Elementalist

Elementalist
Chapter 43 - Waktunya Perburuan


__ADS_3

Arya keluar dari asrama saat jarum jam masih menunjukan pukul 4.30 pagi, dia segera menuju ruang latihan seperti janji yang mereka telah sepakati sebelumnya. Tapi ketika ia menjulurkan leher untuk melihat ke dalam ruang latihan. Ternyata tempat itu masih kosong.


Diapun memutuskan untuk berjalan-jalan melihat suasana Pusat Penilitian di pagi buta. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara aneh saat melewati Kantin, setelah dilihat. Ternyata ada sesosok orang yang sedang terduduk lemas disalah satu meja.


"Heh....? Sedang apa kau disini? Bukannya kita sudah berjanji untuk bertemu di ruang latihan?"


Lexa segera menoleh tapi masih dengan tangan memegang perutnya. Ia menatap Arya dengan mata berkaca-kaca sambil mengerang pelan.


"Aru.....aku lapar"


"Hah.....? Itulah sebabnya kenapa aku tidak suka berlatih hingga larut malam" celetuk Arya sambil menghela napas.


"Ugh....bagaimana ini? Bisa-bisa suara perutku membangunkan seisi tempat ini"


"Separah itukah? Mau bagaimana lagi, jam segini Kantin belum beroperasi"


Arya berjalan melewati Lexa menuju pintu ruangan tempat biasanya para koki Kantin memasak, dia kemudian membuka pintu itu dengan kunci yang dikeluarkan dari sakunya. Posisi duduk Lexa langsung menegak, dia melemparkan pandangan bertanya pada Arya.


"K...ka...kau mempunyai kunci dapur?"


"Mmm....begitulah, aku meminta duplikatnya dari Pengawas Gustav" jawab Arya santai lalu menghilang ke dalam dapur.


Suara berisik mulai keluar dari tempat itu, perlahan tapi pasti. Aroma masakan mulai memenuhi udara. Dengan air liur yang mulai menetes, Lexa menjulurkan leher untuk mengintip ke dalam sana dengan penasaran.


Arya yang sudah menggunakan apron dan pengikat kepala sedang memotong beberapa bahan makanan dengan sangat cekatan.


"Duduk manis dan tunggulah disana, aku akan membuatkan sarapan dengan sisa bahan masakan yang ada" perintah Arya.


"Wah....Aru, aku baru tau kalau kau bisa memasak" ujar Lexa kagum.


"Hah....? Kau ini bicara apa? Bukankah di tempat ini kita memang memiliki pelajaran memasak?"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Beberapa menit kemudian Arya sudah menyodorkan sepiring makanan dengan asap mengepul kepada Lexa. Muka Lexa langsung sumeringah.



"I...in...ini indah sekali....!"


"Sudahlah, jangan berlebihan. Inikan hanya sebuah nasi goreng" balas Arya santai.


"Baiklah ayo ma—"


Belum sempat sendok Lexa bergerak, Arya langsung menarik makanan itu lagi.


"EHH?! Aru....apa yang kau lakukan? Jangan menyiksaku seperti ini dong?!" protes Lexa dengan wajah memelas.


"Biasakanlah berdoa dulu sebelum makan, dasar!" balas Arya sambil menyentil dahi Lexa.


"Aww....uh....maaf" ucap Lexa menggosok dahinya sambil meringis pelan.


Setelah itu Arya kembali ke dapur dan membiarkan Lexa untuk mengisi perutnya, ia mengambil sisa makanan yang dia buat untuk dirinya sendiri.


"Eee....sepertinya ini terlalu banyak.....tapi ya sudahlah" ujar Arya pelan.


Saat akhirnya dia keluar membawa piring makanan untuk dirinya sendiri, ia mulai mendengar suara samar-samar di kejauhan.


"Huh...huh...bau ini....apa kalian mencium aroma masakan juga?"


"Benar, sepertinya berasal dari Kantin"


"Siapa yang memasak di jam segini?"


"Sebentar, akanku periksa"


Dengan kecepatan cahaya, Elizabeth segera tiba di depan pintu masuk Kantin. Setelah melihat Arya yang masih menggunakan apron membawa piring ke meja tempat Lexa berada, diapun berteriak.


"EHH....?! Kak Arya curang! Kenapa cuma Lexa saja yang dibuatkan makanan?! Aku juga mau!"


Berselang beberapa menit, para Elementalist perempuan lainnya juga mulai bermunculan di tempat itu.


"Arya? Lexa?" panggil Selena heran.


"Wah....kelihatannya enak!" celetuk Rena bersemangat.


"Apa yang kalian berdua lakukan di tempat ini? Di jam seperti ini pula?" tanya Asuna dengan sebelah alis terangkat.


Setelah menerima berbagai protes, Arya akhirnya terpaksa merelakan sisa makanan yang telah dia buat untuk para Elementalist wanita yang baru saja datang. Dia kemudian kembali ke dapur untuk memasak lagi.


Untuk kedua kalinya dia memasak dengan jumlah yang sama seperti sebelumnya, dia pikir mungkin mereka akan meminta tambahan atau bagaimana. Sialnya, saat dia keluar untuk makan. Ternyata di meja itu sudah duduk menunggu dengan manis para Elementalist laki-laki lainnya.


Mereka menatap Arya dengan penuh harap, saat akhirnya mereka semua mendapat jatah makanan masing-masing. Arya menggebrak meja dengan keras.


"APA-APAAN INI?! KENAPA AKU MALAH MENJADI JURU MASAK KALIAN?! AKU JUGA INGIN MAKAN DISINI!!!"


Kemudian suara tawa terdengar, Gustav muncul entah dari mana lalu menyuruh Arya untuk duduk. Dia lalu segera masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Arya dan orang-orang disana, dengan wajah cemberut Arya membuang muka dari para Elementalist lainnya karena kesal.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Mereka bersepuluh berkumpul disebuah ruangan tempat biasa Astral mengajar, mereka sudah tau kalau hari ini adalah pengumuman Ujian Elementalist Ketiga. Arya duduk dipojok ruangan dengan wajah kesal.


"Ohh ayolah Kapten, kau masih marah soal yang terjadi di Kantin waktu itu?" tanya Timothy heran.


"Berisik!" hardik Arya.


Beberapa menit kemudian Astral memasuki ruangan dan menyebabkan suasana menjadi sunyi. Para Elementalits langsung memasuki mode serius disaat seperti ini.


"Baiklah, kalian tentu sudah tau untuk apa kalian berada disini bukan?" mulai Astral.


Mereka semua segera mengiyakan, sebenarnya mereka sudah tidak sabar untuk segera melanjutkan Ujian karena ingin melihat hasil latihan yang sudah mereka lakukan selama ini.


"Apa ada yang tau Ujian Elementalist ketiga akan seperti apa? Bagaimana menurutmu Tuan Arya?" tanya Astral sambil menatap Arya dalam-dalam.


Arya terdiam sejenak untuk mengingat-ingat sebuah buku yang pernah dia baca, ia kemudian berdeham sambil berkata.


"Kalau tidak salah sih.....dari buku yang aku baca, harusnya atribut selanjutnya yang dikumpulkan adalah Elemental Beast"

__ADS_1


Astral tersenyum mendengar jawabannya sambil mengangguk-angguk pelan, "Benar, waktunya Perburuan Elemental Beast sudah tiba"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Elemental Beast adalah atribut selanjutnya yang harus dikumpulkan, pada dasarnya Elemental Beast terbentuk dari jiwa atau roh yang bergentayangan di dunia ini. Atau bisa dibilang gagal menyebrang, biasanya hal ini dikarenakan kematian yang tidak wajar.


Seperti dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan mereka tidak bisa menyebrang ke akhirat. Tapi juga tidak diterima di dunia, untuk dapat menyebrang mereka harus membayar sebuah tebusan.


Tebusan itu berupa kerja sama dengan para Elementalist yang ada untuk menjaga perdamaian dunia, roh-roh ini akan berubah menjadi wujud binatang dan akan memiliki kekuatan element setelah membuat kontrak dengan para Elementalist.



-----------------------------<<>>-----------------------------


"Baiklah, apa kalian sudah mengerti?" tanya Astral lagi.


"Mengerti!" sahut mereka serempak.


"Tapi sedikit saran dari saya, sebaiknya kalian bergerak cepat dalam tugas ini"


"Maksud Pengawas?" celetuk Elizabeth bingung.


"Karena ini bisa dibilang Ujian yang tidak memiliki kepastian" jelas Astral.


"Hah?! Bukankah kami hanya tinggal mencari dimana Elemental Beast itu berada?" timpal Timothy.


"Tidak segampang itu, ini akan jauh lebih sulit dari dua Ujian sebelumnya" potong Arya.


"Tapi....bagaimana bisa?" Timothy semakin kebingungan.


"Karena kali ini tidak seperti Ujian pertama yang tempat dan benda yang kita cari sudah ditentukan lokasinya, tidak seperti Ujian kedua juga yang kita tau kemana kita harus mencari bahan yang kita butuhkan. Ujian Elementalist Ketiga bersifat random, kita tidak tau dan tidak memiliki petunjuk dimana para Beast berada" tegas Arya.


"HAH?! Lalu bagaimana cara kita menemukannya?!" tanya yang lainnya bersamaan sambil menatap Astral.


"Dengan percaya pada naluri kalian sendiri" jawab Astral dengan senyum tipis.


"Itulah kenapa disebut Ujian tanpa kepastian" ujar Arya sambil berdeham pelan.


"Baiklah waktunya pembagian tim, kalian tentu sudah mengetahui hal ini akan dilakukan lagi bukan? Tim pertama, Lexa Brown dan Arya Fro—"


Belum sempat Astral menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara benturan keras dari belakang ruangan. Itu adalah suara ketika kepala Asuna menghantam meja, dia segera terduduk lemas di tempat duduknya.


"Ada apa denganmu?" tanya Arya heran.


"Oh....tidak, aku tidak menyangka firasat burukku benar-benar terjadi. Kalau kau bersama Lexa berarti aku dengan—"


"Tim kedua, Asuna Blaze dan Timothy Iron" sambung Astral diikuti gelak tawa gembira dari Arya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Pengawas.....!? Kenapa aku tidak sekelompok dengan kak Arya!!!" protes Elizabeth sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Maaf Nona Elizabeth, tapi pengaturannya memang sudah seperti ini" jawab Astral tenang.


"Tapi kan—"


Potong Kevin cepat, lalu dengan sigap menangkap kerah pakaian Elizabeth dan mengangkatnya. Hal itu cukup lucu menurut Arya karena Kevin seperti sedang mengangkat seekor kucing yang sedang marah-marah.


"Hei Kevin?! Apa yang kau lakukan?! Dasar bocah cengeng! Turunkan aku!"


"ARU....?! Akhirnya kita berada disatu Tim yang sama!" teriak Lexa senang sambil merangkul Arya dari belakang.


"Haha...e...Lexa....? Bisakah kau melepaskanku?" tanya Arya lemah.


"Eh....?! Kenapa? Aku suka seperti ini" jawab Lexa santai.


"Tidak bisakah kau merasakan tatapan haus darah disekitar kita?" gumam Arya sambil menelan ludah karena tatapan menusuk dari sekitarnya.


"Aku tidak merasakan apapun, tapi apa ini cuma perasaanku saja atau memang ruangan ini sedikit panas" balas Lexa polos.


Asuna bangun dari tempat duduknya sambil menggebrakan kedua tangannya pada meja, dia lalu segera melangkah untuk meninggalkan ruangan.


"Hei Asuna kau mau ke—"


"BERISIK! JANGAN IKUTI AKU!" bentak Asuna kesal.


"Hah?! Bagaimana mungkin aku tidak mengikutimu kalau kita ini satu Tim?" tanya Timothy cepat sambil menyusul Asuna keluar ruangan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Setelah melakukan persiapan selama kurang lebih seminggu, mereka bersepuluh sudah siap untuk berangkat saat itu juga. Semuanya sedang berkumpul di Ruang Latihan untuk persiapan terakhir sebelum berangkat.


Arya sudah bersiap dengan sebuah ransel dan tas pinggang kecil yang sudah dia kenakan, tidak lupa Mandalika sudah terpasang sedemikian rupa dibelakang pinggangnya. Lexa juga membawa sebuah ransel untuk membawa perlengkapannya sendiri.


Bedanya dia sudah menggunakan Gnome ditangannya, Arya mulai memperhatikan teman-temannya lain. Elizabeth sedang memainkan Morning Star miliknya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.


"Bersinarlah, Theia!"


Bola berduri Morning Star itu mengeluarkan cahaya menyilaukan saat Elizabeth mulai menganyunkannya.


"Huh....Sepertinya sudah lumayan baik, bagaimana dengan kondisi Karkadann milikmu. Ali?" tanya Elizabeth.


Ali memegang sebuah Dagger dengan bilah berbentuk tanduk, sekilas Arya bisa melihat butiran-butiran pasir mulai tersebar di ruangan itu saat Ali memainkan Dagger miliknya. Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya kekuningan muncul disebelah Arya.


"Melesatlah, Chac!"


"Hei?! Hati-hati, kalau aku kena bagaimana?!' protes Arya.


"Eh? Maaf Kapten, aku tidak melihatmu. Aku juga tidak yakin kau akan terkena serangan sederhana seperti itu" balas Kevin sambil menoleh pada Arya.


"Serangan sederhana dari ma—"


"Mengamuklah, Leviathan!"


Kevin menahan sebuah serangan air berbentuk ular dengan Mace miliknya, ia terlihat sedikit kewalahan menahan serangan dari Selena itu.


"Ugh....maaf Kapten, aku sedikit sibuk disini" seru Kevin sambil dengan cepat menjauh.

__ADS_1


"Hai Arya" sapa Selena sambil membawa tombak bersisik milikya untuk mengejar Kevin.



"Hai Selena" balas Arya lemah karena dia terkena serangan air Selena sebelumnya.


"Pfft! Hahaha maaf soal itu" ujarnya sambil tertawa.


"Tak apa, aku bisa mengurusnya"


Arya kemudian membekukan semua air yang mengenai tubuhnya dan melepaskan serpihan-serpihan es itu dari dirinya. Setelah itu ia menemukan Rena yang sedang duduk di lantai dengan tenang, Arya segera duduk didekatnya.


"Apa yang sedang kau lakukan Nona?"


"Mmm? Aku sedang menunggu Zayn berlatih" sahut Rena sambil tersenyum.


"Eh....kenapa tidak ikut berlatih saja?"


"Aku tidak ingin mengganggunya"


Zayn sedang berdiri diam disalah satu sudut ruangan, ia memutar-mutar Dual Shuriken miliknya dengan cekatan pada telapak tangan. Kemudian secara perlahan ia mulai melemparkan senjata itu.


"Terbanglah, Raven!"


Dual Shuriken itu berputar sambil mengeluarkan aura hitam yang sangat pekat, senjata itu melayang mengitari Zayn dengan cepat dan tepat. Kemudian kembali ke telapak tangannya saat Zayn menarik benang-benang miliknya.



"Oi? Zayn?" panggil Arya sambil mendekat.


Zayn menoleh dan balik menatap Arya dengan tatapan bertanya, "Ada apa Kapten?"


"Bisakah kau mengajariku cara menggunakan benang lagi? ada sesuatu yang tidak aku mengerti" seru Arya bersemangat.


Zayn lalu menjelaskan beberapa gerakan pada Arya dengan singkat tapi mudah dipahami.


"Ahh....jadi begitu, baiklah nanti akan segera kucoba" kata Arya santai sambil terus menggulung benang miliknya.


"Entah kenapa aku punya perasaan sedikit menyesal mengajarimu teknik ini Kapten" komentar Zayn sambil mengehela napas.


"Eh?! Kenapa begitu?"


"Karena hanya dengan sedikit berlatih kau sudah bisa menyusulku dengan mudah"


"Ahh kau itu terlalu berlebihan hahaha" balas Arya sambil menepuk-nepuk punggung Zayn.


"Hmm benda apa ini?" terdengar Timothy bertanya pada Asuna.


"Bukan urusanmu!" sahut Asuna ketus.


Arya kemudian melirik sekilas dan melihat benda yang dimaksud Timothy, tanpa dia sadari sebuah senyuman merekah diwajahnya.


"Ternyata kau masih meyimpan gantungan kunci itu?" celetuk Arya cukup keras sehingga Asuna bisa mendengarnya.


"Ekh!? Memangnya kenapa?! Kau tidak suka?" timpalnya sambil menoleh pada Arya.


"Tidak, aku hanya tidak pernah menyangka kau akan menggunakannya" jawab Arya sambil tersenyum tipis.


"HUH!" Asuna langsung menuju pintu keluar.


"Asuna?" panggil Arya.


Langkah Asuna terhenti, dia menoleh pada Arya tanpa mengatakan sepatah kata sedikitpun.


"Berhati-hatilah"


Asuna hanya mengangguk dan langsung melanjutkan langkahnya, tapi Arya bisa mendengar secara samar kata-kata yang terdengar seperti "Kau juga" dari Asuna. Gantungan kunci yang Arya berikan padanya menggantung dengan gagah pada gagang Amaterasu.


"Hei?! Timothy!"


Timothy yang sudah hendak menyusul Asuna segera menoleh dengan cemas.


"Ada apa lagi Kapten!"


"Awas! Jangan sampai meleleh" ujar Arya terkekeh pelan.


"Oh ayolah Kapten! Kita bahkan belum berangkat dan kau sudah menakut-nakuti sebanyak 33 kali hari ini" keluh Timothy.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Semua Tim sudah bersiap pada Portal mereka masing-masing, Arya dan Lexa sedang melihat-lihat pilihan lokasi yang bisa mereka datangi. Arya berusaha mencari petunjuk kemana mereka harus pergi, dengan seksama ia memandangi lokasi yang berpotensi sebagai tempat para Elemental Beast berada.


Dia terus menggeser-geser layar yang ada dihadapanya sambil terus berpikir, sementara Lexa yang sudah tidak sabar terus menggerak-gerakan tubuhnya.


"Hmm...Aru? Bagaimana?"


"Aku masih mencari"


"Eh?! Tunggu! Bagaimana kalau kesini" kata Lexa sambil menunjuk sebuah lokasi.


"Disini? Kenapa harus disini?" tanya Arya bingung.


"Aku....aku melihat sesuatu yang terlihat seperti seekor Hamster di tempat itu" seru Lexa bersemangat.


"Hamster? Dimana? Aku tidak melihat apa-apa" balas Arya bingung.


"Itu disitu! Ayo kita berangkat!"


Tanpa pikir panjang Lexa segera memilih koordinat lokasi tersebut lalu menyalakan portal milik mereka.


"Eh! T..ta..tapi inikan—"


"Tidak ada tapi-tapian, ayo!" Lexa segera menarik Arya menuju portal.


"Setidaknya kita harus tau dulu kalau ini wilayah yang—"


Kata-kata Arya segera menghilang saat dia merasakan sensasi teleportasi yang paling dia benci dalam hidupnya sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2