Elementalist

Elementalist
Chapter 211 - Golden Bullet


__ADS_3

BANG!


“Oi oi oi? Apa begini tingkah pahlawan terpuji umat Manusia? Setidaknya biarkan kami selesai bicara” geram Paul.


Dia menghentikan serangan Zayn dengan sangat mudah, tangannya menggenggam kuat kedua shuriken pemuda tersebut. Zayn berdecak kesal, harusnya ia sadar lebih awal. Tanpa menunggu Zayn langsung menarik kembali senjatanya sebelun menjaga jarak.


“Kalian....mampu menggunakan Agnet....” Zayn menatap waspada.


“Tentu saja, itu adalah kekuatan dasar semua makhluk hidup bahkan Manusia. Bukankah para Pengawas Ujian Elementalist pun demikian?”


Kulit tangan Paul yang tadi berubah warna seperti batu perlahan menjadi normal lagi, disanalah Zayn menyadari jika keputusannya menghadapi mereka berdua cukup riskan. Lengah sedikit maka Flamma atau Paul dapat membunuhnya.


“Tipe Strengthening ya...”


“Huh?! Pengamatanmu lumayan juga....” puji Flamma meregangkan otot lehernya.


Detik berikutnya laki – laki itu menghilang, Zayn merasakan hawa dingin menusuk tengkuknya sehingga segera merunduk. Benar saja bilah besi tajam Flamma melintas beberapa saat kemudian, Zayn memaanfaatkan momen barusan untuk menyerang balik.


Tendangnya mendarat telak pada perut Flamma sampai menyebabkan dia terpental, Crowsha melesat terbang tinggi mendengar perintah tuannya. Zayn tau bertarung secara frontal menghadapi pengguna Agnet penguatan sama dengan bunuh diri.


KIAAKK!!!


Pekikkan Crowsha sukses mengeluarkan Zayn dari lamunan, ia membelalakan mata karena sebuah bongkahan besar bangunan tengah mengarah cepat menuju mereka. Zayn menarik kembali Crowsha menuju dimensi roh lalu meliuk indah ke dalam celah jendela runtuhan tadi.


Bergerak gesit mencari jalur evakuasi yang berada di sisi sebaliknya, saat akhirnya keluar Zayn menemukan pelakunya ternyata Paul. Pria bertubuh kekar tersebut mencabuti gedung bekas layaknya rumput kering dan melemparkannya.


Zayn menggunakan Agnet demi menambah lajunya, dia mulai berputar cepat sembari menyiapkan shuriken. Sekilas wujudnya nampak seperti bor hitam raksasa, Zayn menerjang lurus tepat dimana Paul berdiri.


“Black Tornado!”


Paul tersenyum meremehkan terus mengambil ancang – ancang memukul, Agnet berkepadatan tinggi menutupi kepalan tanganya. Pijakannya perlahan remuk diiringi tanah yang bergetar, ia berteriak kencang sambil mengayunkan bogem.


“Anchor Solitude!”


BRUAKH!!! WOOOSHH!!!


Pertemuan kedua serangan mengakibatkan hembusan angin luar biasa disekitar Zayn dan Paul, bahkan beberapa kendaran bekas terlempar hingga puluhan meter. Gerakan masing – masing terhenti menandakan kalau mereka sama kuat.


BUMMM....!!!


Tak lama berselang barulah bongkahan bangunan lemparan Paul sebelumnya menghantam tanah, awalnya Zayn cukup percaya diri beradu melawan Paul. Namun kekuatan pria itu tiba – tiba meningkat drastis dalam waktu singkat, secara mengejutkan Paul telah mencengkram lehernya.


“Chokeslam!!!”

__ADS_1


JDUAR!!!


Paul mengangkat tubuh Zayn tinggi – tinggi masih dengan tangan mencekiknya lalu membanting mengenakan segenap tenaga. Permukan sekitar sana hancur total, radius diperkirakan sekitar lima belas meter. Debu kecokelatan membumbung ke udara menutupi pandangan.


“HUAHAHAHA RASAKAN! MATI KAU! SEKARANG AKU DAPAT DIPROMOSI—“


Belum selesai dia bicara, bayangan hitam menjalar pada kulit lengan kanannya dan memaksanya tertekuk sampai melepaskan pegangan. Zayn muncul dari balik hamburan tanah kemudian menaiki pundak Paul, kali ini posisinya berbalik. Ikatan teknik kegelapan Zayn menjerat kencang tenggorokan Paul, perlahan tapi pasti wajahnya mulai membiru pertanda kekurangan oksigen.


“Death Shawl....oek...!!!”


Zayn memuntahkan darah segar melalui sudut bibirnya, ia berbohong kalau mengatakan jurus Paul barusan tidak melukainya. Ketika hampir sukses mematahkan leher musuh, Zayn mengumpat sebab satunya lagi siap memenggal kepalanya.


“Kau merindukanku? Ghigliottina!!!”


“Cih!? Nagi!?”


ZINNGG!!!



Seekor naga hitam jantan keluar menggigit pedang Flamma, makhluk tersebut menggeram marah sebelum menembakan aura gelap. Ledakan besar kembali terjadi seiring bertambah sengitnya pertarungan, sementara tak jauh dari sana seseorang masih menonton penuh antusias.


------><------


“Terima kasih....uhuk! Uhuk!” bisik Zayn memegangi lehernya yang terluka akibat serangan Paul.


Zayn meminta Nagi untuk mundur kembali, namun ia memberontak sebab kurang menyukai ide tersebut. Tetapi setelah diyakinkan oleh Zayn, barulah Nagi pergi menyisakan Zayn sendirian. Sang Elementalist Kegelapan menarik napas dalam – dalam lalu memasang kain penutup hidung dan mulut.


“Tak boleh bermain – main lagi, Kapten sedang menunggu....”


WOSH!


“MATI KAU BOCAH TENGIK!”


Paul muncul entah dari mana, pukulannya mengarah tepat ke wajah musuhnya. Gerakan tiba – tiba pria itu menghasilkan angin kencang yang membersihkan debu pada udara sekitar, Zayn dengan tenang bergeser sedikit terus balik mencengkram tangan Paul.


BRUAKH!!!


Secepat kilat Zayn langsung membanting laki – laki besar barusan, peningkatan tenaganya tentu mengejutkan Paul. Zayn memutar – mutar shuriken siap menggorok musuhnya, tapi Flamma datang tidak berniat membiarkan dirinya bertindak sesuka hati.


Tusukan Flamma menembus badan Zayn, dia menjadi bayangan kemudian menghilang sampai hampir saja menyebabkan pedang Flamma malah membunuh Paul. Saat masih dilanda kebingungan, Zayn menerjang melaui udara.


Refleks Flamma nyatanya cukup gesit merespon teknik serangan tersembunyi Zayn, keduanya kali ini beradu senjata sambil berpindah dari satu tempat menuju lokasi lainnya. Percikan api menghiasi pertemuan besi tajam ditangan masing – masing.

__ADS_1


Flamma makin terdesak karena kecepatan Zayn, apalagi ia memegang dua buah shuriken. Tidak butuh waktu lama sayatan fatal merobek otot biceps Flamma dan membuatnya meringis kesakitan, ketika Zayn hendak memberikan sentuhan akhir. Paul tiba lalu memeluknya kuat – kuat melalui belakang.


“Kena kau! Flamma habisi dia sekarang! Biar kupatahkan keparat kecil ini layaknya tusuk gi—”


“Hand of Death....”


KRAKK....!!!


Suasana sunyi senyap selesai tangan hitam keluar dari pundak Paul kemudian mematahkan lehernya, tubuh besar tak bernyawa itu perlahan tumbang. Mengakibatkan guncangan kecil yang dapat dirasakan penjuru kota.


“TIDAKKK....!!!”


Flamma bangkit mengayunkan pedangnya penuh napsu membunuh terhadap Zayn, sekali lagi si Elementalist Kegelapan lenyap. Sebagai gantinya rangkaian helai benang berlapis kekuatan elemen secara mengejutkan nampak menyambut Flamma.


SRAK!!!


“Black Widow....”


Zayn bertekuk lutut disusul suara jatuh potongan badan lawannya, napasnya terengah – engah seolah paru – parunya menagih udara dalam jumlah besar. Siapa sangka ternyata mereka sangat kuat, belum sempat Zayn melangkah.


“Tiga....dua....satu....”


DORRR...!!! PSYUU!!! JLEB!!!


“Ukh....”


Sebuah peluru khusus terbungkus Agnet menembus dadanya, darah segar mengucur deras melalui luka maupun mulutnya. Ia tersungkur ke tanah, dengan posisi tengkurap Zayn masih merangkak berniat memenuhi janjinya kepada Arya namun pandangannya mulai bertambah kabur.


“Target sukses ditumbangkan....” gumam seorang gadis diatas gedung berjarak sepuluh kilometer.


Dia berganti posisi duduk diatas bekas reruntuhan sambil mengelap senapan besar nan panjang ditangannya, rambut pirang terlihat sewaktu perempuan tadi melepas tudung jubahnya. Terdapat beberapa biji amunisi tersusun rapi di lantai dekat situ.



“Hayha melapor, pasangan False Vanguard pertama sudah gugur. Informasi mengenai kemampuan Zayn Black akan terkirim lima menit lagi, satu peluru berhasil mengenai Elementalist Kegelapan. Statusnya tak diketahui kemungkinan besar tewas, Arya Frost telah meninggalkan lokasi kurang lebih setengah jam yang lalu. Ganti....”


Hayha segera merapikan perlengkapannya dan pergi meninggalkan kota tanpa perduli kepada jasad para petarung disana. Ia berpindah dari satu pohon ke pohon berikutnya dengan gesit, ditengah jalan tiba – tiba dirinya berhenti kemudian menoleh sedikit terkejut.


“Hmm? Jangan – jangan....? Hehehe ini menjadi semakin menarik....”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2