Elementalist

Elementalist
Chapter 299 - Harapan dan Impian


__ADS_3

Arya terduduk lesu seraya berusaha mengatur napasnya, banyak nampak luka cakaran maupun gigitan pada sekujur tubuhnya yang membuat dirinya bermandikan darah. Terutama di bagian telapak tangan sampai siku, saking banyaknya cairan merah itu bahkan menutupi keseluruhan kulitnya.


Ia telah berjuang kurang lebih tiga kali dua puluh empat jam sejak konspirasi konyol Nil, dan percayalah pengalaman tersebut adalah hal paling buruk dalam hidupnya hingga saat ini. Monster – monster kelinci itu merupakan mimpi buruk berjalan.


Setiap ekor memiliki kemampuan fisik abnormal, Arya terpental hampir sepuluh meter saat pertama kali menahan hantaman para mamalia tadi bahkan sempat kehilangan kesadaran selama sepersekian detik karenanya. Terus yang membuat semuanya jadi lebih runyam ternyata kawanan kelinci terkutuk barusan mampu menggunakan Agnet.


Tentu faktor ini mengakibatkan dampak teramat besar, selain kuat menyerang kemampuan bertahan mereka tak kalah solid. Bahkan menggores kulit kelinci saja dia kesulitan, hingga sampai pada suatu waktu Arya berhasil menumbangkan seekor dengan mematahkan lehernya lalu mengambil taring panjang milik binatang itu untuk digunakan sebagai senjata.


Setelah menewaskan cukup banyak ia mulai mempertimbangkan memakan daging mereka, walaupun awalnya agak menggelikan karena otot yang terlihat seperti tubuh binaragawan manusia. Semua terbayar karena rasa gurih daging bakar memenuhi lidahnya.


Kala dirinya mulai melihat cahaya harapan agar bisa melewati semua kesulitan tersebut, realitas brengsek ini seolah menertawakannya dengan memunculkan makhluk – makhluk terkutuk lain penghuni lembah. Ada rusa bertanduk luar biasa besar bertenaga listrik, sekumpulan bebek penghuni danau haus darah, dan bahkan gorila bermandikan magma.


“Tempat macam apa ini sebenarnya?!!!” Arya mengeluh lelah hampir menangis.


Arya perlahan memahami alasan para kelinci hanya mengawasi sebelumnya, mereka bukan penasaran kepada Nil melainkan takut. Merasakan hawa keberadaan predator yang sesungguhnya, bagaimanapun caranya kalau sampai selamat Arya bersumpah akan membalas si tua bangka sialan itu.


Nyatanya tempat mengerikan ini tidak hanya berbahaya hewan – hewannya saja, terdapat beberapa tanaman karnivora sesekali menangkap Arya kemudian menyeretnya menggunakan sulur – sulur merambat berjumlah ribuan. Lebih istemewanya, semua makhluk barusan dapat menggunakan Agnet semudah membuang ingus.


Puncaknya Arya tanpa sengaja berpapasan secara bergiliran dengan para raja atau empat “peliharaan” yang disebutkan oleh Nil. Kelinci, rusa, bebek, dan gorila tersebut sangat berbeda ketimbang lawan Arya selama berada di sana. Terlebih keempatnya nampak sudah hidup cukup lama akibat berbagai luka menghiasi tubuh masing – masing.


Begitulah ringkasan cerita mengapa sekarang ia terduduk lemah bersandar pada ujung jalan kosong menanti kedatangan keempat pencabut nyawa itu. Mata merah mereka menatapnya buas ditambah mulut berlumuran air liur.


ROAARRR....!!!


“Jadi....cuma sampai di sini ya? Hehehe....mati menjadi santapan binatang buas sungguh tak keren”


Arya mulai merasakan kantuk hebat dan enggan melawan keinginan memejam, hal terakhir yang terlihat melalui pandangannya adalah pemandangan menyeramkan keempat peliharaan Nil menerkam ke arahnya. Namun pada momen kritis tersebut gambaran satu per satu wajah temannya menunggu kepulangan dirinya atas janji mereka muncul seketika dan tanpa sadar membuatnya meneteskan air mata.


“ARGGGHHH....!!!” teriak Arya lalu memukul tanah di hadapannya sekeras mungkin.

__ADS_1


BRUAKKKK!!!


><


“Hemm....”


Nil bersenandung pelan sambil mengurus kebun sederhana miliknya, tiba – tiba suara desir angin disusul bunyi jatuh keras menarik perhatiannya. Terlebih tanah sekitar ikut bergetar karenanya, ketika berbalik Nil menemukan empat sosok setinggi sepuluh meter baru saja datang.


“Oh? Kali—“


BUMM....!!!


Nil melebarkan mata saat kepala berhiaskan tanduk besar sang rusa menghantam permukaan hutan akibat injakan kaki seseorang, Arya dengan penampilan compang – camping berdiri di sana menatapnya dalam – dalam. Ada aliran Agnet tipis berupa petir putih sekilas terpancar sekitar pupil birunya.


“Aku tidak punya waktu selama itu....teman – temanku sedang menungguku pulang”


“Hehehe dasar anak muda, tak pernah mau bersabar. Menaklukan serta meminta mereka mengantarmu kemari cuma dalam seminggu? Kemampuanmu boleh juga bocah tengik” Nil menyeringai puas.


><


“Kau pikir itu salah siapa? Aku hanya berusaha bertahan hidup, lagi pula jangan pura – pura bodoh kau pasti tau kemampuan berkembang biak “peliharaan” jelekmu sangat cepat”



Arya membalas ketus tanpa memperdulikan Nil yang tengah membawa tumpukan daging menggunakan gerobak sebelum memasukannya ke dalam beberapa karung. Walaupun memberi komentar jelas sekali dia cukup puas mendapat cukup banyak persediaan makanan gratis.


Sementara Arya masih merawat lukanya kemarin dengan muka cemberut, terlebih bajunya ikut rusak akibat koyak parah menghadapi pertempuran di lembah. Keempat hewan penguhuni tempat tersebut menjadi sangat takut kepadanya dan akhirnya kembali setelah diperintah oleh Nil.


“Ya sudahlah, kau beruntung aku sedang dalam suasana hati baik. Sekarang ambil pakaian dari gubuk milikku jika kau tak mau telanjang kemudian mendapat tatapan aneh orang – orang”

__ADS_1


“Kenapa? Cuma ada kau di sini pak tua” Arya balik bertanya.


“Tentu saja sebab dirimu akan ke kota, mau diapakan daging sebanyak ini? Jual sana sekalian agar kau mengetahui bagaimana keadaan pemukiman pada realitas tempatmu berada sekarang, oh iya asal sudah jangan lupa membawa beberapa koin dekat kotak alas tidurku. Siapa tau kau membutuhkannya”


Karena enggan berdebat akhirnya Arya melakukan perintah pria tua tersebut, mengambil segenggam penuh koin emas pada isi seseuatu yang terlihat seperti peti harta karun sebelum mengangkat tumpukan karung Nil.


Ia bergerak menuju utara sesuai perintah dan menemukan anak tangga teramat banyak untuk menuruni gunung, usai melewati entah berapa Arya mulai meyakini kalau bahkan gravitasi di tempat ini tidak normal disebabkan cepatnya tenaganya terkuras.


Dengan perjuangan luar biasa Arya pun tiba pada tengah hari padahal berangkat saat pagi – pagi buta, sesampainya dekat gerbang nampak sekumpulan penjaga bersenjatakan lengkap menunggunya. Mereka memeriksa barang bawaanya lalu membahas mengenai hal administrasi merepotkan.


“Kau kelihatan asing, dari mana kau berasal?”


“Aku jelaskan juga kalian mustahil mengerti. Segini cukup? Sekarang biarkan aku masuk dengan tenang” Arya melemparkan sebuah koin kepada orang terdekat.


“Inikan!? Hei kau tungg—“


“Hentikan!”


Sosok yang sepertinya adalah pemimpin di situ menghalangi anak buahnya untuk mencari tau lebih jauh, seketika ia mengeluarkan banyak keringat dingin saat melihat anak muda barusan melemparkan Supreme Gold. Mata uang tertinggi sekaligus hanya dimiliki oleh para keluarga kerajaan, bangsawan, dan orang – orang tertentu.


“Hampir saja kita berurusan dengan sosok berbahaya....” dia menelan ludah berat mengingat niat awal mereka tuk memalak.


Arya terus melanjutkan perjalanan tanpa adanya gangguan berarti, entah karena melamun atau tidak tau harus kemana dan hanya mengikuti arah kakinya melangkah ia malah mendatangi pusat kota lalu melihat Essence lain tetapi nampak lebih kecil dan lemah dari pada miliknya lembah di atas gunung.


“Hmm....beneran ada? Apa memang setiap sudut realitas ini mempunyai—“



Mulutnya gagal menyelesaikan kalimat ketika perlahan mengedarkan pandangan, matanya melebar penuh keterkejutan melihat para penduduk bukan hanya manusia saja. Semua ras terlihat tinggal berdampingan satu sama lain, saling tertawa serta bekerja sama, sebuah pemandangan impian yang ingin sekali dirinya wujudkan.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2