
Nampak gadis muda mengenakan setelan biru indah disertari corak gemerlap buru – buru memotong, ia memiliki gaya rambut bob menawan dengan hiasan jarum emas diatas kepalanya sehingga kelihatan bak sepasang telinga kelinci.
Serta ada dua sirip mencuat pada masing – masing sisi wajahnya, perempuan tersebut mendarat lembut begitu selesai mengubah bagian bawah tubuhnya yang semula ekor ikan menjadi kaki. Ketika berjalan melewati rombongan Elementalist, pandangan Arya dan dirinya bertemu sesaat.
“Tuan Putri....”
“Edlyn?”
“Ayahanda aku mohon untuk jangan mengambil keputusan terlalu cepat” ucap si pendatang berdiri sebagai pemisah antara Raja dengan kelompok Jagoon tanpa memperdulikan suara bisikan orang – orang.
“Apa maksud dari perbuatan tak masuk akal ini?”
“Aku merupakan dalang dibalik semua kejadian, tolong tarik perintah hukuman bagi Jagoon. Akulah pengirim surat permintaan bantuan serta yang menyuruhnya menjemput mereka semua”
HAH....!?
Tarikan napas kencang pecah sesudah mendengar pengakuan gadis bernama Edlyn barusan, bahkan ekspresi sang Raja sekalipun terkejut. Kata – kata anaknya tadi seperti sebuah mimpi buruk yang jadi kenyataan.
“Putri Edlyn Neptune!? Kau tau makna ucapanmu!?”
“Iya....” jawabnya berat akibat bentakan Ayahnya.
“Nona muda kau sungguh—“
“TAPI....!!! Tapi aku tidak menyesalinya, kondisi medan perang kian memburuk. Banyak masyarakat kehilangan anggota keluarga akibat semua omong kosong ini! Dan itu bisa bertambah buruk jika Ayah masih bersikap egois nan keras kepala!!!”
Suasana senyap seketika, penghuni Atlantos lain segera menundukan kepala. Raja terperangah, sedikit malu akibat harus mempertontonkan pertengkaran keluarga dihadapan halayak ramai. Dia mengusap keningnya sembari bergumam.
“Bukan alasan—“
“Ayahanda? Pasukan Kerajaan telah berkurang hampir setengahnya, kita juga belum mengetahui pasti jumlah keseluruhan prajurit Werebeast. Mencari sekutu bukanlah pilihan, melainkan keharusan”
“Kau masih terlalu muda, tidak sesederhana itu sayang. Ada banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan secara matang, kalaupun ingin meminta bantuan. Mengapa dirimu memilih mereka? Lihatlah!? Apa menurutmu ikan teri ikan teri begini mampu—“
GRTTT!!?
Urat saraf Kevin dan Elizabeth berkedut kesal, tepat waktu hendak mengeluarkan protes. Selena juga Rena sigap menendang bagian belakang lutut masing – masing sehingga membuat keduanya menelan hinaan yang sudah diujung lidah.
“Hey....”
Celetukan tiba – tiba Arya mencuri perhatian semua orang, bahkan memaksa adu mulut ayah anak sebelumnya terhenti. Salah satu Mermaid menyadari lirikan tersebut lalu bertanya balik penuh rasa tidak suka.
“Apa maumu?”
“Bukankah Jagoon sempat memanggilmu Kepala Penjaga? Berarti seharusnya pangkatmu tidak terlalu buruk”
__ADS_1
“Benar, terus memangnya kena—“
WUSH!!!
Belum selesai ia menjawab, secara mengejutkan Arya sudah berjongkok di atas bahunya sambil menarik helm serta mengarahkan bilah tajam mengkilap Mandalika ke leher sang prajurit duyung.
“Bagaimana menurutmu kejadian berikutnya jika kita berdua adalah lawan....?” bisikan dingin Arya membuat tubuh pria itu bergetar ketakutan mengetahui ajalnya teramat dekat.
‘CEPAT SEKALI!?’
Semua terkesiap akibat gerakan tak terduga barusan, Kevin, Elizabeth, Rena, maupun Selena sendiri tidak menyangka Kapten mereka akan melakukan tindakan ekstrem begitu. Terlebih kecepatan Arya benar – benar gagal diprediksi, memang benar kalau anak tersebut pergi menghilang selama enam bulan. Namun perkembangannya sangat mengerikan bahkan bagi kawan – kawannya sekalipun.
BLUBUB BLUBUB!
‘BAHKAN AIR DI SINI TELAT BEREAKSI’ ucap empat Elementalist dalam hati memperhatikan gelembung – gelembung yang mulai bermunculan mengikuti bekas lokasi Arya berdiri.
“Ahahaha....maaf maaf, aku sepertinya agak berlebihan. Kau tidak apa – apa?” dia turun kemudian menepuk – nepuk pundak prajurit tempat kakinya berpijak beberapa saat lalu.
Arya kembali dengan santai ke posisi semula diikuti sorot mata seluruh penghuni ruangan, terakhir bocah tersebut tersenyum lebar sembari menegaskan. “Masalah selesai, apa kau masih meragukan kemampuan kami? Yang Mulia?”.
“Kau....”
Pandangan Edlyn berbinar – binar penuh arti, ia memberikan anggukan kepada Arya seolah mengatakan ‘terima kasih atas bantuannya’ sebelum menatap lagi Ayahnya penuh tekad. Raja menghela napas panjang, masih nampak jelas keraguan serta beratnya hati menerima permintaan anak gadisnya itu.
“Ayahanda....dirimu wajib memberikan alasan lain untuk menolak. Kita semua melihatnya dengan mata kepala sendiri”
“Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, silahkan berikan hukuman mati kepadaku kalau terjadi masalah yang disebabkan mereka berlima”
DEG!
“Tuan Putri!?”
Arya menatap punggung gadis tersebut keheranan, walau sebenarnya tujuan Elemental City mengirim bantuan baik. Tetapi mengajukan nyawa sebagai jaminan supaya mendapat penerimaan dari pemilik wilayah teritorial sedikit ceroboh menurutnya.
“Ugh....hah....baiklah, mengapa kau mewarisi sikap tidak mau kalah ibumu” ujar Raja akhirnya.
“AYAHANDA!” Putri Edlyn langsung meluncur ke telapak tangan ayahnya dan memeluk pipi sang Mermaid raksasa.
Begitu kondisi tenang, proses menghadap Arya bersama yang lain berubah menjadi penyambutan tamu kehormatan. Raja meralat semua kata – kata sebelumnya juga meminta maaf diikuti oleh para penghuni Atlantos di sana.
“Wahai Manusia perkenalkan, aku adalah Raja Atlantos ke sembilan ratus lima puluh sembilan. Tamesis Neptune”
Para Elementalist sudah berdiri rapi dalam formasi anak panah dengan Arya sebagai ujungnya, satu per satu mulai berlutut sambil menyebutkan nama.
“Selena Wave, Elementalist Air”
“Rena Green, Elementalist Alam”
__ADS_1
“Elizabeth Light, Elementalist Cahaya”
“Kevin Storm, Elementalist Petir”
“Arya Frost, Elementalist Es....menghadap paduka” tutupnya.
ZING!!!
“Lima....Elemen...talist....?”
------><------
“Terima kasih kak, jika bukan karena bantuan kakak pasti Ayah masih bersikukuh atas keputusannya” kata Edlyn bersungguh – sungguh.
“Ah iya....” Arya menjawab ragu sebab si gadis berjalan hampir tanpa ada jarak di antara mereka, seakan keduanya telah kenal lama.
“Saat kalian memperkenalkan diri tadi benar – benar keren, aku hampir berteriak histeris lho”
“Huum, tapi tak kusangka ternyata kondisinya sudah separah ini. Padahal melihat sekilas persenjataan dan kemampuan prajurit Atlantos seharusnya masih memadai menghadapi Faksi Laut Werebeast”
Arya menganalisis berdasarkan data temuan sewaktu membantu Jagoon keluar dari kejaran kawanan musuh di pesisir pantai. Dia sedikit terkejut ternyata keadaan Kerajaan bawah air tersebut persis seperti penjelasan Edlyn sebelumnya.
Pasukan mereka yang awalnya berjumlah lima ribu orang tersisa hanya dua ribu lima ratus, sedangkan perkiraan milik musuh sendiri ada sepuluh ribu, dan menyisakan mungkin enam ribu sampai tujuh ribu kepala.
Selesai rapat, para Elementalist diantar ke kamar masing – masing. Namun ketika hendak menutup pintu, Edlyn datang kemudian mengajak Arya pergi entah kemana.
“Sebenarnya sih jika cuma menghadapi Werebeast kami mampu, namun sayangnya mereka mendapat suplai bantuan perlengkapan dan pangan dari ras Witch”
“Ehh....biar kutebak, kau mengajakku keluar ada hubungannya dengan itu juga kotak hitam kecil ini bukan?” Arya menunjuk pundak Edlyn.
Sang Putri terperanjat bukan main, dia terlonjak kaget hampir berenang sejauh mungkin. Karena tidak menyangka Arya akan menyadari benda yang sudah diselimuti oleh sihir transparan tersebut. Sedikit merasa bersalah akhirnya Edlyn memberitahu kalau benda itu bernama Tamatebako.
Sebuah pusaka berbentuk kotak pelindung kecil bagi harta karun Kerajaan Atlantos, ternyata setiap generasi keturunan Raja bertugas menyimpannya.
“Ahh...jadi begitu, tenang saja. Jika kau tidak mau memberitahukan isinya tak apa, itukah alasan Witch memberikan bantuan kepada Faksi Lautan?”
“Bukan, namun—ah.... kita sampai”
Keduanya tiba di depan sebuah rumah yang menurut Arya lebih terlihat seperti tiga buah labu bergabung menjadi satu. Ada sebuah lentera serta beberapa ekor bintang laut menempel pada dinding bangunannya.
“Ini....”
“Ayo kita masuk, permisi Kakak? Aku datang berkunjung....”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1