiri dekat mereka memasang senyuman terbaiknya. Tentu saja respon sebaliknya ditunjukan oleh Asuna, Elizabeth, Rena, Lexa, dan Selena.
Tatapan tajam menusuk mengarah ke Alalea, namun gadis itu masih terlihat santai dan sedikit senang karena berhasil mengejutkan kelima Elementalist dihadapannya.
“Camkan ini baik – baik, mungkin akan terdengar sedikit kasar. Terutama untukmu Rena, aku berterimakasih sekali atas bantuanmu di Fairy Forest waktu itu”
“Tidak masalah Tuan Putri” jawab Rena pelan.
“Psst!? Rena? Jangan terlihat lemah seperti itu dong dihadapannya!” Elizabeth menegur dengan cara berbisik”
“Tapi....jika kalian hanya tertarik pada wajahnya saja, kupikir....kalian tidak pantas berdiri disisinya” kata Alalea tanpa mengubah sedikitpun ekspresinya.
“AP—“
Asuna gagal menyelesaikan kalimatnya karena bertepatan waktu dengan masuknya para Elementalist laki – laki lain ke dalam Ruang Latihan dan juga tubuh Arya yang memancarkan cahaya terang.
Alalea terkikik geli sebelum segera melangkah mendekati Arya, melihat kondisi sedikit kurang kondusif dari wajah buruk teman – teman perempuan mereka. Kevin, Timothy, Zayn, beserta Ali saling pandang agak ragu untuk melanjutkan niatnya masuk ke sana.
“Arya....? Sedang apa?” panggil Alalea manis.
“Mmm? Aku hanya berusaha menekan sihir ditubuhku, sejak kalian tiba di Elemental City. Penampilanku berubah, kegiatanku jadi sedikit terganggu akhir – akhir ini” Arya membuka mata setelah mendengar namanya dipanggil.
Sejujurnya dia sedikit merasa kurang nyaman akibat pandangan orang – orang sekitar. Setiap gerakan yang ia perbuat seperti disoroti oleh ribuan kamera sejak berubah wujud menjadi Half-Elf.
“Ohh baguslah, kau jadi tidak menarik perhatian mereka lagi”
“Apa?”
“Tidak lupakan, ini aku kembalikan mereka” Alalea menyodorkan tangan.
Efbi dan Safira keluar dari balik jubah Alalea dalam bentuk binatang kecil mereka, keduanya segera mendekati tuannya sambil mengeluskan kepala manja.
“Kenapa Efbi dan Safira ada padamu?” tanya Arya curiga.
“Hmm? Memang aneh ya? Mereka hanya bermain – main dikamarku”
“Tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Jangan – jangan kau masuk tanpa izin ke kamarku”
“Enak saja” Alalea mengembungkan pipi sambil membuang muka.
Arya punya perasaan buruk tentang hal ini, atribut Elementalist memang mampu berubah bentuk menjadi benda. Contohnya Efbi yang mengambil wujud gelang, dan Safira juga dapat berubah menjadi liontin dengan hiasan naga melingkar.
‘Kenapa kalian bisa bersamanya?’
‘Dia mengajakku bermain Ayah, maaf’
‘Gadis ini memperlakukanku cukup baik, jadi aku memutuskan ikut bersamanya. Apa itu masalah Arya?’
__ADS_1
Arya hanya menghela napas, tidak ada gunanya memikirkan alasan Alalea melakukan apapun keinginannya. Dia sudah merasa para Elf memang beradaptasi terlalu cepat di Elemental City.
“Ahh....benar Arya, kapan kau akan mengajakku berkeliling” celetuk Alalea tiba – tiba.
“Aku tidak ingat pernah berjanji mengajakmu berkeliling”
“Oh ayolah kita ke permukaan, aku ingin melihat seisi kota”
“Ck! Alalea kau ini....tunggu dulu, bukannya sekarang” Arya melihat tanggal pada jam tangannya.
“Ada apa?”
“Baiklah, kita pergi nanti sore. Kebetulan akan ada Pameran Sihir di Kota, aku ingin pergi melihat – lihat”
“Asyik!!!”
Mereka berdua berbicara tanpa menyadari ada sembilan pasang telinga mendengarkan baik – baik. Timothy mengangkat bahu berusaha terlihat simpati.
“Sepertinya kalian mendapat saingan berat ya? Terutama untukmu Elizabeth”
“Hah? Kok aku?”
“Yaa....kau tau, awalnya hanya kau seorang diri yang memiliki rambut pirang. Dan sekarang—AW MATAKU!!?”
------><------
“Bagaimana penampilanku? Apa sudah terlihat seperti Manusia?”
“Hmm bagus, tapi masih kurang”
Arya memasangkan sebuah topi kupluk dikepala Alalea, ia merapikannya sedemikian rupa sampai - sampai jarak antara wajah mereka terlalu dekat. Membuat asap mengepul dari telinga Alalea.
“Ini untuk menutup telingamu, bisa – bisa terjadi kehebohan kalau orang menyadari ada Elf berkeliaran ditengah kota. Ada apa dengan wajahmu? Kau sakit? Kalau iya rencanya bisa kita batal—”
“Aku baik – baik saja, ayo kita berangkat!” potong Alalea cepat menggandeng tangan kanan Arya.
‘Fufufu ini akan mengganti kecan bodoh waktu itu, mana mungkin aku lewatkan’
Keduanya mulai berkeliling Distrik Perak, Alalea terlihat begitu antusias. Walau nampak tau banyak hal, sebenarnya dia juga termasuk orang yang tidak pernah pergi jauh dari rumah. Ini adalah kali pertama Alalea menginjakkan kaki diluar wilayah kekuasaan Elf.
Tentu faktor tersebut tidak terlepas dari didikan ketat Diana untuk menjadikannya pewaris tahta. Arya membawa sang Putri menaiki kereta, melihat pusat perbelanjaan, berkeliling ECP, memborong jajanan kaki lima, dan masih banyak lagi.
Tanpa sadar Arya ternyata cukup menikmati perjalanan itu sampai tiba waktunya menuju Pameran Sihir.
“Aku tidak pernah tau pakaian Manusia begitu nyaman, maukah kau mengajariku cara menjahit?” Alalea tertawa riang.
“Tentu, tapi....kualitas hasilnya tidak akan seperti di toko – toko barusan”
Tidak jauh dari keduanya, ada segerombolan orang mengintip dari balik gedung. Mengendap – endap dengan hati – hati.
“Aku tidak percaya kalau kalian juga benar – benar berencana membuntuti mereka” desis Elizabeth.
“A...a...aku sedang mencari buku, k..ke..kebetulan saja arahnya sama” Rena berusaha berdalih.
__ADS_1
“Tapi ngomong – ngomong kenapa kalian berlima juga ada disini?” Lexa melirik lima orang pria didekatnya. Timothy, Kevin, Zayn, Ali, dan Eridan balik menatap polos.
“Saya harus menulis laporan kegiatan Tuan Putri” Eridan tertawa canggung.
“Sebagai teman yang baik, aku hanya ingin memastikan kalian tidak mengacaukan kencan Kapten” Timothy berkata semeyakinkan mungkin.
“Alah! Paling kalian juga penasaran, eh?! Cepat kita kehilangan mereka!”
KLUTUK KLUTUK KLUTUK
“Zayn?”
“Mmm?” Pria tersebut berhenti dan menoleh ke arah Selena yang memanggilnya.
“Ketika Ujian Keempat kemarin aku....”
“Syukurlah perasaanmu berubah, karena aku tidak mungkin bisa jatuh cinta padamu. Maaf Selena, aku sudah memiliki orang lain dihatiku. Kau melakukan hal yang tepat dengan memilih Kapten, dia jauh lebih pantas untukmu.
Yahh...walaupun sainganmu berat, berjuanglah. Aku akan mendukungmu, Ayo! Mereka sudah semakin jauh” Zayn mengajaknya bergegas.
“Baik, terima kasih” hati Selena akhrinya benar – benar lega petang hari itu.
------><------
Jalanan kota semakin dipadati orang saat malam tiba, Pameran Sihir memang memiliki daya tarik begitu besar dimasyarakat Elemental City. Bukan hanya untuk Witch saja, Manusia – manusia biasa juga dapat menikmati banyak pertunjukan alat – alat sihir.
Arya meminta Alalea untuk memegangi bagian belakang jubah miliknya, agar mereka tidak terpisah ketika menerobos lautan Manusia dan Witch tersebut.
“Arya!? Kita mau kemana?!” Alalea berusaha mengalahkan kebisingan disekitar.
“Keluar dari sini secepat mu—Aduh!? Maaf! Aku tidak sengaja” seru Arya cepat karena kepalanya terbentur seseorang.
“Ahh tidak apa – apa aku juga salah karena....eh....?!”
Untuk sepersekian detik, mereka berdua saling memandangi satu sama lain sebelum Arya segera berbalik dan berlari menjauh secepat yang dia bisa.
‘REIKA....?! GAWAT! GAWAT! GAWAT!’
“Arya ada ap—“ tanya Alalea heran.
“Cepat pergi dari sini, jangan sampai dia melihatmu!” desis Arya.
“Kak!!? Kakak!? Kakak bilang tidak akan pergi ke Pameran! Tunggu du—Hei minggir! Aku ingin berbicara dengan kakakku! Beraninya kau menolak ajakan adikmu yang manis ini dan pergi berduaan bersama gadis lain! TUNGGU....KAK ARYA....!!!”
Author Note :
Kalau lu tau cerita ini kayak naskah drama dari chapter 2, ngapain lu baca sampai chapter 18 oon. Masalah setting waktu terserah gw lah, cerita fantasi jugaan. Kan bego gtu lho. Gak butuh gw readers cerita ini model - modelan lu, gk dibaca cerita ini juga gk masalah, bodo amat. Buat yg nagih chapter lagi trus aja, biar updatenya sekali seminggu. Dan saya tekankan untuk para pembaca yang enggan meninggalkan like, terima kasih. Saya doakan jika suatu hari kelak kalian berkarya, tidak akan dihargai orang lain, Amiin. Lebih baik kalian gk usah baca cerita ini deh, ikhlas gw yg baca dikit dari pada kayak - kayak lu pade sumpah. (Intinya kalau GK SUKA CERITANYA, JGN DIBACA) (as simple as that) (sejak pindah kesini mau marah mulu bawaanya. Kambing2)
__ADS_1