Elementalist

Elementalist
Chapter 182 - Moment


__ADS_3

Aroma udara segar juga bayangan dedaunan rindang membuat hati Arya tenang, walau masih ada rasa perih yang tertinggal akibat bekas gigitan Callista meski lukanya sudah tertutup. Saat bangunan Werebeast Village mulai nampak di kejauhan.


Suara bising dari arah sebaliknya menarik perhatian Arya, penasaran akhirnya ia naik ke atas pohon hanya berbekal beberapa kali pijakan kemudian melacak asal bunyi tadi. Sekitar lima kilometer jaraknya terdapat kumpulan orang tengah berlatih.


Arya bertengger pada dahan sambil melongo, bukan tanpa alasan. Masalahnya dia mengenal semua wajah di tempat itu, para Nyanko Kyōdai sedang menempa fisik mereka. Bahkan Kinichi, Shirone, Nashumi, Pinka, maupun Midori yang tergolong bukan bidangnya ikut berpartisipasi.


Dan satu hal paling mengejutkan bagi Arya adalah, sosok pria pendamping kesembilannya tak asing. Pemandangan cukup mustahil menurutnya pribadi.


“Shu-sensei?” bisiknya pelan penuh tanda tanya.


“Baiklah cukup, hentikan ayunan pedang kalian”


“Siap!”


Kinichi dan Pinka langsung terduduk lemas sembari menjulurkan lidah kehausan, sementara kedua adik bungsu mereka masih terlihat bugar. Melihat ekspresi lelah tersebut, Kurobara serta Namme buru – buru mendekat.


“Bertahanlah Kak Kin, Pinka”


“Air.....air.....air.....” gumam Kinichi lemah.


“Ugh....Pinka tidak bisa merasakan tangan sendiri hiks....”


“Sensei? Ada apa tiba – tiba? Biasanya sekitar dua ratus kali lagi baru istirahat” Hachiru mengangkat tangan bertanya.


“Tutup mulutmu!!!” bentak dua orang kepayahan barusan.


Shu melangkah ke salah satu pedang kayu, kemudian menimang – nimangnya sebentar sebelum mengambil posisi hendak melempar. “Maunya sih begitu, tapi sepertinya kita kedatangan tamu. Sampai kapan kau bersikap bagai monyet hah? Dasar bocah tengik”.


SYUU!!!


“Celaka!?—“


JDAK! UAAA!!! BRUK!!!


“Argh.....kepalaku....kau berniat membunuhku atau apa!?”


“Siapa suruh kau mengendap seperti mata – mata”


“HAH!?—“


“KAKAK!!!”


Kyuran bersama Haciru menjadi yang paling cepat mencapai tempat Arya terjatuh, mereka memeluknya sembari tertawa gembira. Saudara saudari keduanya mulai ikut mendekat terus menanyakan kemana saja dirinya selama ini.


Setelah bertegur sapa dan menanyakan kabar sebentar, giliran Arya menatap Shu penasaran. “Kenapa Sensei melatih kalian?”.


“Aku dimintai tolong Gio karena Hachiru kesusahan saat kau pergi menjalankan misi enam bulan”


“Maaf....merepotkan”


“Hehehe tak apa, jangan terlalu dipikirkan. Aku lebih senang mengajar sepuluh murid biasa dari pada seorang jenius macam dirimu” kata Shu tertawa lalu menyentil dahi muridnya.


“Aduh!? Oi sakit! Heh? Kok sepuluh?”


“Benar, kau tadi bertanya aku berniat membunuhmu atau tidak bukan? Kau mengajukannya ke orang yang salah”


Shu menunjuk belakang punggungnya sendiri, dari arah desa terlihat gadis berambut putih memasang wajah masam berjalan menuju lokasi mereka sembari membawa beberapa botol minuman. Mata kuningnya berkilat mengerikan.


“Eee....aku baru ingat, ada urusan men—“


SRAK!

__ADS_1


“Et!!! Tak secepat itu” Shu sigap meraih kerah baju Arya.


“Sensei!? Kumohon ampuni aku! Lihat! Ekspresinya saja sudah menunjukan kalau ia punya ide buruk!”


“Tepat sekali, makanya kau harus bertanggung jawab dasar bodoh”


Wajah Arya kian memucat hingga akhirnya Kizuna sampai, setelah menaruh jatah air untuk orang – orang di sana. Dia memberikan gestur tubuh kepada Arya menggunakan jari telunjuk supaya mengikutinya dan seolah berkata ‘jangan berani – berani untuk kabur atau terima akibatnya!’.


------><------


Arya duduk beralaskan lutut menghadap Kizuna, dia baru saja selesai menceritakan seluruh perjalanan yang dilakukannya ketika menjelajah Magihavoc. Sang gadis rubah menghela napas kemudian memintanya duduk normal kembali, nampaknya sekarang Kizuna mengerti alasan misi Arya teramat lama.


“Kau sempat mengaktifkan Kyubi no Yoroi bukan?”


“Eh? Bagaimana....? Oh iya Kizuna, apa kau tau kalau Ore milik—Kizuna?”


“Hiks.....bodoh.....dasar Arya bodoh!!!”


Kizuna tanpa bisa menahan diri lagi meledak, ia mengeluarkan semua perasaan yang disimpan selama ini. Betapa cemas dan bingungnya dia waktu tubuhnya mengeluarkan cahaya tengah malam pertanda Ore digunakan.


“Aku tidak tau harus berbuat apa! bagaimana kalau sampai terjadi hal mengerikan padamu lalu aku cuma bisa menyalahkan diri sendiri! Pernahkah kau memikirkannya sedikit saja dasar lamban!!!....Hiks....”


“Maaf....tolong berhenti menangis, lap air matamu” Arya berusaha menyentuh pipi Kizuna.


Seketika gadis tersebut menggenggam erat pergelangan Arya menggunakan kedua tangan seakan tak mau melepaskannya tuk selamanya, “Syukurlah.....syukurlah kau baik – baik saja.....”.


“Iya....aku berjanji tidak akan melakukannya lagi”


Sentuhan lembut Arya pada wajahnya membuat Kizuna teringat kembali kenangannya ketika masih sangat kecil, sewaktu sang ayah berusaha menghentikan tangisnya di kala ia terjatuh akibat tersandung dahan pohon.



Tak jauh dari sana, Nyanko Kyōdai tengah asyik menonton bersama Shu. Celetukan Namme disambut sikutan keras Nashumi, memaksanya menelan lagi kata – katanya barusan.


“Hei? Kau juga tidak ingin bermanja – manja pada—Ugh!??”


Arya dan Kizuna berjalan menuju rombongan, tentu saja mereka telah mengambil posisi seperti semula agar tidak ketahuan mengintip. Baru saja Arya melambaikan tangan hendak pamit, tiba – tiba dunia di hadapannya terbalik.


JDUAK!!!


“SA....KIT....!!!”


“Arya!?”


“Kau ini benar – benar keras kepala ya?”


Shu melakukan bantingan keras sambil menekan salah satu titik di sekitar punggung tangan Arya, seluruh sel dalam tubuhnya menjerit kesakitan sampai bergerak pun ia tak sanggup.


“Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku Sensei!!!”


“Sudah berapa kali kubilang jangan menggunakan teknik Kamaitachi sembarangan!”


“SITUASINYA MENDESAK—ATATATATA!!!”


“Mulai besok, kau pergilah ke Dojo. Kau tidak boleh pergi sampai sungguh – sungguh menguasinya”


“LAKSANAKAN!!!” setelah mendengar ucapan Arya, barulah Shu melepaskan cengkraman menyakitkan tadi.


------><------


BUAKH! BUAKH! BUAKH!!!

__ADS_1


“Argh....perutku....”


“Berikutnya....”


“Tuan Putri!? Menurut saya cukup untuk hari ini” kata Eridan buru – buru, para pengawal Azuldria lain telah bersembunyi di balik punggungnya.


“KUBILANG SIAPA—“


“Jika kau tidak keberatan, bagaimana kalau aku yang menemanimu berlatih”


TAP! TAP! TAP!


Alalea menoleh mendengar suara familiar barusan, tubuhnya mematung seketika. Suasana langsung senyap. Hanya ada bunyi langkah si pendatang, Arya terus berjalan semakin mendekat. Menyadari hal tersebut, sang putri Elf mundur hingga punggungnya menyentuh tembok.


BAM!!!


“HIYY!!?”



‘Ahh....jadi begini rasanya melakukan Kabedon?’


“Kalau begitu kami permisi Tuan Putri, Tuan Arya. Ayo cepat pergi dari sini!!!” Eridan mendesak karena tau nyawa mereka telah diselamatkan.


“Hey!? Erid—“


“Oi? Lihat aku ketika bicara padamu”


“Ekh!? A..ap...apa!?”


“Kau tau masalahnya....”


“Kapan dirimu pulang?”


“Jangan mengalihkan pembicaraan Nona muda”


Wajah Alalea semakin merah padam akibat jarak mereka terus menipis, Arya mendapat laporan Pengawas – Pengawas Ujian kalau gadis ini akan melampiaskan kekesalan kepada pengawalnya ketika ia gagal mengorek informasi mengenai keberadaan Arya dari Astral.


Pria – pria malang barusan diminta membantunya duel pedang dan selalu berakhir babak belur selama kurang lebih lima jam. Mata biru keduanya bertemu, namun Alalea tak kuasa lama – lama menatapnya sehingga membuang muka.


“Tidakkah kau merasa iba kepada Eridan serta yang lain? Dasar”


“Kau pikir ini salah siapa?” gumamnya cemberut.


“Hah....ayo ikuti aku” Arya menggandeng tangan Alalea kemudian menyeretnya.


“Eh?! Tunggu sebentar!? Kita mau ke mana?”


“Makan malam, kau mau mendengar alasan aku menghilang enam bulan bukan?”


“Hah!? Sekarang? Tapi aku penuh keringat! Biarkan aku mandi dulu!!!”


“Sudah begitu saja, aku tak terganggu”


“Tapi aku yang—OI ARYA....!??”


^^^


Untuk yg gk tau arti Kabedon, searching-lah jangan males. Apa gunanya Manusia menciptakan teknologi bernama Internet?


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2