Elementalist

Elementalist
Chapter 128 - Tiga Selir


__ADS_3

“Ahahaha.....” Arya tertawa terbahak – bahak diatas kasur hingga matanya berair.


Dia menghabiskan waktu selama seminggu cuma membaca buku di ruang pemulihan, para Pengawas Ujian tidak mengizinkannya pergi sebelum benar – benar yakin kalau Arya telah pulih.


Sejujurnya ia sendiri lupa akan apa yang terjadi, hanya ingat pertemuan terakhir dengan Jack Frost. Arya siuman total setelah tiga hari ritual dilaksanakan, semua Pengawas langsung menceramahinya habis – habisan sehari penuh.


Oleh karena itu Arya tidak berani protes ketika mereka memutuskan dirinya tak boleh meninggalkan tempat sampai kondisi tubuhnya stabil. Jadi begitulah kenapa dia bisa berakhir bersantai bersama buku – buku saat ini.


“Bisa – bisa lukamu terbuka lagi kalau tertawa sekeras tadi” tegur Allucia memasang ekspresi heran.


“Hahaha....maaf....pengawas, hanya saja bukunya lucu sekali hihihi”


“Melihatmu seriang itu, membuatku bertanya – tanya apa kau sungguh hampir mati beberapa hari lalu. Kemari, waktunya pemeriksaan rutin”


Allucia membersihkan serta memasang perban baru untuknya sebelum mengalirkan Agnet melalui punggung. Rasa hangat mulai menjalari tubuh Arya, tanpa disadari. Ekspresi Allucia berubah sedikit demi sedikit.


‘Jaringan tubuh bocah ini....semakin....’


“P...pe..pengawas?! Kau sentuh kemana?!” protes Arya dengan wajah merah padam.


“Ahh....maafkan aku, lupakan. Kau sudah boleh pergi keluar”


“Sungguh!?”


Arya bangkit secepat mungkin, tapi karena tidak hati – hati. Rasa nyeri hebat menggerogoti tubuhnya secara serentak.


“Hmm....bagaimana? Puas? Coba saja lagi biar dirimu tau rasa, dasar keras kepala!”


“Aw aw aw hahaha maaf, tapi kata – kata anda tadi benarkan?”


“Iya..., Gio menyerahkan semua keputusan padaku. Selamat atas kepulihanmu”


“Terima kasih....”


Tanpa membuang waktu, ia mengenakan pakaian bersih miliknya yang telah dibawakan oleh pelayan. Memberi hormat sekali lagi untuk Allucia, kemudian meninggalkan lokasi sambil menarik napas dalam – dalam.


“Akhirnya....udara segar, aku ingin sekali pergi ke permukaan....tapi sebelum itu....ada beberapa urusan terlebih dahulu”


------><------


Salah satu tempat tujuan Arya setelah keluar dari ruang rawat inap adalah Werebeast Village, lokasi ditempatkannya para pendatang baru setengah manusia tersebut. Keberadaan wilayah ini tidak terlalu jauh dari Plant Region.


Diharapkan agar semua orang bisa beradaptasi sebaik mungkin dengan habitat baru juga memberi kesan mirip seperti wilayah Zoonatia. Alasan dia kemari ingin mengucapkan selamat datang untuk mereka.


Karena belum sempat berbicara sepatah katapun setibanya di Elemental City, protes – protes keras teman – temanya untuk menjenguk selalu dihiraukan dan ditepis oleh para Pengawas Ujian. Bahkan sempat ada kabar usaha penyusupan ke ruangan Arya namun mengalami kegagalan.


Arya sedikit terkejut melihat keberagaman kontur alam seperti sungai, bukit kecil, dan lain – lain pada lokasi itu. Saat masih asyik memandang sekitar, satu sosok mendarat dihadapannya setelah melompat dari ketinggian pohon.


“Tuan Arya?” sapa Namme mengerjapkan mata beberapa kali.


Si Nyanko ahli penyelundup masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, karena bagaimanapun Arya hanya memiliki kemungkinan kecil datang kemari.


“Yo? Bagaimana kabarmu, aku datang tuk berkunjung shishishi”

__ADS_1


“Benaran nih!?”


Namme lalu menunjukan arah ke desa kepada Arya, nampak kerumunan kecil orang – orang yang dia kenali berdiri di sekitar pintu masuk. Memasang wajah bingung nan malas.


“Sebenarnya ada apa sih Midori? Kau meminta kami kemari, aku sedang sibuk” Kinichi menggaruk – garuk kepala kesal.


“Hoamm....Pinka ingin tidur siang”


“Sebenrar lagi juga kalian tau” jawab Midori tersenyum misterius.


“Ihh cepat katakan saja! Aku mau merakit barang—“


Nashumi gagal menyelesaikan kalimat karena teriakan saudara kembarnya dikejauhan, pria itu melambai penuh semangat.


“Oi...?! Lihat siapa yang datang berkunjung!”


“Hmm....? Sebentar, itukan....ARYA?!”


Kejadian tersebut merupakan kali pertama Arya merasa diserbu oleh kawanan kucing liar, kesembilan Nyanko memeluknya erat – erat sampai sesak.


“T..te...teman – teman? Tolong....”


“Ahh....maaf, lepaskan semuanya. Kapan anda keluar?” Shirone bertanya lembut.


“Baru saja kok, kalian sehat – sehat sajakan?....”


Pembicaraan mengalir bak air ketika semua mulai bercerita pengalaman serta perasaan mereka begitu tiba di Elemental City. Arya cukup terkejut kalau kursi pimpinan telah berpindah dari Harpyja menuju Kizuna.


“Kenapa diam saja? Bukannya kau membicarakan dia terus menerus?”


BUK! BUAKH!


Nashumi menghajar Namme karena mengatakan hal tidak perlu, perkelahian saudara diantara mereka sudah biasa jadi tak terlalu mengejutkan. Setelah berbincang sekitar setengah jam, Nyanko Kyōdai mengantar Arya menuju kediaman Kizuna.


Sebelum masuk dan berpisah, dua saudari paling bungsu mendekat. Keduanya memeluk Arya penuh kasih sayang.


“Eh? Hachiru? Kyuran? Apa kalian perlu sesuatu”


Mereka menggelengkan kepala cepat – cepat takut membuat Arya khawatir, wajah cemas balik menatapnya dengan mata berbinar – binar, “Kak Arya...? Kakak benar – benar sudah sehatkan?”


‘*Pfft?! Hidung—!? Malah jika kalian memasang wajah begitu aku bisa – bisa jatuh sakit kembali*!’


“Huumm....tenang saja, aku sudah baikan kok. Maaf ya membuat kalian terkurung di sini, lain kali aku janji akan memperlihatkan permukaan Elemental City pada semua Nyanko Kyōdai”


“Serius!?”


“Iyap, jadilah anak baik agar kita bisa bersenang – senang bersama di sana ya”


Arya langsung masuk ke dalam rumah sederhana itu karena Kinichi beserta yang lain mengatakan tidak apa – apa melakukannya. Tentu poin pertama Arya adalah mencari si pemiliki kediaman, ketika membuka salah satu ruangan. Sepersekian detik kemudian ia langsung membanting kembali pintu tersebut.


‘MATI AKU! SIALAN KAU KINICHI....’ batin Arya mengumpat, perlahan ia berusaha mengambil langkah seribu.


“Kembali ke sini...., atau aku tidak akan keberatan menambah lukamu walau baru saja pulih”

__ADS_1


“PFFT!?”


Tanpa ada jalan keluar, Arya memasuki ruangan. Di sana telah duduk manis tiga orang gadis sambil menyurput minuman masing – masing. Pupil mata mereka memiliki warna berbeda, tetapi menunjukan rasa kekesalan yang sama.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Tuan?” pertanyaan Alalea, Callista, dan Kizuna membuat seluruh bulu roma Arya berdiri.


“Time....out....?” jawabnya ragu.



------><------


“Dasar bodoh, keras kepala, egois, sok pahlawan, tak punya otak....”


Arya menerima semua hinaan ketiga putri dihadapanya tanpa sempat membela diri, satu – satunya hal yang menghiburnya adalah ketika Bai menjalar pelan penuh rindu. Arya membiarkan dia menghisap Agnet miliknya, peningkatan panjang tubuh Sora White Viper itu membuatnya sedikit terkejut.


“Jadi....apa alasanmu datang kemari lebih dulu dari pada bertemu denganku?” Alalea menuntut jawab.


“Benar! Aku juga penasaran!” timpal Callista.


Sebenarnya mereka berdua datang minum teh sesudah menerima undangan Kizuna, tanpa disangka malah bertemu Arya yang sudah keluar ruang perawatan.


“Hohoho bukankah jelas karena aku lebih—“


“Cuma ingin berterima kasih karena telah menolongku dan minta maaf atas kegagalan evakuasi, aku juga berencana mencari kalian berdua setelah ini”


Jawaban Arya membuat ekspresi percaya diri Kizuna rontok seketika, namun memunculkan senyuman senang pada Alalaea dan Callista.


“Tak usah dipikirkan, berhasil membawa delapan puluh orang saja sudah hebat menurutku. Werebeast lain juga berpikiran sama”


“Tapi tetap saja ada tiga puluh rekan kalian menjadi korban”


“Iyap, tapi itu setelah bertahan melawan musuh berjumlah lima ratusan. Angka yang sangat jomplang bukan? Memang begitulah konsekuensi perang”


KRUYUK!


Suara kelaparan perutnya membuat wajah Arya memerah, sambil tertawa dia mengatakan kalau sebenarnya ingin mampir terlebih dulu ke Kantin. Tapi sayangnya sedang istirahat, melihat kesempatan tersebut Kizuna mengeluarkan beberapa makanan.


Tak tahan lagi, Arya pun makan dengan lahap. Curiga, Alalea dan Callista mempertanyakan tentang pembuat hidangan – hidangan enak itu yang dijawab dengan sombong oleh Kizuna.


“Tentu saja aku!”


“Alah paling rasanya tidak—ENAK!?”


“Hahaha asal kalian tau, aku ini berba—“


“Nona Kizuna? Bagaimana makan malam buatan saya? Sudah dicicipi?” seseorang membuka pintu tiba – tiba.


“Harpyja!?” teriak Kizuna histeris.


Adu mulutpun terjadi antara Alalea, Callista, dan Kizuna. Berusaha meyakinkan masing - masing kalau mereka memiliki kemampuan tinggi dalam memasak, pemandangan ini akan menjadi suatu hal biasa nantinya.


Nanti di masa depan, ketiganya mendapat julukan  Tiga Selir Pengikut Raja Es atau lebih dikenal sebagai Tiga Bidadari Kaisar Putih.

__ADS_1



__ADS_2