
Tanpa Arya sadari ternyata Ujian Elementalist tahap kedua sudah didepan mata, suatu hari saat mereka semua sedang berkumpul di kantin. Seorang anak kecil datang kepada mereka untuk menyampaikan pengumuman dari para Pengawas Ujian, anak itu berkata para Elementalist diperintahkah untuk berkumpul pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan.
Jadi itulah sebabnya saat ini mereka sedang duduk berpasang-pasangan disebuah ruang kelas sambil menunggu para Pengawas Ujian, seperti sudah terbiasa dan tidak perlu diperintahkan lagi Arya dan Asuna duduk bersama pada kursi disalah satu meja. Walaupun beberapa menit sebelumnya terjadi sedikit ketegangan antara Asuna dan Elizabeth yang mempersalahkan posisi tempat duduk mereka, setelah Arya turun tangan barulah pada akhirnya Elizabeth mengalah dan segera duduk disebelah Zayn yang berada dipojok ruangan tersebut.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Pengawas Astral yang dengan sebuah gerakan cekatan menutup pintu itu kembali, ia berjalan ke tengah ruangan dan menatap mereka dengan sebuah senyum kecil.
"Menurut saya kalian semua pasti sudah tahu alasan kenapa kalian semua dikumpulkan disini"
Mereka menjawab dengan serempak sambil mengangguk dengan semangat, jujur saja mereka semua sudah tidak sabar untuk melaksanakan Ujian tahap kedua ini. Wajar saja bukan jika mereka sudah tidak sabar?, berlibur itu memang menyenangkan tetapi jika terlalu lama badan akan terasa gatal karena tidak pernah digerakkan. Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi mereka saat ini.
"Bagus kalau begitu, tetapi sebelum saya menjelaskan seperti apa Ujian Elementalist tahap kedua saya akan mengumumkan sedikit perubahan" ucap Astral sambil mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam saku jasnya.
"Pengumuman apa? Apa kau tahu sesuatu?" bisik Asuna pada Arya.
"Tidak, dia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu?, kau ini kan Ketua dari para Elementalist" kata Asuna dengan ekspresi tidak percaya.
"Berisik, mana aku tahu. Apa kau berharap aku akan tahu segala sesuatu yang akan terjadi? Aku ini juga belum lulus menjadi Elementalist sepertimu, posisi kita sama disini" balas Arya kesal.
"Pengumumannya adalah perubahan rekan satu tim" kata Astral membaca gulungan yang ada ditangannya.
"Eh?!!!!"
Terdengar nada heran yang sama dari semua pasangan Elemetalist yang ada di ruangan tersebut, mungkinkah mereka salah dengar. Itulah yang dipikirkan oleh Arya pada awalnya.
"Tunggu sebentar Pengawas, tapi apa alasan rekan kami harus diubah?" tanya Timothy bingung.
"Pertanyaan yang bagus Tuan Timothy, alasannya adalah pada pertempuran yang sebenarnya kalian tidak dapat memilih siapa rekan kalian nantinya. Jadi kami para Pengawas Ujian memutuskan akan terus merubah rekan kalian pada tiap tahap-tahap Ujian Elementalist berikutnya, agar kalian semua bisa bekerja sama dengan baik"
Arya mengerti sekarang, intinya adalah para Pengawas Ujian berharap mereka bisa bekerja sama dengan semua rekan yang ada. Bukan bergantung kepada hanya satu rekan saja.
"Tapi Pengawas, kami bahkan baru bisa bekerja sama" protes Asuna sambil mengangkat tangan.
"Aku tidak keberatan, aku yakin bisa bekerja sama dengan yang lainnya. Malahan mungkin bisa lebih baik dari bekerja sama dengan Asuna" kata Arya.
"Apa katamu?! Hey Arya, kau ingin berkelahi ya?" tanya Asuna sambil memegang kerah baju Arya.
"Tenang saja, pasangan kalian pada Ujian tahap pertama ini adalah tim inti kalian. Jadi jika sudah saatnya kalian menjalankan misi, rekan kalian akan tetap sama seperti saat ini" jelas Astral.
"Ahh tidak seru" keluh Arya.
"Kau benar-benar ingin mati ya!?" bentak Asuna.
"Baiklah sekalian saja saya akan menjelaskan bagaimana Ujian Elementalist tahap kedua, ujian ini sederhana. Kalian hanya perlu membuat Elemental Weapon kalian sendiri dalam waktu yang sudah ditentukan, pada tahap ini tidak akan ada pemenang karena ini bukanlah kompetisi seperti tahap pertama. Tetapi yakinlah akan ada hukuman yang berat bagi tim yang paling akhir"
"Apa itu Elemental Weapon?" tanya Elizabeth bingung.
"Elemental Weapon adalah senjata pribadi milik seorang Elementalist yang dimana senjata itu hanya akan bisa digunakan oleh tuannya saja, senjata itu juga bisa menyalurkan kemampuan elemen pemiliknya sehingga kemampuan mereka bisa maksimal. Elemental Weapon ini adalah salah satu atribut yang dibutuhkan untuk menjadi Elementalist sempurna" jawab Arya cepat.
"Tepat sekali" sahut Astral senang karena ia tidak perlu menjelaskan hal itu lagi.
"Kak Arya memang pintar" puji Elizabeth dengan terkagum-kagum.
"Ternyata bersarang di Perpustakaan itu ada gunanya" celetuk Timothy.
"Pengawas bukankah membuat Elemental Weapon itu membutuhkan bahan-bahan khusus?" tanya Kevin.
"Benar, itulah tugas kalian kali ini. Kalian harus mencari bahan yang tepat untuk Elemental Weapon kalian dan membuat Elemental Weapon kalian sendiri dalam waktu yang sudah ditentukan"
Itu akan sulit, bahan untuk membuat Elemental Weapon bukanlah bahan sembarangan. Bahan itu harus sesuai dengan kemampuan elemen mereka masing-masing, Arya sendiri belum tahu harus mencari bahan-bahan itu dimana.
"Hanya bahan utama saja bukan?" ujar Zayn pelan.
"Yap, hanya bahan utamanya saja. Baiklah kita lanjut ke pembagian tim, tim pertama. Arya Frost dan Rena Green"
Mendengar itu Arya langsung melemparkan pandangannya pada Rena, Rena balas menatapnya dengan senyum malu. Arya bersyukur dia bisa berpasangan dengan Rena, mereka memang tidak terlalu dekat. Tapi yang jelas Rena mungkin adalah Elementalist perempuan yang paling mudah untuk diatur dari pada Elementalist perempuan lainnya, dan mungkin saja dengan Ujian tahap kedua ini mereka berdua bisa lebih dekat.
"Tim kedua, Zayn Black dan Selena Wave. Tim ketiga, Timothy Iron dan Elizabeth Light (Hah? Kenapa aku harus satu tim dengan si bebal ini). Tim keempat, Ali Sand dan Lexa Brown. Dan tim terakhir adalah......"
"Eh? Jangan-jangan...." ujar Arya pelan.
"Kevin Storm dan Asuna Blaze"
"EHH??!!!!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Hey Kapten apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?" tanya Timothy pada Arya.
Saat itu mereka berdua sedang berjalan menuju Perpustakaan, semuanya sedang berkumpul disana untuk mencari tahu bahan apa yang akan mereka cari untuk Ujian Elementalist tahap kedua. Arya dan Rena sudah berjanji akan bertemu disana untuk membicarakan rencana mereka menghadapi ujian tersebut.
"Aku juga tidak tahu, kita hanya bisa berharap" jawab Arya pelan.
Sebenarnya Arya sendiri tidak tahu harus berkomentar seperti apa tentang tim Kevin dan Asuna, setelah insiden yang terjadi pada Ujian Elementalist tahap pertama mereka berdua bersikap biasa-biasa saja. Tapi Arya tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka berdua akan bekerja sama.
"Aku tidak bisa membayangkan dua orang keras kepala itu akan bekerja sama untuk menjalankan misi" gumam Timothy.
"Kita hanya bisa mendoakan mereka, ini juga salah satu ujian bagi mereka. Apakah mereka bisa bekerja sama atau tidak"
__ADS_1
Baru saja Arya mengatakan hal tersebut, mereka berpapasan dengan Asuna dan Kevin saat Arya berusaha untuk membuka pintu Perpustakaan.
"Eh? Kalian mau kemana?" tanya Arya.
"Tentu saja pergi untuk membicarakan bagaimana cara untuk menjalankan Ujian" jawab Asuna ketus.
"Jadi kalian sudah tahu bahan yang akan kalian cari?" tanya Timothy dengan semangat.
"Untuk apa kau mempertanyakan hal yang sudah jelas begitu? Dasar! Ayo kita pergi, bukankah kau itu Elementalist petir? Bisakah kau bergerak lebih cepat?!" ujar Asuna sambil berjalan menjauh.
"Berisik, sebagai Elementalist api bisakah kau tidak membakar amarah orang lain?" balas Kevin.
"Kevin?!" panggil Arya.
Kevin menghentikan langkahnya dan menoleh pada Arya dengan tatapan bertanya.
"Tolong jaga Asuna" kata Arya sambil tersenyum
"Tentu, aku juga. Titip Rena padamu ya Kapten" jawab Kevin sambil tersenyum dan segera berballik menyusul Asuna.
"Awal yang tidak terlalu buruk" gumam Timothy.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Rena sudah menunggu Arya disalah satu meja yang sudah disediakan di Perpustakaan, ia segera menghampirinya dan duduk disebelah Rena.
"Maaf, apa kau sudah lama menunggu?" tanya Arya.
"B..be...belum kok hehehe aku juga baru sampai Kapten Arya" jawab Rena dengan sedikit malu.
"Jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu, aku jadi terlihat seperti bos yang memaksakan kehendak pada anak buahnya, cukup panggil Arya saja. Oke?"
"Ta..tapi kan seharusnya....."
"Tidak apa-apa, eh maaf. Apa aku terlalu dekat?" kata Arya sambil berusaha sedikit menjauh dari Rena.
"Tidak apa-apa kok" jawab Rena akhirnya dengan suara lantang setelah Arya menjauh.
Rena memang tipe perempuan yang pemalu, Arya ingin membantunya agar ia merasa nyaman didekat laki-laki. Tapi jujur saja ia sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk membantu Rena.
"Baiklah mari kita mulai dengan bahan seperti apa yang akan kau cari Rena? Sebelum itu kalau boleh aku tahu kau menggunakan senjata jenis apa?" tanya Arya.
"Aku tidak terlalu pandai untuk berkelahi, aku hanya menggunakan sebuah tongkat sebagai senjata" jawab Rena pelan.
"Hahaha sangat menggambarkan kepribadianmu ya"
"Eh? Maksudnya?"
"Mmm Arya? Apa tidak apa-apa untuk mencari bahanku terlebih dahulu? Bagaimana dengan bahan yang kau cari?" tanya Rena sambil berusaha membantu Arya mengambil beberapa buku.
"Aku? Kau tidak perlu mencemaskanku, karena aku sudah tahu bahan apa yang akan aku cari" jawab Arya tenang.
"Sungguh? Hebat sekali"
"Tidak sehebat itu kok, baiklah sepertinya kayu dari pohon Eden dan Yggdrasil itu terlalu sulit untuk didapatkan. Aku tidak yakin bisa menemukannya, bagaimana kalau kita mencari dari buku-buku yang sudah aku pilih. Aku yakin kita bisa menemukan bahan yang bagus"
Mereka berdua pun mulai mencari dari beberapa buku yang sudah dipilih Arya, namun setelah setengah jam mencari hasilnya tetap nihil.
"Aduh...sulit sekali mencari pohon yang tepat, menurutku kayu dari pohon-pohon ini tidak cocok dijadikan sebagai bahan Elemental Weapon" ucap Arya kesal.
"Aku setuju, kayu-kayu ini memiliki terlalu banyak kekurangan" tanggap Rena.
"Aku tahu!" kata Arya tiba-tiba berdiri setelah terdiam beberapa saat.
Dia langsung berlari menuju salah satu rak, dan mengambil sebuah buku yang berjudul Asal-usul Ras yang Ada di Dunia, ia membuka-buka halaman buku yang sudah beberapa kali ia baca itu. Saat menemukan apa yang ia cari, dia segera membawa buku itu pada Rena. Rena sedikit terkejut karena antusiasme dari Arya.
"Sebelumnya aku bilang kalau Eden dan Yggdrasil akan menghasilkan kayu yang tepat untuk menjadi bahan Elemental Weapon bukan? Tapi karena kedua pohon tersebut sangat sulit untuk didapatkan kita tidak bisa mencarinya" jelas Arya.
Rena mengangguk sambil mendengarkan dengan serius.
"Karena hal itu bagaimana kalau kita mengambil potongan kecil dari Yggdrasil" kata Arya sambil tersenyum bersemangat.
"Caranya?" tanya Rena masih berusaha mencerna apa yang ingin disampaikan Arya.
"Yggdrasil adalah pohon dunia, yang pada tiap bagiannya terdapat sebuah dunia. Salah satunya adalah Alfheim, tempat dimana para Elf berasal"
Bola mata Rena pun melebar, menandakan bahwa dia mulai mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Arya.
"Dan saat para Elf tiba di dunia ini, aku yakin terdapat potongan kecil dari Yggdrasil yang berada disini" ujar Arya sambil menunjuk buku yang ia bawa.
"Jadi maksudmu......"
"Yap, kita akan menuju Fairy Forest. Hutan yang menjadi wilayah kekuasaan para Elf" bisik Arya tanpa bisa menghilangkan senyuman dari wajahnya.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Sebelum para Elementalist berangkat untuk menjalankan Ujian Elementalist tahap kedua ini mereka diminta untuk melaporkan kepada para Pengawas Ujian tentang bahan seperti apa yang akan mereka cari, dan setelah Pengawas Ujian menyetujui bahan yang mereka inginkan barulah mereka akan berangkat untuk melaksanakan ujian.
Tapi disitulah letak masalahnya, Arya tidak yakin para Pengawas Ujian akan memberinya izin untuk masuk ke wilayah para Elf dan entah bagaimana caranya bisa mendapatkan kayu dari potongan Yggdrasil. Dia dan Rena sudah mendiskusikan cara yang tepat untuk meminta izin tapi menurutnya semua alasan yang mereka buat itu tidak terlalu mendukung.
__ADS_1
Dan disinilah mereka berada saat ini, tepat didepan pintu ruang konsultasi. Dua hari sebelum keberangkatan, kalau para Pengawas Ujian tidak mengizinkannya hal itu bisa sangat menghambat dan menguras waktu mereka. Sudah tidak ada jalan kembali lagi, Arya menarik nafas panjang dan menggapai gagang pintu ruangan tersebut.
Astral telah menunggu mereka di ruangan itu, ia mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk dihadapannya. Lalu Astral meminta mereka untuk menyampaikan bahan apa yang akan mereka cari, Arya pun menjelaskan rencananya bersama Rena untuk masuk kewilayah Elf dan tanpa diduga Astral terlihat tidak terkejut sedikit pun.
"Saya tidak menyangka akan secepat ini, tapi sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk memberitahukannya kepada kalian. Terutama kepada anda Tuan Arya, karena anda adalah Ketua dari Elementalist generasi saat ini" kata Astral akhirnya dengan nada serius.
"Apa maksudmu?" tanya Arya.
"Sebenarnya saat ini terdapat dua organisasi yang memperebutkan pengaruh mereka di dunia ini. Kedua organisasi ini bernama Fatum dan Pax, dua organisasi ini memiliki anggota dari semua ras yang ada di dunia saat ini. Kedua organisasi ini memiliki tujuan yang berseberangan, dimana Fatum bertujuan untuk membuat dunia ini berjalan semestinya. Sesuai takdir, dimana yang kuat akan memerintah yang lemah, sedangkan Pax bertujuan untuk mewujudkan dunia ideal dimana terjadinya kesetaraan dan kerja sama antara semua ras yang ada"
"Tu...tunggu sebentar Pengawas Astral, izinkan aku berpikir sejenak" kata Arya memotong penjelasan Astral.
Dia tidak menyangka akan menerima materi seberat itu sebelum mereka berangkat menjalankan Ujian tahap kedua, dia menoleh kepada Rena yang juga terlihat kewalahan dengan kenyataan yang baru saja diterimanya.
"Mungkin akan saya buat lebih sederhana, intinya adalah kami para Pengawas Ujian adalah anggota dari organisasi Pax. Kami punya tujuan untuk membuat perdamaian antara semua ras yang ada, dan kami bertugas untuk meyiapkan kalian para Elementalist. Sebagai pembawa perdamaian, kalian adalah kartu As bagi organisasi ini"
"Lalu apakah kau bisa lebih menyederhanakan tujuan dari organasi Facum?" tanya Arya.
"Yang benar Fatum Tuan Arya, bukan Facum. Tujuan mereka adalah untuk melegalkan perbudakan dan memicu peperangan besar antar ras, karena menurut mereka itulah takdir dunia yang sebenarnya" jelas Astral.
"Itu terdengar tidak bagus untukku" celetuk Rena pelan.
"Jadi karena kalian ingin pergi menuju Fairy Forest, saya ingin memberikan kalian sebuah misi"
"Misi?" ulang Arya.
"Benar, sebenarnya pengaruh dari organisasi Fatum sudah sangat besar pada semua ras. Saat ini rekan-rekan kami dari ras lainnya sedang terpojok karena semakin banyaknya pendukung dari organisasi Fatum, bisa dibilang 80 persen dari semua ras yang ada mendukung organisasi itu"
"Itu bukanlah angka yang kecil" komentar Arya sambil mendesis.
"Misi yang akan saya berikan kepada kalian adalah, saya ingin kalian membentuk sebuah aliansi dengan para Elf" kata Astral tegas.
"Apa?!" teriak Arya.
"Aliansi?" ulang Rena.
"Saat ini para Elf yang bergabung dengan organisasi Pax semakin terdesak, hal ini disebabkan oleh pengaruh organisasi Fatum yang sangat besar disana. Banyak dari mereka yang merindukan kejayaan Elf dimasa lalu dan ingin mewujudkan hal itu sekali lagi tetapi, Elf adalah ras yang bersifat otoriter. Mereka sangat menjunjung tinggi keputusan dari Ratu mereka, jadi........"
"Jika kita berhasil membuat Ratu mereka ingin bekerja sama maka........" potong Arya.
"Akan terbentuk aliansi antara Elf dan Manusia" tambah Rena.
"Benar sekali, bayangkan jika kita bisa bekerja sama dengan mereka. Kita pasti bisa mewujudkan impian kita, dimana ras Manusia tidak perlu sembunyi lagi " ucap Astral sambil tersenyum.
"Berarti dengan memberikan misi ini, kau menyetujui dan mengizinkan kami untuk mencari bahan ke wilayah kekuasaan para Elf?" kata Arya memastikan.
Astral pun mengangguk, Arya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia segera berteriak dan memeluk Rena yang berada disamping, ia tidak peduli dengan bagaimana cara mereka akan membuat aliansi dengan Elf. Yang jelas saat ini ia sangat senang karena mereka sudah diizinkan untuk pergi kesana.
"Tapi saya harap kalian mengingat ini, utamakanlah Ujian kalian. Misi ini adalah tugas tambahan, jadi jika kalian tidak berhasil sekalipun itu bukanlah masalah. Saya berani menjamin keselamatan kalian, para Elf anggota dari Pax akan menemani kalian saat berada disana"
"Dengan begitu kita bisa memasuki wilayah Elf dengan lebih mudah" ucap Arya sambil melepaskan pelukan dari Rena yang terlihat akan pingsan jika Arya tidak melepaskan pelukannya.
"Saya mohon saat berada disana utamakan keselamatan kalian, dan juga tolong rahasiakan identitas kalian saat berada disana serta rahasiakan misi ini dari para Elementalist lainnya"
Arya serta Rena menyanggupi permintaan Astral tersebut. Lalu setelah itu mereka berpamitan kepada Astral, tapi Arya ditahan sebentar sehingga Rena lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.
"Ada apa lagi Pengawas?" tanya Arya.
"Tuan Arya anda belum memberitahukan kepada saya bahan yang akan anda cari"
Mendengar hal itu Arya pun menunjuk ke arah atas lalu menunjuk lagi ke arah bawah, mata Astral terlihat melebar karena mengerti apa yang dimaksudkan oleh Arya.
"Aku akan membuat sebuah Elemental Weapon yang sangat hebat Pengawas" kata Arya sambil tersenyum dan melangkah keluar dari ruangan.
Setelah Arya pergi dari ruangan itu, Astral menghela nafas panjang.
"Apa kau yakin dengan keputusan ini Gio?" tanya Bianchi yang tiba-tiba muncul dari sudut ruangan.
"Tentu, ini sudah waktunya mereka menjadi jembatan penghubung bagi para ras"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Pada pagi hari keberangkatan, Arya sudah menunggu Rena didepan alat teleportasi. Arya sudah mengenakan perlengkapannya, ia juga membawa sebuah tas ransel yang barang-barang yang ia butuhkan. Beberapa menit kemudian Rena tiba dengan mengenakan perlengkapan miliknya, ia juga membawa sebuah tas. Lalu Arya memberikan sebuah jubah mantel berwarna seperti karung goni kepada Rena, setelah mereka berdua mengenakan jubah mantel tersebut. Mereka pun berteleport ke tempat tujuan.
Arya menghirup udara tempat itu, tempat itu tidak berubah sama sekali. Tempat yang sama saat dia dan Asuna menjalankan Ujian Elementalist tahap pertama, dia memasang tudung jubah miliknya dan bergegas berlari untuk menuju titik pertemuan mereka dengan para Elf dari Pax.
"Ayo Rena, kita harus cepat" panggil Arya.
"Baik" jawab Rena patuh.
Mereka menyusuri perbukitan tempat mereka sampai dan berjalan memasuki rindangnya pepohonan yang mengelilingi sebuah sungai yang menjadi pembatas antar wilayah Elf dengan wilayah Netral, setelah sekitar 20 menit mencari mereka akhirnya menemukan titik pertemuan mereka. Sebuah pohon Mistletoe yang memancarkan sebuah caya biru yang sangat indah, cahaya itu terlihat sangat jelas padahal saat itu matahari bersinar sangat terang.
Arya dengan cekatan menyelinap dan meloncat menyeberangi sungai tersebut, dan disusul dengan cepat oleh Rena. Arya menangkap Rena yang hendak terjatuh karena pijakannya yang kurang baik saat mendarat, mereka menghembuskan nafas lega. Lalu mereka berjalan semakin mendekat ke wilayah para Elf.
Arya menjulurkan tangannya, ia bisa merasakan sesuatu yang bertekstur seperti gelembung transparan berada dihadapannya, itu adalah sihir pembatas dari ras Elf. Dengan adanya sihir ini mereka bisa dengan mudah mendeteksi penyusup. Seluruh perbatasan wilayah mereka dilapisi oleh sihir tersebut, setiap wilayah kekuasaan mereka bertambah luas sihir ini juga ikut meluas.
"Kita sudah berada ditempat yang benar bukan?" tanya Rena terdengar ragu.
Arya mengangguk, satu hari sebelum keberangkatan. Tepatnya kemarin, Astral datang menemuinya dan memberinya sebuah perkamen yang berisi tentang koordinat titik pertemuan mereka dengan para Elf anggota dari Pax, perkamen itu juga berisi tentang janji mereka untuk menjemput Arya serta Rena. Dan disinilah mereka saat ini, tepat pada titik pertemuan.
__ADS_1
Arya lalu menoleh kepada Rena sambil menjulurkan tangannya, Rena meraih tangan itu lalu mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Mempersiapkan mental dan fisik mereka yang akan menerobos sihir Elf itu, lalu setelah Arya memberikan aba-aba mereka pun melangkah maju. Arya merasa gerakannya melambat, ia seperti berusaha memasuki sesuatu yang berlendir.
Ia terus menerobos sihir itu tanpa melepaskan genggaman tangan kanannya yang memegang Rena, tepat setelah dia dan Rena berhasil terlepas dari sensasi menerobos sesuatu yang berlendir. Tiba-tiba kepalanya berdengung, hal itu terjadi sangat cepat sehingga ia terjatuh dan kesadarannya pun mulai menghilang. Hal terakhir yang ia ingat sebelum pingsan adalah suara Rena yang terdengar khawatir memanggil-manggil namanya berulang kali dan juga suara langkah kaki yang semakin mendekat.