
Beberapa jam sebelumnya semua orang berkepentingan berkumpul di ruangan singgasana Atlantos termasuk para Elementalist karena alarm peringatan kota tiba – tiba berbunyi, mereka saling berpandangan bingung sebab tidak melihat tanda – tanda serangan Faksi Laut Werebeast.
Neptune mengelus janggutnya sembari berpikir, dia seperti melakukan semacam pertemuan khusus namun tak tau akar permasalahannya, sementara itu Kevin, Rena, Selena, dan Elizabeth juga demikian. Kepala empat remaja ini menoleh kesana kemari seakan tengah mencari seseorang.
“Dimana dia? Tidur siang lagi?” celetuk Selena dengan nada sedikit menyindir.
“Mustahil, suaranya terlalu besar. Aku yakin Kapten pasti terbangun, mungkin ia mengawal Putri Diondra juga Edlyn” Kevin mengutarakan pendapat.
“Mengapa perasaanku aneh ya....perhatian semu—“
Baru saja Neptune hendak membuka suara, terdengar keributan dari luar. Nampaknya penjaga – penjaga sedang menahan sesuatu hendak menerobos masuk ke dalam, Kevin berusaha memeriksa melalui jendela. Matanya perlahan melebar.
“Bukankah hiu mungil itu....”
“Ada masalah apa?”
“Yang Mulia, tolong izinkan pintunya dibuka. Sepertinya hal genting sudah terjadi”
Menyadari tatapan serius Kevin, Neptune memberi kode supaya prajurit – prajurit menuruti perintahnya. Selang beberapa menit sesosok makhluk berbadan kecil berenang gesit mengandalkan sirip – sirip pendeknya.
“Padukaaa.....!? Paduka Neptune....!? Gawaattt....!!!”
“Sharky? Kenapa kau kemari? Dimana putriku?”
“Gawat....!? Gawat paduka!!!”
“Sharky tenang.....atur napasmu sebelum bicara” pesan Neptune serius.
“Hah....hah....hah....”
“Baiklah....silahkan mulai”
Sharky pelan – pelan menuturkan tiap kejadian secara mendetail, ekspresi semua pendengar berubah pucat apalagi saat tau kalau ternyata ada pengkhianat di dalam kubu Atlantos. Tanpa menunggu waktu lama Neptune memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh kota.
Prajurit – prajurit akan digeledah kemudian jika terbukti mempunyai niat buruk, langsung dieksekusi di tempat. Pengamanan ditingkatkan secara signifikan berbekal hitungan menit, tidak ada yang diperbolehkan keluar ataupun masuk tanpa batasan durasi.
“Sharky!? Kenapa kau membiarkan Diondra menyusul mereka?!” Neptune berteriak murka.
“Maafkan hamba paduka, aku tidak punya pilihan selain mengabarimu. Selesai memerintahkanku datang dia sudah melesat pergi”
“Bagaimana kronologi Arya tertangkap?” kali ini Rena, Selena, dan Elizabeth mengajukan pertanyaan berbarengan.
“Tuan Arya berusaha menolong Putri Edlyn tetapi tangannya ikut terperangkap borgol emas panjang tersebut lalu tertarik entah kemana....”
“Imperium Restraint....kita harus cepat. Dia bisa kehabisan napas karena Agnetnya terkunci....”
“Yang Mulia, Kapten telah memberitahuku mengenai pasukan khusus Atlantos....”
Kevin menatap Neptune sungguh – sungguh, sekarang bukan saatnya mereka frustrasi serta kebingungan melakukan apa – apa. Justru peluang membalikan arah peperangan akhirnya tercipta, Sang Elementalist Petir meminta Raja Atlantos untuk mengerahkan seluruh kekuatan Kerajaan demi menyelamatkan kedua anaknya juga menyerbu Faksi Laut.
“Waktunya menyelesaikan semua omong kosong ini.....”
Neptune berpikir sejenak kemudian memerintahkan Atlantos berada dalam siaga satu, penduduk diharapkan berjaga di dalam kota untuk bersiap akan kemungkinan terburuk. Raja bangkit dari singgasana sambil membawa trisulanya.
__ADS_1
Ia menghentakan bernda tersebut ke tanah, gemuruh menggetarkan seluruh wilayah kerajaan. Puluhan Imaginary Animals berbentuk hiu muncul entah dari mana. Diikuti lima puluh penunggang dengan perlengkapan total.
Para Elementalist juga tidak diam saja, keempatnya melakukan persiapan untuk berangkat menyerang. Masing – masing menggunakan peralatan bertempur bawah air mereka yang sudah disediakan oleh Elemental City.
“Karena Kapten sedang tak ada, aku akan mengambil alih pimpnan. Ada yang keberatan?” Kevin bertanya sembari mengencangkan ikatan pelindung lengannya.
“Tidak!”
“Bagus, ayo kita selamatkan pria tercinta kalian hehehe....”
“Aku pergi juga....” celetuk Neptune sambil mendekat.
“Yang Mulia? Tidakkah sebaiknya anda berdiam disini saja? Terlalu berbahaya”
“Jangan khawatirkan aku, kau pikir kenapa aku menjadi Raja? Lagi pula kalian membutuhkanku demi melacak keberadaan markas musuh, mengingat aku mampu mendeteksi lokasi kedua putriku”
“Baiklah....namun saya sarankan agar anda tak perlu memaksakan diri.....”
Begitulah kekuatan tempur penuh Atlantos berangkat menyerbu, sementara Kerajaan bawah air tersebut mulai membungkus kota menggunakan pelindung istemewa kemudian masuk ke dalam tanah dasar lautan sehingga seperti hilang bak ditelan bumi.
------><------
Tiupan terompet disusul oleh serbuan para Fin Raider, laju mereka sangat kencang menciptakan gelembung – gelembung layaknya jalur torpedo. Anggota – anggota Faksi Laut Werebeast terkejut dibuatnya, dalam hitungan detik pertempuran mulai pecah.
Keempat Elementalist bersama Raja Neptune mendatangi Arya dan Diondra, Neptune langsung memeluk putrinya seakan takut gadis itu bisa hilang kapan saja. Sementara Kevin, Rena, Selena, serta Elizabeth mengerubungi Arya.
“Bagaimana keadaanmu?” Selena bertanya kemudian membuatkan masker menggunakan air khusus Atlantos untuknya.
“Elizabeth? Tolong pergi cari keberadaan Edlyn, kami terpisah. Seharusnya dia tidak jauh dari sini”
“Biarkan aku ikut”
“Tidak tidak tidak, kau diam disini bersamaku nona muda” Neptune menahan lengan Diondra.
“Laksanakan....” jawab Elizabeth sebelum melesat.
“Kevin? Bantu pasukan Atlantos mengacaukan musuh bersama Ecuxor....”
“Ecuxor? Jangan bilang kalau....”
“Benar, belut hitam raksasa disebelahmu....” Arya menegaskan dengan wajah santai.
GLEK!
“Kapten....? Bisa kau jelaskan lebih detail soal rencananya?” ujar Kevin menelan ludah berat selesai melihat wujud mengerikan Ocean Eel Eater.
“Naiklah diatas kepalanya, ia makhluk jinak kok. Jika berulah kau boleh menyetrumnya hingga gosong....”
Setelah proses perkenalan canggung, Kevin ditemani Exucor menerjang musuh – musuh ke segala arah. Hanya menyisakan Selena dan Rena tuk mengobati Arya, kedua gadis ini menolongnya tetapi sambil terus mengomeli sehingga kepala Arya pusing tujuh keliling.
Ketika Selena akhirnya membuka baju pemuda tersebut, nampak beberapa lebam berwarna keunguan akibat pukulan Werebeast. Selena berdecak kesal lalu mulai menyelimuti seluruh cederanya tadi dengan air penyembuhan.
__ADS_1
“Kau selalu membuat orang khawatir.....” gerutunya.
“Maaf.....aw! Rena....hati - hati....! Tulang rusukku hampir patah dibagian situ”
“Siapa yang membuatmu begini?”
“Entahlah....namun—Dia datang!? Kalian berdua lindungi Raja dan—“
“Ssstt....! Pasien harus tenang....” Rena menempelkan jarinya ke bibir Arya sebelum menoleh. Nampak dikejauhan Shayu tengah berenang cepat menuju mereka. “Selena? Kuserahkan proses pemulihan padamu....”.
“Baik!”
“Tunggu dulu Re—“
WUSH!!!
“Na....?”
JDUARRR....!!!
Langkah Shayu terhenti saat Rena mendarat tepat dihadapannya sembari memutar – mutar Gaia, tatapanya dingin menusuk. Jujur agak aneh melihat anak perempuan pemalu sepertinya menunjukan raut wajah macam begitu.
“Menyingkirlah gadis kecil! Aku hanya meninginkan putri Atlantos beserta bocah berambut putih disana!”
“Kaukah pemimpin Faksi Laut?”
“Kalau iya memangnya kena—“
“Matilah....”
“Apa maksud—!!!”
Shayu gagal menyelesaikan kalimatnya sewaktu si Elementalist Alam mengarahkan telapak tangan kepadanya. Ratusan sulur tanaman seperti rumput laut mulai bermunculan dari dalam tanah mengincar dirinya, karena makin terdesak. Sang Mythical Werebeast mengumpulkan Agnet dan mengeluarkan gelombang kejut.
“Sial!!! Dimana?!—“
“Matamu cuma pajangan ya?”
“Cela—!?“
BANGGG!!!
Ujung Gaia yang terbuat dari permata Tears of Elf Queen menciptakan retakan hebat pada jangkar milik Shayu. Membuat makhluk setengah Megalodon barusan terpental hingga menubruk dasar lautan lalu menciptakan lubang cukup dalam.
Rena mendarat dekat situ kemudian memutar – mutar senjatanya sekali lagi sebelum menghantamkannya kuat ke tanah. Sulur – sulur berwarna hijau perlahan terus tumbuh serta menyatu membentuk tiga kepala naga mengelilingi tubuh Rena.
“Tres Green Hydra.....”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1