
Di tengah – tengah situasi mencekam serta kondisi mendesak Kevin, sebuah anak panah melesat kencang dan menancap tepat disebelah kepalanya. Kevin terkejut bukan main apa lagi benda barusan juga menggores pipi milik Richard.
“Ahh...dasar perusak suasana....” decaknya sambil menjilat darah yang mengalir deras.
Dia melompat menjauh dari Kevin sebelum melemparkan pandangan kesal ke arah bekas menara pemancar sinyal dikejauhan, lokasi rekannya yaitu Atalanta. Kevin memanfaatkan waktu tersebut untuk mengobati cederanya.
Richard terdiam cukup lama sehingga memberikan Kevin keuntungan, lima menit berselang akhirnya ia menggerutu lalu kembali fokus terhadap lawannya. Kevin telah bangkit bersiap menghadapi apapun yang akan menghampirinya.
“Mohon maaf Tuan Storm, tapi nampaknya gadis pemburu disana sedikit bosan....”
“Apa?” ujar Kevin bingung merasa dirinya salah dengar.
“Atalanta sepertinya merasa cemburu terus menganggap aku hanya bersenang – senang sendiri—“
SYUU!!! WUSH!!! JDUAR! JDUAR! JDUAR!
Rentetan anak panah langsung menghujani Richard sebelum dia sempat menyelasaikan kalimatnya, laki – laki itu tertawa puas sembari menghindari mereka semua kemudian berakhir terduduk diatas batu cukup besar.
Richard selanjutnya menjelaskan secara singkat kepada Sang Elementalist Petir kalau ia dan Atalanta merupakan pasangan False Vanguard yang sedikit unik, tak seperti anggota lain keduanya saling membenci juga menolak bertarung bersama meskipun diletakan pada satu post penjagaan.
Penyebab hal ini antaranya adalah metode bertarung mereka sangat bertolak belakang, dengan alasan tersebut masing – masing memutuskan membagi wilayah lalu menikmati pertarungan sendirian menghadapi para musuh.
“Biasanya aku keras kepala tetapi aku punya hutang kepadanya beberapa waktu terakhir, sayangnya tidak secepat itu. Mari kita biarkan dirimu saja yang memilihnya....” Richard berbicara fasih terus mengeluarkan pisau lipat keperakan ditambah buah apel segar.
“Maksudmu?”
“Kau mau melawanku terlebih dahulu atau Atalanta? Semua keputusan ada padamu, kami bersumpah tak akan menginterupsi satu sama lain jadi kau bebas bertarung satu lawan satu”
“Kalian....berusaha menjebakku? Kalian kira aku bakal percaya hah!?” tuduh Kevin waspada.
“Aku tidak meyalahkanmu berpikir demikian, kalau berada diposisi sama aku juga setuju denganmu. Pergilah ke hutan disana jika kau berniat duel menghadapi Atalanta, wilayahnya dimulai dari sana.
Tapi biarku perjelas, kau diperkenankan memilih. Bukan meninggalkan tempat ini untuk menyusul Kaptenmu, satu tindakan bodoh maka aku serta Atalanta tak akan perduli lagi soal ego kami....”
Peringatan penutup Richard membuat seluruh bulu kuduk Kevin berdiri, pernyataan barusan seolah vonis eksekusi mati baginya namun ikut menjamin seratus persen ucapan dia sebelumnya dapat dipercaya. Setelah berpikir keras, Kevin memunggungi Richard dan bergerak menuju daerah kekuasaan Atalanta.
__ADS_1
“Ahh...sial, mangsaku direbut Atalanta. Hadeh....tapi ternyata dia cukup bijak, nampaknya ia mendengarkan baik – baik soal nomor urut yang aku beritahu sehingga memutuskan mengurus Atalanta lebih dulu. Karena jika si bocah petir itu tetap bertahan disini, mungkin tidak ada kesempatan untuknya bertemu Atalanta hihihi....” Richard menyuapkan apel ke dalam mulutnya berbekal pisau favoritnya.
------><------
“Hah....hah....hah....”
Suara napas Kevin memenuhi udara lembab sekitarnya, dia berlari terburu – buru menerobos segala semak juga tumbuhan rambat disana namun selalu menemukan jalan buntu. Jujur saja tempat itu lebih cocok disebut labirin dari pada hutan.
Pria pirang tersebut berhenti sejenak dengan tangan berpegangan pada salah satu batang pohon, ia berusaha mengatur pernapasannya yang terputus – putus. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka – luka sayatan sehingga kalau dibiarkan saja mungkin Kevin dapat kehabisan darah karenanya, belum semenit beristirahat Kevin mengumpat kemudian langsung melompat tuk menghindar.
SYUU!!! JLEB!!!
Sebuah anak panah lagi – lagi menancap tepat dimana kepalanya berada satu detik berselang, tanpa basa – basi Kevin lanjut bergerak sebab tau pasti Atalanta tidak akan berhenti sampai disana. Sejak memasuki wilayah si pemburu wanita Kevin benar – benar ditekan habis – habisan.
Entah sudah berapa ratus tembakan dilepaskan olehnya, bukan hanya bidikan Atalanta ancaman bagi Kevin. Hampir tiap inci lokasinya sekarang telah terpasang jebakan – jebakan berbagai rupa, sehingga Kevin tak boleh lengah sedikitpun.
“Aku sungguh tidak diberi waktu berpikir bahkan bernapas dengan tenang!?” teriaknya.
PSYU!!!
KRANG!
“Argggh....!?”
Sakit teramat sangat menyelimuti pergelangan tangannya, Kevin menyingkap daun – daun kering disana dan menemukan sebuah perangkap besi tajam untuk menahan pergerakan kaki hewan buruan melahap anggota badannya. Sekarang alasan dibalik luka – luka miliknya mulai terungkap.
Sembari mengerang Kevin bersusah payah melepaskan diri kemudian melanjutkan pelariannya, matanya terkunci kepada menara yang diduga sebagai lokasi Atalanta berada. Ia tengah mencari solusi supaya dapat mendekat kesana.
‘Aku tidak bisa memanggil Simius ataupun Sheen....’ batin Kevin bimbang, para atributnya akan dalam bahaya apalagi ruang gerak tempat tersebut begitu terbatas.
Saat Kevin masih berpikir, Atalanta siap melepaskan serangan penghabisan. Dia melakukan perhitungan tepat nan cepat lalu mengalirkan Agnet menuju benda ditangannya, sebuah tali dengan bola besi pemberat pada tiap ujungnya.
__ADS_1
“Chalinári Vounó“
Lemparan akurat Atalanta melesat mulus diantara celah – celah pepohonan dan tanpa hambatan berarti menerjang kaki musuh, Kevin terkesiap melihat datangnya boleadoras barusan entah dari mana sehingga tak sempat menghindar.
Kurang satu tarikan napas, seluruh tubuhnya terbelit terus hendak terjatuh. Sewaktu Kevin menganggap dirinya akan berbenturan dengan tanah hutan, lubang besar terbuka dihadapannya. Dasarnya sudah dipenuhi deretan ujung runcing tombak berlapis cairan keunguan yang kalau terkena bisa dipastikan hidupnya kemungkinan besar berakhir.
Kevin seakan benar – benar mampu melihat kematian telah menantinya, tiba – tiba ingatan latihan bersama Pengawas Liquite melintas pada benaknya. Sepertinya dia tidak punya pilihan selain menggunakan teknik rahasia itu, bahkan dirinya sempat berspekulasi Arya serta kawan – kawannya yang lain sendiri pasti sulit menanganinya.
“Wakiya Ronin Mode....”
SRRRTTT......JDUARRR!!!
Kilat dahsyat menyambar lalu menyebabkan debu bertebaran dimana – mana, Atalanta juga Richard kaget dibuatnya. Atalanta meoleh sekali lagi kemudian menyadari titik petir tadi adalah lokasi Kevin sebelumnya, mata si perempuan memicing demi mencari keberadaan sang Elementalist.
Atalanta sekilas merasa menemukan siluet seseorang berdiri, namun ketika ia mengerjap sosok barusan menghilang jadi Atalanta menyimpulkan hal tersebut hanya perasaanya saja. Saat masih kebingungan atas kejadian janggal ini, jantungnya berdetak jauh lebih kencang.
Dengan kemampuanya Atalanta mampu mendeteksi semua jebakan di wilayah miliknya, satu per satu mereka aktif tetapi tak berhasil mengenai siapapun. Yang membuat Atalanta makin waswas adalah rute perjalanannya mengarah ke bekas menara pemancar sinyal, buru – buru Atalanta menggapai busurnya namun suara khas layaknya kicauan ribuan burung mencapai gendang telinganya.
SRRRTT.....
Wanita itu menoleh dan mendapati lawanya sedang melayang, penampilan Kevin berubah seratus delapan puluh derajat. Badannya mengeluarkan cahaya terang, tiap helai rambutnya terangkat sehingga mata mekaniknya nampak jelas.
Tapi hal yang paling membuat Atalanta terkesan adalah terciptanya semacam lintasan petir halus penghubung puncak kepala Kevin dengan awan hitam pekat di langit. Hantaran listrik bertegangan tinggi sesekali memperlihatkan diri, energi besar mengerikan sudah terkumpul dalam genggaman Kevin tuk dilepaskan.
“Ancient Liberty!”
JDUAARRR.....!!!
Author Note :
Chalinári Vounó : Pengekang Gunung
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.