Elementalist

Elementalist
Chapter 91 - Kebetulan


__ADS_3

Sejak mendapat kabar kalau beberapa anak buahnya kadang berkunjung ke Lust Sector, Moona mulai melakukan inspeksi rahasia. Ia menyempatkan diri membuntuti banyak Werewolf untuk mengetahui kemana tujuan mereka.


Contohnya hari ini, Monna berjalan santai di atas bangunan – bangunan berarsitektur mengagumkan lokalisasi milik Lorem sambil memasang mata dan telinga tajam – tajam, salah satu bawahannya bernama Skyli pergi meninggalkan Werewolf Residenza tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Oleh sebab itu Moona langsung mengambil jubah kemudian mengawasi anak buah kurang ajar ini dari kejauhan, benar saja ternyata Skyli pergi ke Lust Sector. Setelah menyewa beberapa wanita penghibur dia pergi mengunjungi berbagai tempat hiburan di sana.


Sampai – sampai membuat Moona yang mengikutinya menjadi jenuh, saat sudah lelah dan ingin segera pergi meninggalkan tempat itu untuk segera menyiapkan hukuman bagi Skyli sesampainya di Werewolf Residenza.


Terjadi sebuah kejadian tidak terduga, entah karena mabuk atau apa. Skyli lepas kontrol kemudian bertranformasi ke bentuk Werewolf tahap kedua. Monster serigala berbadan besar muncul di tengah – tengah Lust Sector sembari meneror para pengunjung.


‘Sepertinya aku memang harus sedikit mendisiplinkan kalian dasar bocah – bocah tidak tau diri!’


Saat Skyli berusaha merobek tenggorokan dua gadis yang disewanya, Moona sudah mengambil ancang – ancang untuk segera melumpuhkan anak buah bodohnya itu. Namun sebelum ia sempat bergerak, ada orang lain muncul secara tiba – tiba dan mengendalikan situasi.


------><------


SHHHH.....!!!


Arya cepat – cepat menarik benang menggunakan giginya, menyelinap bak bayangan diantara orang – orang sebelum melompat serta menjerat leher Werewolf berbulu kecokelatan tersebut. Langkah makhluk itu terhenti, dia mengeluarkan suara geraman marah sambil berusaha melepas benang milik Arya pada lehernya.


“Pergi!”


Mendengar perintah Arya, dua gadis tadi mengangguk lalu menjauh dari lokasi kejadian. Tentu saja si Werewolf langsung naik pitam, tanpa aba – aba ia berputar layaknya gasing sehingga membuat segala penghalang ditubuhnya terlepas.


Arya kehilangan keseimbangan sampai hendak terjatuh, saat dia mengangkat kepala untuk mencari keberadaan sang Werewolf. Ternyata bogem seukuran kepala sudah mengarah tepat ke wajahnya.


JDARR! KRAK!


Arya yang sudah menutup mata siap – siap menerima rasa sakit menjadi bingung karena walau telah menanti cukup lama tetap tidak merasakan apapun. Dia baru menyadari ada seorang gadis berambut hitam berdiri diantara dirinya dan Werewolf tadi dengan aura kemerahan pekat menyelimuti seluruh tubuhnya.


“Siapa yang mengizinkanmu datang kemari dan membuat kerusuhan, Skyli?” suara gadis itu bak geraman seekor predator ketika hendak menerkam mangsanya.


“N...N...Nona....” tubuh Werewolf bernama Skyli langsung menciut, pria tersebut kembali ke wujud normalnya sambil menunduk dengan raut wajah ketakutan.


“JAWAB!!!”



Tanah beserta bangunan – bangunan perlahan mulai memunculkan retakan akibat tekanan kuat milik gadis berambut hitam tadi. Orang – orang segera menjauh berusaha menyelematkan diri, Arya juga merasa kesulitan bernapas karena mendapati aura menakjubkan ini begitu dekat.


Skyli kemudian langsung bersujud meminta ampun, tapi ada yang aneh dengan gerakanya, barulah Arya paham kejadian saat ia menutup mata sebelumnya. Nampaknya ketika kepalan tangan Skyli bersentuhan aura kemerahan milik gadis tersebut, seluruh tulang pada lengan kanannya patah seketika.

__ADS_1


Lorem mendekati kelompok mereka sambil memasang wajah terkejut, ia melambaikan tangan ke arah perempuan berambut hitam dihadapan Arya.


“Moona kaukah itu? Harusnya bilang terlebih dahulu jika ingin mampir, akukan bisa menyiapkan sambutan yang lebih hangat”


“Rem? Maaf karena telah membuat keributan di tempatmu”


“Ahh...tidak usah dipikirkan”


Keduanya berbincang cukup lama, perlahanan kerumunan mulai menipis. Arya pelan – pelan berusaha meninggalkan tempat tersebut namun gagal waktu terdengar celetukan penasaran dari Moona.


“Ngomong – ngomong siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya”


“Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda Nona?” Arya berbalik untuk memberi salam, mengatur napas sedemikian mungkin agar tetap terlihat tenang.


Lorem membantu Arya menjelaskan asal usulnya kepada Moona berdasar apa yang dia dengar sebelumnya. Raut wajah Moona berubah secara bertahap setelah mendengar penjelasan demi penjelasan mereka.


“Skyli? Kembalilah ke Werewolf Residenza, hukuman lebih berat siap menantimu disana” perintah Moona dingin.


Skyli mengiyakan tanpa berkomentar apa – apa, setelah dia sudah tidak terlihat lagi. Moona menoleh ke arah Arya.


“Bisakah kita bicara empat mata sebentar?”


“Tunggu dulu! Fenrir ini tamuku, kenapa tiba – tiba kau ingin merebutnya?” Lorem protes.


“Bukan begitu, tapikan aku belum membalas kebaikannya setelah menolong adikku dari para Goblin”


“Itu bisa diurus lain kali, ayo” seru Moona berbalik tak mau kalah.


Arya jadi bimbang harus mengikuti siapa, namun akhirnya Lorem mengalah dan memberikannya sebuah botol kaca berisi cairan berwarna merah muda.



“Maaf aku cuma bisa memberikan ini, parfum buatanku sendiri. Jika kau menggunakannya kupastikan tak ada wanita yang tidak bisa kau taklukan....” bisik Lorem manja.


“Maksudnya?” Arya mundur beberapa langkah siap melempar benda ditangannya. Mungkin ini bisa saja jadi benda impian banyak laki – laki, namun jujur baginya pribadi malah nampak seperti penguat kutukan.


“Hahaha aku bercanda, ini hanya sebuah aroma terapi yang dapat memulihkan kondisi fisikmu. Jika sempat berkunjunglah lagi kemari setelah semua urusanmu selesai ya?”


“Hei!? Cepatlah!”


Arya berterima kasih untuk terakhir kalinya kepada Lorem, sebelum segera berangkat menyusul Moona. Karena jaraknya sudah cukup jauh, Arya tidak pernah tau ada sebuah senyuman licik muncul diwajah Lorem.

__ADS_1


“Gunakanlah sesering mungkin ramuan cinta itu dan kemudian jadilah milikku untuk selamanya, hihihi”


------><------


Orang – orang segera menyingkir setelah melihat pemandangan tak biasa dari kejauhan, Arya hanya mengekor dibelakang Moona bak seorang bodyguard. Tidak ada satupun Demon yang berani bertatapan mata dengan gadis itu.


Beberapa menit berlalu, kesunyian masih menguasai. Arya tak tau mau dibawa kemana dan juga bingung harus memulai pembicaraan seperti apa, Moona tiba – tiba menoleh lalu memberi isyarat agar mereka berdua melompat ke atas.


Sesampainya disalah satu atap bangunan, Moona akhirnya langsung duduk kemudian berbicara.


“Apa kau benar berasal dari Desa Werewolf di Tenggara Dark Side?”


“Iya Nona, apa ada masalah?”


“Aku tidak percaya akan bisa betemu dengan seseorang dari Desa Moonblade seperti ayahku” Moona melirik ke arah Arya.


‘Eh?’


“Kau juga berasal dari Desa Moonblade bukan? Sama seperti ayahku”


“A..ak..aku...” Arya tentu tidak tau menahu soal ini, semuanya hanya karangan yang dia buat secara acak. Dia tak pernah membayangkan memang ada desa tersembunyi milik Werewolf di Tenggara Dark Side.


“Tenang saja, aku tau kau berusaha menjaga kerahasiaan Desa....”


Moona berbicara panjang lebar kepada Arya, ia mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab sebaik mungkin oleh Arya. Untungnya gadis itu terlihat menikmatinya.


“Hahaha sudah lama sekali aku tidak merasakan diskusi menyenangkan seperti ini....”


Nampaknya tidak ada satupun anak buah Moona berani berbincang – bincang dengannya, sehingga dia merasa sedikit kesepian. Dan komunikasinya dengan Arya sekarang mengobati perasaan tersebut. Walau sebenarnya dulu ada seorang Werewolf berani berbicara normal padanya.


Tapi sayang dia telah mati mengenaskan oleh musuh, Arya berkomentar menunjukan simpatinya. Jujur di dalam hati ada sedikit rasa iba terhadap Moona.


“Baiklah, terima kasih sudah menemaniku. Maaf tidak bisa membantu, jika kau sudah menemukan orang yang kau cari. Datanglah ke Werewolf Residenza, kau akan selalu diterima disana”


“Akan aku lakukan, sampai jumpa....Moona”


Arya bicara pelan sebelum pergi dari sana, meninggalkan sebuah senyuman hangat pada wajah Moona yang sudah lama tidak terlihat. Beberapa waktu berselang ada beberapa Werewolf tiba untuk menjemputnya.


“Ahh...aku lupa memberitahukannya nama Millos, jika saja dia masih hidup sepertinya mereka bisa jadi teman baik. Hei kau! Tolong kumpulkan semua informasi mengenai Werewolf bernama Fenrir ini” pinta Moona kepada salah satu anak buahnya.


Sementara itu Arya telah disergap ketika melintasi sebuah gang kecil, kedua tangan beserta kakinya ditusuk oleh senjata tajam yang seperti terbuat dari darah. Seorang gadis bermata merah menyala mencengkeram lehernya kuat – kuat.

__ADS_1


“Ketemu kau!”


__ADS_2