Elementalist

Elementalist
Chapter 46 - Duo Battle Festival


__ADS_3

"Argu....? Kennp kou msh me...." gumam Lexa dengan mulut penuh makanan.


Arya mengalihkan pandangan dari makanan yang ada di hadapannya, ia menatap Lexa dengan malas.


"Bisakah kau berbicara dengan bahasa manusia? Setidaknya telan dulu makananmu"


Mereka berdua sedang berada disalah satu tempat makan yang berada dijalan utama, keduanya memutuskan untuk mampir setelah rombongan Raja Vermaand sudah tidak terlihat lagi.


"Ekh..!!!"


Wajah Lexa membiru kehabisan napas, dengan sigap Arya menyodorkan gelas air minum yang sudah disediakan.


"Itulah kenapa kita dilarang makan sambil berbicara"


"Hah...., terimakasih. Aku tadi ingin bertanya, kenapa kau masih mau mengikutiku walaupun kau sendiri tidak bisa melihat hamster itu?" tanya Lexa sambil menghela napas lega.


"Apa kau pernah mendengar tentang Guide Vision?" balas Arya sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Mmm? Aphua itou?"


"Setahuku, Guide Vision adalah sebuah pengelihatan yang membimbing para Elementalist untuk mencapai jalan yang benar. Bisa saja hamster itu adalah Guide Vision milikmu, jadi wajar saja kalau aku tidak bisa melihatnya"


"Oh...., ini pertama kalinya aku mendengar hal seperti itu" komentar Lexa kagum.


"Aku juga hanya mengetahui sebatas itu saja" timpal Arya santai lalu segera berdiri.


Dia kemudian menuju meja kasir untuk membayar makanan mereka berdua, setelah beberapa kali melakukan transaksi di Underground Paradise. Akhirnya Arya mulai paham dengan mekanisme uang di tempat itu.


Uang di tempat ini dibagi menjadi 3 jenis. Gold, Silver, dan Cooper. 100 Cooper setara dengan 1 Silver, sedangkan 100 Silver setara dengan 1 Gold. Tidak terlalu sulit, setelah dipikir-pikir lagi. Ternyata uang yang diberikan Ruck pada mereka bisa dikatakan cukup banyak.


Dengan uang itu mereka bisa mendapatkan makanan dan tempat berlindung yang nyaman selama berada di Underground Paradise. Setelah Arya dan Lexa meninggalkan tempat makan, tiba-tiba ada seorang pria bertubuh kerdil yang membagikan sebuah selebaran kepada mereka.


"Anda tidak akan menyesal jika mampir kesana Tuan" bisiknya pada Arya sebelum menghilang dari pandangan.


Urat saraf yang ada dipelipis Arya berkedut kesal setelah membaca isi dari selebaran itu, saat Lexa berusaha melirik isinya. Tanpa basa-basi Arya segera merobek kertas tersebut.


"Eh?! Aru?! Aku belum melihat apa yang tertulis disitu?!" protes Lexa jengkel.


"Bukanlah hal yang penting, lagi pula bukannya kau tidak bisa membaca rune? Ayo!" sahut Arya cepat sambil bergegas menyeret Lexa menjauh dari tempat itu.


Robekan kertas tersebut dibuang oleh Arya di tempat sampah, sekilas pada salah satu robekan terlihat sebuah tulisan dari huruf rune yang jika diartikan berbunyi seperti ini. "Anda ingin merasakan sensasi cinta satu malam yang berbeda? Mampirlah ke....".


-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------


"Aru....? Kenapa kau terlihat terburu-buru seperti itu?" tanya Lexa heran.


"Terburu-buru? Aku? Tidak, Tidak sama sekali. Hanya saja kita harus menjauh dari distrik itu! POKOKNYA JANGAN PERNAH MAMPIR KE DISTRIK ITU LAGI!!!" tegas Arya dengan senyum canggung menghiasi wajahnya.


Mereka memutuskan untuk berkeliling Underground Paradise sampai puas, saat hari semakin larut. Keduanya mulai mencari tempat untuk menginap, Arya mengedarkan pandangan siaga ke berbagai penjuru.


"Disini aman bukan? Tidak ada tempat yang aneh-aneh"


"Aman? Bukankah sejak kita tiba disini semua tempat itu aman?" celetuk Lexa sambil mengkerutkan dahi.


"Ha. Ha. Ha, kau benar. Semua tempat memang aman" jawab Arya yang suaranya semakin mengecil setiap berbicara.


Tempat ini benar-benar berbahaya, Arya tidak pernah menyangka tempat-tempat hiburan disini penuh dengan hal-hal seperti itu. Akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan yang sekiranya cocok.


Ternyata tempat itu adalah gabungan antara Bar dan Penginapan, bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai satu berfungsi sebagai Bar, sedangkan lantai dua adalah Penginapan.


Setibanya disana mereka disambut oleh seorang gadis manis berambut perak, dia tersenyum ramah sambil menanyakan keperluan mereka. Saat Arya ingin memesan dua buah kamar, perkataanya segera dipotong oleh Lexa.


"Kami ingin memesan satu buah kamar!"


"Tentu, apa kalian berdua adalah suami-istri? Karena jika iya, kalian bisa mendapatkan potongan harga untuk pasutri"


"Iya benar, kami adalah suami-istri"


"Hah?! Tunggu dulu" sambar Arya cepat.


Arya segera menarik Lexa dan berbisik dengan nada suara mendesak ditelingannya.


"Apa maksudnya itu?! Mana mungkin kita berdua akan tidur di satu kamar?!"


"Eh? Memangnya kenapa? Bagaimana dengan identitas suami-istri yang kita buat? Tidak mungkinkan pasangan suami-istri memesan dua kamar terpisah disebuah penginapan? Lagi pula kita mendapat diskon. Hal itu bisa menimbulkan pertanyaan nantinya" balas Lexa santai.


"Lexa....?! Aku ini adalah seorang remaja laki-laki normal! Mana mungkin aku bisa tidur di satu ruangan denganmu!" ujar Arya tidak percaya.


"Tapi bukankah kita berdua sering berbaring lalu tanpa sadar terlelap di Ruang Latihan?"


"Bisakah kau membedakan antara berbaring dan tidur bersama!!!"


"Apa....semuanya baik-baik saja?"


Diskusi Arya dan Lexa segera berhenti, gadis itu menatap mereka dengan cemas.


"Hahaha tentu saja tidak apa-apa, siapa namamu tadi?" tanya Arya pelan.


"Kyra" jawabnya lembut.


"Halo Kyra! Salam kenal! Nama kita hampir mirip loh! Aku Ayra" seru Lexa antusias sambil menjabat tangan Kyra.


"Halo Nyonya Ayra, dan Tuan...." dia melemparkan pandangan bertanya pada Arya.


"Axel" tambah Arya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Mau tidak mau, karena keputusan yang dibuat Lexa dengan sesuka hatinya. Mereka benar-benar memesan satu buah kamar seharga 15 Silver semalam, Arya tidak tau lagi bagaimana caranya dia bisa tidur malam itu.


Melihat Bar tempat itu cukup ramai pengunjung, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk memesan makan malam. Kyra mengantarkan makanan mereka, betapa terkejutnya Arya dan Lexa ketika tiba-tiba Kyra berteriak.



"KYAA!!!"


Nampan yang dia pegang terjatuh ke lantai, dia menutup mulut dan hidungnya setelah menatap Arya sekilas. Arya memang tanpa sengaja membuka sedikit topengnya saat itu, sehingga wajahnya terlihat.


Semua orang menatap ke arah meja mereka, beberapa saat kemudian salah seorang gadis lain yang bekerja disana juga menghampiri.


"Kyra sudah kubilang bukan untuk berha—"


Saat dia juga melihat apa yang Kyra lihat, dengan sangat tiba-tiba darah mengalir dari hidungnya dan diapun jatuh pingsan. Suasana Bar berubah menjadi heboh, Arya dengan hati mencelos meraba-raba telinganya.


Dia menghela napas lega, ia sempat berpikir berubah kembali ke wujud Elf miliknya karena sihir-sihir yang bertebaran di udara. Dia segera bangun untuk membantu kedua gadis tersebut, tapi segera ditolak oleh Kyra.


"Maaf Tuan, tapi kumohon jangan mendekat. Jika lebih dari ini aku tidak akan kuat"


Arya dan Lexa menatap satu sama lain dengan bingung, setelah akhirnya kedua gadis tersebut digotong pergi. Para pengunjung yang ada disana segera menyerbu meja Arya dan Lexa.


"Hey nak! Bagaimana kalau kau bekerja di tempatku!"


"Maukah kau menemani wanita malang ini? Kau tinggal menyebutkan harganya"


"Sebutkan berapa saja! Pasti akan kubayar!!!"


Karena para pengunjung itu semakin menggila, Arya dan Lexa segera kabur ke kamar mereka. Kemudian meminta makanannya untuk dikirimkan ke kamar saja, Kyra dengan raut wajah bersalah terus menerus meminta maaf berkali-kali saat mengantar makanan mereka.


"Ada apa sih dengan orang-orang tadi" celetuk Arya sambil menyingkirkan piring-piring ke pojok ruangan.


"Mungkin mereka tidak pernah melihat orang dengan wajah sepertimu" sahut Lexa sambil terkekeh.


"Omong kosong! Di tempat inikan banyak Elf yang berkeliaran, wajah mereka bahkan terlihat bagaikan mahakarya Tuhan"


"Tapikan kau Manusia, Aru kemari" kata Lexa semangat sambil menepuk bagian kasur yang kosong.


"Aku....tidur di lantai saja"


Arya menggunakan jubah miliknya sebagai alas dan segera berbaring di lantai.


"Eh...?! Kenapa?! Masih ada ruang kok" protes Lexa cemberut.


"Tidak apa, kau nikmati saja. Selamat malam" timpal Arya sambil mematikan lampu.


"Ya sudah, selamat malam"


Arya menarik Mandalika mendekat, ia merangkul pedang itu sambil mendesis pelan dengan mata tertutup rapat.


"Mandalika? Jika sampai malam ini aku melakukan sesuatu yang diluar kendali, kau harus berjanji untuk MENGHENTIKAN TUANMU INI BAGAIMANAPUN CARANYA!!!"


-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------


Dia membenarkan posisi selimut yang dikenakan Lexa sebelum meninggalkan kamar, suasana kota lebih renggang pada waktu-waktu seperti ini. Hanya ada beberapa pedagang yang mengirim barang-barang ke pasar terdekat.


Saat sedang asik menikmati suasana itu, tiba-tiba dari ujung jalan Arya melihat seorang bocah yang kelihatan sangat tergesa-gesa. Dan tanpa sengaja menabrak Arya sampai terjatuh, dia terus melesat tanpa menoleh sedikitpun.


Kemudian tiga orang pria dewasa dengan hidung babi muncul, mereka bertiga menanyakan kemana perginya anak yang menabrak Arya tadi. Ketiganya terlihat seperti orang yang telah kehilangan sesuatu, Arya segera menunjukan arah tanpa berkata apa-apa.



Mereka membantu Arya berdiri sambil berterimakasih kemudian langsung menyusul ke arah yang Arya tunjukan. Setelah langkah orang-orang itu tidak terdengar lagi, dari salah satu pojok bangunan. Bocah yang menabrak Arya tadi keluar dari persembunyiannya.


"Kenapa....kakak membantuku?"


"Kita tidak perlu alasan untuk menolong orang lain" balas Arya tenang.


"Walaupun orang itu adalah pencuri?"


"Kau pasti melakukannya bukan tanpa alasan, kalau kau tidak melakukannya. Mereka makan apa?"


Arya bisa merasakan beberapa anak lain yang terlihat ketakutan bersembunyi dibalik bangunan tersebut, kemudian Arya melemparkan sebuah kantung kulit kecil kepada bocah itu.


"Lain kali jangan mencuri, atau paling tidak. Jangan sampai ketahuan, lagi pula aku juga Manusia sama sepertimu" bisik Arya sambil menunjukan wajah yang tersembunyi dibalik topengnya.


Dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan lokasi. Betapa terkejutnya bocah itu saat melihat koin emas yang memenuhi kantung kulit tersebut, disisi lain kota. Ketiga preman berhidung babi melolong sedih saat menyadari salah satu kantung kulit berisi upeti yang mereka kumpulkan ikut menghilang.


Arya yang sudah berjalan menjauh dengan santai memainkan kantung kulit kecil lain ditangannya, ia tersenyum sambil bergumam, "Ternyata....kemampuanku tidak menurun"


-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------


"Apa-apaan ini?!" protes Lexa saat dia dan Arya digiring keluar oleh Penjaga.


Mereka berdua sebenarnya sedang berada disalah satu kantor pemerintahan pusat Underground Paradise, Arya dan Lexa pergi ke tempat itu karena mereka dengar jika ingin bertemu dengan Raja harus melapor ke tempat ini terlebih dahulu.


Tapi sayangnya saat mengatakan keperluan mereka untuk bertemu dengan Raja, Petugas tempat itu segera mengatakan Raja sedang sibuk dan malah memanggil Penjaga untuk menggiring mereka keluar.


"Pergilah, dasar pembuat kerusuhan" hina salah satu Penjaga sinis.


"Kerusuhan?! Akan aku tunjukan kepadamu apa itu yang dinamakan kerusuhan!" balas Lexa geram.


"Sudahlah Lexa" tahan Arya sambil menarik Lexa menjauh.


"Tapi Aru kita harus memberi mereka pelajaran! Dan kenapa kau tidak menunjukan Mendali itu kepada mereka seperti sebelumnya?"

__ADS_1


"Melihat dari sifat Petugas tadi, hal itu akan sia-sia. Dia langsung bertindak sebelum kita sempat melakukan apa-apa. Lagi pula bisa-bisa Mendali itu ditahan oleh mereka dan kita dituduh sebagai pembuat barang palsu"


"Tapi barang milikmu itu asli bukan?" tanya Lexa bingung.


"Tentu saja, sepertinya aku tau cara untuk menemui Raja dengan aman"


"Sungguh?! Bagaimana caranya?" sambar Lexa antusias.


Arya menunjuk ke salah satu papan pengumuman yang ada dipinggir jalan sambil tersenyum senang.


"Dengan mengikuti Duo Battle Festival"


-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------


"SELAMAT DATANG SEMUANYA...!!! BERTEMU LAGI DENGAN PEMBAWA ACARA KALIAN RINGGO OZ! DI....DUO BATTLE FESTIVAL" teriak seorang pria dengan punutup mata serta satu tanduk berwarna hitam yang menghiasi kepalanya.


Duo Battle Festival adalah sebuah acara yang dilakukan secara periodik beberapa waktu sekali di Underground Paradise. Acara ini sangat populer dan menjadi acara yang paling ditunggu oleh semua orang.


Bukan hanya karena pertempuran yang disajikan sangat menarik, tapi juga disebabkan oleh hadiah yang ditawarkan bagi pemenang. Pemenang dari acara ini mendapat kesempatan khusus untuk mengajukan 1 permintaan pada Raja dan pasti dikabulkan.


Raja Vermaand dikenal memiliki banyak sekali benda-benda istimewa dan kekayaan berlimpah yang menjadi harta karunnya. Tentu saja tawaran itu akan sangat menggiurkan bagi banyak orang. Ringgo, si pembawa acara berpakaian rapi sambil berdiri disebuah papan yang melayang di udara.


Suaranya menggema ke seluruh Arena, Arena pertandingan berbentuk lingkaran dengan lubang sedalam 1,5 meter disekitarnya. Podium-podium tinggi untuk tempat duduk para penonton mengelilingi Arena pertandingan itu, peraturannya sederhana.



Para peserta akan melakukan pertarungan ganda, mereka hanya bisa maju ke babak selanjutnya dengan cara mengeluarkan musuh dari arena. Atau dengan membuat musuh menyerah dan tidak bisa melanjutkan pertandingan lagi. Siapa yang berhasil bertahan di arena paling akhirlah yang akan menang.


Selain itu tidak ada peraturan khusus, peserta diperbolehkan melakukan apa saja tanpa ada pantangan sedikitpun. Ringgo mulai berteriak lagi dengan antusias.


"Duo Battle Festival kali ini akan sangat seru, banyak bermunculan para pendatang baru. Salah satunya adalah yang akan melakukan pertandingan pertama mereka malam ini.


Tapi aku merasa kasihan kepada mereka, karena mereka harus melawan juara empat Duo Battle Festival sebelumnya. Sambutlah disisi sebelah Barat, Gill dan Rose D'Rodria...!!!"


Teriakan histeris memenuhi udara, dari sisi sebelah barat Arena muncul dua orang Elf. Laki-laki dan perempuan dengan mata merah. Keduannya terlihat sangat elegan dengan pakaian mereka, sambutan yang diberikan penonton begitu meriah.


"Dan lawan dari mereka berdua adalah...., duo pendatang baru. Pasangan bertopeng misterius, sambutlah disisi sebalah Timur. Axel dan Ayra...!!!"


Seketika suasana menjadi hening, Arya dan Lexa memasuki Arena dengan canggung. Lexa bergumam kesal disebelah Arya.


"Kenapa sambutan kita tidak semeriah mereka?!"


"Apa yang kau harapkan, mereka adalah salah satu finalis festival sebelumnya. Sedangkan kita?"


Kedua pasangan sudah saling berdiri berhadapan satu sama lain, podium dipenuhi teriakan penyemangat bagi pasangan Elf Rodria dan teriakan "Booo" untuk Arya dan Lexa. Ringgopun bersiap memberikan aba-aba pertandingan.


"Mulai!!!" teriaknya.


"Rose? Kau lihat dua makhluk menyedihkan itu" kata Elf laki-laki sambil menahan tawa.


"Iya Gill, mereka pasti sangat buruk rupa sampai-sampai menutupi wajah mereka dengan topeng" gelak Rose.


"Iya-iya terserah kalian mau berkata apa" timpal Arya. "Lexa? Apa kau bisa bertarung hanya dengan menggunakan Agnet?" tambahnya.


"Apa kau masih perlu bertanya?" balas Lexa sambil memasang kuda-kuda.


"Bagus, kalau bisa. Aku tidak ingin kita menggunakan Elemental Weapon di tempat ini, karena akan menarik banyak perhatian"


Gill mencabut senjatanya dengan santai, ia lalu dengan lembut mengelus pipi Rose.


"Wahai Rose-ku yang cantik, lihatlah caraku mencincang gadis itu. Kemarilah kau gadis kec—"


Belum sempat dia selesai berbicara, Lexa dengan kecepatan tinggi melesat dari sebelah Arya ke hadapannya. Lexa menghantamkan sikunya pada Gil sampai dia terpental keluar Arena dan menabrak podium penonton dengan keras.


Elf laki-laki itu langsung tidak sadarkan diri, pasangannya hanya bisa membuka mulut lebar tidak percaya. Dengan geram ia mencabut senjatanya.


"Beraninya kau dasar ja—"


"Kau seharusnya tidak boleh mengalihkan perhatianmu dari musuh"


Hati Rose mencelos, entah sejak kapan Arya sudah berdiri dibelakang sambil memunggunginya.


"Dasar kepa—apa-apaan ini?!" teriaknya histeris.


Tubuhnya terasa kaku, secara perlahan tapi pasti mulai terlihat kilatan-kilatan cahaya yang memenuhi Arena. Bagian tubuhnya ternyata sudah dililit oleh helaian benang yang saling mengait satu sama lain, mata Rose melebar ngeri.


"Jangan bergerak, kalau aku jadi kau. Aku akan memilih untuk diam. Karena semakin kau berontak, maka belitannya akan semakin kencang" jelas Arya.


"Ugh....kau pikir bisa menghentikanku dengan—"


"Kau salah, aku tidak berusaha menghentikanmu. Aku hanya ingin membuatmu menyerah, memukul seorang wanita itu bukan gayaku"


"Huh....sombongnya dirimu, kau pikir dengan tidak melukaiku. Aku akan menye—Kyaa!!!"


"Aku bilang tidak akan memukulmu, tapi itu berarti bukannya aku tidak akan melukaimu" bisik Arya dingin sambil secara perlahan menarik benang yang ada dihapannya dengan jari telunjuk.


"Baiklah!!! Aku menyerah!!!"


Benang-benang itu segera terlepas dan kembali kepada Arya, tubuh Rose tergolek lemas di Arena pertarungan dengan napas memburu. Itu pertama kalinya dia merasakan nyawanya berada di ujung tanduk seperti itu.


Seluruh podium penonton menjadi sepi, tidak ada yang bersuara saking terkejutnya melihat apa yang terjadi.


"P..p..pemenangnya adalah....Axel dan Ayra!!!" teriak Ringgo.


"Yee!!!" seru Lexa sambil melakukan tos keras dengan Arya.

__ADS_1


Disalah satu puncak podium penonton, ada dua sosok berjubah hitam yang menyaksikan pertandingan itu dengan seksama. Salah satu dari mereka berbicara dengan suara manis sambil melihat Arya.


"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik disini, hihihi"


__ADS_2