
Alalea berjalan mondar-mandir sambil berulang kali menatap pantulan dirinya pada cermin. Ia terus berusaha merapikan diri walau hal itu tidak perlu dilakukan.
"Kau tau? Berapa kalipun kau melihat bayangan dirimu pada cermin, dia tidak akan berubah hanya dalam waktu beberapa detik saja sayang" Azalea akhirnya mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya.
Alalea berhenti lalu berpaling pada ibunya dengan gusar "Ugh....ayolah bu, bisakah setidaknya ibu memberikanku kata-kata yang menenangkan hati?"
"Harusnya kau yang memaknai kata-kata ibu itu menenangkan, bersyukurlah karena tidak semua orang di dunia ini seberuntung dirimu masih memiliki ibu untuk berbicara dengan mereka"
"Kenapa aku malah diceramahi?" gerutu Alalea pelan.
Azalea hanya bisa menghela napas melihat sikap anak gadis semata wayangnya itu. Sejujurnya dia punya harapan besar sikap Alalea akan banyak berubah setelah tiba di Elemental City, tapi sayang kelihatanya hal tersebut masih membutuhkan waktu untuk terealisasikan.
"Bukannya kau akan pergi bersama nenek? Apa yang kau khawatirkan?"
"Mmm....itu....eh....ada sedikit masalah sih sebenarnya—"
"Hm? Masalah?"
"Aku....aku....setelah aku pikir-pikir....sepertinya selama ini aku....bersikap kurang sopan terhadap mereka" jawab Alalea ragu.
"Pasti kau melakukan hal bodoh saat berkencan dengan Arya" tebak Azalea asal.
"Ekh!?—ib....ibu memata-matai kami ya?!"
"Untuk apa ibu melakukan hal seperti itu? Ibu hanya menebaknya saja"
"Mana ada orang bisa menebak seakurat itu" balas Alalea dengan dahi mengerut.
Azalea mengambil cangkir minuman didekatnya lalu menjawab santai "Kau tidak boleh meremehkan insting seorang ibu, lagipula jika memang kau ada salah. Bukankah ini menjadi waktu yang tepat untuk minta maaf?"
Tepat setelah dia berkata seperti itu, terdengar suara ketukan dari luar. Alalea segera membuka pintu dan menemukan Eridan sudah menunggunya disana.
"Halo Tuan Putri, Yang Mulia sudah menunggu anda" sapanya ramah.
Akhirnya mereka berdua pamitan pada Azalea untuk bergabung dengan rombongan Ratu lainnya, Diana melirik Alalea yang baru tiba disampingnya dengan sebelah alis terangkat.
"Apa yang membuatmu lama sekali?"
"Eh....itu....hanya obrolan ringan antara ibu dan anak" sahut Alalea sambil tersenyum canggung.
"Kau membuatku menunggu hanya untuk hal sepele seperti itu?"
"Ahaha....maafkan aku nek"
Rombongan tersebut kemudian kembali melanjutkan perjalanan, mereka terdiri dari para penjaga, pelayan, bangsawan, beserta Diana dan Alalea itu sendiri. Saat akhirnya mereka bisa melihat gerbang kecil dikejauhan.
Barulah sambutan dari para Dwarf dirasakan, mereka berbaris dijalan yang dilewati rombongan Ratu dengan sangat rapi. Walaupun beberapa diantara mereka masih terlihat ketakutan ketika rombongan Elf memasuki pemukiman tersebut.
Barisan itu mengantar mereka tiba disebuah tempat tinggal kecil, Diana beserta Alalea segera maju untuk memberi salam pada si pemilik rumah. Beberapa saat kemudian seorang Dwarf berjenggot putih panjang muncul dengan senyuman hangat diwajahnya.
"Silahkan masuk Yang Mulia, Tuan Putri" Stämmig menepi membiarkan kedua Elf itu untuk masuk.
Keduanya dipersilahkan duduk di dua kursi kecil sederhana, Alalea menatap sekitarnya dengan tatapan tertarik. Ini pertama kalinya dia melihat rumah sekecil itu dengan dekorasi yang aneh menurutnya, menyadari pandangan Alalea. Stämmig menyeletuk.
"Maafkan kelancangan saya menjamu kalian di tempat kumuh seperti ini"
"Eh?! Aku tidak ber—"
"Sepertinya cucuku hanya sedikit takjub melihat tempat tinggal anda Chief" sambar Diana cepat.
"Ahh begitu, saya tidak keberatan jika anda mampir untuk melihat-lihat Tuan Putri"
"Ahaha....terimakasih Chief" balas Alalea canggung.
"Baiklah cukup basa-basinya, bisa kita mulai?" Diana memasang wajah serius.
Diskusipun mulai berjalan, pertemuan kali ini sebenarnya dilaksanakan dalam rangka aliansi yang sedang direncanakan oleh Ratu. Setelah insiden serangan Demon sebelumnya, semua orang di Fairy Forest setuju untuk dibentuknya aliansi ini.
Para Druid dan Pixie sudah menyetujuinya, sebab itulah Diana sekarang datang ke pemukiman Dwarf demi meminta kerja sama mereka. Melihat peran mereka cukup besar saat krisis tersebut terjadi, Alalea sebagai calon penerus tahta diwajibkan mengikuti diskusi ini.
Dia cukup senang bisa berbincang-bincang dengan para pemimpin kelompok-kelompok yang ada disana, beberapa waktu setelah diskusi dimulai. Seorang Dwarf lain memasuki ruangan sambil membawakan minuman untuk mereka bertiga.
"Terimakasih Klug" ucap Stämmig.
Dwarf itu hanya mengangguk lalu segera undur diri, baru disana Alalea menyadari kalau Dwarf pengantar minuman tersebut adalah Dwarf yang ditemuinya bersama Arya sebelumnya. Ia segera bangkit berdiri dan memanggil Klug.
"A....ak...aku, aku minta maaf atas perlakuan buruk waktu itu"
"Ahh....tidak apa-apa Tuan Putri, saya tidak memikirkan hal itu. Lagipula kejadiannya sudah cukup lama" Klug tersenyum hangat padanya,
"Terimakasih" seru Alalea sambil membungkukkan badan.
"Eh?! Tuan Putri anda tidak perlu sampai—"
Melihat hal tersebut Stämmig mengangguk-angguk puas, Diana juga merasa kalau Alalea semakin dewasa atas sikap yang ditunjukannya itu. Ketika Alalea akhirnya duduk kembali, Stämmig segera menyuruh keduanya untuk minum terlebih dahulu.
Minuman itu berwarna kecokelatan serta mengeluarkan aroma harum seperti buah kenari, Alalea menghirupnya sedikit dan ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Ditengah-tengah saat mereka menikmati minuman tersebut, Stämmig menyeletuk.
"Oh iya, ngomong-ngomong saya baru mendapat kabar tentang Tuan Arya"
"Mmm? Ada apa dengannya?" tanya Diana tertarik.
__ADS_1
"Saya mendengar dari mata-mata kami kalau Tuan Arya muncul di Underground Paradise"
Alalea memasang telinganya baik-baik setelah mendengar nama Arya disebut.
"Underground Paradise? Apa yang dilakukannya di tempat itu?" Diana menopang dagunya sambil mendengarkan.
"Tidak ada yang tau pasti, tapi dari laporan yang saya terima. Katanya dia pergi kesana dengan seorang wanita untuk berbulan madu—"
BWUH!!!
Alalea menyemburkan seluruh minuman yang ada dimulutnya, untung Diana sigap membuat penghalang transparan sehingga dirinya dan Stämmig tidak basah terkena semburan tersebut.
"Uhuk! Uhuk!....d....di....uhuk! Dia....APA?!" Alalea berteriak keras sambil menggebrak meja.
Suaranya cukup keras hingga terdengar sampai luar, membuat orang-orang yang mendengar hal tersebut saling memandangi satu sama lain dengan cemas.
"Berbulan madu" jelas Diana.
"Be...ber...berbulan....dengan WANITA LAIN?!"
"Ahahaha....Tuan Putri mohon tenang, ini hanya sebuah laporan. Belum tentu kebenarannya" seru Stämmig cepat.
"Beraninnya dia berselingkuh padahal baru sebentar tidak bertemu....!!!" geram Alalea sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Sebenarnya secara teknis dia tidak bersalah, kalian bahkan belum resmi bertunangan bukan?" timpal Diana santai.
"Ugh....Aaa....kenapa nenek bisa sesantai itu sih?! Bukannya nenek yang mengajukan pertunangan ini!?"
"Apa seharusnya aku tidak memberitahukan hal ini pada mereka ya? Maafkan aku Tuan, aku salah" ujar Stämmig dalam hati dengan cemas.
------<<>>------
KLANG!!!
Suara pintu besi itu membuat seorang gadis yang kedua tangannya sedang terikat mengangkat kepala, ia bisa melihat dua sosok orang berdiri didepan sel tahanan miliknya.
"Kau masih saja keras kepala ya?" sapa salah satu dari mereka.
Keduanya membuka pintu sel tahanan dan masuk untuk berbicara dengan gadis itu, sosok mereka akhirnya terlihat jelas disinari cahaya bulan. Kedua orang ini memiliki wajah yang sangat mirip, bahkan warna rambut mereka sama-sama berwarna cokelat.
Yang menjadi pembeda hanyalah jenis kelamin keduanya. Setelah melihat siapa yang datang, gadis yang sedang terikat itu hanya menghela napas dan kembali menunduk.
"Berani sekali kau berpaling saat aku sedang berbicara denganmu!" kata Si kembar perempuan sambil menyambar dagu gadis tersebut.
"Ugh....apa yang Kak Aris dan Kak Dexi inginkan dariku?" tanya gadis itu lemah.
"Aris, jangan terlalu keras padanya" peringat Dexi pelan.
"Berisik! Anak ini harus diberi pelajaran, kau lihat apa yang dilakukanya pada pemberian dari Ayah. Dia bahkan tidak menyentuhnya sama sekali, dasar anak tidak tau diri!" Aris menendang wajah adiknya sekeras mungkin.
Tidak jauh dari posisi mereka, ada sebuah nampan yang diatasnya mangkuk berisi cairan merah sudah disediakan. Tapi sepertinya walaupun sudah berada disana cukup lama, benda itu tidak pernah tersentuh sedikitpun.
"Sampai....kapan....kau....akan....membuat.....Ayah....kecewa....!" Aris terus menghajar adiknya semakin kuat setiap suku kata yang dikeluarkan dari mulutnya.
Dia berhenti sebentar untuk mengambil napas, tapi sang adik kemudian menatap tepat ke arah wajahnya. Kedua mata merah milik mereka saling bertemu.
"Apa....kakak sudah puas....?"
"DASAR BRENG—"
"Cukup" Dexi menangkap tangan Aris yang sudah diselimuti aura kemerahan.
"Jangan halangi aku Dexi! Hari ini aku akan membunuh makhluk lemah ini!" bentak Aris sambil berontak berusaha melepaskan diri dari genggaman kembaran laki-lakinya.
"Kau sudah gila ya? Kita bisa terkena murka Ayah kalau kau sampai melakukan tindakan gegabah seperti itu"
"Ayah tidak akan peduli jika anak tidak berguna ini mati"
"Hah....coba pikirkan? Kalau dia memang benar-benar tidak berguna. Bukankah Ayah sudah menyingkirkannya sejak lama?"
"Itu...."
Secara perlahan Dexi mengendurkan genggaman tangannya saat Aris sudah mulai terlihat tenang. Gadis berambut cokelat itu segera berbalik dan meninggalkan sel tersebut sambil berkata.
"Aku tidak ingin melihat wajahmu selamanya, camkan itu! Jika sampai kau menunjukkan wajah sialmu lagi dihadapanku. Kupastikan akan merobek kedua leher mungilmu itu menjadi dua bagian"
Lalu dia membanting pintu dengan keras. Dexi hanya menggeleng-geleng sebelum menyusul kembaranya itu, saat menutup pintu sel dia berpesan.
"Jika kau terus bersikap bodoh seperti ini, kau tidak akan bisa bertahan. Bukankah lebih baik kau menerima pemberian Ayah saja?"
"Terimakasih atas perhatian kakak, tapi aku akan tetap seperti ini. Bahkan bila harus sampai mati sekalipun" sahutnya pelan.
"Hah....terkadang aku juga ingin menghajarmu seperti yang Aris lakukan. Sudahlah kalau bergitu, aku membawakanmu beberapa makanan. Walaupun aku tidak tau kau akan bisa memakannya atau tidak, sampai jumpa. Callista"
Ketika suara langkah Dexi sudah tidak terdengar, gadis bernama Callista itu menggapai sekantung makanan yang ditinggalkan Dexi. Dia mengeluarkan sepotong roti dan mulai memasukannya ke mulut.
"Oek!?....Tidak enak" celetuknya pelan.
Sambil berusaha memakan makanan yang terasa pahit dilidahnya, Callista mulai mengenang sosok sang Ibu. Wanita yang tidak akan pernah dia bisa temui lagi. Tanpa ia sadari air mata mulai menetes dari kedua ujung matanya.
__ADS_1
"Ibu....apa yang harus kulakukan? Aku rindu padamu....benar-benar rindu....hiks"
"Nona Callista"
Betapa terkejutnya Callista saat mendengar namanya dipanggil, dia sampai hampir kehabisan napas karena tersedak roti yang berusaha dimakannya.
"Uhuk uhuk uhuk! Kau? Sejak kap—"
"Waktunya sudah hampir tiba" kata pendatang baru itu sambil menyodorkan selembar kertas dari balik pintu sel tahanan.
Callista menatap kertas itu dengan tatapan aneh "Apa ini?" tanyanya bingung.
"Harapan" jawab orang itu sebelum pergi meninggalkan Callista yang semakin terlihat kebingungan.
------<<>>------
"KIZUNA!? OI KIZUNA!?"
Seorang gadis menggeliat pelan dibalik selimut saat mendengar namanya dipanggil berulang kali.
TOK TOK TOK!!!
"Kizuna kau mau bangun sendiri atau aku yang akan mengeluarkanmu dari sana"
Kizuna hanya diam dan berusaha berpura-pura tidur mendengar ancaman dari seniornya itu.
"Baiklah sudah cukup"
Pintu kamar akhirnya terbuka, gadis pirang dengan telinga rubah masuk sambil menatap ke arah tempat tidur dengan kesal. Ia menggoyang-goyangkan tubuh yang masih berbaring disana untuk segera bangun.
"Kizuna ayolah! Kau tau hari ini sangat penting bukan? Sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini?"
Karena masih tidak mendapat respon, akhirnya dia kehabisan kesabaran. Ia menggapai kebalik selimut untuk mencari sesuatu dan menggenggamnya dengan erat.
"WAA?!....KAK AMI!? APA YANG KAU LAKU—JANGAN....EKORKU....!!!"
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah ada diruang makan. Kizuna makan sambil diawasi dengan ketat oleh Ami. Dia memakan makanannya dengan wajah cemberut.
"Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu! Kau yang memaksaku untuk melakukannya" hardik Ami.
"Tapikan tidak perlu sampai meremas ekorku" gerutu Kizuna pelan.
"Apa kau bilang?! Mau aku melakukannya lagi hah?!"
"Tidak tidak tidak! Apapun selain itu" desis Kizuna sambil memeluk ekornya.
Ami kemudian menghela napas lelah karena melihat tingkah laku adik seperguruannya ini. Gadis berambut putih dengan telinga rubah menghiasi kepalanya. Kizuna juga memiliki mata berwarna kuning menyala yang sangat khas.
"Hah....kau ini, aku masih tidak mengerti kenapa kau mengurung diri selama dua hari dikamar hanya karena tidak diizinkan ikut oleh Tetua"
"Itu...." Kizuna terlihat enggan menjawabnya.
"Sudahlah, terserah kau saja. Aku selalu dibuat pusing olehmu, bukan hanya kau saja yang harus aku urus di kuil ini. Oh iya, Tetua memintamu untuk menemuinya sebelum keberangkatan"
Kizuna kemudian mengangguk dan berusaha cepat-cepat menghabiskan makanannya, setelah dari ruang makan Kizuna langsung berangkat menuju ruang Tetua. Dia mengetuk pintu tiga kali lalu menunggu dirinya diizinkan untuk masuk.
Dia masuk dengan langkah pelan dan segera duduk ditengah-tengah ruangan sesopan mungkin.
"Tetua memanggilku?" tanyanya ragu.
"Iya, aku ingin tau bagaimana keadaanmu" sahut sebuah suara dari balik tirai yang ada di ruangan itu.
"Aku baik-baik saja"
"Apa kau masih marah?"
Kizuna diam seribu bahasa, akhirnya tiraipun terbuka memperlihatkan sesosok pria yang terlihat sangat rapuh. Seolah-olah hanya dengan tiupan angin pelan saja bisa membuatnya jatuh ke lantai, dia mendekati Kizuna kemudian menepuk pundaknya.
"Aku pergi ke Underground Paradise untuk membantu yang lain berurusan dengan si Raja mata keranjang itu, aku tidak bisa membawamu ke sana karena akan mencuri banyak perhatian. Jadi kumohon mengertilah"
"Tetua Nezumi, apa disana berbahaya?" Kizuna menatap mata pria itu dalam-dalam.
"Entahlah, aku sudah lama tidak mengunjungi tempat itu. Yang jelas dengan perlindungan 11 Shio lainnya kau akan aman. Tapi, yang menjadi masalah adalah. Apa kau sudah siap menggantikan posisiku?"
"A...ak...aku—"
"Kau tidak perlu memaksakan diri, aku disini hanya untuk melindungimu. Sesuai dengan permintaan yang diajukan ibumu padaku, kau tidak harus mengikuti jalan yang aku pilih, semuanya terserah padamu" jelas Nezumi lalu segera bangkit berdiri menuju pintu keluar.
Kata-kata tersebut terus terngiang ditelinga Kizuna bahkan sampai upacara pengantaran Nezumi selesai, hatinya dipenuhi oleh rasa bimbang tentang apa yang harus dia lakukan kedepannya.
------<<>>------
Ketiga gadis ini tidak saling mengenal satu sama lain, mereka terpisah oleh jarak ratusan ribu kilometer. Ketiganya juga tidak tau tentang apa yang akan terjadi dimasa depan.
Namun kenyataanya, garis takdir milik mereka bersinggungan satu sama lain. Ketiga garis takdir itu bertemu pada sebuah garis takdir milik orang yang saat ini sedang menggosok-gosok hidungnya sambil berjalan ditengah kegelapan Winter Hollow.
"Kau kenapa?" Lexa menoleh padanya dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Uhh....entahlah, hanya saja hidungku terasa gatal. Sepertinya ada banyak orang yang sedang membicaranku, tidak mungkinkan Elementalist es sampai terkena flu? Kan konyol sekali kalau hal seperti itu sampai terjadi"