Elementalist

Elementalist
Chapter 89 - I Hate Them


__ADS_3

Liliem menyukai berpergian keluar Sinner Places, walau menikmati hidupnya disana. Ia merasa kurang nyaman berada di lingkungan tempat tinggalnya, kakak perempuannya padahal sudah mengatakan agar dia tidak bekerja saja, tapi pada dasarnya Liliem memang keras kepala dan susah diatur.


Akulah yang menentukan jalanku sendiri, moto hidup tersebut begitu melekat dalam hatinya. Walau tidak secantik sang kakak, ada beberapa laki – laki tetap berusaha mendekati Liliem. Namun memberi muka pada mereka pun tak pernah tepikirkan.


Semua pria sama saja dimatanya, makhluk buas yang hanya dikuasai oleh napsu pribadi. Sang kakak selalu memperingatkan tanpa adanya laki – laki di dunia hidup mereka akan susah, tapi Liliem tetap bersikukuh dan bersikap bodoh amat akan hal tersebut.


Dalam satu tugas ia dimintai tolong untuk melakukan negosiasi barang – barang pasokan yang akan dikirim ke tempat mereka. Oleh sebab itu Liliem harus berangkat menuju kota tidak jauh dari Sinner Places.


Awalnya kakak perempuannya tidak setuju dia melakukan tugas ini, tapi setelah diyakinkan tanpa henti. Akhirnya izin pun diterima, negosiasi berjalan lancar dan sukses menurut pendapat pribadi Liliem.


Sialnya ketika sedang dalam perjalanan pulang dia dihadang oleh pasukan Goblin berjumlah sekitar lima puluh orang, pimpinan mereka adalah Goblin Champion Rare-Tier berbadan kekar. Sebuah gada raksasa menggantung pada lengan kanannya.



Mereka meminta sesuatu yang membuat Liliem meludahi wajah si Goblin Champion dihadapan seluruh anak buahnya, tentu saja makhluk hijau menyebalkan itu murka dan mulai memerintah pasukan untuk meringkus gadis tersebut.


“Menjauh! Jangan pikir kalian akan lolos setelah semua ini! Aku ini adalah—Ahhh.....! Apa yang kau sentuh brengsek!”


Air mata Liliem mulai tidak dapat terbendung, dia ingin berteriak minta tolong namun tak ada suara keluar dari mulutnya. Tepat ketika merasa semuanya sudah berakhir, tiba – tiba lima orang Goblin yang memegangnya mengucurkan darah deras.


Kepala mereka tercabut sampai tulang punggung, pemandangan itu begitu mengerikan sampai membuat mata Liliem terbelalak. Pelakunya adalah seorang pria misterius berjubah, dia lalu melemparkan kelima kepala secara sembarang.


Para Goblin mundur beberapa langkah setelah melihat saudara – saudara mereka mati mengenaskan ditangan sosok ini, tanpa basa – basi penyelamat Liliem langsung menerjang sisa pasukan yang ada.


Satu persatu kepala Goblin menghiasi udara mengikuti gerakan jubah misterius miliknya, dia melakukan semuanya begitu mudah sehingga terlihat layaknya seseorang menanggalkan tutup botol. Perlahan mayat – mayat makhluk hijau mulai menggunung disekitar sana.


Hanya tersisa sang Goblin Champion, ia menatap gusar pelaku pembantaian pasukan miliknya. Saat meneriakan suara gemuruh perang sambil mengangkat gada raksasa, si pria berjubah menyelinap naik ke pundak Goblin kekar tersebut sebelum mematahkan lehernya.


Suara gedebuk keras terdengar ketika tubuh seberat dua ratus kilogram menghantam tanah, belum selesai disana. Laki – laki misterius tadi mulai menginjak – injak kepala Goblin yang sudah tidak bernyawa itu sampai menjadi bubur.


Dia baru berhenti setelah membuat cekungan ditanah berdiameter lima koma lima meter. Barulah sosok ini akhirnya berjalan mendekati Liliem, gadis tersebut menatapnya penuh ketakutan. Bingung harus berkata apa.


Liliem berterima kasih karena diselamatkan dari makhluk – makhluk tidak bermoral tadi sekaligus takut sejadi – jadinya sebab baru pertama kali melihat pembantaian satu pihak seperti barusan. Liliem baru bisa yakin orang ini baik ketika ternyata dia menyerahkan sehelai kain untuk membungkus tubuh tanpa busana miliknya.


Pria misterius itu juga mengembalikan pakian – pakian Liliem serta membuatkan makam malam untuknya, api unggun menyala dibawah pohon berjarak sekitar sepuluh kilometer dari lokasi pembantaian Goblin.


Wajah Liliem kembali berwarna begitu merasakan sup buatan orang tersebut, dia baru sekali ini merasakan makanan seenak itu.


“Terima kasih sudah menolongku” kata Liliem akhirnya begitu merasa sikapnya tidak sopan terhadap orang yang telah menyelematkannya dari mala petaka.


“Sama – sama, tak perlu dipikirkan” sahutnya pelan.


‘Suaranya lembut sekali!?’


Liliem sempat ragu sesaat kalau sosok dihadapannya adalah seorang pria akibat suara miliknya, namun hidungnya mencium jelas aroma maskulin merebak dari tubuh orang ini.


“Ahh....benar aku belum memperkenalkan diri, namaku Liliem”


“Fenrir”

__ADS_1


“B...bo...boleh aku tau, kenapa Tuan menolongku?”


“Tidak usah memanggilku Tuan, apa aku harus punya alasan untuk menolongmu?” Fenrir balik bertanya.


Kali ini Liliem melongo semakin heran, bukan begitu cara hidup ras Demon. Mereka hanya akan melakukan apapun yang dapat menguntungkan diri sendiri.


“Bukankah kau seorang Succubus?”


‘Ah...jadi begitu? Sudah kuduga semua pria sama saja’


“Benar sekali, jika kau mau....a..ak..aku...aku bis—“


“Apakah itu alasan para Goblin tadi menyerangmu? Kau pasti ketakutan, syukurlah aku bisa sampai tepat waktu” kata Fenrir sambil mengorek – orek bara api unggun.


‘Eh!? Tunggu dulu, bukan itu respon yang seharusnya terjadi...siapa orang ini?’


Fenrir lalu berdiri sebelum mengencangkan jubah miliknya, ia menoleh sekali lagi “Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu, kau pasti kurang nyaman di dekatku setelah kejadian buruk tadi”


“Berhenti! T..to..tolong jangan pergi, b..ba..bagaimana kalau mereka kembali? Aku tidak bisa melindungi diriku” Liliem cepat – cepat berusaha menahan Fenrir.



“Aku sebenarnya sedang buru – buru menuju Sinner Places jadi—“


“Aku akan mengantarmu besok, Sinner Places sudah tidak jauh dari sini. Lagi pula aku harus membalas kebaikanmu padaku”


“Kau yakin tidak apa – ap—“


“Baiklah” Fenrir akhirnya menghela napas dan duduk kembali, ia juga melepas tudung jubahnya.


DEG! DEG!


‘GILA! APA – APAAN PRIA INI?!’


Jantung Liliem berdegup kencang, ini pertama kalinya dia memandangi wajah orang selama itu. Perlahan ia berusaha mengatur napasnya sebelum bicara.


“Apa kau punya alasan khusus datang Sinner Places? Dari mana asalmu? Ini pertama kalinya kau kemari bukan?”


“Benar, aku datang dari desa Werewolf kecil di Tenggara untuk mencari seseorang” jawab Fenrir tersenyum.


“Karena tinggal disana, kuharap bisa membantu”


“Terima kasih, Liliem”


‘Wakhhh....?!! Jangan tiba – tiba memanggil namaku seperti itu bodoh!’


“Ahh...iya, F..Fe..Fenrir? Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?”


“Silahkan”

__ADS_1


“Kenapa kau sampai sebegitunya terhadap tubuh para Goblin walau mereka telah mati?”


Pandangan bola mata biru milik pria tersebut berubah gelap, seakan melihat sebuah ruang kosong tak berujung.


“Karena....aku membenci mereka, kalau ada kesempatan....akan kubuat semuanya punah dari muka Bumi”


Liliem memutuskan tidak bertanya lebih jauh tentang konflik Fenrir dan Goblin di masa lalu, gadis itu tertidur setelah Fenrir memastikan menjaga jarak sejauh lima meter darinya. Dan berjanji Liliem boleh memotong kedua tangannya jika sampai dia melakukan sesuatu yang aneh.


Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk segera berangkat. Liliem berjalan riang dengan wajah sumeringah. Ia tidak pernah menyangka petaka tadi malam bisa membawa berkah seperti ini.


“Sekitar berapa lama lagi kita sampai?” celetuk Fenrir.


“Mungkin....setengah hari”


“Kalau begitu maaf Liliem, permisi. Efbi?”


Fenrir memegang pinggang Liliem sebelum mengangkatnya pelan sehingga membuat gadis tersebut berteriak terkejut. Entah dari mana muncul seekor serigala dewasa menjadi tunggangan mereka, makhluk itu berlari cepat menembus udara segar pagi hari.


“Bagaimana? Ini siapa?” tanya Liliem heran.


“Dia....putraku” jawab Fenrir setelah terlihat ragu sesaat.


“KAU SUDAH MENIKAH?!”


“Eee....b..be..begitulah”


Ekspresi bahagia Liliem segera memudar sepanjang perjalanan, akhirnya dikejauhan mulai terlihat dinding pembatas kota.


“Begitu masuk gerbang kita akan langsung menuju arah Barat” kata Liliem mencolek tangan Fenrir.


“Kenapa?”


“Disanalah tempat tinggalku, sudah kubilang akan membalas kebaikanmu bukan? Aku yakin kakakku juga pasti ingin bertemu denganmu”


“Kau punya kakak?”


“Iya, seorang kakak perempuan. Kau mungkin pernah mendengar namanya”


“Siapa?” Fenrir mengangkat sebelah alis.


“Lorem, Lorem Devilla”


Author Note :


Temen : Bro! Ayo kumpul Demo!? Kita penuhi jalan (Penuh Semangat)


Gw : Hehehe iya (dalam hati) (Aduh....akhir bulan, kiriman masih gak jelas. Harus beli buku malah diajak Demo. Nasip - nasip, malam ada tugas sama update cerita. Duit dari Mangatoon belum bisa dicairin, astaga. Fix puasa Senin Kamis)


Temen : Kenapa bro?

__ADS_1


Gw : Ahaha gk ada kok, nanti pas demo dapet nasi bungkus gk? (Ngarep)



__ADS_2