
Terdapat sebuah arena khusus duel di salah satu sudut Divina Academy, orang – orang mulai berangkat menuju lokasi tersebut. Berbicara satu sama lain penuh semangat dan antusias karena pertarungan yang akan disajikan.
Sementara itu, di ruang tunggu seseorang pemuda berambut putih sedang menempelkan kepalanya pada tembok bangunan.
‘Tuhan....kenapa selalu jadi begini sih....? Penebusan dosa macam apa lagi ini?’
“Tuan White?”
“Hiyy!? Ah....Profesor Brevil? Anda mencari saya?”
“Iya, aku sudah mendengar semuanya” sahut si Necromancer wanita santai.
Beliau mulai menanyakan persiapan Arya menghadapi Hanna Vonsekal, mengingat anak bangsawan tersebut merupakan Class Exorcist. Bisa dibilang sejak awal duel ini berat sebelah, jelas sekali kemampuan pemanggilan Undead Arya tak mungkin efektif menandinginya.
“Apa dirimu memiliki strategi khusus melawan Nona Vonsekal?”
“Mm....sejujurnya tidak ada, maaf membuat anda khawatir Profesor. Aku bukan depresi karena hal itu, cuma meratapi nasip sialku saja sudah diajak berduel bahkan sebelum dua minggu mulai belajar”
“Hmm? Jadi....kau cukup yakin melawan dia?” Brevil mengangkat sebelah alis.
“Eee....bukan bermaksud sombong, tetapi aku pasti menang” jawab Arya enteng mengangkat kedua bahu.
“Hah?”
Waktu sang Profesor hendak bicara sekali lagi, panggilan tuk masing – masing duelist menggema. Arya segera berpamitan dengan sopan sebelum bergerak gesit hanya meninggalkan kibaran jubahnya saja dibelakang.
Arietta Brevil menggigit bibir cemas, ia pasti mendapat kritik habis – habisan jika sampai Arya dipermalukan pada pertarungan ini. Dalam satu tarikan napas, wanita itu menghilang kemudian muncul kembali di podium penonton tertinggi duduk bersama pengajar – pengajar lainnya.
Bukan cuma dia saja yang tegang, Ryan sewaktu mendengar bisikan kabar sahabatnya akan melaksanakan duel hampir membakar janggut Profesor kelasnya tadi pagi. Buru – buru dirinya meminta maaf dan bergegas ke arena demi menonton.
“Kawan, kalau kau terus mencuri perhatian begini. Kita bukan menyamar lagi namanya” gumamnya kesal.
Ketika dua penyihir muda ini dipanggil. Arya bersama Hanna memasuki arena, penampilan keduanya nampak sangat kontras sebab Arya berjalan santai sedangkan Hanna melayang menggunakan alat sihir berkualitas tinggi berbentuk bola miliknya.
Nampak tongkat panjang indah siap menembakan sihir kapan saja ke arah lawannya, para penonton tergelak hingga sakit perut melihat perbandingan bak langit dan bumi itu. Arya bahkan tak mengeluarkan tongkat sihirnya.
“Pffhtt hahaha...si bocah putih di sana terlalu malu untuk memperlihatkan alat sihir miliknya atau apa?”
“Sungguh? Kudengar ia seorang bangsawan”
“Bangsawan fiksi mungkin tepatnya! Wahahaha....”
“Anak sampah yang berlagak bangsawan”
“Kau dengar kenyataan dari seruan mereka?” tanya Hanna tersenyum mengejek.
“Hemm...? Bisa kau ulangi? Telingaku sedikit bermasalah” Arya mengorek kuping tak perduli dengan jari kelingkingnya.
__ADS_1
“Ck!? Akan kubuat kau menyesal!”
MULAI!
------><------
Baru saja aba – aba diberikan, Arya tanpa menunggu lama membacakan mantra pembangkitan. Tiga sosok makhluk gelap muncul dari lantai begitu saja, beberapa orang bertepuk tangan kagum. Sihir tersebut sebenarnya adalah kemampuan dasar Necromancer.
Tetapi jarang sekali anak setingkat Arya mampu mengeluarkan tiga bawahan hitam seperti itu. Bahkan menciptakan satu saja memiliki wujud sempurna bisa dikatakan berbakat, fakta ini sama saja mengatakan Arya merupakan jenius diantara jenius.
Walaupun mengesankan, Hanna terkikik geli. Dia mengangkat tinggi tongkatnya kemudian disusul oleh melesatnya lima sinar penghancur, tiga menghapuskan Undead Arya sementara sisanya megejar anak tersebut.
“Trik murahan! Kau pikir—!?”
Hanna gagal menyelesaikan kalimatnya setelah Arya menghindari semua serangan tadi, pergerakannya begitu luwes juga cepat. Membuat murid – murid Class Warlock melongo keheranan, karena mereka tau kalau Arya belum menggunakan kecepatan penuh dalam bergerak.
“Bagaimana cara dia—”
“Hebat, Warlock bintang lima sepertiku bahkan belum tentu bisa melakukannya”
“Apa anak itu sungguh seorang Necromancer?!”
“Lihat? Kubilang juga apa? Bagaimana Arietta? Mau menyerahkannya padaku?” Ward Mock melirik perempuan disampingnya.
“Teruslah bermimpi pak tua” balas Profesor Brevil ketus.
“Ugh....!!? Larilah pengecut! Sifat yang sangat cocok untuk sampah sepertimu! Anris!!!” kali ini putri keluarga Vonsekal mengaktifkan sepuluh sihir pembasmi.
Namun setelah duel berjalan sekitar dua puluh menit, cuma Hanna yang napasnya mulai memburu. Arya masih terlihat bugar walau bergerak tanpa henti dan menggunakan sihir pembangkit, keringat membasahi wajah si gadis bangsawan angkuh.
“Hei hei hei, bukankah White tidak menggunakan satupun alat bantu? Bisa kau yangkan jika dia mengenakan sepatu perang sihir berkualitas tinggi?”
“Gila! Mungkin anak itu akan setingkat Warlock bintang tujuh atau delapan”
‘Wajar sih, Arya telah bertarung melawan Elf, Demon, juga Werebeast. Kemampuan fisik, refleks, bahkan analisisnya berada pada level berbeda. Menghadapi serangan sihir lambat begitu seperti melompat pada batuan sungai berarus tenang baginya’ batin Ryan mendengar percakapan murid – murid disekitarnya.
------><------
“DASAR MENYEBALKANNN!!!”
“Oi?! Kuda – kuda itukan!?”
“Sihir bintang empat, Cahaya Penyucian! Bisa menghancurkan dua puluh Undead dalam sekejap! Keluarga Vonsekal memang hebat”
“Silbel Naimsav!!!”
JDARRR!!!
Ledakan besar mengguncang arena, debu – debu bertebaran ke segala penjuru. Membuat semua penonton melindungi hidung dan mata masing – masing menggunakan lengan jubah, saat kondisi kembali normal.
Hanna Vonsekal berdiri di tengah lokasi pertempuran dengan napas putus – putus, matanya melirik berbagai arah. Mencari tanda – tanda keberadaan Arya ataupun Undead milik bocah tersebut, puas akan hasil perbuatannya. Diapun tertawa sambil mengangkat tangan untuk mendeklarasikan kemenangan.
__ADS_1
“AKU MEN—“
“Sihir bintang empat ya? Keren sekali, tapi....Agnetmu pasti sudah habis tak bersisa bukan?”
Hati Hanna mencelos, suara tadi terdengar tepat dibelakangnya. Sesuatu terasa menusuk pelan punggung sang putri kebanggaan keluarga Vonsekal. Ternyata Arya sudah berdiri di sana sambil tersenyum dengan menodongkan tongkat sihir miliknya ke arah gadis tersebut.
“Kapan kau—“
“Menyerahlah”
“Hyaa!!!”
“Tu’cel!”
Sewaktu Hanna berusaha berbalik tuk menyerangnya, Arya sigap melucuti senjatanya dan menyebabkan si anak perempuan terjatuh. Suara tepuk tangan menandakan berakhirnya duel itu, bisik – bisikpun mulai terjadi.
“Dia memanfaatkan momentum ketika Vonsekal menggunakan Cahaya Penyucian”
“Bukan cuma itu, White menunggu sampai Hanna menghabiskan seluruh Agnet miliknya. Selamat Arietta, muridmu memang lebih hebat” kata Derwin Howler yang merupakan pembimbing Exorcist.
“Huh!”
‘SYUKURLAH KAU MENANG!!!’ walau nampak cuek, Brevil benar – benar gembira menyambut kemenangan Arya.
Arya menjulurkan tangan berusaha untuk membantu Hanna bangkit dari posisinya, namun gadis tersebut malah menepik tangannya keras. Melebarkan mata penuh rasa benci.
“Enyah kau!”
Karena merasa suasana hati perempuan dihadapannya sedang buruk, Arya menaruh tongkat miliknya sebelum berbalik hendak meninggalkan arena. Tanpa disangka Hanna mengambil kembali senjata kemudian menembakkan sihir dengan seluruh sisa tenaga yang baru ia kumpulkan.
“Gnematt! Namu’kuh!!!”
SYU!!! BAK!!!
Sebuah pelindung transparan mengelilingin Arya dan mementalkan serangan Hanna, detik berikutnya muncul cahaya biru menabrak Hanna. Membuatnya terpental lalu memuntahkan darah segar.
“UHUK! UHUK! OEK!!!”
“Aku paling benci orang tak tau diri macam dirimu, sudah kalah masih berani menyerang?”
Terdengar suara menggelegar, seorang gadis berpakaian serba jingga melayang ke arah arena. Wajah cantiknya berubah menyeramkan karena murka, ia berjalan sembari tetap mengarahkan tangan kepada Hanna.
Perlahan tubuh putri keluarga Vonsekal terangkat, melayang di udara masih dalam keadaan terluka parah.
‘MARYLIN MERLIN?!’
Semua orang terdiam, tidak ada satupun dari mereka menyangka Witch bintang sepuluh seperti Merlin akan muncul saat terjadi duel antar murid baru.
“Apa yang sebaiknya kuperbuat untuk pengecut licik sepertimu ya? Menyerang punggung lawan ketika pertarungan berakhir eh?”
“Terima kasih telah menolongku senior, tapi berkenankah kau melepaskan dia?” Arya akhirnya berbicara mengakibatkan keterkejutan besar di lokasi itu.
__ADS_1
“Hmm?” deham Merlin pelan balik menatap mata biru anak tersebut.