
“Sebuah kebetulan sekali ternyata kau sekarang senggang, lucky!” seru Laura gembira sambil memasukan sedotan ke mulutnya.
SLURP!
“Tapi....kenapa tiba – tiba minta berkencan?” Arya menyeruput minuman miliknya dengan mata menatap aneh gadis tersebut.
Akibat kecelakaan sebelumnya, Arya merasa tidak enak kepada Laura. Sehingga tanpa berpikir panjang langsung mengajaknya meninggalkan bangunan tak berpenghuni itu, dilihat bagaimanapun memang benar kalau saat ini mereka sedang kencan.
Pasangan menyejukkan mata ini mencuri perhatian banyak orang, penampilan masing – masing dapat membuat lawan jenis bahkan menabrak tiang listrik yang menjulang di depannya. Paras Laura cukup menarik, apalagi disertai rambut indah juga kesan elegan wajahnya.
Sedangkan Arya sendiri tidak perlu ditanya, teriakan para gadis setiap ia menghirup minuman saja cukuk menjadi bukti. Meski suasana terasa makin padat, mereka nampak seoalah tak terganggu. Seperti biasa mendapat perlakuan begitu.
“Hmm? Kau masih bertanya?” Laura mengembungkan pipi.
“Ehehehe....maaf....”
“Kok jadi minta maaf sih, ya jelas karena aku tertarik kepadamu bukan?”
“Aku? Tetapi ini pertama kali kita bertemu” ujar Arya bingung.
“Memang apa urusannya? Bisa dibilang kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama”
PFFTH!?
“Uhuk....uhuk....uhuk!”
“Eh....? Kau tersipu malu? Imutnya....hahaha” Laura tertawa puas.
“Tidak lucu, tolong berhenti bercanda” kata Arya membersihkan jubahnya yang terkena cipratan minuman.
Perbincangan keduanya berlanjut hingga matahari terbenam, dari sana Arya menyadari bagaimana sikap serta kepribadian Laura Roseberg. Wanita ini memliki perangai agar dirinya mudah diterima oleh orang lain.
Bukan hal buruk jika dilakukan tanpa maksud tertentu, sebagai manusia. Arya tentu berusaha berpikir positif, namun kenyataan kalau Laura merupakan individu asing menggelitik sang Elementalist Es.
Selesai makan malam, mereka berdua berjalan – jalan sebentar dengan sapu sihir ditangan masing – masing. Karena sudah gelap, Arya berpikir lebih baik mengantarkan Laura pulang. Laki – laki macam apa yang membiarkan seorang perempuan berjalan sendirian kala gelap?. Ya walaupun kita sedang membicaran Witch di sini.
Tanpa terasa akhirnya dua penyihir muda tersebut sampai, sebuah rumah besar menyambut sepasang pemuda – pemudi itu, Laura menoleh dan memberikan senyuman terbaiknya.
“Terima kasih! Aku sungguh menikmati kencan tadi....hihihi”
“Syukurlah” jawab Arya mengangguk pelan.
“Kalau begitu....sampai jumpa....”
“Tunggu sebentar”
Langkah Laura terhenti, dia menoleh melempar pandangan penuh tanya kepada Arya. Si pria berambut putih berjalan mendekat kemudian berhenti hanya beberapa senti meter darinya.
“Kau menyembunyikan sesuatu?”
“Heh? Aku tak mengerti—“
“Terkadang, masalah tidak akan selesai jika kau memendamnya sendirian” Arya menggaruk kepala ragu.
__ADS_1
Melihat kejadian tadi Laura tertawa, saking kuatnya sampai mengeluarkan air mata. Arya membiarkan saja hingga dirinya puas, ketika berakhir Laura bertanya lembut.
“Apa menurutmu aku aneh Arya?”
“Dalam berbagai hal....iya”
JLEB!
“Ugh...!?”
“Maksudku mana ada perempuan waras mengajak pria yang hampir mencelakainya tuk berkencan? Bukan malah mengganti rugi”
“Baiklah! Namun aku sedang tidak berbicara ke arah itu! Aku cuma penasaran apakah menurutmu aneh kalau seorang Shaman berpakain begini?” Laura menunjuk dirinya sendiri.
Arya menatap dari atas sampai bawah sembari memegang dagu sebelum berkata, “Hemm....cantik – cantik saja menurutku”.
BLUSH!
“D...da...das...dasa—“
“Kenapa wajahmu memerah?”
“Berisik!!!”
“Kalau aku sih, tidak perduli kau mengenakan tulang belulang beserta pakian dukun aneh lain selagi kemampuan sihirmu normal. Lagi pula hal tersebut tak mempengaruhi apapun”
“Eh?”
Jawaban Arya ternyata benar – benar sesuai dengan pertanyaan dalam kepala Laura, awalnya ia sempat menyangka Arya hanya bermain – main dan memperoloknya. Tapi walau terlihat santai, Arya mendengarkan baik – baik ucapan gadis itu.
“Kenapa? Kau takut? Orang tuamu di rumahkan?”
“Tidak, aku sekarang sendirian. Kau mau mampir dulu?”
“HIYY!!?”
Arya segera mundur menajaga jarak dari Laura yang terkikik geli, puas mempermainkannya. Setelah mengucapkan selamat tinggal, mereka berpisah. Dalam perjalanan pulang Arya masih berusaha menguasai cara terbang menggunakan sapu sihir yang benar.
“Apa seharusnya aku minta diajari Laura saja ya?”
------><------
Satu minggu terakhir adalah hari – hari sibuk bagi Divina Academy, sebab sebentar lagi para perwakilan empat sekolah sihir besar lain berencana melakukan pertemuan juga sambutan di sana dalam rangka pelaksanaan Five Heavenly Stars Tournament.
Tujuan diadakan acara ini untuk memperkuat jalinan persahabatan antar sekolah dan rapat umum Penyihir Agung. Berhubung kalau kelima – limanya merupakan Kepala dari masing – masing Sekolah Sihir ternama itu.
Kesibukkan berdampak pula kepada para murid, selain diberi tugas tanpa henti. Semua dimintai tolong membantu persiapan kegiatan bersama Profesor pembimbing, terlebih ujian kenaikan tingkat berikutnya tinggal menghitung hari.
“Hah....akhirnya aku bisa meringankan beban pinggulku....” Ryan duduk penuh syukur seakan tubuhnya meleleh.
“Tugasmu memangnya seberat apa?” tanya Arya pensaran.
“Aku disuruh memoles atap Menara Astronomi di Barat akademi”
__ADS_1
“Itusih biasa—“
“SEORANG DIRI!!!”
“Oohh....sepertinya aku mengerti sekarang”
Dua sahabat ini sedang duduk di salah satu tempat duduk penonton tinggi bersama murid – murid lain, sebuah panggung besar telah disediakan sebagai tempat pertunjukan atraksi sihir. Rencananya Evil Destroyer, Wonder Invocation, Holy Fist, dan Death Gates akan tampil dengan memberikan kesan terbaik kepada semua hadirin.
Saat suara menggelegar Iruphior melenyapkan kebisingan, pencahayaan area itu tiba – tiba meredup. Sang Kepala Sekolah Divina Academy memberikan kata sambutan beserta saran bagus untuk para Witch muda sebelum memanggil nama – nama tamu mereka.
Puluhan api biru terlihat dalam gelap, segerombolan penyihir berpakaian putih berjalan berkeliling sambil menunjukan kebolehan mengendalikan Blue Fire. Salah satu sihir utama pembasmian iblis, pria berambut kecokelatan nampak memimpin rombongan Evil Destroyer.
Berikutnya muncul sosok – sosok berjubah hitam, langkah lambat mereka seakan menumbuhkan sesuatu. Dalam waktu singkat muncul sekitar seratus undead memenuhi panggung, wanita pengguna masker keluar dari barisan. Suasana mencekam semakin kuat ketika matanya bertemu pria pemimpin rombongan sebelumnya.
Pertunjukan ketiga sangat mengejutkan sebab murid – murid dari Wonder Invocation masuk mengendarai berbagai macam burung berukuran tidak wajar, selesai membacakan mantra. Unggas – unggas tersebut kembali ke bentuk semula. Jubah hijau para Shaman begitu cocok dipandang.
Saat pria ringkih ketua Wonder Invocation duduk bersama ketiga rekannya, giliran terakhirpun tiba. Kawanan penyihir berpakaian ungu melakukan gerakan – gerakan akrobatik yang mirip sekali dengan bela diri menurut Arya.
Laki – laki berjas rapi menyusul menghampiri lokasi Iruphior, begitulah pertunjukan masing – masing sekolah. Acara berlanjut pada pertandingan persahabatan antar akademi, Holy Fist penuh semangat mengajukan beberapa pelajar terbaiknya.
Seorang Warlock berperawakan besar memasuki arena, Divina Academy sebagai tuan rumah diharapkan dapat menjamu semua sebaik mungkin. Langsung saja Iruphior meminta Profesor Ward Mock menunjuk wakil kelasnya.
Ketika Witch Divina Academy keluar, Arya mengenalinya sebagai Sierra Le Rogue. Gadis berambut keunguan itu adalah salah satu Warlock berbakat bintang 7, kelincahannya sewaktu menggunakan ZapShoe benar – benar gila.
Dia pernah melihat pertarungan perempuan tersebut sekali dan sungguh sangat menikmatinya, setelah memberi salam. Pertarungan dimulai, Sierra memimpin karena berbekal kecepatan dewa miliknya. Namun sayang pertahanan lawannya tidak kalah kuat.
Jual beli serangan sengit membuat tepuk tangan meriah terdengar, saat nampak akan berakhir imbang. Witch dari Evil Destroyer melakukan sebuah tindakan kurang terpuji, ia meremukkan beberapa alas batuan arena kemudian melemparkannya kepada Sierra sehingga ia terpaksa menutup mata akibat debu.
Memanfaatkan kesempatan itu, bogem seukuran peluru meriam melesat ke arah gadis malang tadi. tetapi tiba – tiba terhenti di tengah udara. Sesosok makhluk yang mengenakan zirah hitam menahan pukulah tersebut.
“Undead?”
“Eh?” gumam Sierra heran.
“Itukan—“ Profesor Brevil bangkit berdiri menyadari makhluk panggilan siapa di sana.
“SIAPA PENGGANGU SERTA PERUSAK DUEL RESMI INI! CEPAT MENGAKU!” bentakan Kepala Sekolah Holy Fist menggetarkan udara. Dia melirik tak senang ke arah perempuan sebelahnya, yaitu pemimpin akademi Death Gates.
“Maaf, apa anda mencari saya?”
Kata – kata barusan membuat senyap seluruh hadirin, seorang anak laki – laki berambut putih bangun dengan tangan terangkat dari salah satu podium penonton. Ekspresi santai bocah itu menyebabkan urat pelipis ketua Holy Fist berkedut kesal.
Author Note (PENTING) :
Akhirnya gw nemu komentar yang lebih menyebalkan dari permintaan update, gini ya. Kalau otak lu emg gk nyampe, jgn asbun deh. Makin keliatan tolol ***, hal ini buat gw makin gerah karena si otak sedengkul mempermasalahkan originalitas Elementalist, dengan sok tau dan percaya diri berdasarkan fakta Elemental City yg otak dia gk nyampe walaupun dijelasin ampe mulut berbusa. Dia berani bilang cerita ini translasi lalu diubah sedikit.
Begini pembaca budiman, kalau lu bilang terinspirasi gw masih terima. Tapi jika sampean bilang karya ini translasi karya orang luar yang diubah (plagiat) mati aje lu, gw sebagai penulis tau sepenting apa originalitas. Capek orang mikir buat cerita, kalau lu masih pd bgt sama hipotesis gk masuk akal dan sok pintar lu. Cariin gw karya yg kyk gini, buktiin itu gw translate trus gw ubah kambing. Kalau kebukti berani gw potong telinga.
Asal nuduh t41, omongan dijaga napa. Ini terakhir kali gw jelasin soal Elemental City, kalian tau SNK (Shingeki no Kyojin) atau Attack on Titan or whatever you call it. Jujur kota ini emg terinspirasi dari cerita itu, di sana awalnya mereka menganggap manusia sudah hampir punah karena Titan, sehingga sisanya berkumpul lalu berlindung di balik tembok.
__ADS_1
Dan disitu semua manusia dari berbagai negara kumpul, mau itu Inggris kek, Jerman kek, Jepang (Mikasa) kek. Nah prinsip Elemental City persis begitu, tapi jika SNK punya raja. Di sini cuma Walikota dan PBB, pemimpin negara itu gk punya kekuasaan apa - apa kayak yg udh capek2 gw jelasin di Chapter 80. So don't be f*cking idiot dude....malu gblk. Otak lu aja yang gk nyampe, mana ada cerita translasi yg diubah bisa dikembangin kyk gini? Tutur kata prolog aja masih amburadul kok. Kzl gw sama orang sok tau nyatanya bego gtu f**k lah. Berasa gk dihargai sekali *****.