
BUMM....!!! WUSH....!!!
Bunyi ledakan yang diiringi hembusan angin kencang memaksa Ryan berlindung sembari melindungi matanya, dampak serangan dasyat tersebut bahkan menyebabkan dirinya terguling beberapa meter hingga tertimbun reruntuhan.
Dengan napas terengah ia akhirnya berhasil keluar, wajahnya dipenuhi campuran debu, keringat, juga darah. Gemerlap cahaya berwarna cerah di atas kepalanya menarik perhatian, dua orang perempuan nampak sedang berduel menembakan sihir ke satu sama lain.
“Diondra....” panggilnya lemah menatap titik kecil nun jauh di sana.
Gadis berpayung biru terlihat melayang tinggi mencoba menghindari rentetan puluhan mantra, lawannya hanya terpisah jarak tidak terlalu lebar dan tanpa kenal lelah mengekor kepadanya. Saat jurus masing – masing bertemu suara menggelegar akan terngiang, jika bukan karena pecahnya perang pasti banyak penduduk menganggap pemandangan itu merupakan semacam festival kembang api.
Meski masih agak linglung, ingatan tentang alasannya kemari perlahan memasuki kepala Ryan. Putri Diondra diincar oleh sekumpulan ras penyihir yang dipimpin oleh Olivia Nuwyn, sang Yellow Witch. Menyadari datangnya bahaya Ryan mengajak rekan – rekannya membantu, tetapi nyatanya pertarungan antar pemilik Miracle Irish Catra bukanlah tempat bagi mereka.
Pada akhirnya dia cuma menjauhkan lalat – lalat kecil agar tidak mengganggu konsentrasi Diondra, begitulah kejadiannya sampai energi kuat secara beruntun bermunculan ke suatu tempat. Ryan mendeteksi hal ini kemudian hendak bergegas menghampiri sayang gelombang kejut layaknya badai malah menghempaskannya seperti kantong plastik tertiup topan.
“Uban – san....”
Usai mendapatkan pertolongan pertama dari pecahan Deera yang mengikutinya Ryan mencoba mendekati asal ledakan sebelumnya. Sambil memastikan keamanan sekitar wilayah duel Diondra dia terus maju meskipun berbekal kaki terseok – seok.
“Kau pikir mau kemana?”
“Oh....sial” Ryan mengumpat pelan akibat kemunculan orang – orang baru menghalangi jalannya.
“Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu?”
“Sejujurnya aku tak mengharapkan reuni dalam situasi sekarang....”
“Mengapa? Setelah kunjungan kalian bukannya sudah wajar giliran kami mendatangi rumahmu?”
“Tentu saja, maafkan sikap kurang sopanku....” sahut Ryan menggertakan gigi kuat menyaksikan anggota – anggota The Figment Squadron di hadapannya, ia menggapai tongkat sihir dalam sakunya sadar betul sebentar lagi harus menggunakannya. Langkah para Witch Pusat Penelitian terdengar jelas mendekat bersiap menolongnya.
------><------
“Ukh....Moona kau....” Greenhook bangkit melirik penolongnya sembari menahan darah yang mengucur deras dari lubang hidungnya.
“Menyingkirlah pak tua....”
“Apa katamu!? Jangan pikir bisa merebut mangsaku gadis kecil!!!”
__ADS_1
“Tunjukan balas budimu dan enyahlah selagi aku meminta baik – baik, kau pikir masih bisa bernapas kalau aku tidak datang?” tanya Moona dingin, pupil matanya mengecil layaknya hewan buas.
“Ugh....dasar. Jadi begini cara mainmu?”
“Sudah paham? Sekarang tutup mulutmu, aku harus membuat perhitungan dengannya....”
Moona menggemertakan buku – buku jari tangannya penuh konsntrasi, bersiap memberikan serangan berikutnya tanpa ampun. Sementara itu Tiger Shio bersama Rabbit Shio terlibat perdebatan sengit, keduanya sama – sama keras kepala dan tak ada keinginan mengalah.
“Baekho biarkan aku yang mengurusnya....”
“Kenapa kau sangat memaksa?”
“Untuk membalas semua kerusuhan dahulu!” Bunny menghentak – hentakan kaki kesal.
“Jika demikian alasan kita apa bedanya?! Sana pergi ini giliranku....”
“Ckk....baiklah! Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, mari bersuten....”
“Siapa takut?!” jawab Baekho percaya diri.
Ketika akhirnya masing – masing menjulurkan tangan perubahan pada wajah mereka sangat kentara, Baekho menatap jengkel genggaman tangannya penuh sesal sedangkan Bunny lanjut melakukan pemanasan. Bagaimanapun perjanjian tetaplah perjanjian, seekor harimau selalu menepati perkataanya. Begitu bunyi tulisan di dinding pintu masuk Cloud Tiger Temple sekaligus moto hidupnya, namun sambil berkacak pinggang dia berpesan, “Lima menit, jika melebihi batas waktu jangan harap aku diam saja”.
Beberapa meter dekat lokasi perbincangan tersebut, ada perempuan memegang tongkat aneh yang mengeluarkan cahaya kehijauan. Ia bediri santai menginjak tepi reruntuhan gedung lumayan tinggi, satu menit berselang datang gadis lain tengah terkikik geli menahan tawa.
“Yo....hihihi”
“Dari mana saja kau? Hayha?”
“Ah....maaf – maaf, sedikit bermain petasan kau tau hahaha....” balas Hayha menggaruk – garuk kepala salah tingkah.
“Hah? Berhenti bercanda, kita punya misi hei!?”
“Iya....aku mengerti, kau benar – benar gila kerja ya? Mira....”
“Hadeh....sudahlah, pastikan kesempatan berikutnya kau menghabisinya....” Mira berpesan sebelum lanjut mengamati titik terakhir tempat target mereka terlihat.
Kepulan asap hitam masih menghiasi udara, sihir tingkat tinggi Friska hampir meluluhlantakan seluruh medan pertarungan sampai memaksa yang lain ikut berhenti sementara. Pandangan menusuk aliansi Fatum tiba – tiba menangkap sebuah bayangan sosok besar, Arya berhasil keluar dengan selamat diselubungi oleh tahap Master miliknya.
“Aku tau kau tak mungkin semudah itu tuk tumbang....” gumam sang Black Mara menyeringai.
__ADS_1
------><------
“Hah....hah....hah....”
Arya berlutut sembari meringis akibat cedera – cederanya namun pemandangan kehancuran sekitar sana segera membuatnya lupa terhadap rasa sakit, hal pertama yang terbersit di kepalanya adalah bagaimana nasib teman – temannya usai hantaman Dead Planet.
Selagi mencoba menstabilkan kondisi, dia menemukan Moona berdiri di samping Greenhook. Saat mata mereka bertemu aura merah menyeramkan memancar dari tubuh wanita tersebut, rambut hitamnya mulai terangkat seolah hendak mengintimidasi musuh.
Detik berikutnya Arya berkedip tubuh Moona sudah menghilang, mengandalkan Maximum Sense ia mencoba mendeteksi pergerakan gesit Wrath Sins. Dalam sekejap Arya menciptakan beberapa dinding es secara beruntun untuk menjegal langkah Moona namun selalu sigap dihindari.
WUSH....!!!
“Berani sekali kau menipuku dan membunuh Milos! Rasakan ini!!!”
BANG!!!
Pukulan keras Moona melalui titik buta tertahan oleh perlindungan tubuh tahap Master, Arya menyiapkan serangan balik dengan lusinan air beku berujung runcing. Semuanya bergerak serentak ke arah punggung Moona namun langsung berhenti di tengah udara ketika Mira hanya berdiri seolah menjadi perisai hidup baginya.
“Ckk...!?” Arya berdecak kesal sebelum menjaga jarak.
Kejadian sama terus terulang sampai akhirnya Arya memutuskan melepaskan tingkat kekuatan paling awal Elementalist tadi, kesempatan emas itu tidak disia – siakan Bunny. Dia muncul entah dari mana lalu mendaratkan kedua lututnya tepat mengenai bagian belakang badan Arya hingga si pemuda berambut putih terpental jauh.
Belum selesai, Bunny menyusulnya hanya dalam hitungan tarikan napas terus mengangkat kakinya setinggi mungkin siap melepaskan serangan penghabisan. Namun tanpa disangka – sangka tendangan lain menyambar tepat waktu memunculkan percikan petir hitam dari pertemuan kedua sepakan tersebut.
JDUAK!!! SRRT...!!!
“Apa maksud semua ini serigala tengik?”
“Ketahui posisimu....jangan berani – berani menyentuh mangsaku kelinci busuk!” geram Moona jelas sekali murka.
Memanfaatkan perseteruan antar sesama aliansi Fatum, Arya menggigit jempolnya sambil menjaga jarak. Pupil matanya berubah merah seketika menandakan telah diaktifkannya Mode Servant, Moona serta Bunny baru menyadarinya saat kumpulan darah beku mengelilingi Arya layaknya ribuan jarum yang memiliki kesadaran sendiri.
Menyadari pemandangan dihadapan mereka bukan pertanda baik keduanya pun melompat mundur berbarengan tapi dikejar oleh jurus mirip kawanan lebah marah itu. Begitu fokus masing – masing tertuju ke sana, Arya muncul dari balik punggung anggota Tujuh Dosa Besar maupun Dua Belas Shio barusan sebelum mengayunkan Mandalika.
“Blood Field; Red Moon Wave...”
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.