Elementalist

Elementalist
Chapter 297 - Stranger Things


__ADS_3

“Mmm....baiklah, aku kurang lebih mengerti”


“Sungguh?” Arya balik bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


Orang tua nyentrik itu mengangguk santai masih dalam posisi berbaring dan mengeluarkan kotoran dari lubang hidungnya, seolah pembahasan rumit barusan bukanlah apa – apa. Arya masih menatapnya penuh keraguan, berpikir keras apakah memberitahu semua hal tadi kepadanya adalah pilihan tepat.


Beberapa menit sebelumnya dia merasa harus menjawab pertanyaan pria tersebut karena berada dalam tekanan luar biasa, Arya dapat mengetahui kalau kata – katanya bukalah omong kosong. Si pak tua mampu membunuhnya kapan saja tanpa bersusah payah. Jadi akhirnya ia memutuskan menjelaskan tentang situasi tempat asalnya sekaligus gerbang dimensi.


Anehnya dia terlihat tak terlalu terkejut bahkan cenderung santai seperti hal yang baru didengar dari Arya merupakan sebuah kejadian biasa atau lumrah. Perlahan tapi pasti perasaaan terancam Arya mulai menghilang apalagi saat pria itu sudah berbaring.


“Intinya kau ingin pergi ke tempat di mana musuh – musuhmu tidak dapat mengejar kalian bukan? Bukankah ceritamu sederhana sekali tuk dicerna?”


“Eh....iya sih, namun apakah perjalanan begitu wajar di sini?”


“Tentu tidak, mana ada hal konyol seperti itu....hoam” orang tadi menguap malas.


“Lalu mengapa kau bisa percaya dengan mudah? Bisa saja aku mengada – ada”


“Hah? Mustahil....kau tak berada dalam posisi dapat berbohong, lagi pula ekspresimu mudah sekali dibaca. Wajah polos layaknya anak bau kencur mau menipuku? Terlalu cepat seratus tahun hahaha”


“Oh....senang mendengarnya, hei tunggu!? Giliranmu untuk menjelaskan semuanya pak tua!?” kata Arya dengan urat pelipisi berdenyut kesal sebelum berteriak sebab laki – laki tersebut hendak pergi.


“Haruskah?”


“Ugh....setan bau tanah ini....”


Masih nampak enggan dia kembali duduk pada posisi terakhir kemudian mengelus – elus janggutnya seolah mencari kata – kata paling tepat menerangkan segalanya. Akhirnya setelah cukup lama ia memberitahu kalau lokasi Arya sekarang sudah bukan beda dimensi lagi melainkan realitas.


Realitas terdiri atas dimensi yang tidak terhitung jumlahnya, sebagai contoh katakan Elemental City sekaligus tempat asal Arya dan kawan – kawan adalah dimensi utama realitas mereka. Maka itu akan menjadi satu kesatuan realitas dengan dimensi Dragon Island yang juga berada dalam satu realitas serupa.


“Dari mana kau mendapatkan informasi barusan? Bukannya kau bilang perpindahan dimensi di sini bukan hal lumrah?”


“Aku mendengar, berpikir, dan belajar. Kau tau....dongeng, mitos, cerita rakyat. Berdasarkan keteranganmu sebelumnya kemungkinan besar teman – temanmu selamat ke masing – masing dimensi berbeda dalam realitasmu. Sedangkan kau menyasar kemari” orang itu menunjuk Arya tepat di hidung.


“Bagaimana bisa?”


“Entahlah, aku punya beberapa spekulasi mengenai tangan hitam itu namun aku tidak punya keinginan memberitahumu....”


“Ugh....terus? Memangnya apa perbedaan dimensi dan realitas?”


Sekilas Arya berani bersumpah melihat senyum tipis dibalik janggut setan tua tersebut, ia bangkit dan mendekati Arya hingga wajah keduanya cuma terpisah pelindung tipis buatannya. Pupil putih misterius di hadapannya seolah menerawang ke bagian terdalam tubuhnya.


“Di setiap dimensi hanya tinggal penghuninya masing - masing, sedangkan di realitas....kau mempunyai kemungkinan bertemu dirimu sendiri tetapi dengan penampilan, kemampuan, nama, sifat, bahkan nasib yang berbeda”


><


“Hei!? Mau kemana kau!?”

__ADS_1


“Tidur....”


“Tunggu dulu!”


“Ada apa lagi? Kau pikir aku tidak bosan menunggu orang siuman selama seminggu? Aku juga butuh istirahat nak”


“Katakan bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini dan beraktivitas sepertimu” seru Arya menunjuk area sekitarnya.


Si pak tua menghela napas lelah sebelum mengepalkan tangan, Agnet berjumlah luar biasa segera berkumpul sampai menyebabkan udara sekeliling lengannya ikut bergetar. Itu pertama kalinya Arya melihat seseorang mampu mengeluarkan Agnet sedahsyat tadi.


“Kau bisa melihatnya bukan?”


“I...ya?”


“Berarti kau kurang lebih dapat menggunakannya, lapisi seluruh tubuh dengannya mengerti? Oh iya karena kau belum bisa makan dan minum aku ambil lagi ya” dia bergerak cepat memungut kembali buah – buah serta guci air kemudian bergegas pergi.


“Hei!?”


Arya berdecak kesal namun tidak ada pilihan, usai menerima pesan tadi ia mulai mengobservasi tempat tersebut. Awalnya hanya nampak layaknya hutan biasa, tapi saat Arya mulai memfokuskan matanya aliran Agnet luar biasa berseliweran tak beraturan di udara seolah arus laut dalam.



KRAUK!


“Sekarang kau mengerti nak? Seluruh makhluk hidup di realitas ini hidup pada aliran energi melimpah ruah. Orang luar sepertimu yang tak terbiasa akan terkikis hingga habis jika lamban beradaptasi” celetuk sang pria tua sambil memakan buah dengan lahap.


><


Setelah entah berapa kali percobaan hari mulai gelap, untungnya ada beberapa serangga mirip kunang – kunang mengeluarkan cahaya lembut dan berperan sebagai penerang baginya. Kondisi kepayahan tanpa makan seminggu ditambah dorongan menggunakan Agnet tanpa henti menyebabkan Arya hampir mati kehabisan stamina.


“Oh? Hanya dalam satu hari....dia sudah bisa mempertahankan keadaan itu sembari tertidur? Ternyata memang berbakat ya? Nampaknya benar kau orang yang aku tunggu selama ini” komentar pria tua tersebut besoknya ketika datang menjenguk.


TUK! TUK! TUK!


“Aduh!”


“Bangun tukang tidur, kau sepertinya telah berlatih keras. Ayo ikuti aku, kau lapar bukan?”


Sambil mengusap jidatnya yang merah akibat sodokan tongkat laki – laki bau tanah itu Arya berjalan, ingin sekali rasanya meringis namun tidak mampu karena kehabisan bahan bakar. Mampu berjalan tanpa melepuh saja dia sudah bersyukur.


“Makanlah, aku sudah petikkan untukmu yang baru....”



Mata Arya berbinar – binar menyaksikan pemandangan tumpukan buah berbagai warna, dengan bibir basah akibat air liur ia mengambil buah paling atas kemudian membuka mulut lebar – lebar selesai mengucapkan selamat makan.


TANG!

__ADS_1


“Saaaakiiiittt!” jeritnya tak berselang lama.


“Hah? Kau kenapa?”


“Kenapa gundulmu!? Siapa orang abnormal yang memakan baja begini!?”


“Hei!? Jangan buang – buang makanan, anak zaman sekarang tidak pernah tau namanya bersyukur” si pria menangkap lemparan Arya kesal.


KRAUK! KRAUK!


Arya cuma bisa melongo menyaksikan orang tersebut mengunyah santai buah yang dia anggap sebagai bola olahraga tolak peluru barusan. Ia mulai memijat – mijat dahinya diiringi suara kunyahan teramat menyebalkan.


“Pertama bernapas, selanjutnya berjalan, sekarang makanpun kau kesulitan? Dasar payah....”


“Berisik!”


“Yaa aku kan tidak tau kau bakal sulit menggigit buah – buahan di sini, sudah minum air saja kalau begitu”


Sembari memasang wajah merengut Arya menggapai guci air dan segera menegaknya, bola matanya melebar saat merasakan air itu terasa dingin serta agak manis. Saking menyegarkannya ia merasa energinya pulih secara perlahan tapi pasti.


“Kenapa kau ambil yang itu? Tempat air minum di sebelahnya”


GLEK....GLEK....GLEK!


“Isi guci di tanganmu mah keringatku”


“Uhuk!? Oekk....!?”


“Pfftt....!? Huahahaha bercanda! Polos sekali shishishi.....” gelak pak tua tersebut puas.


‘Keparat ini....!?’


“Hmm...ada apa lagi? Kau terlihat seperti orang yang baru kehilangan kantung uang”


“Aku....tidak dapat menggunakan kekuatan es milikku” Arya berkata pelan usai terdiam cukup lama menatap telapak tangannya.


Author Note :


Selama Hari Rayal Idul Fitri 1443 Hijriyah, Mohon maaf lahir dan batin


TROIE kapan lanjut thor? Sabar ye masih ngurus persiapan wisuda



Art by : N-Maulina


n-maulina.deviantart.com

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2