Elementalist

Elementalist
Chapter 285 - Pindah Tangan


__ADS_3

Seluruh badan Kris menegang dan pandangannya seolah terkunci kepada mata biru laki – laki di hadapannya. Sekeras apapun dirinya berusaha untuk bergerak tak membuahkan hasil, itu ditandakan dengan menonjolnya pembuluh darah pada kulitnya.


Ada perasaan was – was serta horror tingkat tinggi membuatnya kewalahan yang bahkan Kris sendiri kebingungan mengapa bisa demikian, namun dari ucapan pria tadi dia menangkap jika penyebab semua ini adalah karena Kris merupakan seorang garis keturunan Vampir.


Memang sejak kemunculannya, setiap ras Vampir dalam radius jangkauan aura hawa keberadaan milik Ten mematung bahkan Callista. Bernapas secara normal saja mereka kesulitan apalagi harus bertatap muka langsung dengan Ten layaknya Kris.


TAP! TAP! TAP!


“Hah!?”


SYUU....!!!


Kris tanpa menunggu lama melesat mundur ketika Ten mulai melangkah santai mendekatinya, dia menciptakan jarak sejauh mungkin sambil memasang ekspresi panik terus melepaskan tiga sabetan kuat. Sejumlah energi tebasan berwarna merah pekat segera mengincar musuhnya, Ten hanya menggeleng – gelengkan kepala sebelum mengibaskan sebelah tangan.


Serangan tersebut langsung berbalik dengan tambahan kekuatan berkali – kali lipat, begitu Kris menyadari keputusannya salah terlambat sudah. Dia mengalami cedera berat akibat terkena jurusnya sendiri, anggota keluarga Tepes yang ikut menyaksikan ingin membantu namun mengeluarkan suara saja mereka tidak mampu.


“Tujuh Dosa Besar....apa kalian tak merasa nama itu sedikit berat untuk disandang?” celetuk Ten mengangkat kedua bahunya.


Saat masih mengamati kondisi mengenaskan para pasukan elit ras Demon tersebut tiba – tiba asap berhembus melalui celah – celah sempit reruntuhan dan menyelimuti Ten. Ia cuma menguap santai kurang perduli, jelas sekali tau tujuan skema barusan mengurangi kemampuan indra pengelihatannya.


“Hmm sekarang apa lagi? Racun?”


SRRR! KRANG!


Ten menaikan alis tertarik waktu rantai – rantai keunguan mulai menjerat sekujur tubuhnya, perlahan tanah tempatnya berpijak memperlihatkan lingkaran sihir aneh yang ia curigai sebagai segel. Teriakan kemenangan langsung terdengar memenuhi udara.


“DAPAT! SEKARANG!”


Bunyi mengerikan diiringi tangan – tangan hitam Undead bangkit dari tanah memegangi Ten, dia menoleh ke arah datangnya suara kemudian menemukan tiga orang Kepala Sekolah Five Great Academy bekerja sama mengekang dirinya.


Vrivana enggan membunuh Ten sebab masih kurang informasi mengenai keberadaan Arya tetapi ancaman sosok tersebut memaksanya ikut bertindak, Ulzegrus mempercepat proses penyelesaian segelnya sementara Rhilore mengencangkan pegangan kepada Magical Tools berbentuk rantai di tangannya.


Baru saja Ten membuka mulut hendak bicara, kepulan asap sekitarnya terbelah akibat kedatangan seekor burung raksasa. Dengan kecepatan terbang luar biasa makhluk itu menubruk Ten menggunakan paruh tajamnya hingga terseret jauh menabrak salah satu bangunan sampai runtuh.


Belum selesai sampai situ, Merlin melayang ditemani lima alat sihir termasuk payung andalannya. Sang Orange Witch membentuk dinding berbekal salah satu barang tadi dan tepat sebelum seluruh area tertutup ia membidik dengan senjatanya seraya meramalkan mantra pamungkas.


“Kyma Eksrixis!”


Cahaya jingga berbentuk bulat menyelinap memasuki penghalang tepat waktu lalu meledak sejadi – jadinya. Kurungan tersebut membengkak tak karuan menandakan betapa besarnya daya hancur teknik Merlin, namun efeknya hanya terkunci di dalam sana tanpa bisa keluar.


Situasi mulai tenang, semua mata tertuju kepada lokasi Ten sayangnya debu menutupi pengelihatan mereka. Kalau semuanya berjalan lancar, empat ras lainnya tidak akan berani meremehkan Witch lagi. Begitulah isi pikiran Lima Penyihir Agung sampai bisikan lembut mencapai telinga masing – masing.


“Kalian mau tau cara paling efektif mengalahkan tukang sihir?”


DEG!

__ADS_1


BUAKH!!!



Udafarihm terkena pukulan telak pada tempat persembunyiannya, tanah – tanah ikut remuk serta berhamburan ke udara. Rekan – rekan pria tua itu menoleh cepat ke arah datangnya kegaduhan dengan ekspresi heran nan cemas, ketika mencoba memastikan kondisi kepala sekolah Wonder Invocation masih aman. Ten telah datang menemani mereka.


“Shaman merupakan Class paling lemah namun merepotkan karena menjadi pendukung utama. Serang langsung dan incar lebih dahulu”


“Ugh!”


SYUU...!!!


Ketiga Witch yang awalnya bersama langsung berpencar menghindari Ten, Rhilore mengumpat dalam hati saat mengetahui ternyata dia adalah sasaran berikutnya. Dengan segenap tenaga dia melayangkan pukulan menuju wajah lawannya tetapi hanya mengenai udara kosong, Ten berjalan mulus melewatinya dan detik berikutnya perlengkapannya hancur berkeping – keping ditambah suara rentetan tulang patah.


KRETAK! KRUTUK!


“Warlock terlalu bergantung kepada Magical Tools, usai dihancurkan....kemampuan fisiknya tak akan memiliki penunjang apapun....”


Ulzegrus berdecak kesal ketika melihat Rhilore tumbang, dalam situasi demikian pilihan cuma sedikit serta harus diambil cepat. Akhirnya dia memutuskan untuk kabur paling tidak hingga teman – temannya memulihkan diri namun belum satu meter bergerak langkahnya terhenti.


“Hehehe....Exorcist ya? Kalian hanya sekumpulan pemburu hantu, selain melawan ras Demon memangnya bisa apa?” Ten tersenyum kemudian melepaskan tendangan memutar.


Laki – laki tersebut berusaha menahannya menggunakan kedua tangan tapi malah terasa remuk seolah terkena hantaman beban seberat ratusan ton, saat target ketiga terpental Ten langsung berdiri memunggungi Vrivana.


SRAT! SPLASH!


“Apa – apaan?!” jerit Vrivana karena seluruh makhluk panggilannya hancur bahkan sebelum bentuk mereka sempurna.


“Bukan hal sulit meladeni Necromancer saat tau seluruh Weak Point Undead miliknya”


Vrivana terjatuh lemas akibat bersentuhan langsung dengan Agnet Ten, terakhir dia mendatangi Merlin yang baru saja menyelesaikan sihir pamungkasnya tanpa mengetahui seluruh kejadian singkat tadi.


“Dan.....taukah kau kelemahan para Class Universal? Mereka terlalu tinggi mengangkat hidungnya....hihihi”


><


Merlin berbalik secepat kilat sembari mengayunkan Aura, payung itu mengeluarkan energi mengerikan siap menghantam siapapun. Ten bersiap menerima benturan sekaligus mencoba menangkap serangan tadi, betapa terkejutnya dua orang ini saat tegangan listrik hebat muncul memisahkan mereka saat jarak telapak Ten dan senjata Merlin hanya beberapa senti.


“Ugh....” Merlin mengerang sambil memegangi perutnya.


“Mmm....menarik, kau gadis yang nakal ya? Hehehe....”


“Mustahil....”


Orang Witch membelalakan mata tidak percaya ketika Miracle Iris Catra miliknya telah berpindah ke tangan Ten, padahal sejak ia mempunyainya tak satupun individu lain bisa memegang benda istimewa tersebut.

__ADS_1


Ten menyadari tatapan kecewa Merlin kemudian menyandangkan si payung jingga ke pundaknya, benar saja wajah Merlin memerah naik pitam. Dengan teriakan murka dia menerjang Ten seakan lupa semua kebehatan lawannya membuat keok setengah petinggi aliansi Fatum sendirian.


“KEMBALIKAN DASAR SIALAN...!!!”


“Tentu, silahkan ambil” sahut Ten santai menjulurkan barang di tangannya.


Saat Merlin berhasil meraihnya kembali, tiba – tiba saja ia sadar kalau badannya terpental dan kembali pada titik sebelumnya. Merlin terus mencoba namun hasilnya sama, akhirnya Ten mendekatinya sembari melayang.


“Nona? Kau masih belum sadar? Pusaka ini baru saja mencampakkanmu....”


DEG!


“Bo....hong. Aura tidak mungkin mengkhianatiku!”


“Lalu kenapa dia tak mengizinkanmu memegangnya?”


“DIAM!” bentak Merlin gusar.


Merlin menyerang menggunakan Magical Tools lain secara tiba – tiba, Ten yang baru berniat menghindar tertegun karena munculnya pelindung sihir mengelilingnya. Akibat ancaman bahaya tadi benda di tangannya langsung bereaksi dengan bergetar hebat.


“Oh oh, kalian ternyata posesif sekali ya....”


“Hah?”


Lima buah cahaya berbeda warna keluar satu per satu mengelilingi payung jingga, Ten terlihat agak kewalahan memeganginya seolah benda itu memiliki kesadaran sendiri. Saat persiapan telah selesai ujungnya langsung menodong Merlin tanpa keraguan.


“Maaf Nona. Aku sungguh tidak ada dendam padamu tapi....mereka ini....hahaha kau tau? Wanita....jadi...ugh...baiklah – baiklah aku mengerti. Fraga....Aura....Citrea....Persea....Vitisa....Blast!”


ZINGG....PSYU! JDUARRRR!!!



Author Note :


Pembaca - pembaca yang budiman, minta doanya ya buat Author yang Ujian Pendadaran dan Kompre kemungkinan minggu ini. Terutama buat yg minta update ditambah sama yg nagih TROIE, tolong bersabar tinggal dikit lagi. Percayalah....capek cuy



TROIE Season 2 Soon?



^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2