Elementalist

Elementalist
Chapter 90 - Sektor Birahi


__ADS_3

Sesampainya di depan gerbang, Arya dan Liliem disambut oleh dua Gargoyle hitam berwajah mengerikan. Sepertinya kedua makhluk ini adalah penjaga utama pintu masuk menuju Sinner Places, mata gelap mereka menyorot penuh ke arah Arya.



“Berhenti” salah satu Gargoyle mengeluarkan suara serak.


Ketika tangan mereka ingin menggapai tudung jubah Arya, Liliem menempatkan diri di depan sehingga memaksa para Gargoyle mengurungkan niatnya. Tatapan Liliem begitu tajam dan menusuk, terlihat jelas ia kurang setuju dengan sikap penjaga gerbang.


“Apa yang kalian inginkan? Dia bersamaku, izinkan kami lewat”


“Mohon maaf Nona, tapi kami diminta melakukan pemeriksaan ketat. Dan orang ini tidak pernah terlihat sebelumnya”


“Asal kalian tau! Pria baik ini telah menolongku dari kejadian yang bisa saja merusak hidupku sementara kalian hanya diam berjaga santai di tempat ini! Sebenarnya untuk apa kalian para Gargoyle dipekerjakan?!”


Dua makhluk mengerikan tersebut seakan mengkerut seketika setelah menerima ledakan amarah Liliem, mereka menunduk serta mengangguk – angguk menanggapi hujatan dari gadis dihadapannya.


“Tapi Nona, kami tidak ta—“


“Jangan membantah! Menyingkir atau kalian akan berurusan dengan Lust Sector” ancam Liliem mengancungkan jarinya tepat ke wajah dua Gargoyle itu.


“Ampun Nona, kami mohon jangan laporkan kami pada Nona Lorem”


Akhirnya Arya berhasil memasuki Sinner Places tanpa pemeriksaan berkat Liliem, si gadis Succubus mengajaknya menuju arah Barat tempat ia tinggal. Setelah diperhatikan, kesan horror benar – benar terasa di kota ini. Banyak makhluk – makhluk bertampang mengerikan berkeliaran.


Bangunan – bangunannya menjulang tinggi ke angkasa tak berbeda jauh dengan Elemental City, Arya berjalan mengikuti langkah ringan Liliem sembari bersyukur dalam hati telah menolong gadis tersebut, jika tidak. Mungkin dia akan mengalami kesulitan menyusup ke dalam Sinner Places.


“Liliem? Yang tadi itu sebenarnya tidak perlu, aku baik – baik saja walau diperiksa” celetuk Arya pelan.


“Mana boleh, kaukan tamu. Lagi pula Gargoyle – gargoyle pemalas tadi memang pantas dimarahi. Kerja mereka cuma tidur dan makan saja. Mengurus perizinan masuk juga untuk saat ini sedang susah akibat beberapa kejadian terakhir”


Beberapa menit kemudian di kejauhan Arya melihat sebuah gerbang penanda besar bertuliskan Lust Sector. Tepat setelah menginjakkan kaki disana, alisnya terangkat menyadari penampilan – penampilan orang disekitarnya.


“Apa tempat ini seperti yang aku pikirkan?”


“Eee...i...iya, t...ta...tapi aku disini hanya bekerja sebagai pelayan. Sungguh!”


‘Akukan tidak pernah mempertanyakan hal itu?’


Bangunan – bangunan pada Lust Sector ini dipenuhi lampu neon bagaikan kota – kota Manusia dahulu. Banyak laki – laki tersenyum lebar sambil merangkul beberapa perempuan di kiri kanannya, puluhan wanita di etalase toko berusaha menarik perhatian Arya namun langsung berhenti setelah menyadari tatapan dingin milik Liliem.



Mereka sampai di bangunan termegah milik Lust Sector, pelayan – pelayan menundukan kepala penuh rasa hormat kepada Liliem. Pintu pun terbuka memperlihatkan sesosok gadis cantik berponi dengan rambut merah.


Ia bergegas keluar menghampiri Liliem lalu memeluknya erat – erat, sementara itu tubuh Arya mematung untuk sesaat. Ada perasaan familiar muncul ketika perempuan itu berjarak hanya beberapa meter darinya.

__ADS_1


Kesannya persis seperti ketika berhadapan melawan Kris dahulu, barulah Arya mulai menyadari situasinya. Kalau kakak Liliem ini bukanlah Demon biasa, harusnya dia sudah tau setelah melihat respon para Gargoyle di gerbang Sinner Places tadi.


“Aku khawatir sekali! Takut terjadi apa – apa padamu! Dasar keras kepala!” Lorem berbisik cemas.


“Maafkan aku kak....”


Liliem mulai menceritakan kejadian yang menimpanya satu per satu, wajah sang kakak berubah gelap ketika mendengar semua ini ada hubungannya dengan Goblin.


“Makhluk hijau tua keparat! Akan kupastikan Lust Sector ditutup untuk mereka semua, ah! Dan terima kasih atas pertolongannya, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kau tak ada” seru Lorem cepat – cepat mengubah sikapnya.


“Tak perlu sungkan, aku hanya kebetulan lewat saja. Sungguh sebuah kehormatan bisa betemu salah satu Tujuh Dosa Besar seperti anda” Arya memberi salam setelah membuka tudung jubahnya.


‘Werewolf?! Noble-Tier? Tunggu dulu, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya. Terlebih lagi....’


“Tidak usah terlalu formal, kau pasti baru pertama kali datang ke Sinner Places ya? Mari aku ajak berkeliling”


“Ahh aku tidak ingin merepot—“


“Tenang saja, mungkin aku bisa membantu menyelesaikan masalahmu”


Setelah dibujuk beberapa kali, Arya akhirnya setuju pergi berkeliling bersama Lorem. Gadis itu tersenyum senang kemudian berbisik pada adiknya.



“Selera adikku boleh juga. Aku sempat berpikir kau tidak akan pernah mencari laki – laki”


“Ohh....begitu, jadi tidak apa – apa kan kalau dia untukku saja?”


“J..ja.jangan!!!”


Arya menoleh mendengar teriakan Liliem, Lorem hanya cekikikan pelan sebelum menyuruh Lorem istirahat sementara dia menemani Arya. Liliem terlihat sedikit tidak rela berpisah seperti itu karena tak tau kapan bisa bertemu lagi.


“Ahh...jadi kau kemari mencari seseorang?” Lorem mengangguk – angguk setelah mendengar cerita Arya.


“Iya, tapi aku tidak tau harus mencari dari mana”


‘Pria ini!? Dia sama sekali tidak terpengaruh Charming Aura milikku!’


Semua pria yang berpapasan dengan mereka berhenti melangkah dan menatap Lorem lekat – lekat dari atas sampai bawah, tak sedikit diantara mereka mengutuk siapapun orang disebelah gadis pujaan para laki – laki itu.


Namun Arya malah asyik menerka – menerka tata kota Sinner Place, mencari jalan keluar terbaik dari sana. Sikap cueknya tersebut sedikit melukai hati Lorem, inilah pertama kalinya dia merasakan dicampakan oleh lawan jenis.


“Apa ada masalah?” tanya Arya ketika menyadari tatapan terperanjat gadis disampingnya.


“Ah...ahaha tidak, maaf sepertinya aku sedikit melamun. Karena Fenrir seorang Werewolf, kenapa kau tidak bertemu Moona dan bertanya beberapa hal”

__ADS_1


“Moona?”


“Kau tidak tau Moona? Aneh” Lorem berhenti melangkah sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Aku berasal dari desa terpolosok, nun jauh di Tenggara Dark Side” ucap Arya berusaha terlihat setenang mungkin.


“Tapi....masa kau bahkan tidak mengenali pemimpin kawanan Werewolf?”


“Aku—“


Arya gagal menyelesaikan kata – katanya karena terjadi keributan besar di tengah Lust Sector, mereka berdua saling bertukar pandang sebentar sebelum segera pergi menuju ke tempat suara berisik itu berasal.


------><------


“Hei!? Tunggu! Kau mau kemana?”


Dexi begitu terkejut waktu saudari kembarnya Aris bangun dari tempat duduk sambil memancarkan aura pekat. Matanya memerah menandakan suasana hati perempuan tersebut sedang buruk.


“Si Keparat itu datang” bisik Aris dengan ekspresi haus darah.


“Apa yang kau bicarakan? Siapa?” Dexi menggelengkan kepala heran.


“Pembunuh pelayan – pelayanku”


Dua hari lalu Aris terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada sesuatu menghilang, setelah kejadian tersebut ia berusaha menghubungi ketiga pelayan miliknya namun tidak mendapati balasan apapun. Sejak saat itu dia yakin ada keparat yang telah menghabisi orang – orangnya.


“Pelayan? Kau tidak sedang mengigaukan? Siapa cukup bodoh membunuh Vampir terlebih lagi pelayan milikmu?”


“Entahlah, mungkin salah satu bagian dari Tujuh Dosa Besar”


“Hadeh....lalu bagaimana kau mencarinya? Kau tidak mungkin menyusuri seluruh sudut kota bukan?” tanya Dexi penuh keraguan.


“Tenang saja, aku memberikan darahku pada setiap pelayan. Dan sepertinya orang ini tidak tau ada beberapa tetes yang menempel di alas kaki miliknya”


“Sungguh? Lokasinya sekarang?”


“Lust Sector” jawab Aris menjilati seluruh bagian bibirnya.


Author Note :


Ketika lu pergi demo dan sadar kalau lu yang paling pendek, lalu orang - orang mulai berkata :


People : Oi!? Adik siapa ketinggalan ni?!!


Me : Gw jg mahasiswa kampret! Tinggi gw 165....kalau gk salah

__ADS_1



__ADS_2