
Arya masih berjalan mengikuti Mirianne sambil berusaha memahami informasi yang baru saja dia dengar.
"Elemental Beast milik ibuku?"
"Iya, untuk mengakhiri kontrak dengannya. Ia memintaku untuk membimbingmu dalam pembuatan kontrak"
"Lalu setelah kontrakmu berakhir, apa yang akan terjadi?"
Mirianne menoleh dengan semyum penuh arti sambil berkata lembut "Aku akan pergi meninggalkan dunia ini"
"Pergi? Kemana?"
"Entahlah, aku pun tak tau" sahutnya santai.
Beberapa saat kemudian dihadapan mereka terlihat sebuah portal yang menganga lebar di udara, Mirianne menjulurkan tangan kanannya pada Arya. Awalnya dia sedikit ragu, namun setelah mengatur napas beberapa kali ia segera meraih tangan itu.
Tubuh keduanya terhisap dan menghilang ke dalam portal, Arya merasakan sensasi terlempar diruang hampa udara. Persis seperti saat dia menggunakan alat teleportasi, saat guncangan yang dirasakan mulai mereda.
Barulah ia berani membuka mata, suara siulan keluar begitu saja dari mulutnya tanpa mampu Arya tahan. Pemandangan luar biasa itu membuat dirinya tidak bisa menahan diri, sebuah gerbang raksasa berdiri kokoh disana.
Ada jalan setapak yang terbuat dari batu melintasi gerbang tersebut, pohon-pohon besar disekelilingnya seolah menatap dan memberi sambutan pada dua orang yang baru saja tiba.
"Torii?" Arya masih menatap gerbang itu tanpa berkedip sedikitpun.
Pencahayaan yang remang-remang membuat kesan mistis semakin kental disana, Mirianne membiarkan Arya untuk melihat sekitar sampai puas.
"Selamat datang, di Pintu Masuk Gerbang Timur Spirit Realm"
------<<>>------
Spirit Realm adalah alam tempat para roh yang terjebak di dunia ini berlalu lalang, ada delapan pintu masuk yang tersebar disegala penjuru. Tempat ini pada dasarnya terpisah dengan dunia fana atau dunia makhluk hidup.
Terdapat sebuah pembatas yang membuat para roh tidak bisa seenaknya memasuki dunia makhluk hidup dan sebaliknya, hal ini bukan tanpa alasan. Jika makhluk hidup terlalu sering bersinggungan dengan roh, maka tekanan spiritual mereka akan meningkat.
Hal tersebut dapat membuat kerusakan mental dan fisik secara tidak langsung, yang bisa berakhir dengan kematian. Roh juga sebenarnya bukanlah eksistensi bersifat agresif, mereka sendiri cenderung menghindar dari makhluk hidup.
Karena dapat membuka luka lama kehidupan mereka, namun ada beberapa jenis roh yang pada tahap tertentu suka mengusik dan bahkan membunuh makhluk hidup lainnya. Tipe ini biasa disebut dengan nama Evil Spirit.
"Tuan, sebaiknya kau jangan sampai berada terlalu jauh dariku. Aura kehidupan milikmu sangat pekat" bisik Mirianne lembut.
"Ahaha mau bagaimana lagi? Sepertinya itu karena aku satu-satunya makhluk hidup yang ada disini" Arya menggaruk kepala sambil berusaha sedekat mungkin dengan Mirianne.
"Selama aku disini, mereka tidak akan berani mendekat"
Aura kehidupan yang dipancarkan tubuh Arya memang sangat menarik perhatian banyak roh, dia bisa melihat ratusan roh dengan berbagai wujud berkeliaran disekitar mereka. Beberapa diantaranya setelah melihat Arya memutuskan untuk berubah wujud menjadi manusia dan memberi hormat.
Namun sebagian lainnya memutuskan untuk tetap bersembunyi dan mengawasi sehingga Arya merasa seperti diintai oleh ribuan pasang mata makhluk buas yang kelaparan. Mereka berdua telah melewati jalan setepak dalam waktu yang cukup lama.
Tapi Arya merasa kalau jalan ini tidak memiliki ujung yang pasti sehingga diapun bertanya.
"Eee....Mirianne? Bisakah kau meberitahuku kemana tujuan kita?"
"Ahh....maafkan aku Tuan, sepertinya aku sedikit terbawa suasana. Kita sedang menuju Purity Garden" Mirianne menjelaskan.
"Purity apa? Tempat apa lagi itu?"
Mirianne kemudian memberitahukan kepada Arya kalau Purity Garden adalah nama lokasi di Spirit Realm tempat dikumpulkannya roh-roh baru yang belum terkontaminasi, rata-rata umur roh yang ada ditempat itu masih sekitar seratus sampai dua ratus tahun.
Umur roh tidak dilihat dari berapa usia mereka sebelum mati, melainkan berapa lama waktu yang telah mereka lewati di Spirit Realm. Roh-roh tingkat tinggi rata-rata berusia diatas lima ratus tahun, bahkan ada juga yang berusia ribuan tahun.
Pada tingkat ini kemampuan mereka sudah sangat tinggi sampai dapat melakukan interaksi dengan makhluk hidup. Dengan persyaratan tertentu, mereka akan bekerja sama. Para pengguna roh jenis itu biasa disebut dengan Summoner.
Roh tersebut akan melakukan perintah pemanggil mereka dan mengambil imbalan sesuai dengan perjanjian yang telah mereka sepakati.
Setiap roh memiliki kepribadian masing-masing, namun awalnya mereka semua memiliki sifat yang bersih. Oleh sebab itu kemunculan Evil Spirit murni berasal dari pengaruh roh-roh disekitarnya, jika sampai roh baru dikelilingi oleh roh jahat.
Bisa dipastikan kurang dari satu tahun, dia akan terkontaminasi dan akan berubah menjadi Evil Spirit. Karena itulah roh yang baru saja keluar dari Purity Garden berada di usia yang sangat rawan, yaitu sekitar umur seratus sampai dua ratus tahun.
"Bukankah kalau seperti itu lebih baik membuat kontrak dengan roh yang berusia diatas seribu tahun?" batin Arya sambil mengelus dagunya.
"Sebaiknya kau buang jauh-jauh pikiran itu" celetuk Mirianne tiba-tiba sampai membuat Arya terlonjak kaget.
"K...ka...kau mendengarnya?!" Arya tidak bisa menyembunyikan nada terkejut dari suaranya.
"Sangat jelas, ditempat ini makhluk hidup sepertimu tidak bisa menyembunyikan suara hati mereka"
__ADS_1
"Ekh....itu agak...."
"Lagi pula membuat kontrak dengan roh berusia seribu tahun tidak akan semudah itu, bukan hanya makhluk hidup. Para roh juga memiliki arogansi, saat mereka memiliki kemampuan yang tinggi, sangat sulit untuk mengaturnya.
Mereka lebih suka hidup bebas dan melakukan apapun semaunya, terlebih lagi aku khawatir jika sampai Tuan membuat kontrak dengah roh jenis itu. Malah mereka yang akan menyerap energi Tuan, bukannya membantumu dalam menyelesaikan masalah"
Arya mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu, benar juga pikirnya. Memiliki Elemental Beast berkemampuan tinggi namun susah diatur sama saja tidak berguna.
"Jadi jika aku membuat kontrak dengan roh baru maka....akan lebih mudah untuk membentuk kepribadiannya"
"Benar sekali, itulah alasan kita pergi menuju Purity Garden" timpal Mirianne senang.
Tepat setelah Mirianne berkata seperti itu, mata Arya disilaukan oleh cahaya warna-warni dikejauhan. Terlihat jelas aura yang sangat pekat membumbung tinggi ke udara berasal dari lokasi tersebut.
"Kita sudah sampai" senyum Mirianne menaikan semangat yang ada dalam diri Arya.
------<<>>------
Keduanya memasuki Purity Garden tanpa hambatan berarti, sesuai namanya. Tempat itu memang terlihat seperti sebuah taman dimata Arya. Hanya saja bunga-bunga yang seharusnya ada disana telah digantikan oleh kumpulan roh yang berjajar dengan rapi.
Ada yang memiliki wujud manusia, binatang, dan juga bola cahaya. Kebanyakan diantara mereka memiliki tatapan kosong penuh penyesalan yang membuat orang tidak nyaman melihatnya dalam waktu lama.
Setelah berkeliling sambil melihat-lihat, perhatian Arya jatuh pada salah satu roh dengan rantai yang membelit lehernya. Ia memiliki wujud serigala dewasa, roh tersebut memunggungi Arya bahkan ketika dia berjalan melewatinya.
Yang membuat Arya tertarik adalah, roh itu memiliki tatapan mata yang tajam dan tidak kosong seperti kebanyakan roh disana. Tapi, dia juga tidak menoleh ke arah Arya padahal semua roh yang tidak memiliki tatapan kosong menatap Arya dengan tertarik karena aura kehidupan miliknya.
Saat Arya berusaha mendekat, roh itu menoleh sambil mengeluarkan suara geraman yang mengancam. Hal itu membuat langkah Arya terhenti, namun dengan sabar Arya menunjukan kalau dia tidak memiliki niat buruk pada si serigala.
Akhirnya secara mengejutkan Arya berhasil mengelus kepala roh itu, ia memejamkan mata saat tangan Arya mulai bergerak pelan disekitar kepalanya yang berambut halus.
"Kau terlihat kesepian, bagaimana kalau ikut denganku?" tawar Arya pelan.
Ia hanya mendengkur pelan tanpa ada tanda-tanda menanggapi tawaran dari Arya.
"Mirianne bagaimana caranya aku membuat kontrak?"
"Apa kau sudah menemukan yang kau cari?" balas Mirianne sambil mendekat.
"Sepertinya" jawab Arya sedikit ragu.
"Apa kau yakin memilihnya?"
"Sepertinya kita tidak bisa membuat kontrak langsung dengannya Tuan, anak ini....memiliki sebuah dosa besar"
"Maksudmu?"
"Dia melakukan sesuatu yang sangat buruk dalam hidupnya, itulah kenapa rohnya dirantai. Jika kau benar-benar ingin membuat kontrak dengannya. Rantai tersebut harus lepas terlebih dahulu" kata Mirianne dengan mata sendu.
"Caranya?"
"Dengan....membantunya untuk merelakan apa yang sudah terjadi"
Tiba-tiba Arya mengingat tentang kejadian serangan Hollow level 5 dahulu, saat itu M mengatakan sesuatu tentang kemampuan membaca roh. Bagaimana kalau dia melakukannya sekali lagi? Kemudian dengan perlahan Arya menekan telunjuknya didahi serigala tersebut.
Dan dengan seketika mata milik Arya dan roh itu menyala, tanda koneksi antara keduanya mulai terbentuk.
------<<>>------
Arya sedikit terhuyung setelah melakukan Soul Reader, gambaran-gambaran yang masuk dengan cepat membuat kepalanya pusing. Dari yang terlihat sepertinya dia sudah berhasil memasuki alam bawah sadar milik si serigala.
Ia menemukan seorang bocah laki-laki meringkuk didekat situ. Arya merasa tidak enak hati setelah mendapat gambaran kehidupan yang telah dilewatinya.
"Bisakah kau membatalkan niatmu? Sepertinya....aku bukanlah orang yang kau cari" seru bocah itu tiba-tiba dan membuat langkah Arya untuk mendekatinya terhenti.
Arya tidak menyalahkan anak itu memiliki pikiran seperti tadi, rantai yang mengikat rohnya bukan tanpa alasan. Dia memiliki kehidupan yang berat, kedua orang tuanya sering bertengkar dan membuat anak ini mendengar kata-kata tidak baik.
Ia pun sering dimaki serta dipukuli untuk meredakan amarah mereka, karena hal itu neneknya kemudian memutuskan membawa si anak kecil. Wanita tua tersebut menjadi orang paling berarti dalam hidupnya.
Saat dia mengira semua akan berakhir bahagia, kejadian itu terjadi. Kedua orang tuanya mabuk berat lalu tanpa sengaja membunuh satu-satunya orang yang paling dia sayangi, karena tidak bisa menahan diri lagi.
Si bocah membuat kedua orang tua tidak becus itu membayarnya, dengan tangan berlumuran darah dan sudah tidak tau apa yang harus dilakukan. Dia pun mengakhiri hidupnya, tubuh mungil tersebut menggantung diudara selama tiga hari tiga malam sebelum ditemukan oleh warga.
Arya tidak bisa membayangkan anak berumur tujuh tahun mengalami kehidupan seberat itu, membunuh orang tua dan melakukan bunuh diri adalah dua dosa yang sangat besar. Membuatnya merelakan bukanlah hal mudah.
"Semuanya sudah terjadi, menyesalinya tidak akan mengubah apapun" Arya menasehatinya.
"Sayangnya aku tidak menyesali perbuatanku, malah yang membuat aku takut adalah karena merasa puas setelah melakukan hal itu" isak bocah itu pelan.
__ADS_1
"Kau tau? Aku tidak memiliki orang tua" Arya kemudian duduk tepat disebelahnya.
"Eh!?"
"Jadi menurutku kau sangat beruntung masih mengenal orang tuamu, ya....walaupun aku tidak membenarkan apa yang mereka lakukan. Namun setidaknya kau tau siapa mereka, tapi aku sangat bersyukur memiliki seorang ayah dan saudari angkat yang sangat baik.
Jika sampai ada yang menyakiti mereka mungkin....aku akan melakukan hal yang sama denganmu, walau membunuh itu agak sedikit....terlalu sih" tambah Arya cepat.
"Kak? Bolehkah aku tau alasan kau memilihku?"
"Entahlah, aku juga tidak tau. Mungkin kita hanya berjodoh saja"
Dia kemudian berdiri dengan senyuman hangat diwajahnya, Arya menjulurkan tangan kepada anak itu tanpa keraguan sedikitpun.
"Kau menyesali perbuatanmu bukan? Bagaimana kalau kau menebus semuanya dengan ikut bersamaku?"
Tepat ketika tangan mereka bertemu, rantai yang mengikat roh serigala itu hancur berkeping-keping. Tubuh rohnya mengecil dan memperlihatkan sesosok anak serigala.
"Kau....berhasil" Mirianne terdengar tidak percaya.
"Mirianne, kontraknya" Arya mengingatkan.
"Ahh"
Dengan cepat Mirianne menempelkan kedua telapak tangannya, sebuah formasi sihir muncul dibawah kaki Arya dan si serigala. Sekali lagi dia bertatap muka secara langsung dengan bocah itu.
"Mulai dari sekarang, mohon bantuannya"
"Aku ju—"
Anak itu tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya, sebab Arya mulai mengusap kepalanya dengan lembut.
"Aku akan mengajarkanmu arti dari keluarga yang sebenarnya, juga merawatmu seperti anak sendiri"
"Terimakasih, Ayah" ia menyahut sendu dengan air mata membasahi pipi.
Beberapa helai rambutnya mulai berubah warna dikarenakan kontrak yang mulai terbentuk.
------<<>>------
Mirianne mengantarkan Arya sampai Pintu Masuk Gerbang Timur untuk kembali, ketika Arya sudah menghilang. Barulah dia menoleh dengan mata menyipit.
"Mau sampai kapan kalian bersembunyi?"
Langsung saja puluhan sosok besar nan mengerikan muncul dihadapan Mirianne, mereka semua terlihat murka.
"Berani sekali kau mengambil mangsa kami!!!" terdengar suara bergema mengerikan disegala penjuru.
"Jadi kalian benar-benar ingin melahapnya setelah rantai itu terlepas?"
Mirianne sudah tau sejak awal, kalau Arya memilih roh serigala tersebut bukan tanpa alasan. Sepertinya ia mampu merasakan tatapan membunuh yang tertuju pada anak itu.
"Lalu dengan kaburnya mangsa kalian? Kalian mau apa?" tanya Mirianne lagi dengan santai.
"Mirianne kau terlihat terlalu angkuh, apa kau pikir bisa mengalahkan kami semua?"
"Aku? Angkuh? Pfftt!" Mirianne tertawa geli mendengarnya.
"KAU!—"
"Sepertinya kalianlah yang terlalu sombong karena terlah menjadi Soul Eater berusia seribu tahun. Baiklah, bagaimana kalau sebelum aku pergi. Akan kutunjukan kekuatan roh berumur sepuluh ribu tahun kepada kalian, dasar bocah-bocah ingusan!"
Suara Mirianne berubah menjadi sangat mennyeramkan, matanya mengeluarkan cahaya biru terang yang membuat para Soul Eater disana gemetar ketakutan.
"Jangan takut! Dia hanya seorang diri, kalau kita bersama pasti bisa" salah seorang berusaha menguatkan yang lainnya.
"Sungguh? Mari kita lihat apa yang bisa kalian lakukan, hehehe" Mirianne memanggil mereka untuk mendekat dengan jari telunjuknya.
Taring mencuat dari senyuman lebar Mirianne, aura pekat memancar deras dari sekujur tubuh wanita itu. Hal ini bahkan membuat seluruh Spirit Realm bergetar. Roh yang setara dengannya saat ini mungkin hanya bisa dihitung dengan jari satu tangan saja.
Ledakan hebat terjadi ketika para Soul Eater menyerang, kurang dari satu menit seluruh tempat itu bersih tanpa sisa. Kejadian tersebut juga menyebabkan retakan pada Pintu Masuk Gerbang Timur.
Author Note :
Torii (鳥居) adalah pembatas antara kawasan tempat tinggal manusia dengan kawasan suci tempat tinggal Kami (Dewa). Selain itu, bangunan ini berfungsi sebagai pintu gerbang kuil.
__ADS_1
Bentuk torii berupa dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal. Bangunan ini umumnya dicat dengan warna merah menyala, dan kadang-kadang juga tidak dicat (warna asli bahan bangunan).
Walaupun lebih umum dijumpai di jalan masuk ke kuil Shinto, tapi juga bisa ditemukan di kekaisaran dan beberapa lokasi di Jepang.