
"Aku tidak tau bagaimana pendapat kalian...., tapi....bukankah jika seorang laki-laki dan perempuan keluar di akhir pekan seperti ini disebut....kencan?"
Itulah kata-kata yang tengiang di kepala Arya saat ini, dia sedang berdiri ditengah-tengah balai kota sambil menatap jam raksasa yang ada disana. Balai kota Elemental City berada di pusat distrik Perak, Disini adalah tempat dimana dia dan Asuna berjanji untuk bertemu hari ini.
Arya menghela napas panjang, dia sudah menunggu sekitar setengah jam disana. Tapi hal ini bukanlah salah Asuna. Arya sendirilah yang sengaja datang lebih awal karena dia tidak ingin wanita yang menunggunya disaat-saat seperti ini. Yah....walaupun wanita itu hanyalah seorang Asuna.
Dia menyedot kopi yang dia pegang ditangan kanan miliknya dengan raut wajah kesal, sejujurnya dia sudah mulai merasa terganggu dengan pandangan orang-orang yang berada disana. Ada beberapa orang yang berhenti berjalan dan melirik sebentar hanya untuk melihatnya. Bahkan ada yang terang-terangan mengambil fotonya dengan wajah kegirangan.
"Apa dia seorang aktor?"
"Sepertinya bukan, untuk apa seorang aktor berada di distrik Perak?"
"Mungkin saja dia sedang melakukan pengambilan gambar ditempat ini bukan?"
"Bisa saja, tapi tidak terlihat satu pun kru disekitar sini jadi yah....sepertinya agak—"
"Kyaa....apa aku boleh minta foto dan tanda tangannya ya?"
"Dengan wajah seperti itu aku yakin dia akan sangat cepat terkenal"
Karena merasa para paparazi itu semakin tidak terkendali, Arya memutuskan berpindah lokasi untuk menunggu kedatangan Asuna. Beberapa saat kemudian, akhirnya terdengar suara derap kaki dikejauhan, orang yang baru saja tiba itu melirik ke arah jam raksasa dengan raut wajah cemas.
Arya menyelinap kebelakangnya dan meletakkan segelas kopi yang sudah dia siapkan diatas kepala orang tersebut, Asuna tersentak kaget namun dengan sigap dia segera memegangi kopi tersebut agar tidak terjatuh. Dia segera memasang wajah cemberut karena kesal.
"Kau terlihat kehabisan napas, jadi minumlah dulu" celetuk Arya sambil terkekeh pelan.
Asuna kemudian mengiyakan serta berterimakasih padanya, ia lalu segera duduk disalah satu bangku yang ada disana sambil meminum kopinya.
"Apa kau sudah lama berada disini?" tanyanya.
"Tidak, aku baru saja sampai" elak Arya santai.
"Sungguh?"
"Kenapa kau terdengar tidak percaya seperti itu?"
Asuna berdiri lalu membuang gelas kopi itu ditempat sampah sambil berkata "Lalu mengapa banyak orang-orang berkumpul disekitar sini?"
"Hah? E...itu...memangnya kenapa? Mereka kan juga ingin berlibur" jawab Arya berusaha membela diri.
Asuna memutar kedua bola matanya, selanjutnya dia segera berjalan dengan cepat dan menyambar tangan Arya. Dia menggandeng tangan Arya sambil memimpin jalan tanpa memperdulikan pandangan kesal dari berbagai arah.
"Itu tidak penting, hari ini kau harus menuruti semua perintahku sampai aku puas. Ayo"
"Hei tunggu seben—"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
Dimulailah perjalanan akhir pekan paling terasa lama yang pernah dia rasakan, Arya mengantarkan Asuna kemana saja yang dia inginkan. Membawakan barang bawaanya, juga memberikan pendapat tentang hal-hal sepele yang membuat kepalanya terasa mau pecah.
Entah mengapa dia merasa pernah melakukan hal ini sebelumnya, kemudian dia menepuk jidatnya. Dia pernah melakukan hal ini dulu bersama Reika. Sejak hari itu dia memutuskan tidak akan pernah keluar lagi diakhir pekan untuk menemani adiknya berbelanja dan menyerahkan semuanya kepada Pak Tora.
Tanpa Asuna sadari barang-barang belanjaanya sudah penuh dikedua lengan Arya. Sehingga membuat Arya sendiri kewalahan dalam berjalan dan melihat apa yang ada dihadapannya.
"Hei? Kau lebih suka strawberry atau coklat?" tanya Asuna tiba-tiba.
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Jawab saja"
"E....strawberry kurasa"
Dengan cepat Asuna langsung tidak terlihat lagi, membuat Arya keheranan kemana perginya gadis itu sambil meninggalkannya dengan barang-barang bawaan ini. Beberapa menit kemudian Asuna kembali sambil membawa dua buah es krim ditangannya.
Ia kemudian menyodorkan salah satunya kepada Arya sambil berkata "Ini bayaranmu", Arya hanya balik menatapnya tanpa bergeming sedikitpun.
"Kenapa? Apa kau tidak suka es krim?"
"Apa aku terlihat bisa memegang es krim itu Nona?" tanya Arya balik dengan senyum kesal.
"Ah iya maafkan, kalau begitu ahh...." seru Asuna sambil menyodorkan es krim itu ke arah mulut Arya.
"Ugh...situasi ini....entah kenapa sepertinya pernah aku lihat di novel-novel bergenre romcom" gumam Arya dalam hati sambil menjilat es krim itu sekali.
"Hmm? Kenapa? Apa kau tidak suka rasanya?" Asuna memiringkan kepalanya bingung.
"B...bu...bukan seperti itu, bisakah kita duduk terlebih dahulu? Kakiku kesemutan"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
Mereka berdua akhirnya menuju ECP (Elemental City Park), ECP adalah taman kota Elemental City yang ada distrik Perak juga. Walaupun tidak seindah pemandangan di distrik Perunggu, ECP tetap menjadi tempat favorit banyak orang untuk melepas penat.
ECP juga memiliki sebuah danau raksasa ditengah-tengahnya, biasanya menjadi kawasan paling ramai karena orang-orang selalu berkumpul disekitar sana. Arya dan Asuna menemukan salah satu bangku kosong dan memutuskan untuk istirahat dipinggiran danau.
Arya menghela napas lega karena akhirnya bisa terlepas dari barang-barang bawaan Asuna, ia juga akhirnya bisa menikmati bayarannya (es krim) dengan nyaman. Keduanya duduk dalam diam cukup lama. Pada akhirnya Asunalah yang memecah keheningan itu dengan berkata.
"Hei? Aku mau menanyakan sesuatu padamu"
"Mmm....? Tanyakan saja, mengapa kau terlihat ragu seperti itu?"
"Apa kau lebih khawatir...."
"Lebih khawatir?"
"Apa kau lebih khawatir....saat Rena terluka kemarin dari pada saat aku terluka sebelumnya?"
Mendengar hal itu Arya terdiam sejenak, ia lalu menopang dagunya dengan tangan kanan sambil menatap Asuna dengan sebelah alis terangkat.
"Apa semua yang aku lakukan hari ini hanya untuk pertanyaan itu?"
__ADS_1
Asuna tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya diam, Arya memalingkan wajahnya sambil menambahkan.
"Kau ingin jawaban jujur? Aku lebih khawatir saat Rena terluka"
Mata Asuna melebar, tepat saat dia hendak berdiri dari tempat duduknya Arya melanjutkan "Tapi, itu karena situasi dan kondisi yang terjadi. Kondisiku dan Rena waktu itu berada di tempat yang sangat jauh, juga aku tidak bisa memberikan pertolongan pertama padanya.
Aku tidak tau harus berbuat apa saat itu, sedangkan saat kau terluka setelah bertarung dengan Kevin para Pengawas berada disana. Aku bisa memastikan kondisimu aman dari perawatan yang diberikan oleh Allucia, kau puas?"
"Intinya?" tanya Asuna pelan.
"Aku menganggap kalian semua sama, kalian berdua adalah teman-temanku yang berharga"
Asuna lalu bangkit dari tempat duduknya sambil bergumam sendiri.
"Teman ya?"
"Mau kemana kau?" seru Arya sambil menoleh.
"Sepertinya sudah cukup sampai disini, aku akan melakukan permintaanmu besok. Kembalilah ke Pusat Penelitian" ujar Asuna tenang
"Lalu kau sendiri?"
"Aku ingin mampir ke rumahku terlebih dahulu baru kembali"
"Yakin tidak perlu kuantar?"
"Hmm....berhenti memperlakukan aku seperti anak yang tersesat seperti itu" jawab Asuna ketus.
"Barang-barangmu bagaimana?"
"Tak apa, aku bisa bawa sendiri. Dah...." lambai Asuna.
Dia menepuk tangannya beberapa kali, kemudian dengan sangat tidak terduga muncul beberapa orang berpakaian rapi entah dari mana. Mereka merebut barang-barang bawaan Asuna yang ada pada Arya dengan cepat dan langsung menghilang.
"Itu....yang dia sebut bawa sendiri?!" komentar Arya tidak percaya
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
Keesokan harinya Arya dan Asuna sudah berdiri di depan sebuah tungku khusus yang telah disiapkan untuk mereka. Asuna sudah bersiap diposisinya dan tinggal menunggu kedua bahan yang telah dibawa Arya.
Arya baru menyadari perubahan sikap Asuna setelah kejadian kemarin, setelah dipikir-pikir lagi. Sekembalinya dari Ujian kedua seperti ada dinding pembatas diantara mereka. Tapi setelah menghabiskan waktu bersama kemarin, jarak itu telah hilang dan hubungan mereka kembali seperti semula.
Arya lalu meletakan North Blue Frozen Crystal dan South Black Winter Diamond di dalam tungku tersebut. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, dua sosok muncul dihadapannya dengan senyuman diwajah mereka.
"Hah....sepertinya hanya sampai disini, aku bersyukur bisa bertemu denganmu Arya" mulai Rei.
"Kami berdua sangat berterimakasih padamu, dan sangat senang bisa berguna untukmu" tambah Tia.
"Aku....tidak akan melupakan kalian" sahut Arya sambil memberi hormat kepada keduanya.
"Angkat kepalamu Tuan Frost, sampaikan salam kami pada Rena"
Kesadaran Arya kembali pada tempatnya, dengan cukup berat ia menutup tungku itu. Dengan peleburan ini jiwa Rei dan Tia yang ada pada dua mahakarya mereka juga akan menghilang, walaupun menyebalkan. Keduanya adalah orang-orang yang baik menurut Arya.
"Sudah siap?" tanya Asuna dari sisi tungku lainnya.
Arya mengacungkan jempol tangannya sebagai tanda ia siap, dengan satu tarikan napas Asuna mengangkat tangan kanannya. Suhu panas berkumpul disekitar telapak tangannya, saat kobaran api mulai menyala. Ia menembakkan seluruhnya ke arah pipa yang terhubung ke dalam tungku tersebut.
Asuna melakukan itu selama 15 menit penuh, setelah selesai. Arya dengan tangan berlapis es segera memeriksa isi tungku itu. Dia disambut dengan logam cair berwarna biru dan hitam.
"Berhasil" ujarnya senang.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
Produksi dimulai kembali, Arya menyiapkan sebuah cetakan katana yang dia dapatkan dari Berlin. Dia meletakan sebuah pemisah tipis diantara cetakan tersebut, ia menuangkan cairan North Blue Frozen Crystal dan South Black Winter Diamond secara terpisah.
Kemudian gilirannya pun dimulai, dia mendinginkan kedua logam cair itu selama satu hari penuh. Dia membuat sebuah lapisan es berbentuk lingkaran dan mengalirkan suhu dingin secara teratur ke dalam lingkaran es itu.
Setelah bilah pedang itu terbentuk, Arya lanjut ke dalam proses penempaan. Dia menempa bilah pedang itu sampai bilah itu bisa disebut layak sebagai bilah pedang. Proses itu membutuhkan waktu sekitar tiga hari.
Tepat setelah penempaanya selesai, teman-temannya juga sudah sampai pada tahap akhir. Semua hasil kerja mereka kemudian dikumpulkan oleh Berlin untuk diberikan sentuhan terakhir, tidak satupun diantara mereka tau hal seperti apa sentuhan terakhir itu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Hoam....aku kurang tidur" keluh Arya sambil mengusap matanya.
"Kau tidak boleh seperti itu Kak, kau harus menjaga tidurmu" tegur Elizabeth.
"Bagaimana bisa aku tidur dengan nyenyak akibat semua kegiatan ini, ngomong-ngomong kau membuat senjata seperti apa Elizabeth?"
"Morning Star" jawabnya ceria.
"Lagi?" ulang Arya heran.
"Mmm....kenapa? Apa kakak tidak suka aku menggunakan itu?" Elizabeth balik bertanya dengan raut wajah sedih.
"B...bu...bukannya begitu, aku suka apapun yang kau gunakan" tambah Arya cepat.
"Aku sayang kaka—"
"Menjauh sana cebol" hardik Asuna segera sambil mendorong Elizabeth menjauh dari Arya.
"Apa kau bilang?! Lepaskan aku dasar—"
Arya segera menjauhi mereka berdua dan berdiri dekat Timothy, ia langsung menanyakan kabar Arya dengan riang.
"Baik, jenis senjata apa yang kau buat?"
"Perisai"
"Hah?! Perisai?"
__ADS_1
"Iyap"
"Bukankah itu berarti barang buatanmu lebih pantas disebut Elemental Shield dari pada Elemental Weapon" sindir Arya.
"Hei tameng itu juga adalah—"
Sebelum Timothy sempat mengoceh, akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Mereka sudah menunggu disana sekitar satu jam. Pengawas Berlin sedang menyeret sesuatu ke dalam ruangan, dia diikuti oleh para pengawas lainnya.
Sepuluh senjata terpasang pada benda yang diseret oleh Berlin, benda itu terlihat seperti tempat penyimpanan senjata berwarna kehitaman. Arya bisa mengenali katana miliknya disana, katana itu mengeluarkan cahaya cemerlang dari bilahnya yang berbeda warna.
"Baiklah, ini adalah proses terakhir Ujian Elementalist kedua."
Astral menjelaskan kepada mereka tentang apa yang ada dihadapan mereka, namanya adalah Autel de la Résurrection. Benda ini adalah altar kebangkitan bagi Elemental Weapon yang telah dibuat, mereka bersepuluh segera maju dan berdiri di depan senjata mereka masing-masing.
Arya memperhatikan pedangnya menancap pada Autel de la Résurrection, saat sudah diizinkan. Mereka semua segera meraih senjata mereka. Tapi tidak ada satupun yang bergeming saat berusaha diambil, mereka segera bertanya pada para Pengawas.
"Kalian harus membuat kontrak dengan Elemental Weapon terlebih dahulu" jelas Astral.
"Caranya?" tanya Selena.
"Dengan memberi mereka nama yang sesuai" sambung Berlin.
Seketika mereka bersepuluh terdiam, semuanya terlihat berpikir keras. Mereka memulai kembali dengan menyebutkan beberapa nama secara acak tapi tetap gagal. Semua itu berlangsung berjam-jam dan tanpa membuahkan hasil.
Akhirnya hanya tinggal Arya yang belum mencoba, dia kemudian segera mendekati pedangnya. Setelah itu ia menggenggam gagang pedang itu dengan perlahan, dia menarik napas dalam-dalam lalu meneriakan sebuah nama yang muncul dibenaknya.
"Mandalika!"
Aura berwarna biru dan hitam yang sangat pekat muncul saat pedang itu berhasil dicabut, aura itu melahap seluruh tubuh Arya. Kemudian suasana menjadi hening, disekeliling Arya semuanya berwarna hitam. Persis seperti saat dia bertemu dengan Tia di Kutub Selatan.
"Tuanku, aku sangat menyukai nama yang kau berikan"
Arya langsung menoleh setelah mendengar suara itu, disana berdiri seorang wanita cantik berambut hitam dengan mata berwarna biru. Ia merangkul sebuah pedang yang belum pernah Arya lihat, pedang itu terlihat sangat cantik menurut Arya.
"Siapa ka—"
Kata-kata Arya terhenti karena kemunculan seekor naga berwarna biru yang mengelilingi wanita itu. Naga itu menatap Arya tajam sambil menghembuskan napasnya secara teratur. Setelah Arya perhatikan secara seksama, pakaian yang digunakan wanita itu terlihat seperti putri-putri kerajaan kuno.
Wanita itu kemudian tersenyum lalu berkata " Untuk apa kau menanyakan siapa diriku? Kaulah yang memberiku nama. Tuanku"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
Kesadaran Arya kembali ke tubuhnya, betapa terkejutnya dia saat melihat pedang yang ada ditangannya sudah berubah bentuk persis seperti pedang yang dirangkul oleh Mandalika sebelumnya. Dia merasakan sesuatu seperti gembok yang ada dikepalanya mendadak terbuka akibat kejadian ini.
Sebuah senyuman merekah diwajahnya, dengan sangat elegan dia mengayunkan pedang itu. Aura pedang itu segera menyapu seluruh Elemental City, membuat semua yang dilewatinya menggigil kedinginan. Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam terpelongo.
"Luar biasa Kapten" puji Kevin.
"Seperti yang diharapkan dari Arya" tambah Zayn.
"Elemental Weaponnya....langsung menunjukan bentuk sejatinya?" ujar Allucia tidak percaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Gio?" bisik Bianchi.
"Entahlah, ini sungguh luar biasa" jawab Astral dengan senyum tipis diwajahnya.
Saat semua orang sedang terpana oleh Arya, Asuna tiba-tiba menabrak Arya dengan wajah kesal.
"Kau pikir hanya kau yang bisa? Aku juga bisa"
Dia mendekati senjata miliknya, Asuna melakukan hal yang persis sama seperti yang Arya lakukan. Kemudian dia meneriakan sebuah nama dengan lantang.
"Amaterasu!"
Kobaran api berwarna hitam segera melahap seluruh tubuh Asuna saat senjata itu tercabut dari tempat asalnya.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya berjalan dengan langkah cepat, sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Entah kenapa dia merasa sangat bersemangat akhir-akhir ini setelah Ujian kedua selesesai, dia memasuki ruang latihan dan menemukan semuanya sudah ada disana.
Mereka sedang berusaha menyesuaikan diri dengan Elemental Weapon milik masing-masing, saat Arya hendak melangkah. Sesuatu yang keras memukul kepalanya.
"Aww...!"
"Mau berlatih tanding?"
Arya menoleh dan melihat Rena dengan tongkat berwarna hitam disertai Tears of Elf Queen diujungnya, dia baru saja memukul Arya dengan benda itu cukup keras sehingga membuat Arya meringis kesakitan.
"Tentu, tapi apa kau yakin bisa meladeniku" seru Arya sambil menggapai gagang pedangnya.
"Hahaha mari kita lihat" timpal Rena bersiap.
"Menarilah, Mandalika!"
"Bernyanyilah, Gaia!"
-Second Test Arc Elementalist Status : Finished-
Author Note :
Sekedar informasi bagi yang tidak tau, Putri Mandalika adalah salah satu Urban Legend asal tanah Sasak (Lombok). yang menceritakan tentang seorang Putri Kerajaan cantik nan baik hati yg disayangi oleh rakyatnya, tapi dia juga menjadi alasan pecahnya perang karena banyaknya Pangeran dari kerajaan lain yg ingin meminangnya. Sehingga dia memutuskan untuk mengorbankan dirinya ke laut, semua orang segera bergegas untuk menolong sang Putri.
Tetapi tidak membuahkan hasil, mereka malah menemukan seekor makhluk seperti cacing berwarna-warni dengan jumlah yang sangat banyak di laut. Orang-orang pun percaya kalau sang Putri berubah menjadi makhluk yg akhirnya mereka sebut Nyale tersebut, sehingga cerita ini juga lebih dikenal dengan nama Putri Nyale.
Jangan lupa dukung cerita ini dengan meninggalkan like pada tiap chapternya, bye!
__ADS_1