
“Jangan mengabaikan adikmu yang manis ini Onii-chan!”
PSYUUU...!!!
Dalam waktu singkat Reiko melesat kembali dan menyusul ke tempat Arya bersama Xavier berada, ia memutar – mutar cambuknya siap memberikan serangan melalui titik buta. Xavier melihat kesempatan itu lalu melemparkan salah satu chakram miliknya sebelum ikut bergerak maju.
Tindakan kedua Elementalist pihak Fatum tersebut menyebabkan posisi Arya cukup sulit karena diapit dari arah berbeda secara serentak, bukannya panik si pemuda berambut putih malah memejamkan mata sembari menarik napas panjang.
“Fourth Dance; Dance of Seven Seas....”
Saat pandangan Arya terbuka seluruh objek pada radius tiga ratus enam puluh derajat yang mengelilinginya melambat, tapi pengelihatan janggal ini cuma bagi dirinya seorang. Memanfaatkan momentum tadi dia dengan luwes mulai mengayunkan pedangnya, Arya menangkis piringan tajam Xavier sampai terhempas ke udara terus berbalik memlilitkan senjata Reiko ke sekitar Mandalika sebelum membelokan lajunya.
Terakhir tanpa menunggu lama Arya bergantian melepaskan tujuh tebasan kepada masing – masing musuhnya, bilah besi berwarna hitam serta biru tersebut berpindah cepat membelah udara untuk mengincar satu titik. Arya menyarungkan pelan kembali pedangnya sebagai penutup hingga suara pertemuan gagang dan sarungnya terdengar lembut di telinganya.
TUK! JDES! DUARR....!!!
Angin kencang tercipta begitu saja kemudian membuat Xavier maupun Reiko terpental jauh, tanah tempat mereka berpijak hancur lebur terkena efek jurus barusan. Tidak lama berselang rasa sakit menghujani tiap tulang Arya, seluruh ototnya seolah menjerit protes akibat beratnya beban yang harus ditanggung.
Bahkan pandangannya berubah kabur sepersekian detik sehingga kehilangan keseimbangan namun ia buru – buru menggunakan Mandalika untuk menjadi alat bantu topang, darah segar mengalir deras melalui kedua lubang hidungnya. Arya menatap cairan merah kental itu lalu tersenyum pahit.
“Teknik pedang yang luar biasa....”
“Kau jahat sekali Onii-chan....huh....”
Xavier serta Reiko muncul lagi sambil berkomentar santai seperti kejadian sebelumnya bukanlah apa – apa. Sosok dua orang itu nampak kembali usai menembus kepulan debu, tangan keduanya mengalami luka parah layaknya telah melewati mesin penggiling daging.
Arya berdecak tidak percaya, tujuan gerakan Dance of Seven Seas adalah memberikan luka fatal kepada satu titik vital dengan tujuh tebasan. Ia yakin mengincar jantung masing – masing, tetapi insting monster membuat mereka bertahan meskipun tak mampu mengikuti kecepatan Arya.
“Sudah kubilang apa kau yakin menghilangkan tahap Mastermu merupakan pilihan tepat?” celetuk Arya mengelap bekas mimisannya.
“Hehehe menarik, mari kita adu kekuatannya....”
“Kau benar – benar suka menggali kuburan sendiri ya?” Xavier menggeleng – geleng keheranan, cedera peda lengannya menghilang tanpa bekas usai kulitnya saling mengikat satu sama lain dalam sekejap mata.
-------><------
PRANG...!!!
“Akh...!?”
Arya meringis sembari bertekuk lutut walau sekitar badanya terlapisi aura es yang membentuk semacam makhluk raksasa, di hadapannya berdiri dua orang dengan kondisi serupa. Xavier bahkan hanya melipat tangan santai dan membiarkan Reiko mengurus hampir semuanya.
Arya memukul tanah demi membuat rentetan bongkahan es berujung runcing yang mengincar tempat para lawannya berdiri, namun Reiko cuma terkikik geli dan menciptakan serangan mirip berbekal kristal merah muda miliknya. Saat bertemu, kemampuan Arya hancur berkeping – keping dan malah mengakibatkan keadannya semakin terdesak.
“Sampai kapan baru kau mengerti Onii-chan? Kristal jauh lebih keras dari es....” kata Reiko menyeringai.
“Jadi....maksudmu usahaku sia – sia hah?”
__ADS_1
“Begitulah kenyatannya....”
“Hei menyerahlah bocah keras kepala, melawan satu saja kau kewalahan apalagi dua? Kau sungguh berpikir masih ada harapan menang? Ini bukan dunia dongeng....” Xavier berujar sinis.
“Mungkin kau benar, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Efbi? Lord....”
BUMMM....!!!
Energi menakjubkan segera mengelilingi badan Arya sekaligus menghancurkan kristal – kristal Reiko usai dirinya mengaktifkan tahap Lord, perlahan wujud besar Efbi muncul di belakang tuannya disertai lolongan menyeramkan.
“Ahahaha....bagus! Inilah mengapa aku menyukaimu Onii-chan!!!”
SYUU....!!!
Sewaktu Reiko masih bicara Arya juga Efbi melepaskan serangan gabungan sehingga membentuk ikan hiu putih yang terbuat dari salju teramat dingin, gadis tersebut mencoba menahannya namun tetap tertimbun lalu terseret entah kemana.
“Ckk....pikiranmu dangkal ya?” komentar Xavier setelah sukses menghindar.
“Kau berikutnya....”
“Ohhh....bukankah kau barusan terdengar agak sedikit congkak wahai Elementalist Es...”
“Tutup mulutmu, Horizon—“
“Trik sama tak akan berhasil dua kali, kemarilah Viento. Lord....”
Kejadian berikutnya terjadi sangat cepat, muncul seekor burung elang berbulu layaknya angin badai mendarat di pundak Xavier. Satu detik berselang tornado menyelimuti mereka hingga memaksa Arya dan Efbi terdorong mundur, ketika muncul kembali wujud keduanya berubah total.
“Mustahil—“
“Jangan kira hanya kau yang bisa melakukannya, hei perempuan psikopat? Mundur! Sekarang giliranku....”
“Omong kosong!”
BLARR...!!!
Reiko keluar dari dalam timbunan salju sembari menunggangi merak merah muda dengan ekor indah bak permata, matanya menyala penuh antusias. Sementara Xavier memijat – mijat kepalanya lelah tau perdebatan itu tak akan cepat selesai.
“Phyrope? LORD....!” teriak Reiko semangat.
BRUAKHHH....!!!
------><------
“Aku harus akui tekadmu sangat luar biasa....”
__ADS_1
Xavier berjongkok sembari menjambak rambut Arya yang tengah terkapar dipenuhi luka, area sekitar mereka hancur total menandakan betapa dahsyatnya pertarungan antar tiga Elementalist ini. Tidak jauh dari sana Reiko tengah mencolek – colek badan tergolek lemah Efbi, bulu putihnya berubah merah akibat darah.
“Hei....bangun, hibur aku lagi Tuan Serigala....” Reiko cemberut nampak sedikit kecewa.
“Dia belum puas? Adikmu memang sinting....”
“Ia....bu...kan adikku—“
BRUAKH!
“Arghhh...!!!”
“Ucapanmu sedikit keterlaluan, jangan sampai dia mendengarnya....” ujar Xavier usai menginjak kepala Arya sampai menempel ke tanah.
Arya menggertakan giginya terus berusaha bangkit dan memaksa Xavier mengangkat pijakannya, dia mencoba sekuat tenaga meskipun harus menghancurkan setiap tulangnya. Semisal jika memang akan mati di sini, Arya ingin mengulur waktu setidaknya sampai persiapan Ryan selesai.
“Oi....kau masih mau bertarung dengan Elemental Beast sekarat?”
Pertanyaan barusan mengakibatkan Arya berhenti sesaat, ia menoleh tuk melihat Efbi. Perasaanya langsung campur aduk, tanpa menunggu lama Arya memanggil nama serigala itu. Sosok Efbi perlahan menjadi cahaya dan kembali pada Arya dalam bentuk gelang seperti biasa.
“Istirahatlah kawan kecil....” bisiknya mengusap lembut benda tadi.
Setelah mengamankan salah satu atributnya Arya menggapai pergelangan kaki Xavier lalu melemparkannya jauh – jauh berbekal sisa tenaganya, laki – laki berpakaian serba hijau tersebut mendarat ringan seolah tak terikat hukum gravitasi.
“Apalagi kali ini?”
“Hah...hah....hah....”
Arya terduduk sembari berusaha mengatur napasnya, kecepatan regenerasinya menurun drastis akibat pertarungan tiada henti. Hanya tinggal satu cara terakhir, ketika tahap Master serta Lord berhasil dilumpuhkan maka tiba waktunya.
BUMM....!!!
“Bagaimana menurutmu?” Arya mendongak menatap naga biru yang baru saja mendarat.
‘Kau masih bertanya? Mari kita lakukan....’
“Tingkat Kekuatan Tahap Ketiga....Dragon!”
Xavier cepat – cepat mundur sebisanya saat aura kuat menyelubungi Arya bersama Safira, Agnet dalam jumlah besar terhisap menuju mereka layaknya lubang hitam. Begitu proses transformasi selesai, seekor kadal raksasa berzirah balik menatapnya ganas.
ROAAARR.....!!!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1